
“Kamu benar-benar tidak mau ikut Mas lagi, Dek?” tanya Raka. Qiana menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
“Kamu belum memaafkan Mas ya?” tanyanya lagi.
Sepasang suami istri yang baru satu tahun menikah itu, kini masih berbincang di ruang tidur mereka, walau waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat.
“Qia hanya tidak mau membuat suasana menjadi tidak nyaman.”
“Mas nyaman sekali kok kalau ada kamu di sisi Mas. Justru, kalau tidak ada kamu, Mas akan merasa sepi,” lirih pria itu.
“Mas, kan sudah Qia katakan. Qia hanya ingin tenang, Mas. Kita sudah membicarakan hal ini sejak satu jam lalu. Keputusan Qia tetap sama. Qia tidak akan lagi mengikuti Mas bekerja. Dan memang sudah seharusnya seperti itu kan?
“Qia sudah memikirkan semuanya malam tadi. Qia percaya dengan Mas. Dan tolong Mas juga jaga kepercayaan Qia. Dan setelah proyek ini selesai. Qia mohon Mas. Mas jangan lagi bekerjasama dengan perempuan itu.”
Dengan cepat Raka menganggukkan kepalanya. “Mas janji Dek. Ini kerjasama Mas dengan Fira yang terakhir.”
“Mas ... Mas tidak akan tergoda dengan perempuan itu kan?” tanya Qiana.
“Mas tidak akan pernah tergoda dengan gadis manapun, Dek. Seandainya Mas tergoda dengan Fira, itu harusnya sudah sejak dulu. Tapi ini tidak kan? Sejak dulu— sejak Mas remaja— belum ada gadis yang mampu menggeser posisi kamu di mata, hati dan pikiran Mas.”
“Tapi kan sekarang Qia sudah menjadi gendut Mas. Bisa saja kan kalau Mas tergoda gadis lain yang lebih menarik.”
Gadis itu terlihat sekali jika sangat tak percaya diri. Bobot tubuhnya yang semakin bertambah dari hari ke hari membuat Qiana benar-benar dilanda krisis kepercayaan diri. Raka pun tahu mengenai hal itu. Qiana kerap menanyakan penampilannya sejak tubuh gadis itu semakin membesar. Raka mengembuskan napas perlahan. Pria itu memiringkan kepalanya dan menatap sang istri yang kini tengah menunduk itu.
“Memangnya, sejak kapan kamu menarik?”
Pertanyaan Raka membuat Qiana mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada pria itu. Apa maksudnya mengatakan hal itu? Apa bagi pria itu, dirinya sama sekali tak pernah berpenampilan menarik selama ini?!
“Kamu itu tidak tinggi. Tubuh kamu juga sejak dulu memang sedikit berisi. Di luar sana, banyak gadis yang berpenampilan lebih menarik dari kamu. Safira contohnya.”
Qiana menatap sang suami semakin tajam. Matanya semakin melebar. Terlebih pria itu sudah membandingkan dirinya dengan Safira. Bahkan secara terang-terangan sang suami mengatakan jika Safira lebih berpenampilan menarik dari pada dirinya.
Raka tertawa kecil melihat ekspresi Qiana. Gadis itu memang selalu ekspresif. Qiana memang selalu menggemaskan di mata seorang Raka Pratama.
__ADS_1
“Apa Mas belum pernah memberi tahukan hal ini, Qia? Mas itu jatuh cinta dengan sorotan mata kamu,” ucap Raka.
Dahi Qiana mengernyit. “Mata?” tanyanya bingung. Raka pun menganggukkan kepalanya.
“Iya, sorotan mata kamu begitu memikat. Tatapan mata yang penuh semangat. Mata kamu yang selalu bercahaya. Sorot mata kamu itu selalu hangat dan antusias,” jelas Raka.
Qiana masih menatap sang suami dengan dahi berkerut. Gadis itu masih tak mengerti. Bagaimana mungkin seseorang bisa jatuh cinta karena tatapan mata? Apakah ini yang dinamakan dari mata turun ke hati?
Melihat ekspresi Qiana yang masih tampak bingung. Raka kembali tertawa kecil. Pria itu mengacak-acak rambut Qiana dengan gemas.
“Intinya ... Mau bagaimana pun penampilan kamu sekarang. Mau berapapun berat tubuhmu sekarang. Itu tidak akan pernah mengurangi rasa cinta Mas. Karena sorot hangat dari mata kamu, tidak pernah berubah.”
Bibir Qiana mengembang seketika. Gadis itu lantas langsung menghambur ke pelukan sang suami.
“Semenjak kita menikah, Mas terlalu banyak bicara!” ketus Qiana.
“Kami tidak menyukainya?” tanya Raka. Qiana menengadahkan kepalanya. Gadis itu tersenyum sumringah.
“Qia suka,” jawabnya. “Qia sangat menyukainya. Qia mencintai Mas Raka.”
“Mas lebih mencintai Qia,” lirihnya.
Seketika disambarnya bibir gadis itu. Raka melahap bibir merah muda itu dengan lahap. Qiana pun membalasnya dengan tak kalah lahap.
Harusnya Raka sudah berangkat ke kantor sejak satu jam yang lalu. Tapi, pertukaran saliva di pagi hari itu, membuat Raka terlupa akan tugasnya. Raka menuntut lebih dari itu.
Hari ini adalah hari pertamanya berpisah sementara dengan Qiana sejak istrinya itu mengandung. Dia pasti akan merindukan gadis itu. Dia tak lagi bisa mencium aroma tubuh Qiana kapan pun dia inginkan.
Pagi ini, Qiana harus memberikan dirinya amunisi untuk menghadapi beberapa jam ke depan tanpa hadirnya gadis itu.
Raka melepaskan seluruh pakaiannya yang menempel pada tubuh sang istri. Pria itu memberikan kecupan-kecupan hangat di seluruh tubuh Qiana. Rintihan demi rintihan pun keluar dari bibir Qiana.
Pagi itu pun menjadi lagi yang membara bagi Raka dan Qiana. Pria itu bahkan melakukannya hingga dua kali. Qiana benar-benar candu baginya. Tak pernah ada kata cukup bagi Raka untuk mengeksplor tubuh gadis itu.
__ADS_1
Pria itu sudah tak ada lagi niat untuk berangkat ke kantor. Dia akan menunda beberapa pekerjaan pagi ini. Dia hanya akan bertemu dengan Safira dan Mark, siang nanti.
Sepasang suami istri itu masih saling berhadapan. Salah satu kaki Qiana masih bertumpu di pinggang Raka. Raka pun masih menghujam dengan keras ke dalam tubuh gadis itu.
Sembari menghujam sang istri, Raka membayangkan akan menghabiskan waktu hingga siang, dengan saling bercerita. Pasalnya, malam tadi mereka tak melakukan perbincangan yang biasa mereka lakukan sebelum tidur. Raka akan menggantinya pagi ini.
Tapi, apa yang direncanakan oleh Raka tak sesuai dengan harapannya.
Saat Raka menyemburkan seluruh cairan cintanya ke dalam tubuh Qiana. Tak lama setelahnya, dari tubuh Qiana pun mengeluarkan cairan.
Gadis itu bahkan merasakan jika cairan itu menyembur cukup banyak dari dalam tubuhnya. Raka dan Qiana saling bertatapan dengan mata melebar.
“Mas ... Sepertinya ketuban Qia pecah,” lirihnya.
Raka membeku. Wajah pria itu pucat pasi. Dia sadar jika terlalu bersemangat pagi ini. Sejak awal, dia menghujam Qiana dengan keras. Bahkan, dua kali dia menyemburkan cairan cintanya ke dalam tubuh gadis itu.
Ini semua salahnya.
“Mas!” teriak Qiana. Sengaja gadis itu berteriak memanggil Raka. Karena pria itu hanya diam seperti sebuah patung.
“Ayo Mas ke rumah sakit sekarang!”
Raka pun gegas menegakkan tubuhnya. Pria itu bahkan berusaha dengan sekuat tenaga mengangkat tubuh Qiana.
Namun, Qiana terus saja berteriak padanya. Gadis itu meninta agar Raka menurunkannya.
“Tidak apa-apa Dek. Mas kuat kok. Biar Qia, Mas gendong saja.”
Namun, teriakan Qiana semakin keras begitu mereka tiba di pintu kamar. Raka pun terpaksa menurunkan Qiana dari gendongannya. Bukan karena dia merasa lelah menggendong tubuh Qiana yang membengkak itu. Bukan pula karena teriakan Qiana yang memaksanya untuk menurunkan gadis itu.
Tapi, dia sadar jika dirinya harus membuka pintu yang terkunci itu.
Namun, belum sempat Raka membuka pintu itu, Qiana menampar wajahnya. Raka pun menatap Qiana dengan wajah penuh kebingungan.
__ADS_1
“Mas mau pergi ke rumah sakit tanpa busana sehelai pun?! Kita masih bu gil, Mas. BU-GIL!" teriak Qiana.