
Raka Pratama, sosok pria yang tak pernah memadu kasih dengan wanita manapun, kini tengah menikmati ciuman pertamanya. Dan wanita beruntung yang mendapatkan ciuman dari pria jenius itu adalah Qiana Larasati, yang tak lain merupakan cinta pertama Raka.
Qiana bukan hanya sekadar cinta pertama bagi Raka. Gadis itu bahkan sulit untuk digapainya. Raka jatuh cinta pada Qiana, sejak pria itu duduk di bangku sekolah menengah pertama. Keceriaan Qiana, sikap manja gadis itu, serta tingkahnya yang konyol, mampu membuat Raka menunjukkan sisi hangatnya. Kehangatan yang tak pernah dia berikan pada wanita manapun, termasuk ibu kandung dan adiknya.
Tapi, saat Raka menyadari dia telah jatuh cinta pada Qiana, saat itu pula Raka menyadari jika dia tak akan mungkin bisa memiliki gadis itu. Cinta terlarang yang dirasakannya, membuat Raka bagai di neraka karena pria itu hanya bisa memendam rasa cinta itu selama-lamanya.
Raka memutuskan untuk menjauhi Qiana. Pria itu meninggalkan Qiana dengan menempuh pendidikan di luar negeri. Raka pikir, dengan menjauh dari Qiana, dia bisa melupakan gadis itu.
Tapi, nyatanya, dia malah semakin merindukan Qiana. Satu bulan berada di negeri orang, Raka tak dapat tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan Qiana. Akhirnya pria itu memutuskan untuk melakukan panggilan video kepada gadis itu, hampir setiap hari. Perbedaan waktu tujuh jam, tidak menjadi masalah bagi Raka. Asal dia bisa melihat wajah sang gadis pujaan beberapa detik saja, itu sudah menghapus sedikit kerinduan di hatinya.
Bagi Raka, Tahun pertama perkuliahannya terasa begitu berat karena jauh dari Qiana. Dan saat Qiana juga seluruh anggota keluarga Bratajaya menghabiskan liburan mereka di negara Britania Raya itu, Raka begitu senang karena akhirnya kembali bertemu dengan Qiana.
Dengan antusias Raka menunjukkan kepada Qiana, tempat dia mengeyam pendidikan. Raka bahkan mengenalkan Qiana pada beberapa teman dekatnya. Termasuk pada Safira.
“Ternyata Oxford luas sekali ya Mas,” ucap Qiana yang tengah diajak Raka berkeliling. Sembari bergandengan tangan, Raka hanya menanggapinya dengan tersenyum lembut. Sudah lama sekali rasanya dia tak menggenggam jemari-jemari mungil Qiana.
“Mba Fira itu, kekasihnya Mas Raka?”
“Tidak, tidak. Mas tidak punya kekasih. Mas datang ke sini karena mau belajar, bukan mau pacaran,” ungkap Raka.
“Nanti Mas Raka menikah dengan bule saja. Biar nanti Qia punya keponakan bule. Rambutnya pirang. Pasti lucu!” seru Qiana.
“Mas tidak suka bule!” tegas Raka. Qiana hanya terkekeh melibat wajah Raka yang kesal.
“Mas Raka jangan galak-galak sama perempuan. Nanti tidak ada perempuan yang mau jadi kekasih Mas Raka,” celetuk Qiana.
“Biar saja. Kalau tidak ada perempuan yang mau dengan Mas, kan masih ada Qiana Larasati.”
Padahal Raka sudah mengungkapkan perasaannya dengan jujur, tapi Qiana hanya menanggapinya dengan tertawa. Tawa yang begitu dirindukan oleh Raka.
“Mas sudah satu tahun kuliah di Inggris, tapi bum punya kekasih. Kalah dengan Qia. Qia saja sudah punya kekasih!”
__ADS_1
Langkah kaki Raka terhenti seketika. Pria itu bahkan berpindah posisi hingga berdiri persis di hadapan Qiana.
“Kamu sudah punya kekasih?”
Qiana menjawabnya dengan menganggukkan kepala.
“Kamu baru dua belas tahun, Dek. Masih kelas 1 SMP,” lirih Raka.
“Mas Raka jangan beritahukan pada Mama dan Papa ya. Qia pasti dimarahi kalau ketahuan. Qia dan Kak Riki juga baru jadian sehari sebelum Qia ke sini. Makanya belum sempat cerita dengan Mas Raka.”
Raka terdiam. Salahkah dia karena terlalu cepat meninggalkan Qiana? Dada pria itu terasa sangat panas.
Padahal Raka tau, jika dirinya tak mungkin bisa bersatu dengan Qiana, tapi ketika mendengar jika sang adik sepupu memiliki seorang kekasih, pria itu tak rela.
Laginya, kenapa gadis itu sudah menjalin hubungan dengan lawan jenis di usia semuda itu?
Qiana mengguncang-guncang lengan Raka karena pria itu mematung.
“Mas, Mas Raka kok diam saja sih. Mas Raka janji ya, jangan beritahukan ini pada Mama Papa,” ucap Qiana. Gadis itu kembali mengguncang lengan Raka, kali ini dengan cukup kencang.
“Iya, Mas janji.”
Dan sejak itu, setiap hari Qiana bercerita kepada Raka tentang kisah cintanya. Begitupun saat Qiana pertama kali patah hati. Sembari menangis sesenggukan, Qiana mengadu pada Raka, bahwa sang kekasih hati berselingkuh di belakangnya.
Raka yang kebetulan tengah dalam masa libur, langsung memesan tiket pesawat dan terbang ke Indonesia.
“Mas Rakaaa,” rengek Qiana begitu Raka muncul di depan kamarnya. Gadis itu bahkan langsung memeluk erat tubuh Raka.
Tanpa peduli, Raka yang baru saja tiba setelah menempuh perjalanan udara selama 16 jam, Qiana terus menumpahkan rasa gundahnya pada pria itu sembari masuk dalam dekapan Raka.
“Kenapa sih dia jahat, Mas. Padahal Qia sudah menuruti semua maunya Kak Riki. Bahkan, bulan lalu, Qia rela dicium bibir—”
__ADS_1
Belum selesai Qiana bercerita, Raka yang terkejut, langsung memotong pembicaraan gadis itu.
“Cium? Bibir?!” pekik Raka.
“Iya Mas,” jawab Qiana. Tangan Raka mengepal seketika. Matanya menyala. Kenapa Qiana begitu mudah memberikan ciuman pertamanya pada sembarang pria?
“Bulan lalu Kak Riki mengancam akan memutuskan hubungan kami jika Qia tidak mau dicium. Tapi ... Tapi kenapa dia malah berselingkuh dengan temannya di SMA? Kurangnya Qia apa?”
Kembali Qiana menangis sesenggukan.
“Kamu kurang menghargai diri kamu sendiri. Di mata dia, kamu itu gadis yang gampangan!”
Qiana langsung melepaskan diri dari pelukan Raka. “Tega sekali Mas Raka mengatakan kalau Qia gadis gampangan! Mas Raka jahat!” pekik Qiana.
Raka mengusap kasar wajahnya. Di satu sisi, dirinya tak tega melihat Qiana menangis sesenggukan. Tapi, di sisi lainnya, pria itu merasa kesal dengan perbuatan gadis itu.
Raka kembali membawa gadis itu dalam pelukannya. Pria itu pun meminta maaf karena sudah berkata keras pada Qiana.
“Qia ... Mas mohon, lain kali Qia jangan sembarang mencium pria. Apalagi mencium karena ancaman. Itu tandanya, pria itu bukan pria yang baik. Nanti, Qia jadi ikut tidak baik,” jelas Raka. Namun, Qiana hanya bungkam hingga Raka harus melepaskan kembali gadis itu.
Dipegangnya kedua lengan gadis itu sembari menatap dalam netra kecoklatan milik Qiana.
“Janji sama Mas. Qia hanya mau dicium oleh pria yang Qia yakini bahwa dia akan menjadi calon suami Qia kelak.”
Dengan matanya yang sembab, Qiana menganggukkan kepalanya.
Gadis itu pun menepati janjinya. Sejak kejadian parah hati pertamanya itu, Qiana tak pernah berciuman dengan pria lain. Dan pria kedua yang mendapatkan ciumannya adalah Albert. Karena Qiana pikir, pria itulah yang kelak menjadi calon suaminya.
Tanpa Qiana tau, jika pria yang membuatnya berjanji itu adalah pria yang kelak menjadi suaminya. Dan kini, pria itu sudah resmi menjadi suaminya.
Pria itu bahkan sudah melahap bibirnya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Jika Raka begitu bahagia karena bibirnya berhasil menggapai bibir Qiana, berbeda dengan gadis itu. Qiana menjadi tegang dan salah tingkah dengan perbuatan pria yang baru saja resmi menjadi suaminya itu. Jemarinya hanya bisa meremas jas yang dikenakan oleh Raka.
Namun, ketegangan yang dirasa Qiana perlahan menghilang. Gadis itu bahkan sudah mulai membalas kecupan lembut Raka.