Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 37 - Membujuk Qiana -3


__ADS_3

Qiana menahan lapar sepanjang malam. Gadis itu bahkan tak bisa tidur walau kelopak matanya sudah terasa sangat berat. Bukan hanya mata, kepalanya pun terasa berat. Mungkin karena belum ada makanan sedikit pun yang mengisi lambungnya hingga gadis itu merasa pusing, mual dan tak bisa terlelap.


Qiana menoleh, biasanya ada seorang pria di sisinya yang memeluknya sepanjang malam. Pria itu bahkan tidak akan tertidur sebelum Qiana terlelap.


Selama enam bulan pernikahan, Raka selalu memperlakukannya dengan penuh kelembutan. Pria itu sering menyuapinya ketika ia tak berselera makan. Bahkan akhir-akhir ini, Raka selalu menyuapinya.


Selama enam bulan diperlakukan bak putri raja, Qiana tiba-tiba merasa rindu pada pria yang sedang tidur di depan pintu kamarnya itu.


Langit di luar semakin pekat, namun Qiana belum juga bisa terlelap. Tak seperti Raka. Walau dalam posisi duduk sembari memeluk bantal, pria itu sudah masuk ke alam mimpi sejak beberapa jam lalu.


Qiana bahkan belum sempat terlelap saat ayam jantan berkokok. Seorang asisten rumah tangga bahkan sudah berada tepat di depan pintu kamar gadis itu.


“Neng Qia ... Ini saya bawakan sarapan,” ucap Bi Tari. Agak lama gadis itu membuka pintu kamarnya. Kepala yang sangat sakit akibat tidak tidur dan makan sejak kemarin, membuat tubuh gadis itu lemah.


Qiana memijat pelipisnya saat menatap seluruh area kamar tidurnya berputar-putar.


“Ini Bibi bawakan bubur ayam kesukaan Neng Qia, loh,” ujar wanita paruh baya itu.


Raka dan Bi Tari saling tatap saat Qiana belum juga membuka pintu kamar itu.


Apa gadis itu masih terlelap?


Itulah pertanyaan yang ada di benak Raka dan Bi Tari. Namun, saat Raka melihat jam yang. tersemat di pergelangan tangannya, dahi pria itu sedikit berkerut.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Walaupun manja, Qiana adalah gadis yang selalu bangun di pagi hari. Gadis itu bahkan jarang sekali melewatkan olahraga dan segelas susu hangat di pagi hari.


Raka menegakkan tubuhnya. Entah mengapa, sejak terbangun dari tidurnya, perasaan Raka gundah gulana.


Bi Tari kembali mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Qiana. Dan akhirnya terdengar suara handle pintu yang bergerak.


Raka mengembuskan napas lega. Itu artinya Qiana baik-baik saja. Pikir pria itu.


Bi Tari pun menyapa Qiana dan masuk ke kamar dengan membawakan sebuah nampan yang berisikan semangkuk bubur ayam dan segelas air putih.

__ADS_1


Seperti biasa, asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama 20 tahun itu, meletakkan nampan yang berisikan makanan untuk Qiana pada meja yang terdapat di samping ranjang majikannya itu.


Qiana pun berjalan perlahan menuju ranjang itu. Namun, naas, gadis itu tersungkur sebelum tiba di ranjang.


Mendengar ada suara sesuatu terjatuh, Bi Tari menoleh. Wanita paruh baya itu begitu terkejut saat melihat Qiana tersungkur di lantai dan kini tak sadarkan diri. Bi Tari pun berteriak memanggil nama Qiana.


“Neng Qia ... Ya ampun... kenapa Neng?!”


Wanita paruh baya itu berusaha menyadarkan Qiana dengan menepuk-nepuk kecil pipi Qiana.


“Sadar Neng ... Sadar! Ya ampun Neng Qia ... Wajahnya pucat sekali!” pekik Bi Tari.


“Den Raka! Den! Ayo ke sini. Tolong Neng Qia!”


Asisten rumah tangga itu dengan histeris memanggil nama Raka. Mendengar itu, Raka pun gegas melangkahkan kaki menghampiri Bi Tari dan Qiana. Mata Raka membulat saat melihat Bi Tari tengah memangku kepala Qiana di pahanya.


“Qia ...!” pekik Raka. Raka berlari menghampiri gadis yang sangat dicintainya itu.


“Qia kenapa Bi?!” tanya Raka sembari memeriksa bagian vital tubuh Qiana. Tidak terlihat lebam ataupun luka di sekujur tubuh gadis itu.


“Ada apa Mas?!” pekik Sean.


“Siapkan mobil, Se. Cepat!” perintah pria itu.


Secepat kilat Sean berlari dan melaksanakan arahan dari Raka. Sementara Raka berjalan secepat mungkin sembari membawa Qiana dalam gendongannya.


“Kenapa ini?!” pekik Qeiza yang terkejut saat melihat Raka menggendong Qiana yang sedang tak sadarkan diri. Qeiza dan Ivander turut mengikuti langkah kaki Raka yang tergesa-gesa.


“Jawab Raka! Ada apa dengan Qia?! Kamu apakan anak saya!” teriak Qeiza yang masih berusaha menyejajarkan langkah dengan Raka.


“Qia pingsan Ma,” jawab pria itu terburu-buru. Raka meninggalkan Qeiza dan Ivander begitu saja lalu secepatnya masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Sean.


Bersama dengan adik iparnya itu, Raka membawa Qiana ke rumah sakit terdekat. Raka terus berusaha membuat Qiana tersadar. Pria itu menepuk-nepuk pipi sang istri sembari terus memanggil nama istrinya itu.

__ADS_1


Sesekali Raka juga bertanya pada Qiana yang tengah pingsan.


“Kamu kenapa bisa pingsan begini sih, Dek?” lirih pria itu.


Sementara Sean yang berada di balik kemudi, berusaha mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan maksimum yang dia bisa. Beruntung rumah sakit berada tak jauh dari komplek mewah itu. Hingga mereka bisa tiba di rumah sakit hanya dalam waktu sepuluh menit saja.


Raka langsung membawa Raka ke ruangan Instalasi Gawat Darurat. Pria itu langsung meminta dokter untuk memeriksa kondisi istrinya.


Proses pemeriksaan pun dilakukan. Hingga jarum infus berhasil menerobos masuk dalam kulit gadis itu. Qiana baru tersadar beberapa saat sebelum selang infus menancap pada tangannya.


Qiana masih terlihat sangat lemas walau cairan infus sudah masuk dalam tubuhnya. Qeiza dan Ivander yang melihat kondisi itu, langsung meminta Raka untuk membawakan bubur ayam buatan Qeiza yang tadi belum sempat Qiana makan.


Raka pun menuruti perintah mertuanya itu. Dan, saat Raka kembali tiba di rumah sakit, Qeiza dan Ivander keluar dari ruangan itu.


“Dek, ini mas bawakan bubur ayam. Sarapan dulu ya. Kamu tadi belum sarapan,” ucap Raka.


Pria itu pun menyuapkan makanan yang baru saja dia jemput.


“Mas suapi ya,” ucap Raka.


Selera makan Qiana seketika bangkit ketika mendengarkan Raka akan menyuapinya. Tapi, amarah yang masih bersemayam di hati gadis itu, membuatnya gengsi untuk memberi tanggapan pada pernyataan Raka.


Qiana hanya diam saat Raka mengubah posisi ranjang rumah sakit, hingga Qiana bisa duduk bersandar di ranjang itu.


“Ayo buka mulutnya, Sayang,” ucap Raka seraya menyodorkan satu sendok penuh bubur ayam.


Tanpa menatap Raka, Qiana membuka mulutnya. Suapan demi suapan yang disodorkan Raka, dilahap oleh Qiana hingga satu porsi bubur ayam yang tadi dibawa oleh Raka telah habis disantap oleh gadis itu.


Qiana sebenarnya masih merasa lapar, dia masih ingin Raka menyuapinya. Tapi, rasa gengsi menghalangi gadis itu. Qiana hanya bisa berharap, waktu makan siang akan segera tiba.


...----------------...


Beberapa saat setelah Qiana menghabiskan makanannya, seorang perawat dan seorang dokter menghampiri sepasang suami istri itu.

__ADS_1


Pernyataan dokter mengenai hasil pemeriksaan darah Qiana, membuat Raka tak percaya. Mata pria itu membulat.


__ADS_2