
“Mas Raka kenapa? Kesambet ya?” ejek Mika. Adik kandung Raka itu begitu heran melihat wajah sang kakak lelaki yang begitu sumringah. Padahal pria itu biasanya sangat dingin dan kaku.
“Iya ... Kesambet cinta Qiana,” ucapnya seraya melirik sekilas pada Qiana.
Seluruh anggota keluarga Bratajaya terperanjat mendengar ucapan Raka. Pria yang jarang berbicara panjang lebar itu kini bisa bercanda bahkan mengeluarkan kalimat gombalan seperti itu.
“Wah ... Benar-benar kesambet nih orang!”
“Qiana hamil,” ucap Raka riang. Senyum sumringah tak lepas dari wajah pria itu sedari tadi.
Seluruh anggota keluarga Bratajaya kembali terperangah.
“Mba Qia kok bisa hamil?!” pekik Mika.
Ivona menoyor sang anak bungsu. “Kamu tidak ada pertanyaan lain?! Mereka sudah menikah, makanya Qia bisa hamil!” ucap Ivona kesal. Qeiza dan Ivander terkekeh mendengar dan melihat interaksi Ivona dan Mika.
“Masalahnya, kok Mba Qia mau sih dihamili Mas Raka yang seperti kulkas ini?!”
Sean berdecak kesal mendengar ucapan Mika. Pria itu berjalan melewati Mika sembari menyenggol pundak gadis itu hingga Mika hampir tersungkur.
“Dasar bocah kurang ajar!” cebik Mika. Gadis itu bahkan menendang kaki Sean. Tapi, adik sepupunya itu tak menanggapinya.
Sean melangkahkan kakinya mendekati Raka dan Qiana. Pria itu lalu memeluk Raka serta mengucapkan selamat pada kakak sepupu sekaligus iparnya itu.
Sean kemudian menghampiri Qiana dan melakukan hal yang sama.
“Selamat ya Mba. Mba Qia sebentar lagi jadi ibu,” ucapnya. Sean pun melepaskan pelukannya. Tapi, pria itu tak lantas menjauh dari Qiana. Sean masih berdiri di sisi ranjang rumah sakit. Pria itu menatap sang kakak dengan mata sayu.
“Sean belum sempat meminta maaf kepada Mba Qia. Maafkan Sean ya, Mba,” lirihnya.
“Mika juga minta maaf, Mba,” ujar gadis yang tiba-tiba sudah berdiri di sisi Raka dan Sean.
__ADS_1
Qiana menghela napas berat. Tak ada alasan baginya untuk tidak memaafkan Sean. Toh dia juga sudah memaafkan sang suami— orang yang menjadi dalang atas peristiwa penjebakan di kamar hotel, tujuh bulan lalu. Tapi, rasa kecewa terhadap Raka, Sean dan Mika masih bersarang di hatinya.
Qiana masih diam. Matanya menatap Raka, Sean dan Mika bergantian. Ketiga orang yang ada di hadapannya ini, adalah orang-orang yang berhasil membuatnya membenci Qeiza— ibu kandungnya. Ketiga orang itu adalah orang-orang yang menjadi penyebab hubungannya dengan sang ibu kandung merenggang.
“Mba ...,” lirih Mika. Mika dan Sean menatap Qiana dengan penuh harap.
“Mas Raka sudah diberi maaf. Kenapa Sean dan Mika tidak dimaafkan,” keluh gadis itu.
“Iya ... Mba sudah maafkan,” ketus Qiana.
Sean tersenyum tipis. Sementara Mika langsung tersenyum sumringah dan menerkam Qiana. Gadis itu memeluk sang kakak ipar dengan erat.
“Terima kasih Mba! Mika tau, Mba Qia tidak mungkin bisa berlama-lama marah dengan Mika!” pekik gadis itu.
“Mba memaafkan kalian karena Mba tidak mau kalau anak Mba nantinya menyebalkan seperti kalian berdua!” cebik Qiana.
Mika spontan melepaskan Qiana dari pelukannya. Gadis itu menatap tajam Qiana di tengah suara riuh anggota keluarga Bratajaya lainnya yang tertawa.
Bahkan seluruh anggota keluarga Bratajaya memaksa untuk ikut serta dalam pemeriksaan kehamilan. Kehadiran calon cicit pertama Andreas Bratajaya membuat seluruh anggota keluarga begitu antusias.
Tak terkecuali Sean.
Tapi, tentu saja pria itu tidak ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Walaupun dia sangat ingin melihat kondisi calon keponakannya, namun pria itu merasa malu dengan sikap seluruh anggota keluarganya.
“Yakin kamu tidak mau ikut masuk ke ruang pemeriksaan?” tanya Ivander.
“Memangnya kamu tidak penasaran dengan bayi yang dikandung Mba Qia?” tanya Ivona.
“Siapa tau wajah bayi Mba Qia mirip dengan kamu, Se,” celetuk Mika.
“Mba, kamu itu di sekolah tidak belajar atap tidak sih?! Mba Qia itu baru hamil. Mana mungkin wajah anaknya sudah kelihatan. Tubuh bayinya saja belum berbentuk!” ketus Sean.
__ADS_1
Mika berjalan mendekati Qiana yang duduk di kursi roda, lalu mengelus perut kakak iparnya itu sembari mengatakan amit-amit.
“Jangan sampai keponakanku ini mirip Om dan Papanya yang ketus dan gak punya hati,” ucap gadis itu.
“Masih mending tidak punya hati ketimbang tidak punya otak dan tidak punya malu seperti Mba Mika,” cebik Sean.
Kembali anggota keluarga Bratajaya terkekeh mendengar celotehan Sean dan Mika. Sepasang sepupu ini memang tidak pernah akur. Biasanya, Qiana selalu berada di pihak Mika. Tapi kali ini Mika lebih banyak diam karena sebenarnya hati gadis itu masih belum baik-baik saja. Rasa kecewa itu masih bersemayam di hatinya.
Raka pun menyadari hal itu. Menyadari jika sang istri masih lebih banyak diam. Istrinya itu hanya sesekali melemparkan senyuman tipis.
“Sudah ... Kalian jangan bertengkar terus. Ingat, kita masih di rumah sakit,” ucap Raka. Pria itu tak mau Qiana semakin merasa tidak nyaman dengan situasi di sekelilingnya.
Sean dan Mika terpaksa menahan keinginan mereka untuk saling beradu argumentasi. Mereka kembali melangkah menuju ruang praktek dokter spesialis obgyn.
Dan Sean hanya melihat pintu ruangan itu tertutup setelah seluruh anggota keluarganya masuk ke ruang dokter spesialis kandungan itu. Pria itu memilih untuk duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan itu.
Berbeda dengan Sean yang duduk dengan rasa penasaran. Seluruh anggota keluarga Bratajaya lainnya tengah sama-sama memerhatikan layar besar yang menampilkan kondisi janin yang ada di rahim Qiana dengan tatapan penuh antusias.
Terlebih saat mendengarkan detak jantung janin tersebut. Seluruh anggota keluarga Bratajaya terlihat haru. Raka bahkan kembali meneteskan air mata. Pria itu pun mendekati Qiana dan mengecup dahi gadis itu.
“Terima kasih,” lirihnya sembari tersenyum lembut pada sang istri. Qiana pun membalasnya dengan tersenyum kecil.
“Jadi usia kandungan Bu Qiana masih berusia tujuh minggu. Masih kecil sekali. Kira-kira masih sebesar kacang polong. Tapi kondisi semuanya sehat,” ucap sang dokter.
“Hanya saja perlu lebih memperhatikan asupan makanan dan cairan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali. Tolong ya Pak, asupan makanan istrinya diperhatikan lagi.”
“Pasti Dok,” jawab Raka.
“Biarkan Bu Qiana istirahat total satu atau dua Minggu ya, Pak. Jangan diganggu dulu. Kalau nanti mengalami mual, mungkin bisa konsumsi air jahe untuk menghilangkan mualnya. Tapi, kalau mual dan muntah berlebihan harus langsung periksa ya,” jelas dokter itu lagi.
Setelah semua wejangan yang ucapkan oleh sang dokter. Seluruh anggota keluarga Bratajaya pun meninggalkan ruang periksa itu. Qiana bahkan sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumah.
__ADS_1
Dan seperti janjinya, Raka ikut tinggal bersama Qiana di rumah mertuanya. Setiap pagi, pria itu selalu memasak untuk Qiana. Bahkan setelah memasak, Raka langsung menyuapi sang istri. Pria itu baru menyantap makanan miliknya, setelah Qiana selesai melahap seluruh makanannya.