Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 57- Siasat Safira-2


__ADS_3

Qiana meradang, pasalnya Joko— sopir yang dia tugaskan untuk mengantar sang suami— memberikan informasi jika mereka lebih dulu menjemput seorang wanita bernama Safira.


Qiana seketika menghubungi Raka. Gadis itu tak peduli, walau Raka tengah bekerja. Qiana tak peduli jika itu menghambat pekerjaan Raka.


Bekerja? Benarkah suaminya itu sedang bekerja?


Qiana kini meragukan sang suami. Raka mengatakan jika mereka akan melakukan rapat di salah satu ruang rapat di hotel tempat Mark menginap. Dan Joko juga memberikan informasi yang sama. Raka memang memintanya mengantarkan pria itu ke hotel yang sesuai dengan yang Raka katakan, malam tadi.


Tapi, benarkah Raka ke hotel itu untuk bekerja? Untuk apa dia menjemput Safira? Apa itu hanya akal-akalan sang suami agar dapat bersenang-senang dengan gadis seksi itu?


Bukankah Raka sudah terbiasa melakukan rekayasa? Bahkan pernikahan mereka terjadi karena rekayasa pria itu di sebuah kamar hotel.


Rasa tak percaya diri akan bentuk tubuhnya, rasa sakit hati karena sang suami tak tepati janji, membuat Qiana menangis sesenggukan.


Tapi, walau gadis itu sedang menangis, sama sekali tak menghalanginya untuk menghubungi sang suami. Dia ingin tau kebenaran itu dari mulut Raka.


Qiana melakukan panggilan video.


Raka yang merasakan getaran dari ponsel, langsung mengecek ponsel itu. Pria itu bertanya-tanya, untuk apa Qiana melakukan panggilan video? Bukankah dirinya sudah mengabarkan jika kini sudah berada di ruang rapat? Apa terjadi sesuatu pada istrinya itu?


Bagi Raka, Qiana tetaplah nomor satu. Pria itu meminta izin untuk keluar sebentar dari ruang meeting. Namun, Raka tak mengatakan jika dia akan menjawab panggilan video dari istrinya.


“Kamu kenapa, Dek? Kamu kontraksi? Kenapa mata kamu sembab begitu?” tanya Raka. Pria itu benar-benar panik saat melihat wajah sembab Qiana saat menghubunginya


“Mas pulang secepatnya ya,” ucap Raka.


“Mas sedang di mana?” tanya Qiana dengan suaranya yang serak.


“Di Hotel Horison. Kamu sudah tau kan? Mas tadi lagi meeting, karena kamu menghubungi, jadi Mas izin keluar sebentar. Tapi, kalau kamu butuh Mas, Mas akan pulang sekarang juga,” ucap pria itu. Raka masih terlihat panik.


Qiana menggelengkan kepalanya. “Kandungan Qia baik-baik saja,” ucap gadis itu.


Raka pun terlihat mengembuskan napas lega.

__ADS_1


“Mas ... Kenapa Mas menjemput Mba Fira ke apartemennya?”


Deg!


Raka seketika terlihat membeku. Qiana pasti mengetahui hal itu dari Joko— sopir mereka. Tentu saja Raka tak bisa mengelak apalagi berbohong pada sang istri. Terlebih saat ini dia sudah mengetahui apa penyebab mata sembab Qiana. Itu semua karena dirinya menjemput Safira.


“Maaf Dek,” lirih Raka.


“Qia tidak butuh kata maaf dari mulut Mas. Qia butuh penjelasan!” ketus gadis itu.


“Mobil Fira lagi di bengkel, jadi dia meminta tolong pada Mas untuk menjemputnya.”


Qiana tertawa kecil mendengar penjelasan sang suami.


“Kita ini hidup di Ibukota, Mas. Banyak taksi berkeliaran. Ada taksi online juga yang bisa dia pesan. Lalu, kira-kira kenapa dia lebih memilih agar Mas menjemputnya? Apa kalian mau check-in di hotel itu!?” ketus Qiana.


“Ya ampun Dek. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Mas di sini untuk bekerja, Dek. Lagian, ini Safira. Tidak mungkin ji—”


“Justru karena dia Safira. Dia itu Safira. Satu-satunya wanita yang dekat dengan Mas sejak dulu. Sejak kalian masih berseragam putih biru!” amuk Qiana.


“Tidak. Qia tidak lagi percaya dengan Mas Raka. Sudah berapa kali Mas melanggar janji? Haruskah Qia percaya pada Mas yang sudah berulang kali ingkar janji?”


“Hubungan Mas dengan Safira hanya teman biasa. Tidak lebih dari itu. Mas tau kalau Qia cemburu. Tapi, niat Mas hanya memberi tumpangan untuk dia,” lirih Raka. Pria itu berharap jika Qiana mau mengerti dengan alasan yang diberikannya. Raka benar-benar tak pernah menganggap Safira lebih dari seorang teman. Tak berubah, sejak dulu hingga kini.


“Mas, Qia memang tidak jenius seperti kalian. Tapi Qia tidak bodoh. Ada banyak taksi di luaran sana. Keluarganya kaya raya. Apa tidak bisa meminta orang tuanya mengirimkan dia mobil dan sopir pribadi? Masa pikiran Mas tidak sampai ke situ, sih? Atau, pikiran Mas sudah tumpul kalau itu berhubungan dengan Mba Fira?!”


“Fira tidak nyaman bepergian dengan orang yang tidak terlalu dia kenal dekat. Makanya sejak dulu dia selalu bepergian dengan kendaraannya sendiri,” jelas Raka. Pria itu tak mau jika Qiana terus salah paham pada sahabatnya itu.


Harapan Raka tak terwujud, sang istri bukannya merasa lebih baik saat penjelasannya. Air mata Qiana justru mengalir semakin deras.


“Mas lebih mementingkan kenyamanan perempuan lain ketimbang kenyamanan istri sendiri,” ucap Qiana dengan terbata.


“Bukan begitu, Sayang. Mas—”

__ADS_1


Belum selesai Raka menjelaskan pada Qiana, terdengar suara seorang wanita memanggil nama pria itu. Dan Qiana seketika memutuskan panggilan video itu saat mendengar suara Safira.


“Sudah 15 menit kamu di luar. Kita masih banyak hal yang perlu didiskusikan loh,” ucap Safira.


“Memangnya siapa yang menelepon?”


“Qia,” lirih Raka.


“Ada apa dengan Qia? Tidak terjadi sesuatu kan? Qia tidak mau lahiran sekarang kan?”


Raka menggelengkan kepalanya. “Qia sedang sedih dan kalut sepertinya,” ucap Raka.


Safira pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Itu pasti karena hormon kehamilan. Kalau dari jurnal yang sering aku baca, hal seperti itu biasa dialami oleh seseorang yang sedang mengandung. Mereka biasanya lebih sensitif. Kakakku juga mengalaminya,” jelas Safira. Raka terlihat menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Safira.


Ya, mungkin Safira benar. Qiana sedang sangat sensitif sekarang dan mungkin itu juga karena istrinya itu tengah mengandung.


Raka mengembuskan napas berat. Raka akui jika dirinya salah karena tak jujur pada Qiana. Tapi, Raka juga merasa kurang suka dengan tuduhan-tuduhan yang diucapkan Qiana.


“Kamu harus sabar menghadapi Qia. Yang dia kandung itu adalah anak kamu, Ka. Kamu yang menyebabkan dia hamil. Jadi, kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus sabar menghadapi mood swing ibu hamil!” lugas Safira.


Raka tersenyum lebar mendengar ucapan Safira. Andai istrinya mendengar apa yang Safira ucapkan, istrinya itu pasti akan berubah pikiran. Safira memang benar-benar sahabat yang baik. Gadis itu tidak hanya baik pada dirinya. Safira juga turut memberikan perhatian pada Qiana.


Bagi Raka, Qiana benar-benar telah cemburu buta. Bisa-bisanya gadis itu merasa cemburu yang begitu membabi buta pada seorang perempuan yang telah menganggapnya sebagai seorang adik. Raka yakin, Safira menganggap Qiana sebagai adiknya sendiri karena gadis itu juga menganggap dirinya seorang teman baik.


Bukankah kamu selalu menganggap adik sahabatmu sebagai adikmu sendiri?


“Ayo, Ka. Kita harus selesaikan pembahasan kita. Dan mungkin hari ini kamu akan pulang terlambat. Karena besok lusa, dia sudah harus kembali ke Inggris,” jelas Safira.


“Mark balik ke Inggris besok lusa? Bukannya dia akan di sini selama satu bulan?” tanya Raka.


“Tidak. Besok lusa dia sudah harus kembali ke Inggris. Ada hal mendesak yang harus dia urus di Techno.”

__ADS_1


Dan aku yakin jika Qiana akan semakin gelap mata saat mengetahui jika kita hanya akan mengurus proyek ini berdua saja.


__ADS_2