Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 55- Panik


__ADS_3

Pagi itu, apa yang direncanakan oleh Raka, seketika buyar. Hasratnya yang begitu menggebu-gebu, membuat istri dan calon bayinya, mungkin dalam keadaan bahaya.


Cairan yang memancar dari dalam tubuh Qiana di usia kandungan yang baru memasuki delapan bulan, membuat sepasang suami istri itu begitu panik. Raka bahkan lupa memakai pakaiannya. Jika Qiana tak berteriak sekuat mungkin, tentu Raka sudah menggendongnya keluar kamar dengan kondisi bu-gil.


Secepat kilat Raka memakaikan pakaiannya, juga membantu sang istri memakai daster kebanggaannya.


Bersama Qeiza, Raka membawa Qiana ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari kediaman mereka. Dan memang di rumah sakit itulah Qiana diperiksa. Bahkan, Sean pun lahir di rumah sakit yang sama.


Begitu tiba di rumah sakit, Raka berteriak meminta para perawat membawakan kursi roda untuk sang istri. Dan Qiana pun lantas diperiksa oleh bidan yang berjaga di ruang instalasi gawat darurat.


Perawat itu memasukkan satu jari ke dalam liang Qiana.


“Belum ada pembukaan dan sepertinya tidak ada tanda-tanda jika ketuban pecah ataupun merembes keluar,” ucap sang bidan.


Raka dan Qiana saling pandang. Begitu pun dengan Qeiza. Wanita paruh baya itu menatap anak dan menantunya bergantian.


“Tapi tadi ada air yang mengalir, Bu,” ucap Qiana panik. Ucapan gadis itu pun dibenarkan oleh Raka yang ikut merasakan semburan kecil itu.


“Baiklah kalau begitu. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan dokter kandungannya ya. Nanti akan diperiksa lebih jauh oleh dokter Rio,” ucap bidan itu.


Dan tak lama, Qiana pun mendapatkan pemeriksaan lengkap dari dokter spesialis obgyn.


“Hasil pemeriksaannya cukup bagus. Air ketuban juga masih banyak dan jernih. Tidak ada tanda-tanda pecah ketuban dini. Bahkan tidak ada tanda-tanda jika air ketubannya merembes,” ucap dokter itu.


“Tapi tadi saya benar-benar merasakan ada air mendadak keluar dari bawah sini, Dok,” ucap Qiana.


“Saya juga merasakannya, Dok,” ucap Raka tak mau kalah. Sepasang suami istri itu tidak mau terlihat seperti pembohong di hadapan sang ibunda yang sejak tadi sudah begitu panik. Dan mereka berdua memang benar-benar merasakan ada air yang tersembur keluar dari sana.


“Bapak juga merasakan?” tanya dokter heran. Raka menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Iya Dok,” jawabnya.


“Memangnya, saat itu posisi Bu Qiana sedang apa? Sampai Bapak pun ikut merasakan cairan ketuban,” tanya dokter Rio.


“Kita sedang, hmm... itu Dok,” jawab Raka ragu. Sesekali pria itu bahkan melirik ke arah sang mertua.

__ADS_1


“Iya, sedang apa?” tanya dokter sekali lagi.


Qiana pun merasa kesal karena sang suami Raka menjawab pertanyaan dokter dengan tegas.


“Kita lagi berhubungan in-tim, Dok!” jawab Qiana lantang.


Mata Raka melebar. Begitu juga Qeiza. Hanya Qiana sendiri yang terlihat cuek di sana. Sang dokter tertawa kecil dan terlihat menganggukkan kepalanya.


“Bisa jadi saat itu Bu Qiana sedang mencapai *******,” ucap sang dokter kemudian.


“Tidak mungkin, Dok,” bantah Raka.


“Hasil pemeriksaan juga tidak menunjukkan adanya pecah ketuban dini, Pak. Dan tadi Ibu Qiana mengatakan jika Bapak dan Ibu sedang berhubungan. Bisa jadi itu cairan yang keluar karena Bu Qiana sedang mencapai puncaknya,” jelas sang dokter.


“Tapi kejadiannya beberapa saat setelah saya menyelesaikan permainan kami. Bahkan saat saya mau menarik kelu—”


Raka menghentikan ucapannya saat menatap sang ibu mertua menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kira-kira seperti itu, Dok,” lanjut Raka.


Raka dan Qiana menganggukkan kepalanya. Sepasang suami istri itu akhirnya mengembuskan napas panjang. Mereka lega karena ternyata tak terjadi hal yang menghawatirkan.


Dokter pun menyatakan jika hasil pemeriksaan kandungan dan fisik Qiana sangat baik.


Raka dan Qiana pun keluar dari rumah sakit dengan perasaan lega. Berbeda dengan Qeiza. Ibu kandung Qiana itu menatap anak dan menantunya dengan kesal.


“Bisa-bisanya kalian tidak bisa membedakan mana air ketuban mana air 'itu'!” ucap Qeiza kesal saat mereka semua sudah berada di dalam mobil.


“Kalian itu sudah membuat Mama menjadi panik setengah mati!” ketusnya lagi.


“Mana Qia mengerti Ma. Qia kan belum pernah hamil. Ini pertama kali Qia hamil. Jadi, Qia pikir air itu air ketuban,” sungut Qiana.


Qeiza menarik napas panjang. Wanita paruh baya itu menggeleng kepalanya, kemudian.

__ADS_1


“Memangnya kamu tidak pernah sampai keluar begitu?” tanya Qeiza. Entah mengapa sejak melihat Qiana dan Raka terkejut dengan ucapan dokter kandungan tadi, Qeiza merasa penasaran dengan aktivitas ranjang sang anak.


Apa Raka tidak pernah memberikan kepuasan pada anaknya, hingga Qiana tak tau jika itu adalah cairan cintanya?


“Ya selalu keluar, Ma. Setiap 'gituan' juga selalu keluar. Tapi kali ini beda,” jelas Qiana. Raka yang sedang berada di balik kemudi berusaha menenangkan dirinya yang tegang ketika Qiana membicarakan aktivitas ranjang mereka kepada sang mertua.


“Apanya yang berbeda? Keluar ya keluar. Kalau kamu pernah merasakan *******, harusnya kamu tau yang keluar itu cairan apa?!” ucap Qeiza. Wanita paruh baya itu tak habis pikir dengan alasan anaknya. Apa anaknya itu sedang menutup-nutupi ketidakmampuan suaminya? Begitulah pikir Qeiza.


“Padahal tadi Mas Raka sempat mengatakannya kepada dokter Rio. Apa Mama tidak mendengarnya?” tanya Qiana.


“Mengatakan apa? Mama hanya tau Raka mengatakan jika kalian sedang melakukan hal itu saat cairannya keluar,” jawab Qeiza.


“Cairan itu keluar saat Mas Raka sudah selesai. Bahkan Mas Raka sudah ingin mengeluarkan Pe—”


Ucapan Qiana seketika terhenti saat Raka menyikut lengannya. Raka tentu saja tak mau mendengarkan ibu dan anak itu membicarakan benda miliknya. Setidaknya jangan membicarakan hal itu di hadapannya.


“Padahal beberapa saat sebelumnya, Qia sudah keluar. Tapi saat mas Raka selesai, air itu malah keluar lagi. Makanya Qia pikir itu cairan ketuban!” jelas Qiana.


Qeiza mengembuskan napas kasar. “Kalian ini memang ada-ada saja. Papa sampai pulang dari kantor lebih awal karena hal ini,” ucap Qeiza.


“Kamu juga, Raka. Kami hari ini tidak bekerja? Proyek kamu dengan perusahaan asing itu sudah selesai?”


“Raka berangkat siang, Ma. Sehabis mengantar Mama dan Qia, Raka akan bersiap untuk meeting dengan kolega dari Inggris itu,” jawab Raka.


“Mulai hari ini, Qia tidak mau lagi ikut Raka ke kantor. Karena takut Raka terlalu merindukan Qia, makanya pagi ini kita, hmm... itu,” ucap Raka terbata.


Qiana terkekeh mendengar penjelasan sang suami. “Mas Raka minta jatah. Isi amunisi dulu, Ma. Soalnya kata Mas Raka, jauh dari Qia itu berat. Iya kan, Mas!” seru Qiana lantas. Raka pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.


Qeiza hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat interaksi kedua anaknya itu. Namun, dalam hati wanita paruh baya itu dipenuhi dengan banyak rasa syukur.


Bersyukur karena kandungan Qiana ternyata baik-baik saja. Dan bersyukur karena rumah tangga anaknya yang dimulai oleh suatu kebohongan besar itu, berjalan dengan sangat baik. Raka dan Qiana bahkan sudah saling mencintai.


Qeiza berharap, rumah tangga anaknya akan terus berjalan dengan mulus tanpa ada lagi masalah.

__ADS_1


Tapi, tampaknya, harapan Qeiza tak sepenuhnya terjadi. Karena, ketika tau jika Qiana tak lagi ikut Raka bekerja. Safira berusaha membuat Raka lebih lama menghabiskan waktu dengannya.


“Kamu bisa mengantarkan aku ke apartemen kan, Ka? Soalnya hari ini aku tidak bawa mobil. Mobilku sedang di bengkel.”


__ADS_2