
Safira menyerah untuk sementara. Gadis itu lebih takut jika keluarganya hancur dibandingkan tak bisa memiliki Raka. Gadis yang selalu hidup bergelimang harta sejak lahir itu, tak bisa membayangkan jika harus hidup dalam garis kemiskinan. Tommy bukan pria sembarangan. Tommy bisa menghancurkan dirinya dan keluarganya dengan mudah. Bahkan bisa membuat seluruh keluarganya hidup di jalanan. Keluarga pria itu sangat berpengaruh di dunia bisnis internasional. Apa saja bisa dilakukan Tommy di dunia ini.
Safira harus merelakan Raka untuk Qiana, tapi tentu saja tak selamanya. Dia masih berharap untuk bisa memiliki Raka suatu saat nanti. Selagi membantu sang ayah memulihkan perusahaan keluarga mereka, Safira juga terus memikirkan berbagai kemungkinan untuk dia bisa memiliki Raka.
Bulan demi bulan pun bergulir. Safira kini sudah menikahi seorang pria. Tentu saja pria itu tak pernah dicintainya. Safira menikah karena harus menyelamatkan perusahaan sang ayah. Pernikahan itu terjadi semata-mata karena bisnis. Bahkan, Tommy turut andil dalam memilihkan calon suami untuk Safira. Pria itu tak akan membiarkan Safira bahagia.
Walau Safira tetap hidup bergelimang harta, tapi gadis itu harus rela memiliki suami dengan usia yang hampir sama dengan ayahnya. Bahkan, sang suami memiliki seorang anak dengan usia yang hampir sama dengan Safira.
Bekerja adalah pelampiasan bagi Safira untuk bisa lepas sejenak dari sang suami. Setiap hari Safira selalu bersemangat untuk pergi bekerja. Gadis itu masih bekerja di perusahaan milik keluarganya. Melakukan perjalanan bisnis keluar kota adalah hal yang paling Safira senangi, belakangan ini karena dia bisa terhindar dari melayani pria tua itu.
Sementara Raka dan Qiana menjalani hidup dengan banyak kebahagiaan. Bagaimana tidak, saat Darma menginjak usia 6 bulan, Qiana kembali mengandung anak kedua. Dan 9 bulan kemudian, Raka dan Qiana pun kembali dianugerahi anak laki-laki. Sepertinya, Tuhan tidak ingin ada yang menyaingi kecantikan Qiana di keluarga itu.
Perusahaan dirintis oleh Raka bersama istri dan adiknya pun mulai berkembang. Banyak klien yang luas dengan kinerja perusahaan skala kecil itu. Mereka bahkan sudah mempekerjakan beberapa orang karyawan.
Raka bahkan menyewa ruko berbeda untuk usaha kuliner yang dirintisnya bersama sang istri. Mereka juga sudah mempunyai beberapa karyawan yang membantu di kafe kecil itu.
Kehidupan berjalan begitu lancar bagi Raka dan Qiana. Tanpa mereka tau, jika Tommy juga turut andil dalam kemajuan usaha mereka. Pria itu merekomendasikan Raka ke beberapa perusahaan di Ibukota.
Dan benar apa yang diucapkan oleh Tommy. Safira hanya akan menyaksikan betapa Raka dan Qiana hidup berbahagia. Walau Safira selalu menampilkan sebuah senyum dan tawa kecil setiap hari, tapi hati gadis itu begitu sakit saat melihat Raka dan Qiana semakin bertambah mesra.
Tommy bahkan mengatur agar Safira dapat melihat pemandangan itu sesering mungkin. Perusahaan milik suami Safira bekerjasama dengan perusahaan milik Raka. Bahkan, perusahaan milik suami Safira, beberapa kali mengadakan jamuan makan untuk Raka dan seluruh staff perusahaan kecil itu. Dan Raka selalu mengajak Qiana bersamanya.
__ADS_1
Safira pun semakin kalut. Dia terus memikirkan cara untuk bisa memiliki Raka.
“Ah, sepertinya aku harus membuat kembali Tommy membenci Raka. Jika Tommy kembali membenci Raka, pria itu tidak akan lagi mau melindungi Raka,” gumam Safira suatu hari. Gadis itu pun terus berupaya membuat Tommy kembali membenci Raka.
Namun, tentu saja usaha Safira itu tak membuahkan hasil. Tommy hanya menertawakan dirinya saat mengatakan jika Raka berulang kali membicarakan kejelekan Tommy kepada beberapa kliennya.
“Raka bahkan mengatakan jika kamu bukanlah orang yang berhasil selama perkuliahan. Kamu hanyalah pria bodoh yang berusaha mendekatinya agar bisa lulus dari universitas,” ucap Safira kala itu.
Tommy tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Kenapa Safira menjadi gadis bodoh seperti sekarang? Pikir Tommy.
“Apakah menikah dengan pria tua itu membuat otakmu itu ikut berkerut?” ejek Tommy. Mata Safira membulat mendengarnya. Ini adalah upaya terakhir yang dia punya dan sepertinya Tommy lagi-lagi tidak termakan oleh ucapannya.
“Aku yakin jika Raka tidak akan mengatakan hal konyol seperti itu. Dan jikapun dia mengatakan hal itu, apa kamu pikir itu akan memengaruhi aku? Memengaruhi hidupku? Memengaruhi saham perusahaan keluargaku? Tidak Safira. Sama sekali tidak. Ucapan-ucapan seperti itu tidak penting bagiku. Karena semua perusahaan dari penjuru dunia, sudah psti ingin bekerjasama dengan perusahaan kami.
Safira sadar akan kebodohannya. Ucapan seperti itu tentu tidak akan berpengaruh bagi Tommy. Gadis itu benar-benar putus asa, sekarang.
Tak adalagi cara untuk dia bisa bersama Raka. Safira menyerah.
Kehidupan Raka dan Qiana pun berjalan begitu lancar. Setelah beberapa tahun berlalu, mereka bahkan dapat membeli kembali rumah peninggalan sang kakek. Raka dan Qiana kembali merasakan hidup tenang. Tinggal di rumah mewah dengan berbagai fasilitas di dalamnya.
Mereka tak lagi harus tinggal di sebuah ruko dan berbagi lantai dengan perusahaan kecil yang mereka rintis. Perusahaan itu bahkan tak lagi bisa dikatakan kecil. Raka sudah membeli ruko yang lebih luas untuk perusahaan miliknya.
__ADS_1
Hubungan antara Tommy dan Raka pun perlahan membaik. Tapi Raka tak pernah mau mengajak Qiana turut serta jika dirinya bertemu Tommy untuk kepentingan bisnis. Hingga harus Tommy sendiri yang beraksi untuk bisa menemui Qiana.
Bersama Mika— adik kandung Raka— Tommy pun bertemu dengan Qiana secara resmi. Mereka membicarakan mengenai bisnis kuliner yang dikelola oleh Qiana. Tommy mengajak Qiana bekerjasama dan memberikan modal besar kepada wanita itu. Dengan pembagian keuntungan yang tentu tak dapat ditolak oleh Qiana.
“Kenapa harus bekerjasama dengan Tommy, sih Dek?” tanya Raka. Pria itu benar-benar terlihat frustasi karena Qiana mengajaknya diskusi perihal kerjasama yang akan dijalani wanita itu bersama Tommy.
“Kenapa tidak?” balas Qiana.
“Ini Tommy loh, Dek. Tommy!” pekik Raka.
“Tommy kan sahabat Mas Raka. Dia juga sudah berubah sekarang. Dia itu pria yang baik, Mas. Qia yakin dia memang benar-benar mau bekerjasama bukan tipu muslihat seperti yang dulu. Mas bisa lihat isi dari perjanjian kerjasama itu,” jelas Qiana.
Raka terlihat meremas rambutnya. Dia tau jika Tommy sudah tak lagi menyimpan dendam padanya. Dia juga sudah tau jika Tommy banyak membantu perusahaannya hingga berkembang pesat.
Tapi, pria itu benar-benar tak dapat menahan rasa cemburunya. Tommy, pria itu selalu menyanjung Qiana di setiap kesempatan. Raka takut jika pria itu kembali berulah karena terpikat akan pesona istrinya.
“Qia boleh ya, Mas, menandatangani kontrak kerjasama itu. Ini sangat baik buat perkembangan kafe kita.”
“Biar Mas saja yang menjadi investor di kafe kamu.”
“Mas, rencana pengembangan kafe yang diajukan Tommy itu benar-benar brilian. Dan nilai investasi yang sanggup Mas berikan pasti tidak sebanyak yang bisa diberikan oleh Tommy,” ucap Qiana.
__ADS_1
Qiana begitu santai saat mengucapkannya. Tanpa dia tau, jika sang suami tersinggung dengan ucapannya itu.
“Jadi, kamu menyesal karena memiliki suami yang tidak bisa memberikan nilai investasi yang lebih besar? Yasudah, kamu pergi saja ke Tommy. Temui dia, katakan jika kamu lebih membutuhkan dia dibandingkan Mas!”