Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 35 - Membujuk Qiana


__ADS_3

“Nasi sudah menjadi bubur, Qei. Semua sudah terjadi. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, Raka sangat mencintai Qia. Jadi, tolong biarkan Raka menemui Qia. Setidaknya, kalaupun Qia tidak mau bertemu Raka, izinkan anakku berbincang dengan istrinya dari balik pintu kamar.”


Qeiza masih bergeming. Wanita paruh baya itu masih menimbang apa yang harus dia perbuat.


Dia sudah berjanji pada Qiana untuk tak membiarkan Raka menemuinya. Tapi, apa yang disampaikan oleh Ivona, masuk akal. Qiana yang saat itu dibutakan oleh cinta, sudah pasti tidak akan mendengar nasihat dari siapapun. Jika Raka tak menikahi Qiana, gadis itu pasti akan jatuh dalam pelukan pria yang salah.


“Tolong lah Qei. Jika kamu masih begitu kecewa pada Raka, tolong lakukan ini demi persahabatan kita.”


“Aku akan memikirkannya. Kamu silakan keluar dari kamarku,” ujar Qeiza.


Dengan langkah berat, Ivona meninggalkan kamar tidur yang mewah itu. Wanita paruh baya itu kembali menemui Raka di ruang keluarga.


Saat dia sudah makin mendekat dengan tempat di mana Raka sedang duduk, anak sulungnya itu sudah menatapnya dengan penuh harapan.


Namun sayang, Ivona masih belum bisa memberikan kabar baik pada anak cerdasnya itu.


“Tante Qei akan memikirkannya.”


Ucapan Ivona membuat harapan yang sudah dia pupuk setinggi langit, terjun bebas begitu saja. Pundak Raka kembali merosot. Tatapannya kembali kosong.


Semua orang yang ada di ruang keluarga itu, hanya saling diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Namun, beberapa saat kemudian, secara perlahan-lahan, Qeiza muncul di ruangan itu.


“Pergilah ke kamar Qia. Tapi, kamu harus janji, kamu tidak boleh memaksakan kehendak. Kamu hanya bisa bertemu Qia saat dia mengizinkannya. Jika Qia mengatakan, dia tidak mau melihat wajah kamu, tolong jangan paksa dia.”


Mata Raka langsung berbinar. Tubuh lemah yang tadi dirasanya, hilang begitu saja. Energi pria itu seolah pulih kembali. Masih ada harapan baginya. Dia akan terus membujuk Qiana walau dirinya harus mendirikan tenda selama berbulan-bulan di depan pintu kamar istrinya itu.

__ADS_1


Raka akan dengan sabar menunggu gadis itu untuk mau bertemu dengannya. Dia akan dengan sabar menunggu Qiana Larasati, walau harus trus berada di depan pintu kamar gadis itu selama berhari-hari.


Raka pun bangkit dari duduknya. Pria itu menghampiri Qeiza dan mengungkapkan rasa terima kasihnya pada sang mertua. Tak lupa Raka menyampaikan permintaan maafnya.


“Terima kasih Mama mau memberikan izin pada Raka untuk menemui Qia.”


“Saya melakukannya ini bukan karena kamu, Raka. Ini semua karena saya menghargai persahabatan antara ibu kamu dan saya,” ketus Qeiza. Tampaknya, wanita paruh baya itu belum bisa memaafkan kesalahan sang menantu. Ivander, Sean, Ivona dan Anggara hanya bisa menatap penuh rasa kasihan pada Raka.


Sejak dulu, memang tidak ada yang bisa membujuk Qiana. Wanita paruh baya itu memang selalu keras kepala. Dia selalu memegang teguh apapun yang dia anggap benar.


“Maafkan Raka, Ma,” lirih pria itu.


“Permintaan maaf kamu akan saya terima, saat saya kembali melihat senyum kebahagiaan di wajah anak saya,” jawab Qeiza.


Raka menganggukkan kepalanya. “Raka berjanji akan mengembalikan senyum Qia, Ma. Raka akan selalu berusaha untuk membuat Qia bahagia. Karena kebahagiaan Qia adalah tujuan hidup Raka.”


Kembali Raka menganggukkan kepalanya dengan pasti. Pria itu pun mulai melangkahkan kakinya menuju kamar sang pujaan hati. Walaupun Raka sudah siap jika Qiana menolak untuk bertemu dengannya, tapi tak bisa dipungkiri jika dia masih merasa takut jika Qiana mengungkapkan keinginannya untuk berpisah.


...----------------...


Sudah hampir lima menit Raka tiba tepat di depan pintu kamar Qiana. Tapi, untuk mengetuk pintu kamar gadis itu, Raka masih belum sanggup. Pria itu hanya memandangi pintu kamar itu sambil terus bertanya dalam benaknya.


Sedang apa gadis itu di dalam sana?


Jika dia mengetuk pintu kamar itu, akankah gadis itu merasa terganggu?


Apakah dia akan bertambah marah padanya?

__ADS_1


“Mas, kok diam saja?” tanya Sean yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Raka.


“Mba Qia tidak mau membuka pintunya?”


Raka menggelengkan kepalanya. “Mas bahkan tidak berani mengetuk pintu kamarnya. Kesalahan Mas benar-benar fatal, Se.”


“Kalau begitu, Mas sudah rela dong kalau Mba Qia mengajak berpisah,” cebik Sean.


Raka mengembuskan napas kasar sembari melirik tajam pada Sean. Seolah menanggapi ucapan Sean, jika dia tentu saja tak rela berpisah dengan Qiana. Bisa-bisanya adik sepupu sekaligus iparnya itu mengatakan hal yang tidak masuk akal!


Sean pun paham dengan maksud tatapan Raka padanya.


“Kalau Mas tidak rela berpisah dari Mba Qia. Mas ketuk pintu dan ajak Mba Qia berbicara empat mata. Jelaskan padanya, alasan Mas Raka menjebaknya di hotel tujuh bulan lalu. Bujuk dia. Jangan hanya diam memandangi pintu kamarnya saja! Pintu itu tidak akan bisa memperbaiki hubungan kalian!” ketus Sean.


“Masa hal seperti itu saja Mas Raka tidak mengerti sih?!”


Raka menghela napas berat. Ucapan Sean memang benar adanya. Dia harus mengalahkan rasa takutnya. Dia harus mengetuk pintu kamar yang hanya berjarak 50 sentimeter darinya itu. Dia harus bisa membujuk Qiana untuk membatalkan rencana gadis itu yang menginginkan perpisahan.


Dengan tangan sedikit gemetar, Raka pun mengetuk pintu kamar itu. Pria itu mengunci mulutnya. Hanya kepalan tangannya saja yang mengetuk pintu itu, hingga akhirnya suara derit pintu terdengar.


Wajah Raka begitu sumringah. Sebentar lagi dia dapat melihat wajah Qiana muncul dari balik pintu. Namun, saat Qiana muncul dari balik pintu kamarnya, gadis itu hanya terdiam dan menatapnya tajam. Tanpa berucap sepatah katapun, Qiana membanting pintu kamarnya hingga tertutup rapat.


Raka dan Sean tentu saja terkejut mendengar suara pintu itu beradu. Tapi, yang lebih membuat mereka terkejut adalah tatapan benci yang terlihat di mata gadis itu


Raka masih terdiam di sana. Pria itu kembali membeku. Pandangannya hanya terarah pada pintu kamar yang ditempati oleh Qiana. Sementara Sean, hanya bisa menatap sang kakak sepupu yang terlihat semakin pucat.


“Mas Raka tunggu di kamar Sean saja. Kita pantau dari kamera pengawas. Jika di kamera pengawas Mba Qia terlihat keluar dari kamar, Mas Raka bisa mengejarnya dan langsung mengajaknya berbicara.”

__ADS_1


Raka menggelengkan kepalanya lemah. “Mas menunggu di sini saja, Se,” lirih pria itu. Raka juga meminta Sean untuk meninggalkan dirinya seorang diri. Dia tak ingin diganggu oleh siapapun. Dia ingin menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya itu, seorang diri.


__ADS_2