Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 72- Akhir kisah-2


__ADS_3

“Mas, rencana pengembangan kafe yang diajukan Tommy itu benar-benar brilian. Dan nilai investasi yang sanggup Mas berikan pasti tidak sebanyak yang bisa diberikan oleh Tommy,” ucap Qiana.


Qiana begitu santai saat mengucapkannya. Tanpa dia tau, jika sang suami tersinggung dengan ucapannya itu.


“Jadi, kamu menyesal karena memiliki suami yang tidak bisa memberikan nilai investasi yang lebih besar? Yasudah, kamu pergi saja ke Tommy. Temui dia, katakan jika kamu lebih membutuhkan dia dibandingkan Mas!”


Qiana tersenyum tipis. Sekarang gadis itu tau alasan kenapa Raka tak mengizinkan dirinya bekerjasama dengan Tommy. Sang suami cemburu terhadap sahabatnya sendiri.


Qiana pun memeluk sang suami.


“Maafin Qia ya, Mas. Maaf kalau Qia hanya memikirkan tentang kafe,” ucap Qiana. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap sang suami yang terlihat masih kesal.


“Qia tidak akan menjalin kerjasama dengan Tommy. Tidak akan pernah. Bagi Qia, restu dari suami lebih penting dari apapun.”


Raka tersipu mendengar ucapan Qiana. Pria yang sedari tadi membuang pandangannya, kini beralih menatap sang istri yang masih mendongak menatapnya.


“Kamu benar-benar akan membatalkan kontrak kerjasama itu?”


Qiana menggelengkan kepalanya, “tidak,” jawabnya.


Raka tentu saja terkejut dengan jawaban yang dilontarkan oleh sang istri. Padahal jelas-jelas dia mendengar jika Qiana mengatakan tidak akan menjalin kerjasama dengan Tommy. Tapi, mengapa istrinya itu tidak mau membatalkan kontrak kerjasamanya?


Dahi pria itu berkerut. Raka menatap tajam sang istri.


“Bagaimana Qia mau membatalkan kontrak itu, Mas. Kontrak itu sama sekali belum Qia tanda tangani. Qia kan mau minta persetujuan Mas Raka, lebih dulu. Qia mau kita selalu mendiskusikan keputusan apapun yang kita ambil. Baik itu dalam hubungan rumah tangga maupun bisnis. Bukankah kita sudah berjanji untuk hal itu? Mas Raka lupa?”


Senyum Raka kembali terkembang. Pria itu mengembuskan napas lega, lalu mengecup mesra dahi sang istri.

__ADS_1


“Terima kasih ya, Dek. Mas sangat bahagia menjadi suami kamu,” lirih Raka.


Qiana pun ikut tersenyum sumringah. “Qia juga sangat bahagia menjadi istri Mas Raka.”


Sepasang suami istri itu saling tatap dan melemparkan senyum sumringah. Namun, lambat laun tatapan bahagia itu berubah menjadi tatapan penuh damba. Senyum sumringah mereka pun kita sudah menyatu dalam hisapan-hisapan lembut.


Tentu saja kegiatan itu tak hanya berhenti sampai di sana. Raka mulai menarik turun gaun malam yang dikenakan oleh sang istri, sembari memberikan kecupan-kecupan lembut di pundak Qiana.


Qiana menutup mata, menikmati setiap sapuan bibir Raka di permukaan kulitnya.


Kini, sepasang suami istri itu tak lagi berbusana. Qiana bahkan mulai menurunkan panggulnya dan melahap milik sang suami yang sudah menjulang.


Qiana mulai menari di atas pangkuan sang suami. Suara mengerang yang tertahan dari bibir sepasang suami istri itu, menjadi melodi yang indah, malam itu.


Sofa berwarna pastel itu, menjadi saksi sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta. Sofa berwarna pastel itu, menjadi saksi bagaimana Qiana dan Raka berulang kali saling jatuh cinta.


Malam yang semakin larut, dan tubuh yang penat karena lelah bekerja, tak menyurutkan semangat Qiana dan Raka untuk saling melampiaskan hasrat mereka.


Qiana meremas rambut Raka dengan sangat erat saat kenikmatan tiada tara kembali menjalar di sekujur tubuhnya. Tubuh gadis itu pun menegang untuk kedua kalinya. Tapi kali ini, Qiana tak dapat menahan erangannya. Gadis itu hanya berharap, sang anak tak terbangun mendengar teriakan kecil dari bibirnya.


Raka sempat menoleh ke arah box bayi. Pria itu memastikan jika sang anak tak terganggu oleh suara teriakan Qiana. Raka pun menyunggingkan sebuah senyuman saat mendapati jika putra keduanya masih tertidur dengan lelap.


Sepertinya, anaknya itu mengerti dengan apa yang dia inginkan. Hasratnya masih begitu menggebu pada Qiana. Hasrat itu bahkan belum tersalurkan pada istrinya.


Raka pun tak mau membuang waktu. Pria itu merebahkan sang istri dan mulai menaikinya. Raka begitu menggebu-gebu. Pria itu menghujam Qiana tanpa ampun hingga Qiana kembali mengerang.


Padahal dirinya sudah begitu lemas karena sudah dua kali mencapai puncaknya, tapi, hujaman demi hujaman yang dilancarkan oleh sang suami ke dalam tubuhnya membuatnya kembali berhasrat. Qiana kembali menahan suara erangannya hingga tubuhnya kembali menegang untuk yang ketiga kalinya.

__ADS_1


Raka memang begitu hebat. Setiap kali mereka saling menumpahkan hasrat, Qiana selalu kalah berkali-kali pada pria itu.


Hujaman Raka pun semakin brutal, hingga akhirnya pria itu terkulai di atas tubuh Qiana. Pertempuran itu pun berakhir di dalam sebuah bathtub. Sepasang suami istri itu menyamankan tubuh mereka dengan berendam air hangat di malam itu.


Dan keesokan harinya, dengan ditemani oleh Raka, Qiana bertemu dengan Tommy.


“Maaf ... Walaupun gagasan anda sangat baik, tapi saya tidak dapat bekerjasama dengan anda,” ucap Qiana pada Tommy. Wajah Raka pun semakin sumringah mendengar Qiana menolak Tommy.


Tommy pun mengalihkan pandangannya kepada Raka yang terus tersenyum sedari tadi. Pria itu sadar. Itu pasti ulah Raka. Padahal Qiana terlihat begitu antusias, kemarin. Tapi, kenapa gadis itu bisa sangat berubah dalam waktu semalam saja?


“Aku tidak akan mengambil istrimu, Ka. Aku hanya ingin usaha istrimu ini berkembang pesat. Harusnya kamu tidak perlu melarang Qiana. Ini bisnis, Ka. Profesional lah. Jangan bawa-bawa sentimen pribadimu,” ujar Tommy.


Raka tak menjawab. Pria itu hanya menghela napas kasar dan menatap sinis pada Tommy.


Dia hanya berjaga-jaga. Dia tak mau jika suatu saat, Qiana jatuh ke pelukan Tommy. Dirinya memang lebih cerdas dari Tommy. Tapi, tak bisa dipungkiri, Tommy jauh lebih unggul di segala hal dibandingkan dirinya. Raka merasa tak percaya diri jika harus dibandingkan dengan Tommy.


“Suami saya tidak memaksa saya mengambil keputusan ini. Ini murni keputusan saya sendiri. Saya tidak mau, hubungan saya dan suami menjadi jauh karena kerjasama ini. Maka dari itu, saya lebih memilih untuk tidak menjalin kerjasama dengan anda dibandingkan membuat suami saya merasa tidak nyaman,” ucap Qiana.


Bibir Raka kembali menyunggingkan sebuah senyuman.


“Katakan sama suami kamu. Jangan menyemburui saya. Saya sama sekali tidak pernah jatuh cinta dengan kamu. Saya hanya kagum pada kegigihan kamu menemani Raka di saat-saat tersulitnya,” ucap Tommy.


“Ya ... Saya sangat tau hal itu,” ucap Qiana.


“Tapi suami saya ini begitu cemburu pada anda.”


“Bahkan kalau saya akan menikahi adiknya?!”

__ADS_1


Mata Raka membulat sempurna. Apa yang dikatakan oleh sahabat lamanya itu. Menikahi adik? Adik siapa? Tidak mungkin kan kalau itu Sean?


“Mika,” lirih Raka.


__ADS_2