Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 59- Memenangkan hati Qiana


__ADS_3

Malam itu, Raka sengaja menghubungi Safira dan Mark di hadapan Qiana. Dia ingin Qiana tau bahwa memang hanya gadis itu yang menjadi prioritas dalam hidupnya. Qiana pun menjadi saksi pemutusan hubungan kerja antara Raka dan Safira.


“Besok, Mas akan urus pengakhiran kerjasama itu, Dek,” lirih Raka.


“Jangan lakukan kalau itu akan membuat Mas menyesal. Sesuai perjanjian kerjasama, Mas akan rugi besar jika mundur dari kontrak kerjasama itu kan?!” ketus Qiana. Gadis itu sebenarnya tak terlalu memercayai ucapan Raka. Pria itu sudah beberapa kali membohonginya. Bisa jadi, saat ini Raka juga membohonginya hanya demi sebuah kata maaf.


Sebelum melihat kontrak kerjasama itu dibatalkan secara tertulis, Qiana tak mempercayai ucapan Raka. Qian tak memercayai percakapan yang terjadi antara Raka dengan Safira dan Mark, beberapa saat lalu.


“Justru Mas akan menyesal jika lebih memilih kontrak kerjasama itu dibandingkan kamu, Dek. Selamanya kamu akan menjadi prioritas Mas.”


“Ya... Kita lihat saja nanti,” ucap Qiana.


Raka mengembuskan napas berat saat melihat Qiana masih terlihat cuek padanya. Raka dapat melihat betapa sang istri tak memercayai dirinya.


Qiana bahkan kembali melanjutkan istirahatnya. Gadis itu kembali merebahkan tubuh, memunggungi Raka dan langsung memejamkan mata. Qiana benar-benar menunjukkan betapa dia tak lagi memedulikan kehadiran Raka di sana.


Raka berusaha berbesar hati. Ini semua memang kesalahannya. Andai dia menjaga janjinya pada Qiana, tentu hal ini tak akan terjadi. Qiana tak akan kehilangan kepercayaan padanya, bahkan dia tak perlu mengalami kerugian besar.


Raka memilih untuk membersihkan tubuhnya. Pria itu merasa sangat lelah, malam ini. Tapi, dia pasti tidak akan bisa tidur nyenyak. Jangankan tidur dengan nyenyak, Raka mungkin tidak akan bisa memejamkan matanya.


Pikirannya terus tertuju pada kerugian yang akan dihadapi oleh perusahaan milik ayahnya itu. Dia harus merelakan anak perusahaan yang baru saja dirintisnya.


Raka pun memilih untuk menghubungi ayahnya. Pria itu meminta maaf atas kesalahannya. Perusahaan yang sudah dibangun oleh ayahnya itu harus mengalami kerugian besar. Bahkan mungkin, ayahnya itu harus membereskan segala kesalahan yang sudah dia perbuat.


“Secara legalitas, anak perusahaan itu akan diambil alih oleh Techno, Pi,” ucap Raka.


Qiana yang ternyata tak bisa tertidur itu, memutuskan untuk mendengarkan Raka yang sedang berbicara dengan seseorang, yang akhirnya Qiana ketahui itu adalah ayah mertuanya.


“Setidaknya dengan begitu, karyawan tidak akan kehilangan pekerjaan. Kalau mereka tidak mengakuisi total anak perusahaan itu, Raka tidak tau bagaimana menggaji para karyawan.”

__ADS_1


“Itu yang terbaik, Pi. Raka tidak mau kalau Qia sampai menginginkan perpisahan. Raka tidak bisa tanpa Qia. Raka berjanji akan mengganti semua kerugian yang Raka perbuat.”


Qiana tercengang. Gadis itu tak menyangka jika Raka benar-benar ingin mengakhiri kerjasama itu. Hati gadis itu pun tersentuh dengan ucapan Raka. Tanpa sadar, bibir Qiana tersenyum tipis.


Qiana menoleh, menatap jam yang tertempel di dinding kamarnya. Saat ini sudah menunjukkan pukul 12:00 WIB. Sang suami masih belum selesai dengan ponselnya. Raka masih terus berbicara dengan sang ayah, membicarakan strategi demi strategi yang akan mereka lakukan agar anak perusahaan mereka masih dapat diselamatkan.


“Janganlah, Pi. Jangan sampai kita kehilangan aset pribadi. Ini kan masalah perusahaan. Lagian, semuanya bisa selesai dengan kita melepas salah satu anak perusahaan. Mumpung kerjasama ini baru dimulai, Raka akan mengakhiri sekarang saja. Kalau kita banyak meminta waktu, dan masih terikat akan kontrak kerjasama itu, kerugian yang kita alami akan semakin besar. Bisa-bisa kita akan bangkrut total, Pi.


“Raka sudah memperhitungkan semuanya. Kita harus akhiri secepatnya. Malam ini juga Raka akan buat surat pemutusan hubungan kerjasama. Biar besok, semuanya selesai.”


Qiana bangkit dari posisinya. Gadis itu kini menatap punggung sang suami yang tengah tertunduk. Qiana tau, saat ini, pikiran sang suami pasti tengah semrawut. Gadis itu pun melangkah menghampiri Raka.


Raka tersentak saat Qiana memegang pundaknya.


“Dek,” ucap Raka terkejut.


Qiana menggelengkan kepala. Gadis itu mengulurkan tangannya, meminta ponsel Raka.


“Ini Papi, Dek. Bukan siapa-siapa,” ucap Raka. Pria itu benar-benar tak mau jika Qiana berpikir kalau dia sedang menghubungi Safira. Dan dia memang jujur. Raka sedang menghubungi ayah kandungnya.


“Iya, Qia tau. Qia mau berbicara sebentar dengan Papi. Apa tidak boleh?”


“Boleh,” jawab Raka lembut. Pria itu bahkan berusaha menunjukkan senyumannya pada Qiana.


“Maaf ya, Pi. Mas Raka sudah mengganggu Papi sampai tengah malam seperti ini. Papi tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Mas Raka tidak akan membatalkan kontrak kerjasama itu.”


“Dek,” sergah Raka. Qiana meminta Raka untuk diam sejenak hingga gadis itu mengakhiri panggilan telepon itu.


“Dek, Mas benar-benar akan mengakhiri kerjasama itu. Mas tidak akan lagi melakukan hal yang kamu tidak sukai. Mas tidak ingin kamu meninggalkan Mas, Dek,” lirih Raka.

__ADS_1


Qiana duduk di samping Raka dan menggenggam jemari pria itu.


“Asal Mas benar-benar berjanji tidak akan memberi perhatian lagi pada perempuan itu. Jangan pernah menganggap dia lebih dari sekadar rekan bisnis, Mas.”


Raka menatap dalam manik kecoklatan milik Qiana. Pria itu tak tau harus bereaksi seperti apa.


Di satu sisi dia senang karena Qiana membiarkannya melanjutkan kontrak kerjasama dengan Techno. Bekerjasama dengan Techno adalah impiannya sejak dulu. Dia juga tidak akan kehilangan anak perusahaan milik ayahnya. Kerugian yang tadi membayanginya juga tak jadi beban pikirannya.


Tapi, di sisi lain, dia takut tak bisa menjaga janji pada sang istri. Dia tak mungkin bisa terlalu cuek dengan Safira. Mereka berteman baik sejak masa SMP. Bahkan, Safira adalah salah satu orang yang paling lama menjalin hubungan pertemanan dengannya.


Raka juga takut, ke depannya Qiana akan kembali merasa kecewa padanya. Merasa kesal dan merajuk. Jika itu terjadi, memutuskan kontrak kerjasama tentulah tidak semudah saat ini.


“Mas tidak bisa berjanji?”


“Mas takut mengecewakan kamu, Dek. Biarkan saja proyek ini dihentikan. Mas optimis, kerugian ini akan segera Mas ganti ke Papi,” ujar Raka.


Qiana menundukkan wajahnya. Gadis itu kembali merasakan sakit di hatinya.


“Sebenarnya siapa perempuan yang ada di hati Mas. Kenapa berjanji seperti itu saja, Mas tidak mau?”


Raka membawa Qiana dalam dekapannya. “Mas tidak mau, kepercayaan kamu kepada Mas perlahan-lahan semakin terkikis. Jadi, mengakhiri kerjasama ini, sepertinya adalah pilihan yang terbaik untuk kita. Kamu tidak perlu berpikiran negatif pada Mas dan Fira. Mas juga bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan kamu,” jelas Raka.


“Tapi, Qia juga tidak mau menjadi penyebab hilangnya anak perusahaan Papi!” seru Qiana. Gadis itu melepaskan diri dan dekapan Raka dan kini memandang sang suami dengan matanya yang membengkak.


Raka tersenyum, pria itu membelai rambut Qiana.


“Ini murni kesalahan Mas. Dari awal hingga sekarang.”


Raka dan Qiana terus berdiskusi hingga waktu subuh hampir tiba. Dan akhirnya mereka mencapai satu kesepakatan.

__ADS_1


__ADS_2