Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 74 - Akhir kisah Qiana


__ADS_3

Bulan demi bulan berlalu. Persiapan pesta pernikahan antara Mika dan Tommy sudah hampir rampung. Tommy menggelar pernikahan yang begitu mewah untuk Mika. Bahkan, pernikahan itu menjadi pernikahan termewah yang pernah terjadi di Indonesia.


Mika terlihat sangat cantik, hari itu. Gadis itu benar-benar terlihat seperti seorang putri kerajaan. Gadis itu terlihat sangat bahagia dengan pesta pernikahannya itu. Sebuah konsep pesta yang begitu diimpikan olehnya sejak kecil. Walau begitu banyak tamu yang hadir, tak membuat senyum sumringah luntur dari wajah Mika.


Begitu pula dengan anggota keluarga Bratajaya lainnya. Mereka ikut berbahagia di hari bahagia Mika. Tak terkecuali Raka dan Qiana.


Sepasang suami istri yang kini tengah menanti kelahiran anak ketiganya, selalu tersenyum sumringah terhadap semua tamu yang menyapa mereka.


Namun, senyum Raka seketika luntur saat melihat Safira dan sang suami dari kejauhan.


“Kita pergi dari sini, Dek,” ujar Raka.


“Kenapa?” tanya Qiana heran. “Qia masih ingin menikmati makanan ini, Mas,” rengek Qiana. Namun, saat Safira menatap ke arah sang suami memandang, taulah Qiana, apa penyebab sang suami mengajaknya untuk beranjak.


“Kenapa sih Mas? Kita kan sudah sering bertemu dengan nenek sihir itu. Kenapa sekarang harus beranjak dari sini? Biarkan saja dia seperti biasa. Kita harus menghormati suaminya. Dia klien perusahaan kita,” ujar Qiana.


“Kamu tau kan kalau Tommy itu mantan kekasihnya. Mas tidak mau kalau dia mengatakan hal yang tidak-tidak.”


“Hal yang tidak-tidak seperti apa? Kalau Tommy itu bekas dia? Kalau dia adalah cinta pertamanya Tommy?” tanya Qiana. Raka menatap sang istri. Bagaimana istrinya bisa berkata seperti itu dengan mudahnya. Jika Mika mendengar ucapan itu, adiknya pasti akan merasa sangat sedih. Begitulah pikir Raka.


“Safira sudah mengatakan hal itu langsung kepada Mika. Qia ada di sana saat nenek sihir itu mengatakan hal itu.”


Raka begitu terkejut. Safira benar-benar perempuan yang tak punya hati nurani.


“Mas tenang saja. Mika sudah membalas ucapan Safira itu. Mika sama sekali tidak terganggu. Bahkan, saat itu malah Safira yang dipermalukan oleh Mika,” jelas Qiana.


Raka pun merasa lega. Pria itu berucap syukur karena sang adik tidak terganggu dengan Safira.


Sementara itu, Safira menghadiri pernikahan mewah itu bersama suami dan kedua orang tuanya. Saat melihat betapa mewahnya resepsi pernikahan itu, sang ayah pun mengikuti Safira.

__ADS_1


“Andai kamu tidak banyak tingkah dan terus setia dengan Tommy, pesta pernikahan kamu pasti akan semewah ini. Dan perusahaan kita akan jadi perusahaan nomor satu di Indonesia,” bisik sang ayah.


Safira hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan itu. Padahal dirinya sudah begitu kesal menyaksikan betapa mewahnya pernikahan itu. Ditambah dengan ucapan sang ayahanda, membuatnya bertambah kesal.


Dirinya memang merasa sangat menyesal telah melepaskan Tommy. Andai dia tak terobsesi untuk memiliki Raka, mungkin dirinyalah yang bersanding bersama Tommy di pesta pernikahan ini.


Dia tak perlu melayani pria tua yang ada di sisinya kini. Dia tak perlu membeli alat-alat pemuas hasrat karena selalu merasa tak puas dengan pria tua itu. Jika dia menikah dengan Tommy, dirinya pasti akan selalu terpuaskan karena Tommy begitu hebat di atas ranjang.


Safira benar-benar mengutuk dirinya sendiri.


Kini, Safira dan sang suami mendatangi Raka dan Qiana yang tengah duduk sembari terus bersikap mesra. Berulang kali bertemu dengan sepasang suami istri itu, membuat Safira semakin bertambah muak dengan keromantisan yang selalu ditunjukkan oleh Raka dan Qiana.


“Pernikahan ini begitu mewah, Pak Raka,” begitulah ucapan suami Safira begitu bertemu dengan Raka.


“Ya ... Tommy sangat mencintai adiknya. Dia mewujudkan impian pernikahan Mika. Adik saya itu memang suka sekali dengan disney princess sejak kecil,” jawab Raka angkuh. Dia ingin sekali Safira tau bahwa Tommy kini sangat mencintai adiknya dan memberikan apa saja yang diinginkan oleh Mika.


Raka tersenyum sumringah, begitu juga dengan Qiana. Sementara Safira terus menerus menahan rasa kesalnya. Dan Safira semakin bertambah kesal saat sang suami juga memuji Raka dan Qiana.


“Pak Raka dan Bu Qiana juga selalu terlihat bahagia.”


Raka dan Qiana pun bertambah sumringah. Raka bahkan kini merangkul sang istri dan menatap Qiana dengan tatapan lembut. Tak lupa Raka juga membisikkan ucapan cinta pada istrinya itu. Tentu saja ucapan cinta itu terdengar oleh Safira. Bertambah kesal lah gadis itu.


Dan kekesalan Safira semakin bertambah kala sang suami menciumi dirinya. Pria tua itu sepertinya juga ingin menyampaikan rasa cintanya pada Safira. Sementara Safira menerimanya dengan sikap jijik.


...----------------...


Pesta pernikahan yang berlangsung dengan penuh kemewahan itu, diakhiri dengan sang pengantin yang berdansa di tengah-tengah para tamu undangan.


Raka pun tak tinggal diam. Pria itu juga mengajak Qiana ke altar dansa. Memeluk erat pinggang sang istri yang tengah mengandung, sepasang suami istri itu pun berdansa dengan penuh cinta. Seolah mereka tak peduli jika itu bukanlah hari mereka.

__ADS_1


Raka dan Qiana sama-sama tak peduli jika mereka ikut mencuri panggung Mika dan Tommy. Sepasang suami istri itu terlalu terlarut dalam alunan lagu romantis itu. Saling tatap dengan tatapan penuh cinta, Raka dan Qiana merasa begitu bahagia.


Rasa syukur tak pernah henti terucap dari bibir sepasang suami istri itu karena mereka saling memiliki. Raka bahkan tidak menyesali perbuatannya bertahun silam. Begitu pula dengan Qiana.


Andai Raka tak menjebaknya, tentu dia tidak akan memiliki seorang suami yang begitu mencintainya. Andai Raka tak merangkai kebohongan itu, tentu dia tidak akan memiliki suami yang begitu hebat seperti Raka. Jika dulu Qiana sangat marah saat mengetahui Raka menjebaknya, kini gadis itu mensyukuri semuanya.


Raka tentu saja tak menyesali perbuatannya itu. Qiana adalah bukanlah sekadar cinta pertamanya. Gadis itu adalah gadis yang ingin dia bahagiakan seumur hidupnya. Qiana adalah dunianya. Qiana salah separuh napasnya.


Mencintai Qiana adalah takdir seorang Raka Pratama seumur hidupnya.


... — T A M A T —...


Terima kasih yang tak terhingga buat semua pembaca karena sudah sudi mendukung karya receh ini dari awal hingga tamat.


Mohon maaf kalau di beberapa karya belakangan, saya jarang membalas komentar 🙏


Maklum emak-emak semakin bertambah usia semakin rempong ya, Yeorobun 😂


Apalagi badan semakin bertambah usia juga semakin mlehoy, bolak balik tydack enak body 🥲


Sekali lagi, terima kasih ya semuanya 🙏


Kalian jangan lupa jaga kesehatan ❤️


Jangan lupa juga untuk bersyukur ❤️


Sampai jumpa di cerita selanjutnya 🥰


...— T E R I M A K A S I H —...

__ADS_1


__ADS_2