
Usai pertengkarannya dengan Sang Ibunda, Qiana gegas menyambar ponselnya dan menghubungi Albert. Qiana mengadukan apa yang dialami ibunya kepada pria itu. Qiana juga menanyakan tentang keseriusan pria itu terhadapnya.
“Pernikahan aku tinggal satu minggu lagi, Beib! Undangan pernikahan itu bahkan sudah disebar! Bagaimana dengan rencana yang kamu ucapkan waktu itu? Kapan kamu akan menjemputku? Atau kamu memang sengaja mengulur-ulur waktu? Sebenarnya kamu serius tidak sih dengan hubungan kita?!”
“Baby ... Kamu tenang saja. Semuanya sudah aku atur. Dua hari sebelum pernikahan itu diselenggarakan, aku akan membawa kamu pergi dari sana. Kamu tenang saja. Semuanya sudah aku atur,” ungkap Albert. Dan kita akan kembali ke rumah kamu, satu atau dua bulan setelahnya. Aku yakin, saat itu orang tua kamu akan menerima hubungan kita.”
“Kamu tidak berbohong kan?!”
Albert menganggukkan kepalanya, “tentu saja aku tidak berbohong. Tapi, kamu juga tidak berbohong kan?” tanya Albert.
“Berbohong soal apa?”
“Benar-benar tidak terjadi apa-apa kan, antara kamu dan Mas tersayang mu itu?”
Qiana mengembuskan napas kasar.
“Kamu juga tidak memercayai aku?! Aku kan sudah pernah katakan, ayo ke dokter kandungan. Kamu bisa lihat sendiri kalau aku masih gadis!”
Senyum sumringah terpapar di wajah Albert. “Iya ... Iya ... Aku percaya kok sama kamu, Baby. Pokoknya tenang saja. Semua sudah aku atur. Sampai bertemu lima hari lagi,” ucap Albert.
Kali ini Qiana mengembuskan napas panjang. Gadis itu merasa sedikit lega dengan janji yang telah Albert ucapkan. Qiana benar-benar berharap Albert segera membawanya pergi dari rumah itu. Tapi, Qiana tidak tau secara detail, apa yang sudah direncanakan oleh Albert. Yang gadis itu tau, Albert akan membawanya keluar dari neraka ini. Dirinya sudah benar-benar merasa tak nyaman di rumah. Terlebih sikap sang ibu kandung yang begitu ketus padanya sejak skandal itu terjadi.
Sejak skandal dirinya bersama Raka, Qeiza tak mengizinkan putri sulungnya itu bekerja. Hingga selama hampir satu bulan ini, Qiana harus menghadapi Qeiza setiap hari di kediamannya.
......................
Sementara itu, sejak Ivander membentak dirinya, sikap Qeiza pun menjadi dingin terhadap sang suami. Wanita paruh baya itu bahkan selalu memunggungi sang suami di setiap malam. Walau Ivander terus memeluknya setiap malam, hati Qeiza masih membeku pada suami itu.
“Ini sudah tiga hari, Sayang. Apakah kamu tidak pernah mendengar, jika suami istri itu tidak boleh saling diam lebih dari tiga hari?” tanya Ivander.
Terpaksa Qeiza membalikkan badan dan membalas pelukan sang suami. Senyum Ivander pun terkembang karenanya. Walau sudah membina rumah tangga selama hampir 20 tahun, Qeiza masih saja keras kepala. Wanita itu selalu mengacuhkannya jika sedang merasa kesal atau kecewa.
__ADS_1
Namun, Qeiza tak pernah mengacuhkannya lebih dari tiga hari. Dan setelah perang dingin selama 3 hari, biasanya, hubungan sepasang suami istri itu akan menjadi lebih hangat.
Bahkan, Qeiza dan Ivander kerap memamerkan kemesraan mereka di setiap kesempatan. Seperti saat ini, kala keluarga Ivander tengah menyantap sarapan bersama, sepasang suami istri itu bak orang tengah kasmaran. Ivander menyuapi Qeiza, dan wanita paruh baya itu pun membalasnya dengan menyuapi sang suami.
“Kenapa harus suap-suapan sih? Mama dan Papa kan bisa makan di piring masing-masing?!” ketus Sean yang selalu kesal setiap melihat kedua orang tuanya yang sering bermesraan tanpa kenal tempat.
“Nanti, kalau kamu sudah menikah juga akan paham,” jawab Ivander.
Biasanya, Sean selalu berdecak kesal setiap mendengar jawaban sang ayah yang selalu sama. Tapi, kali ini, Sean meresponsnya berbeda. Dia menatap Qiana sembari menyunggingkan senyum.
“Sebentar lagi Mba Qia akan begitu dengan Mas Raka,” ucapnya.
Qiana hanya melirik sinis pada sang adik hingga membuat senyum Sean kembali meredup.
“Oh iya, Ma. Pernikahan Qia tinggal dua hari lagi. Jadi, hari ini Qia mau perawatan tubuh. Qia sudah memesan paket perawatan pra pernikahan di salon langganan Qia.”
Wajah Qeiza yang sedari tadi sumringah, mendadak membeku. Tatapannya yang sedari tadi terus mengarah pada sang suami, kini beralih menatap putri sulungnya itu.
“Pamali calon pengantin pergi jauh-jauh. Lakukan perawatan di rumah!” tegas Qeiza.
“Kamu itu calon pengantin, Qi. Dua hari lagi kamu akan menikah. Bagaimana jika terjadi sesuatu di luar sana?! Pamali!”
“Pokoknya, sebentar lagi Qia kan pergi ke sana.”
“Qiana?!”
“Sudahlah Sayang... Biar saja Qia melakukan perawatan di salon langganannya. Mungkin Qia nyaman di sana.”
“Iya Ma. Lagian, Mba Qia kan pasti diantar sopir. Iya kan Mba?” tanya Sean.
“Iya,” jawab Qiana singkat.
__ADS_1
“Kamu ikut dengan kakak mu, Se,” perintah Qeiza.
“Sean ada jadwal ke perusahaan, Ma. Ada beberapa berkas yang harus Sean baca,” ucap pria berusia 18 tahun itu.
“Kamu itu kan masih magang di kantor Papa. Beri saja pekerjaan itu pada Papamu.”
“Sean kan satu bulan ini menggantikan Mba Qia, Ma. Jadi banyak pekerjaan yang harus Sean selesaikan,” jawabnya.
“Mas, memangnya kamu tidak bisa menghandle pekerjaan itu?” tanya Qeiza.
“Gini Sa—”
“Kamu bisa kan Mas?” tanya Qeiza yang langsung memotong ucapan sang suami. Sementara Ivander, terpaksa menganggukkan kepalanya.
“Iya Sayang, bisa,” jawab Ivander.
“Ma, kenapa sih Mama harus mengatur semuanya. Qia, Papa, Sean, kita punya keinginan sendiri Ma. Jangan semuanya jadi semau Mama saja!” ketus Qiana.
Ivander mulai memijat pelipisnya. Minggu-minggu belakangan, kediamannya memang terasa sangat panas. Bukan karena pendingin udara di rumahnya tak berfungsi. Melainkan karena debat kusir yang selalu terjadi antara kedua ibu dan anak itu.
“Kamu jangan lupa, kalian semua tinggal di rumah Mama. Wajar kalau Mama yang membuat peraturan di sini. I-ni-ru-mah-Ma-ma!”
Qiana tersenyum sinis.
“Mama tau gak, belakangan ini, Qia berharap waktu cepat berlalu. Agar Qia bisa secepatnya angkat kaki dari rumah Mama yang mewah ini.”
Qeiza terpaku. Wanita paruh baya itu seperti tak lagi mengenali sang putri. Kini, Qeiza hanya bisa memandang punggung putri sulungnya yang perlahan menjauh.
“Jangan terlalu keras dengan Qia, Sayang. Anak kita sebentar lagi menikah. Sebentar lagi dia tidak akan tinggal bersama kita. Raka akan membawanya. Tidak bisakah kita meninggalkan kesan yang baik sebelum dia resmi menjadi milik suaminya?” lirih Ivander.
Tanpa terasa air mata Qeiza menetes.
__ADS_1
“Aku seperti tak lagi mengenal Qia, Mas. Dia benar-benar berubah.”
“Sayang ... Sikap kamu yang membuat Qia berubah. Tidak bisakah kamu memaafkan kekhilafan Qia. Jika ada orang yang sangat berubah, itu adalah kamu, Qei. Qeiza yang dulu adalah seorang wanita yang pemaaf. Wanita yang berhati lembut,” lirih Ivander.