Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 12 - gemetar


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya Qiana tiba di sebuah villa. Villa yang diakui oleh Albert sebagai villa pribadi milik keluarganya. Dan memang begitu adanya. Villa yang sekarang didatangi oleh Qiana dan Albert adalah benar villa milik keluarga pria berusia 26 tahun itu.


Qiana sama sekali tak menaruh curiga saat Albert mengatakan padanya, ingin membawa dirinya tinggal di villa milik keluarga villa itu.


Pria itu mengatakan, jika sesuai rencana, Qiana sementara akan tinggal di villa itu. Mungkin tinggal selama dua atau tiga bulan di sana sebelum akhirnya kembali ke kediamannya untuk meminta restu Qeiza dan Ivander.


“Ah ... segarnya!” pekik Qiana sembari meregangkan tangannya ke udara. Qiana begitu menikmati detik-detik kebebasannya. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya pada sofa yang berada di villa itu. Albert menyaksikan itu sembari tersenyum sinis.


Pria itu melangkah mendekati Qiana dan duduk di sisi gadis itu. Albert langsung melahap bibir Qiana dengan rakus hingga gadis gelagapan.


Albert mengusap bibir Qiana dengan jarinya, saat dia selesai menyantapnya. Qiana pun tersenyum sumringah setelahnya. Albert menatap dalam netra kecoklatan milik gadis itu.


“Kamu tidak penasaran, apa rencanaku agar orang tuamu menyetujui hubungan kita, dan membiarkan kita menikah?”


Qiana menganggukkan kepalanya. Albert tak langsung memberikan penjelasan pada gadisnya, pria itu malah makin merapatkan tubuh pada Qiana hingga gadis itu tersudut di ujung sofa. Jemari pria itu juga telah membuka dua kancing baju milik Qiana, tanpa sepengetahuan gadis itu. Qiana baru tersadar jika pakaian setengah terbuka kala telapak tangan Albert sudah menempel erat di atas salah satu bagian sensitifnya.


“Apa yang kamu lakukan?!” pekik Qiana. Saat jemari nakal Albert mulai memberikan pijatan lembut di salah satu da'danya. Tubuh Albert yang setengah menindihnya, membuat Qiana tak leluasa bergerak.


“Aku tidak suka perlakuan kamu yang seperti ini,” lirih Qiana.


Albert tentu saja tak menghiraukan ucapan Qiana. Sudah lama dia menahan hasratnya pada gadis itu. Kini, dengan dalih ingin mendapatkan restu dari kedua orang tua Qiana, dia bisa menyantap gadis itu hingga puas.


Kini pria itu malah sudah melepaskan benda kenyal itu dari mangkoknya. Albert mulai membelainya. Sementara Qiana mulai merasa takut. Gadis itu gemetar. Dan tubuh Qiana semakin bergetar, saat Albert mulai membuka mulut dan melahap puncak bukit miliknya.


“Tolong ... ja-jangan seperti itu,” lirih Qiana sembari terisak. Mendengar Qiana menangis, Albert menghentikan aksi mulutnya. Pria itu kini kembali menatap Qiana.

__ADS_1


“Bukankah kamu ingin kita cepat mendapatkan restu dari kedua orang tuamu? Ini adalah cara paling tepat. Memberikan cucu kepada kedua orang tuamu.”


Tubuh Qiana membeku mendengar ucapan Albert. Gadis itu tak menyangka jika pria yang begitu dicintainya itu memikirkan cara kotor untuk mendapatkan restu.


“Kita akan kembali menemui kedua orang tuamu, termasuk seluruh keluarga besar Bratajaya, sembari memberikan hasil USG anak kita,” bisik Albert sembari mengusap-usap puncak bukit Qiana dengan ibu jarinya.


“Aku tidak mau,” lirih Qiana. “Aku tidak mau pakai cara seperti itu.”


“Memangnya kamu punya cara lain yang lebih bagus dari mengandung anakku secepatnya?”


Qiana tak menjawab. Gadis itu malah semakin menangis sesenggukan. Albert pun mendadak kesal mendengar tangisan Qiana.


“Kamu pikirkan lebih dulu. Dan setelah makan malam, aku tunggu jawaban kamu. Tapi, satu hal yang perlu kamu ingat, kamu tidak akan bisa keluar dari sini begitu saja. Pilihannya hanya ada dua. Kamu setuju dan kita melakukannya dengan penuh cinta dan kelembutan. Dan, jika kamu tidak setuju, aku akan melakukannya dengan cara paksa. Karena aku harus menjadi menantu di keluarga Bratajaya.”


“Kamu istirahat dulu, biar nanti malam lebih fit,” ucap pria itu. Albert pun meninggalkan Qiana sendirian di kamar itu. Qiana meringkuk. Gadis itu terus menangis.


“Maafkan Qia, Ma. Ini semua pasti karena Qia sudah membohongi Mama. Andai Qia selalu menuruti keinginan Mama, Qia pasti tidak akan berakhir di villa ini. Qia pasti masih berada di rumah bersama keluarga.”


Qiana terus menangis sembari menyesali kesalahannya. Harusnya dia menurut pada ibunya. Harusnya dia tak memilih kabur dari rumah. Ponselnya dan tasnya pun tertinggal di sofa tadi. Dirinya tak bisa menghubungi siapapun sekarang.


Biasanya, saat dia sedang sedih atau butuh pertolongan, ada Raka yang selalu di sisinya. Tapi, kini dia sendiri. Tak akan ada siapapun yang bisa menolongnya. Tak juga Raka.


“Mas ... Qia takut,” lirihnya sambil meringkuk di ranjang.


Bayangan akan Albert yang akan merenggut kesuciannya malam nanti, terus berputar-putar dalam pikiran Qiana. Sekarang, yang bisa dilakukan gadis itu hanya menangis.

__ADS_1


Menit demi menit berlalu. Langit pun sudah berubah jingga. Qiana semakin ketakutan. Saat langit sudah gelap. Albert masuk ke kamar itu.


“Makan malam dulu, Baby. Aku tidak mau kamu kekurangan tenaga. Permainanku cukup lihai loh,” ujar Albert.


Qiana tak berkutik. Gadis itu masih dalam posisinya. Qiana terus meringkuk di ranjang. Albert masih berusaha membujuk Qiana, namun gadis itu bergeming hingga pria itu kehilangan kesabarannya.


Albert menarik rambut Qiana hingga gadis itu menangis kesakitan.


“Ayo duduk!” perintah Albert. Qiana yang merasa sakit di kepalanya, serta merasa takut, gegas menegakkan tubuhnya. Gadis itu pun duduk di tepi ranjang.


“Buka mulutmu dan makan ini,” ucap Albert. Pria itu pun melangkahkan kaki menjauhi ranjang. Saat Albert hendak membuka pintu, pria itu berbalik badan.


“Aku berikan waktu 60 menit untuk menghabiskan makanan itu. Setelah itu bersiaplah. Malam pengantinmu akan tiba.”


Setelah mengatakan hal itu, Albert pun berlalu. Tinggallah Qiana dengan keputusasaannya, menangis dan meratapi nasibnya. Beberapa menit lagi, kesucian yang selalu dia jaga, akan direnggut oleh pria yang dicintainya.


Harusnya dia senang. Karena pria yang akan merenggut kesuciannya itu adalah pria yang dia idam-idamkan. Tapi, nyatanya, gadis itu malah merasa takut. Karena pria itu akan merenggutnya dengan paksa. Tanpa cinta, tanpa komitmen apa-apa.


Qiana sama sekali tak menyentuh makanan yang disajikan oleh Albert. Gadis itu tak berselera. Bahkan hanya membuka mulut saja, dia tak lagi mampu.


Detik demi detik berlalu. Qiana melirik pada jam yang tertempel di dinding. Kebebasan yang diberikan oleh Albert hampir usai. Sepuluh menit lagi, Albert pasti akan muncul dari balik pintu.


Tubuh Qiana semakin gemetar. Qiana memindai seluruh kamar. Pandangannya tertuju pada jendela kaca yang ada di kamar itu. Qiana berlari ke arah jendela. Gadis itu mengukur seberapa tinggi keberadaan dia dari atas tanah. Kamar yang ditempatinya itu berada di lantai dua.


Selamatkah dia, jika melompat dari ke bawah?

__ADS_1


__ADS_2