Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 39 - Kejutan kecil


__ADS_3

“Selamat pagi Bu Qiana. Selamat pagi, Pak.”


Seorang dokter dan dua orang perawat tiba di ruangan itu saat Qiana baru saja menyelesaikan santap paginya.


“Saya membawakan hasil tes darah lengkap Bu Qiana,” ucap dokter itu seraya memberikan hasil laboratorium pada Raka.


“Selamat ya Pak, Bu. Bu Qiana saat ini tengah mengandung. Mungkin Bu Qiana mengalami kekurangan nutrisi karena belakangan tak berselera makan. Kemungkinan itu faktor kehamilan.”


Tubuh Qiana mendadak membeku. Gadis itu tak tau harus bereaksi seperti apa. Dia memang ingin sekali mengandung anak Raka sejak beberapa bulan lalu. Tapi, kabar gembira itu datang pada saat dirinya sudah terlanjur kecewa dengan perbuatan Raka di masa lalu.


Saat ini, Qiana tak terlalu menginginkan kehadiran buah hati di dalam rahimnya.


Sementara Raka, pria itu sampai meneteskan air mata mendengar kabar yang diberikan oleh dokter. Raka berulangkali berucap syukur dalam hatinya. Buah cintanya ada di rahim gadis itu. Gadis yang sangat dicintainya itu tengah mengandung benihnya. Memang Qiana lah yang selama ini dia inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


Dan kehadiran janin itu di rahim Qiana, mungkin bisa menjadi perekat hubungan pernikahan mereka. Dengan kehadiran si buah hati di rahim gadis itu, mungkin Qiana tak lagi memikirkan soal perceraian.


“Kami sudah mendaftarkan Bu Qiana di poli obgyn. Pukul sebelas perawat akan menjemput Bu Qiana, karena akan dilakukan pemeriksaan kehamilan oleh dokter kandungan.”


“Baik Dok,” jawab Raka dengan suara bergetar. Pria itu benar-benar bahagia saat ini. Bahkan air mata tak berhenti mengalir keluar dari matanya.


Saat dokter dan kedua orang perawat meninggalkan ruang rawat inap itu, Raka langsung duduk di hadapan Qiana. Menggenggam erat dan menciumi kedua punggung tangan Qiana.


“Tolong beri maaf kamu, Dek,” lirih pria itu sembari terisak. Raka terus menciumi punggung tangan Qiana. Tapi gadis itu masih belum mau menatap Raka. Qiana masih terkejut dengan pernyataan dokter.


Raka bertambah sakit melihat reaksi Qiana. Raka menunduk. Pandangannya kini sejajar dengan perut Qiana. Dielusnya perut yang masih terlihat rata itu.


“Halo sayang, ini papa,” lirihnya dengan suara bergetar. Raka pun mencium perut sang istri dengan air mata yang masih terus menetes.


“Terima kasih karena kamu memilih kami sebagai orang tuamu. Terima kasih karena kamu sudah hadir di rahim mama,” ucapnya lagi.


Berkali-kali Raka menciumi perut Qiana. Ucapan dan sikap Raka terhadap janin yang ada di rahimnya, berhasil membuat Qiana menoleh pada pria itu.


“Tolong ampuni perbuatan, Mas, Dek,“ lirih pria itu lagi. Melihat Raka menangis sesenggukan sembari mengelus dan menciumi perutnya, membuat hati Qiana melunak. Walau ikut merasakan kepedihan yang Raka rasakan, tapi Qiana berusaha menahan tangisnya.


Raka menegakkan kepalanya karena Qiana masih belum membuka suara. Kembali diraihnya kedua tangan gadis itu. Dengan mata sembab, Raka menatap nanar ke arah Qiana.

__ADS_1


“Mas sangat mencintai kamu. Percayalah, semua yang Mas lakukan karena Mas sangat mencintai kamu. Semuanya karena Mas yakin Mas bisa membahagiakan kamu. Apa kamu tidak merasa bahagia Dek?” tanya Raka.


Qiana masih diam. Gadis itu hanya membalas tatapan Raka.


“Selama enam bulan kita menikah, apakah kamu tidak pernah merasa bahagia, Dek?” tanya Raka sekali lagi. Qiana tak menjawab. Tapi, gadis itu mengalihkan pandangannya.


“Mas akan melakukan apapun yang kamu inginkan asal kamu memberi kata maaf untuk Mas,” ucap pria itu.


“Yang benar?!” ketus Qiana.


“Ya?” ucap Raka bingung. Qiana menghembuskan napas kasar.


“Yang Mas Raka ucapkan itu, apa benar? Mas Raka akan melakukan apapun keinginan Qia?”


“Asal jangan perpisahan. Mas akan lakukan apapun buat Qia,” ucapnya mantap.


“Kalau begitu, Qia mau makan.”


Raka terperangah mendengar penuturan Qiana. Pasalnya, gadis itu baru saja selesai sarapan dan kini dia ingin kembali makan. Apa ini karena Qiana tengah berbadan dua?


“Qia mau makan masakan Mas Raka!” ketusnya.


“Iya ... Qia mau setiap pagi, Mas Raka yang membuatkan sarapan seperti biasa,” ucap Qiana.


Senyum Raka terkembang. Pria itu mengecup dahi sang istri.


“Kalau hari ini Qia sudah diperbolehkan pulang, kita kembali ke rumah ya. Setiap pagi Mas akan memasak untuk Qia,” ucapnya lembut.


Tapi Qiana menggelengkan kepalanya.


“Qia belum mau pulang!” ketus gadis itu.


Raka mengembuskan napas perlahan seolah mengeluarkan rasa kecewanya melalui hembusan napas itu.


“Kenapa? Mas tidak mau menginap di rumah Mama?!”

__ADS_1


“Memangnya, Mas boleh ikut menginap bersama Qia?”


Mendengar pertanyaan Raka, Qiana bertambah kesal. Gadis itu menatap tajam sang suami.


Melihat reaksi Qiana, Raka tersenyum kecil. Pria itu menyondongkan badannya lalu mengecup lembut bibir merah muda milik sang istri.


Qiana yang tak bisa menduga tindakan itu, hanya bisa tertunduk saat Raka selesai memberikan beberapa kecupan lembut.


Seluruh amarah dan rasa kesal yang tadi bersemayam dalam hatinya, luruh begitu saja saat Raka melahap bibir miliknya.


“Terima kasih,” ucap Raka. Pria itu pun kembali mengecup bibir Qiana setelah menyampaikan rasa terima kasihnya karena gadis itu telah memaafkannya dan tak lagi memikirkan soal perceraian.


Kini Raka mengecup semua bagian wajah Qiana. Dimulai dari dahi gadis itu, kedua pipinya, hidungnya, dagunya kemudian berbisik di telinga gadis itu.


“Mas rindu, Dek,” lirihnya.


Wajah Qiana merona. Raka pun ingin kembali melahap bibir gadis itu. Wajah sepasang suami istri itu sudah semakin dekat. Raka sudah sedikit membuka bibirnya. Begitupun dengan Qiana. Gadis itu pun sudah siap menyambut kecupan pria itu. Deru napas sepasang suami istri itu semakin terasa satu sama lain. Bibir mereka bahkan sudah bersentuhan.


“Gak selesai-selesai sih?! Kita sudah lelah nih berdiri di sini dari tadi!”


“Berisik deh kamu, Mik. Padahal Mami sudah dapat rekaman yang bagus, malah diakhiri oleh suara kamu yang cempreng itu!” cebik Ivona yang meras kesal pada putri bungsunya itu.


Qiana berusaha untuk mendorong Raka agar sedikit menjauh darinya. Gadis itu merasa malu karena merasa dipergoki oleh keluarga besarnya. Bagaimana tidak? Padahal kemarin dia begitu marah dengan Raka, bahkan menginginkan perceraian. Tapi kini, keluarganya menyaksikan bagaimana dirinya terlihat begitu mesra dengan Raka.


Tapi, Raka seolah tak memedulikan keluarganya. Pria itu masih mengecup singkat bibir Qiana sebelum turun dari ranjang rumah sakit.


Kini Raka berdiri menghadap keluarga besarnya. Seluruh keluarga besar Bratajaya sudah berkumpul di sana. Kedua orang tuanya, kedua mertuanya, dan kedua adiknya.


Dengan senyum sumringah dan mata berbinar, Raka menatap wajah keluarganya satu per satu.


“Mas Raka kenapa? Kesambet ya?” ejek Mika. Adik kandung Raka itu begitu heran melihat wajah sang kakak lelaki yang begitu sumringah. Padahal pria itu biasanya sangat dingin dan kaku.


“Iya ... Kesambet cinta Qiana,” ucapnya seraya melirik sekilas pada Qiana.


Seluruh anggota keluarga Bratajaya terperanjat mendengar ucapan Raka. Pria yang jarang berbicara panjang lebar itu kini bisa bercanda bahkan mengeluarkan kalimat gombalan seperti itu.

__ADS_1


“Wah ... Benar-benar kesambet nih orang!”


“Qiana hamil.”


__ADS_2