Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 42 - Ngidam -2


__ADS_3

Sejak Qiana ikut dengan Raka bertemu klien, gadis itu memutuskan untuk ikut Raka ke kantor.


“Kamu tidak harus ikut ke kantor setiap hari, Dek. Karena Mas akan lebih banyak bekerja dari rumah dan hanya sesekali ke kantor atau bertemu klien,” ujar Raka.


“Kenapa begitu? Memangnya di kantor ada siapa sampai Qia tidak boleh sering-sering ke sana?!”


Tanpa bisa ditahan, bibir Raka menyunggingkan sebuah senyuman. Apakah gadis itu tengah cemburu padanya? Senyum Raka semakin merekah. Gadis itu menyemburuinya.


Apakah itu berarti Qiana mulai mencintai dirinya?


Raka lantas membelai wajah sang istri yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.


“Di kantor ya ada banyak orang. Banyak karyawati baru yang cantik juga. Bahkan klien-kliennya juga cantik. Kamu lihat sendiri kan kemarin,” lirih pria itu. Mata Qiana seketika membulat mendengar ucapan sang suami. Pria yang selalu kaku dan bersikap ketus pada wanita itu, tiba-tiba memuji wanita yang ada di kantornya.


“Tapi di mata Mas, tidak ada yang lebih cantik dari Qiana Larasati,” puji pria itu. Amarah gadis itu seketika luntur mendengar pujian Raka. Walau dia tau jika Raka hanya berusaha membuatnya senang dengan gombalan sederhana itu, tapi entah mengapa Qiana sampai merona.


“Di trimester pertama ini, Qia harus lebih banyak istirahat. Dokter bilang trimester pertama itu masih rentan. Lagian, Qia harus menyiapkan fisik untuk baby moon nanti. Setelah baby moon Qia boleh menemani Mas ke kantor setiap hari,” ucap pria itu.


“Yang bener? Qia boleh menemani Mas ke kantor setiap hari?”


Raka menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Pria itu pun membawa Qiana dalam dekapannya. “Tentu saja boleh. Mas justru sangat senang kalau Qia terus ada di sisi Mas. Menemani Mas bekerja. Mas pasti akan tambah bersemangat,” ucap pria itu.


“Mas sekarang pintar gombal ya,” ucap Qiana.


“Masa sih?” tanya Raka. Pria itu bahkan melepaskan Qiana dari dalam dekapannya. Qiana pun terlihat menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Raka.


“Mas sekarang bukannya pintar menggombal,” ucap Raka.


“Terus apa dong?” tanya Qiana.

__ADS_1


“Mas sekarang merindukan Qia,” lirih pria itu. Tangan Raka bahkan sudah bermain di sekitar bukit gadis itu. Qiana bahkan langsung menelan ludah saat jemari Raka mulai memijat salah satu bukti miliknya.


Sejak Qiana dinyatakan tengah mengandung, Raka sama sekali tak pernah memberikan nafkah batin. Pria itu benar-benar merindukan sang istri. Merindukan bagaimana Qiana merintih dalam kungkungannya.


Selain karena suasana hati Qiana belum terlalu baik, dokter juga menyarankan agar di Minggu awal kehamilan Raka tidak mengganggu gadis itu.


Tapi ini sudah dua minggu berlalu dan Raka sudah begitu merindukan gadis itu. Kecemburuan yang ditunjukkan oleh Qiana tadi, menambah rasa rindunya pada gadis itu. Dia sudah tidak sabar untuk segera menghujam gadis itu. Dia sudah begitu ingin menenggelamkan miliknya di dalam tubuh gadis itu.


“Boleh kan?” ujar Raka. Qiana tentu saja menganggukkan kepalanya. Dia juga begitu merindukan sentuhan Raka.


Dan Raka juga tak benar-benar membutuhkan jawaban dari bibir gadis itu. Karena jemari pria itu bahkan sudah mulai menelusup di bawah sana. Qiana pun menyambut dengan menekuk dan membuka lebar kakinya saat jemari Raka mulai membelai celah lembut miliknya.


Bibir Qiana seketika bergetar saat jemari Raka menari-nari di bawah sana.


“Oowhh!” pekik Qiana saat dua jemari Raka memasuki tubuhnya. Qiana pun semakin kehilangan kendali akan kesadarannya. Sebelum tubuh gadis itu menegang, Raka menarik mundur jemarinya. Pria itu merebahkan sang istri, melucuti seluruh pakaian yang menempel di tubuh mereka dan langsung menaiki gadis itu.


Sore itu, Raka dan Qiana saling meluapkan hasrat mereka terhadap satu sama lain. Erangan Raka dan Qiana saling sahut menyahut. Guyuran hujan deras di ibu kota sejak subuh tadi, tidak membuat Raka dan Qiana menggigil kedinginan. Karena di sekitar suami istri yang tengah memadu kasih itu terasa sangat panas.


Sementara Raka, saat mengetahui sang istri yang sudah mencapai puncaknya, pria itu menutup mata dan mengejar puncaknya sendiri. Raka tidak mengetahui sang istri yang terus memegangi perutnya sembari meringis.


Raka baru menyadarinya saat pria itu baru saja menumpahkan seluruh hasratnya ke dalam tubuh Qiana. Raka yang baru saja melayang, mendadak membeku saat melihat sang istri seperti menahan sakit.


Raka melepaskan diri dari tubuh Qiana.


“Kamu kenapa Sayang?” tanya Raka sembari memakai celana pendek miliknya.


“Keram Mas,” lirih gadis itu.


Mata Raka membulat sempurna. Tubuh pria itu kembali membeku. Perut sang istri tengah keram. Apakah itu karena dia bermain terlalu kasar?

__ADS_1


Padahal dia sudah begitu menahan diri agar tetap bergerak lembut karena takut menyakiti sang istri dan janin yang dikandungnya. Tapi kenapa Qiana masih merasakan keram di bagian perutnya?


Apakah permainannya itu kurang lembut?


Tiba-tiba pria itu teringat akan hari pertama setiap Qiana menstruasi. Gadis itu selalu merasakan keram di perutnya. Dan biasanya, Qiana akan meminta alat kompres hangat untuk mengompres perutnya.


Raka pun seketika berlari keluar kamar. Pria itu berlari secepat mungkin menuju dapur. Raka yang sudah tau di mana posisi alat kompres itu langsung meluncur ke sana dan menghangatkan alat kompres itu.


Sementara Qiana, begitu Raka berlari keluar kamar, gadis itu berteriak-teriak memangil nama Raka. Tapi karena terlalu panik, sepertinya Raka tak mendengar teriakan sang istri.


Dan Raka baru kembali ke kamar sepuluh menit kemudian. Pria itu langsung mengompres perut sang istri. Raka kemudian memerhatikan ekspresi Qiana.


Raka pikir, setelah perutnya dikompres, wajah Qiana tak lagi meringis. Namun, apa yang diharapkan Raka tak sesuai.


Walau Qiana tak lagi meringis menahan rasa keram di perutnya, tapi gadis itu kini menatapnya dengan penuh amarah.


Ada apa lagi dengan istrinya itu?


Kenapa Qiana terlihat begitu marah padanya? Bukan kah harusnya Qiana senang karena dia mengompres perut keram itu dengan kompres hangat? Bukan kah hampir setiap bukan gadis itu mengompres perutnya yang keram? Tapi ada apa dengan sorot mata Qiana?


Sorot mata istrinya itu menampilkan rasa penuh kebencian. Apa lagi salahnya kali ini?


Raka terus bertanya-tanya dalam benaknya. Pria itu takut jika sang istri kembali marah padanya. Dia tak mau Qiana kembali mendiamkannya.


“Mas senang lari-lari begitu hah?!” ketus Qiana.


“Mas lari-lari supaya Mas bisa cepat mengompres perut kamu, Dek. Perut kamu keram kan?”


“Memangnya Qia minta Mas Raka untuk mengambilkan alat kompres?!”

__ADS_1


Raka menelan ludahnya dengan susah payah. Qiana memang tak meminta alat kompres itu. Itu semua adalah inisiatifnya sendiri agar sang istri tak merasa keram lebih lama.


“Qia itu maunya Mas Raka di sini menemani Qia dan mengelus-elus perut Qia yang keram! Bukannya berlarian hanya memakai kolor saja!”


__ADS_2