
Qiana langsung berlari menghampiri sang suami. Dia begitu merindukan Raka.
“Qia rindu, Mas,” lirih gadis itu kala sudah berhasil masuk dalam dekapan Raka.
“Mas lebih merindukan Qia,” balas Raka.
Sepasang suami istri itu berpelukan sangar erat. Mereka benar-benar melepaskan seluruh rasa rindu yang tertahan selama sepuluh hari.
Tanpa mereka sadari, ada sesosok perempuan yang menatap mereka dengan penuh kebencian. Dialah Safira. Gadis yang tergila-gila pada Raka sejak lama. Gadis yang rasa sabarnya sudah diambang batas.
“Dua hari ini silakan luapkan rasa rindu kalian. Kamu pasti sangat merindukan istri dan anak kamu. Iya kan Ka?”
Ucapan Safira berhasil membuat mood Qiana memburuk. Gadis itu bahkan melepaskan diri dari dekapan sang suami.
“Sampai bertemu tiga hari lagi, ya Ka. Soalnya ada urusan sangat penting yang harus kita bicarakan mengenai proyek. Aku sengaja tak mengatakannya ketika kita sedang di London, karena sepertinya kamu akan butuh banyak masukan dari Qiana. Aku duluan ya.”
Safira pun berlalu begitu saja dari hadapan Qiana dan Raka. Raka dan Qiana masih terus menatap gadis itu hingga kemudian Safira menghilang dari pandangan mereka.
“Ada masalah dengan proyeknya sewaktu di London, Mas?” tanya Qiana.
“Sepertinya tidak ada masalah apapun. Semuanya berjalan sangat lancar.”
“Kalau begitu, bukannya seharusnya kalian tidak perlu lagi bertemu setelah kembali dari London? tanya Qiana heran.
“Kontrak kerjasama itu kan berlangsung sampai empat tahun. Jadi, selama empat tahun, ada kemungkinan Mas akan kembali meeting dengan Fira. Tapi, mungkin hanya tiga bulan sekali. Maksimal sebulan sekali,” jelas Raka.
Setelah pembicaraan singkat itu, Raka dan Qiana pun kembali ke kediaman mereka. Raka mengabaikan car seat yang tadinya di duduki oleh Damar. Pria itu memilih untuk memangku sang buah hati. Dia sangat merindukan anaknya. Sepanjang perjalanan, Raka tak henti-hentinya menciumi Qiana dan Damar, bergantian.
Rasa lelah setelah perjalanan hampir 17 jam pun tak lagi dirasanya setelah dia bertemu anak dan istrinya.
__ADS_1
Setiba di kediaman mereka, Qiana pun tak tinggal diam. Gadis itu kembali menyiapkan kebutuhan sang suami. Menyiapkan makanan, bahkan pakaian yang harus dipakai oleh Raka.
Malam ini pun, dihabiskan oleh Raka dan Qiana dengan terus bercerita sambil berpelukan di atas ranjang.
“Mas merindukanmu, Dek,” lirih Raka.
Qiana seketika bergidik saat Raka berbisik di telinganya. Suara pria itu terdengar seperti bergetar. Bahkan, tanpa komando, jemari Raka sudah mulai menyusup ke balik kaos Qiana.
Sudah lama mereka tidak memadu kasih. Terakhir mereka melakukannya, itu adalah hari di mana Damar dilahirkan. Qiana mengalami kontraksi teratur sesaat setelah mereka melakukan induksi alami dengan penuh gairah. Qiana bahkan memimpin permainan mereka, kala itu.
Dan kini, sejak Damar dilahirkan, mereka belum pernah lagi melakukannya. Setelah dua setengah bulan, setelah mereka terpisah selama sepuluh hari, akhirnya masa itu datang juga.
Entah siapa yang memulai, sepasang suami istri itu kini sudah tak lagi berbusana. Raka bahkan sudah merambat turun dan menikmati celah lembut milik Qiana. Hingga beberapa saat kemudian, tubuh gadis itu menggelinjang diiringi oleh pekikan tertahan dari bibir merah mudanya.
Malam itu mereka melakukannya dengan penuh gairah.
Panas.
Entah sudah berapa kali Qiana melengkungkan tubuhnya. Menikmati cairan cintanya tersembur keluar.
Malam itu, benar-benar jadi malam yang sangat indah bagi Raka dan Qiana. Walau tubuh lelahnya menjadi semakin bertambah lelah, tapi Raka tak kunjung merasa puas. Mereka terus saling menggoda hingga hari hampir pagi.
Keesokan harinya, Raka bahkan menitipkan damar kepada sang mertua, lengkap dengan ASIP (Air Susu Ibu Perah) jika sang anak merasa lapar. Pria itu kembali ingin mengulangi malam penuh gelora itu.
...----------------...
“Besok, kamu sudah kembali bekerja, Ka? Apa tidak istirahat satu hari lagi?” tanya Ivander saat Qiana, Raka dan Qeiza berkumpul untuk makan malam.
“Mantan kekasih Mas Raka sudah rindu sepertinya, Pa. Jadi, Mas Raka harus ke kantor, deh!” ketus Qiana. Ivander hanya tersenyum melihat sang anak yang tengah cemburu. 'Persis Qeiza.' Begitulah yang ada di benak Ivander saat ini. Membandingkan antara Qeiza dan Qiana.
__ADS_1
“Mantan kekasih apa sih, Dek? Mas tidak punya mantan kekasih selain kamu,” jawab Raka. Qiana hanya membalas ucapan Raka dengan mencebikkan bibirnya. Sebenarnya dia masih ingin Raka menghabiskan banyak waktu dengannya. Hanya saja, Safira berulangkali mengingatkan jika besok ada hal penting yang akan disampaikan gadis itu.
“Raka juga inginnya istirahat dulu, Pa. Raka masih lelah. Tapi, sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan soal proyek London. Terpaksa Raka harus ke kantor besok,” lanjut Raka.
“Mama dan Papa juga sepertinya besok sudah kembali ke rumah. Kasihan Sean tidak ada yang mengurus,” ucap Qeiza. Kali ini pandangan Qeiza dan Raka beralih menatap sang ibunda, kemudian saling pandang.
Jika kedua orang tua mereka telah kembali ke kediaman mereka, tidak ada lagi orang terpercaya yang bisa mereka titipkan anak. Terpaksa mereka harus menunggu sang anak tidur jika ingin bersenang-senang di atas ranjang.
“Sean sudah dewasa, Ma. Dia sudah bisa mengurusi dirinya sendiri. Mama dan Papa mending tinggal di sini saja bersama kita,” ucap Qiana.
Raka pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Iya ... Tapi adik kalian itu sekarang lagi sakit. Kamu tau sendiri kan, Qi. Bagaimana manjanya Sean kalau sedang sakit. Ratusan kali dia mengirimkan pesan suara kepada Mama, sejak kemarin,” jelas Qeiza.
“Pokoknya, kamu jangan khawatir. Setiap akhir pekan, Mama dan Papa akan ke sini. Atau, kalian yang ke sana. Damar juga belum pernah main ke rumah kakek dan neneknya. Ke rumah kamu juga belum kan, Ka?” tanya Ivander.
“Iya, Pa,” jawab Raka sembari menganggukkan kepalanya. Mereka pun berjanji, akan menginap saat akhir pekan.
Namun, siapa yang mengira. Jika jadwal itu datang lebih cepat. Bukan hanya menginap. Raka malah membawa anak dan istrinya untuk tinggal di sana.
Itu semua karena Raka dilanda masalah besar. Perekonomiannya seketika porak poranda. Raka terpaksa menjual rumah besar milik keluarga Bratajaya— rumah kebanggaan sang kakek.
Perusahaan yang didirikan oleh ayahnya, bahkan harus gulung tikar. Tidak ada lagi yang tersisa. Beruntung rumah kedua orang tuanya tak dia jadikan jaminan.
Raka turut menyesal atas apa yang menimpa keluarganya terutama sang ayah. Perusahaan yang dibangun sang ayah dengan susah payah, kini hancur di tangannya.
Raka bahkan tidak tau bagaimana caranya dia bisa menafkahi anak dan istrinya. Seluruh tabungannya habis. Kendaraan bahkan aset miliknya pribadi bahkan telah habis. Habis dalam waktu 1 x 24 jam.
Semuanya habis tak bersisa karena Raka menolak seorang gadis. Gadis yang datang menawarkan dirinya.
__ADS_1
“Kamu hanya perlu hidup bersamaku selama satu bulan penuh, Ka. Layani aku. Puaskan aku. Maka kamu tidak hanya terselamatkan dari kebangkrutan. Tapi, juga mendapatkan keuntungan 100%. Seluruh keuntungan proyek untuk kalian. Bagaimana?”