
...POV Safira...
Raka Pratama. Pria itu adalah cinta pertamaku. Pria pertama yang berhasil merebut perhatianku. Dia pria yang cerdas. Begitupun denganku. Kami bahkan ikut kelas akselerasi saat di Sekolah Menengah Pertama, hingga memungkinkan bagi kami hanya bersekolah selama dua tahun di tingkat SMP.
Aku mengikutinya ke mana pun. Kami kembali satu sekolah di tingkat SMA. Namun sayang, aku tidak bisa lolos saat mengikuti ujian akhir nasional saat kami berada di kelas dua. Hanya Raka lah satu-satunya siswa kelas 2 yang lolos dan langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tanpa harus melewati kelas 3 SMA.
Tapi, kami tak putus komunikasi. Atas dasar ingin berkuliah di tempat yang sama, aku selalu menghubungi Raka. Menanyakan banyak hal pada pria itu.
Dan kami kembali bertemu di Inggris, saat aku masuk di universitas yang sama dengannya. Kami juga berada di jurusan yang sama.
Hari-hari berlalu dan hubungan kami semakin dekat. Dia juga tidak terlihat dekat dengan gadis manapun kecuali aku. Dia selalu bersikap dingin dengan gadis mana saja selain aku.
Aku percaya dia menaruh hati padaku. Hanya saja, mungkin dia masih membutuhkan banyak pencapaian sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis.
Aku tak masalah dengan itu. Aku bisa menunggunya sampai kapanpun. Aku bersedia menunggunya melamarku.
Saat keluarganya datang berkunjung ke Inggris, aku pun memperkenalkan diri pada mereka. Tak hanya aku, tapi juga Tommy— teman seangkatan Raka yang berkebangsaan Inggris.
Aku berusaha menarik perhatian keluarganya. Terutama pada kedua orang tuanya. Aku bahkan meminta pada ayahku untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Pak Anggara— ayahnya Raka.
Akupun dengan cepat, membaur dengan seluruh anggota keluarganya. Raka memang terlihat sangat dekat dengan seluruh anggota keluarganya. Tapi, dia terlihat sangat dekat dengan sepupu perempuannya. Gadis itu bernama Qiana.
Setiap hari aku selalu menyaksikan Raka dan Qiana yang selalu bergandengan tangan ke manapun. Seolah gadis itu butuh perhatian ekstra dari Raka. Dan orang tuanya juga menjelaskan jika hal itu selalu mereka lakukan sejak kecil.
Qiana Larasati. Aku tak pernah suka melihatnya sejak pertama kali kami bertemu. Gadis itu selalu memonopoli Raka ku. Tapi, saat dia memanggilku dengan sebutan calon kakak ipar, akupun jadi menyenangi gadis itu.
Sejak saat itu, hubungan aku dan Qiana menjadi lebih dekat. Tapi, itu semua tanpa sepengetahuan Raka. Dari Qiana lah aku tau apa saja yang menjadi kesukaan Raka. Aku sering mengirimkannya banyak hal, agar dia terus memberikan banyak informasi tentang Raka.
__ADS_1
Dia bahkan berjanji padaku agar Raka segera mengumpulkan keberanian untuk melamarku. Tapi, beberapa tahun setelahnya, pertunangan antara aku dan Raka tak juga terjadi. Pria itu masih terus sibuk mengurusi perusahaan milik keluarganya. Agar sering memiliki banyak kesempatan bersama, beberapa kali aku meminta ayahku kembali menjalin kerjasama dengan perusahaan keluarga Raka.
Dan setelah semua perjuanganku selama bertahun-tahun, untuk pertama kalinya Raka menghubungi ku dan mengajakku bertemu. Pria itu bahkan mengundangku untuk makan siang bersamanya.
Aku pikir, dia akan melamarku. Aku pikir dia akan mengajakku menikah. Aku memakai pakaian terbaikku. Aku ingin terlihat menawan di hadapannya. Mungkin saja dia sudah menyiapkan sebuah kejutan manis untuk melamarku.
Menyewa satu restoran hanya untuk kami berdua, misalnya. Atau menghiasi restoran itu dengan banyak bunga hanya untuk menarik perhatianku.
Tapi, saat aku tiba di restoran yang dia maksud. Tidak terlihat keanehan di sana. Restoran itu masih ramai dengan beberapa pengunjung. Restoran itu tidak dipenuhi oleh bunga. Bahkan, satu buket bunga pun tidak ada.
Raka melambaikan tangannya dengan wajah sumringah. Aku pun membalasnya dengan tak kalah sumringah.
“Aku sudah memesankan makanan untukmu. Kita makan dulu ya. Setelah itu ada yang ingin aku berikan,” ucapnya dengan penuh semangat.
“Spaghetti aglio olio kan?” tanyanya.
Apa dia menyembunyikan cincinnya di dalam spaghetti itu?
Aku sungguh berharap itu terjadi. Setidaknya pria kaku ini berusaha bersikap romantis sedikit saja.
Aku santap spaghetti itu perlahan-lahan. Aku tidak mau tiba-tiba harus tersedak cincin pertunangan lalu mati begitu saja sebelum menikah dengan Raka.
“Kamu hari ini cantik sekali, Fir,” ucapnya.
Aku tau dengan pasti jika wajahku berubah merah. Ini pertama kali dirinya memujiku. Aku pun semakin yakin jika Raka akan melamarku.
“Ka-kamu juga hari ini terlihat sangat bersemangat,” ucapku.
__ADS_1
Wajah pria itu semakin sumringah. “Aku sangat bahagia hari ini. Dan aku akan memberitahukan berita bahagia itu kepada kamu. Kamu orang pertama di luar keluarga yang tau tentang hal itu. Aku pun berharap Tommy ada di sini dan menyaksikannya.”
Jantungku semakin berdebar mendengar ucapannya. Di Inggris, kami sering menghabiskan waktu bertiga. Dia pasti ingin Tommy menjadi saksi lamaran kami.
“Ayo cepat habiskan makanan mu. Ada kejutan setelah itu,” ucapnya.
Aku pun mengangguk. Aku kembali menyantap dengan hati-hati. Tapi, aku sama sekali tak menemukan cincin di dalam piring spaghetti itu.
Aku menatapnya heran. Wajahnya pun semakin sumringah. Apa dia akan memberikan cincin itu begitu saja setelah kami selesai menyantap makan siang ini?
Tanpa sadar aku tersenyum kecil. Apa yang bisa aku harapkan dari pria yang kaku ini. Bahkan hanya untuk sekadar menyatakan perasaannya, dia membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Kini dia sudah menjabat sebagai direktur utama di perusahaan milik ayahnya. Karirnya sedang sangat baik. Perusahaan yang dijalankannya pun tengah berkembang semakin baik. Dia pasti sudah siap untuk membina rumah tangga.
Apa yang akan aku katakan jika dia ingin menikahi ku secepatnya? Bulan depan? atau bahkan Minggu depan, mungkin?
Aku berusaha menahan senyum sumringahku. Aku tidak mau menunjukkan jika aku sudah tau rencananya yang ingin melamarku. Aku ingin dia berpikir bahwa aku begitu terkejut dengan apa yang akan dia sampaikan.
Dan, aku pun benar-benar terkejut. Bahkan dunia ini seolah runtuh di hadapanku. Ternyata dia bukan ingin memberikan cincin pertunangan kepadaku. Dia bukan ingin melamarku.
Dia memang akan segera menikah. Bahkan, dia akan menikah minggu depan. Tapi, itu bukan denganku. Bukan aku wanita yang dipilih untuk mendampingi dirinya. Bukan aku wanita yang akan bersanding dengannya di pelaminan. Ternyata bukan aku alasan pria itu terus menampilkan wajah sumringah sedari tadi.
Gadis itu adalah gadis yang diakuinya sebagai cinta pertamanya. Dia memang pernah bercerita mengenai cinta pertamanya itu. Gadis yang dia cintai sejak masa SMP. Selama ini, aku pikir gadis itu adalah aku. Tapi ternyata aku salah. Gadis yang dia maksud selama ini ternyata bukanlah aku.
Dan yang membuat aku semakin terpuruk, gadis itu adalah gadis yang selalu membantuku agar bisa semakin dekat dengan Raka. Gadis itu adalah gadis yang memanggilku dengan sebutan kakak ipar.
Raka mengajakku bertemu hanya untuk memberikan undangan pernikahannya bersama Qiana.
__ADS_1
Qiana Larasati. Gadis itu sudah menyakitiku sampai ke sum-sum tulang. Aku tidak akan bisa memaafkan dirinya. Aku akan balas rasa sakit ini padanya!