Mencintai Qiana

Mencintai Qiana
Part 21 - kecewa


__ADS_3

Qiana pikir dia akan mengalami malam pengantin seperti yang dialami kebanyakan orang. Melangkah bersama dengan jemari yang saling menggenggam, memasuki kamar pengantin yang harum dan bertabur bunga, saling tatap dan melemparkan senyum malu-malu saat hendak memulai ritual malam pertama yang mendebarkan.


Semua itu tak dialami oleh Qiana.


Padahal, sejak mereka kecil, Raka dan Qiana terbiasa berjalan-jalan dengan jemari yang saling menggenggam. Tapi, sejak peristiwa pertukaran saliva di acara resepsi pernikahan mereka, sepasang pengantin baru itu mendadak canggung jika harus saling menggenggam.


Masuk ke kamar pengantin yang harum dan bertabur bunga pun tak juga dirasakan Qiana. Pasalnya, kakak sepupu yang sekarang menjadi suaminya itu, tak memesan layanan khusus untuk sepasang pengantin baru.


Saling tatap dan melemparkan senyum malu-malu saat hendak memulai ritual malam pertama yang mendebarkan, tentu saja tak mungkin dirasakan wanita itu. Qiana pun sadar akan hal tersebut. Sebab hal itu hanya dirasakan oleh sepasang pengantin baru yang menikah karena saling mencintai.


Qiana hanya berharap, Raka akan merenggut kesuciannya dengan penuh kelembutan. Sejak 30 menit yang lalu dia sudah mempersiapkan diri di dalam kamar mandi. Gadis itu membersihkan seluruh tubuhnya. Qiana juga mengolesi setiap inchi kulitnya dengan lotion yang sangat harum.


Dengan handuk yang masih bergelung di rambutnya, Qiana keluar dari kamar mandi. Mata Raka pun langsung tertuju pada gadis itu. Dengan susah payah Raka berusaha menelan salivanya. Qiana terlihat sangat segar dan cantik, malam itu. Buku yang sedari tadi dipegangnya pun terlepas dari genggaman.


“Qia ... keringkan rambut dulu ya, Mas,” ucapnya.


Gadis itu pun melangkahkan kakinya menuju meja rias. Menyalakan pengering rambut yang sudah tersedia di meja itu, Qiana langsung mengeringkan rambutnya.


Sementara Raka kembali memandangi buku yang sedari tadi dipegangnya.


Saat dirasa rambutnya sudah cukup kering, Qiana pun naik ke atas ranjang dan duduk di samping Raka.


Walau terlihat sangat santai, tapi jantung gadis itu berdebar kencang. Raka pasti akan memberikan nafkah batin untuknya, malam itu juga. Begitulah pikir Qiana.


Bisakah dia membuat Raka senang malam ini?


Apa yang harus dia lakukan saat pria itu melucuti pakaiannya, nanti?


Pria yang kini duduk di sampingnya, adalah pria yang sangat dia hormati. Qiana begitu menyayanginya. Tapi, jika harus melayani pria itu sebagai seorang istri,


sanggupkah dia?


Banyak sekali keraguan dalam diri Qiana. Gadis itu tak bisa berpikir jernih saat ini. Yang dia tau, jantungnya berdebar hebat, pikirannya pun penuh tanya.


Tapi, saat mendengar Raka berbicara dengan gagap, rasa tegang gadis itu mendadak hilang. Qiana bahkan ingin menertawakan pria itu.


“A-a-apa kamu lelah?” tanya Raka.

__ADS_1


Qiana berusaha menahan tawanya. Gadis itu merapatkan tubuhnya pada Raka dan berusaha melirik buku yang sedari tadi ditatap pria itu. Rasa menggelitik di perutnya semakin terasa. Sekuat tenaga gadis itu menahan tawanya.


“Mas lelah?” tanya Qiana. Tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, Raka menganggukkan kepalanya.


“Qia juga lelah. Kita tidur saja yuk, Mas.”


Kali ini Raka menoleh pada Qiana. “Mas boleh tidur di sini bersama Qia?”


“Hah?!”


Qiana terperangah mendengar pertanyaan Raka. “Kenapa Mas bertanya seperti itu? Kita kan sudah suami istri. Tentu saja kita harus tidur di ranjang yang sama.” ucap Qiana.


“Mas hanya takut jika Qia tidak nyaman jika Mas tidur di samping Qia,” lirih Raka.


Qiana menatap kesal pada Raka. Gadis itu pun merebahkan tubuhnya.


“Lagian, dari kecil kita sering tidur di ranjang yang sama. Tidak mungkin jika tiba-tiba Qia merasa tidak nyaman tidur bersama Mas!” ketus gadis itu.


Senyum Raka terkembang mendengar ucapan Qiana. “Yasudah, kamu tidur saja. Mas, mas mau lanjut baca sebentar lagi.”


Qiana yang tadi sudah memejamkan matanya, mendadak membuka kembali matanya. Gadis itu pun tertawa terbahak-bahak.


“Kalau Qia sih, tidak mampu membaca buku terbalik seperti itu,” cebik gadis itu.


Qiana membalikkan badannya dan tertawa terbahak-bahak. Kini gadis itu sudah memunggungi sang suami.


Sementara Raka hanya bisa memejamkan matanya sembari menahan malu karena gadis itu mengetahui kegugupannya.


“Sudah Mas. Simpan bukunya. Qia tidak bisa tidur kalau cahayanya terang begini,” ucap Qiana.


Bagai kerbau yang ditusuk hidungnya, Raka pun menuruti perintah sang istri. Raka meletakkan bukunya di rak dan mulai merebahkan badannya.


Saat hendak merebahkan dirinya, Raka melihat Qiana tidur sembari memijat betisnya.


“Mau Mas pijatin?” tanya pria itu.


Andai saja situasinya tak seperti ini. Andai Raka tak menjadi suaminya. Andai pria itu masih berstatus sebagai kakak sepupunya, Qiana pasti menjawab ya pada pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu.

__ADS_1


Tapi, Raka kini sudah menjadi suaminya. Sama seperti Raka, dia pun juga merasa canggung pada pria itu.


“Tidak usah Mas. Qia langsung tidur saja. Besok pegal-pegalnya juga hilang sendiri,” ucap gadis itu.


Tapi, semakin Qiana berusaha untuk tidur, semakin gadis itu tak bisa memejamkan matanya. Kakinya lelah sekali. Qiana pun terus terlihat gelisah.


Tanpa bertanya, Raka langsung memijat kaki gadis itu. Belum sempat Qiana menolaknya, Raka langsung meminta gadis itu untuk beristirahat.


“Qia tidur saja, biar Mas pijat.”


Merasa nyaman dengan pijatan Raka, gadis itu pun tertidur pulas. Qiana bahkan hampir saja melewatkan jadwal sarapannya. Karena pagi itu, Qiana baru terbangun pada pukul sembilan.


“Maaf ya Mas, Qia bangunnya telat. Harusnya, sebagi istri, Qia menyiapkan sarapan untuk Mas Raka.”


Pria itu tersenyum. “Sudah, ayo cepat sarapan. Sebentar lagi kita mau ke check out.”


“Check out?” tanya Qiana heran.


Mereka baru saja tiba malam tadi, dan pagi ini, Raka mengatakan jika mereka akan segera meninggalkan hotel itu.


Pria itu hanya mengajaknya berbulan madu selama satu malam. Yang benar saja?


Bahkan malam pengantinnya sama sekali tak berkesan.


Dengan kesal Qiana menyantap makanan yang sudah tersaji di hadapannya. Bahkan Qiana langsung bergegas mandi, karena Raka terus mengingatkan jika mereka harus keluar dari hotel pada pukul sebelas.


Raka hanya memerhatikan sikap gadis itu dengan tersenyum tipis. Dia tau, Qiana pasti tengah kesal, saat ini.


Wajah kesal gadis itu bahkan masih terlihat saat sepasang pengantin baru itu sudah keluar dari area hotel dan berada di dalam mobil.


Raka melajukan mobilnya dengan santai. “Dek, coba tolong ambil surat-surat di laci,” ucap Raka sembari menunjuk laci yang terdapat pada dashboard mobil.


Setelah mengembuskan napas kasar, Qiana membuka laci itu. Raka pun menatap sang gadis dengan gemas. Pria itu tau, ekspresi kesal Qiana pasti akan berubah seketika, begitu melihat benda yang ada di dalam laci.


“Mas!” pekik Qiana. Senyum Raka pun semakin merekah.


“Kita mau ke Turki?!” ucap gadis itu antusias. Walaupun ini bukan kali pertamanya mengunjungi negara dua benua itu, tapi Qiana tetap merasa antusias. Terlebih saat gadis itu mendengar alasan Raka mengajaknya Turkiye.

__ADS_1


“Kamu ingat kan, waktu kita masih kecil, Mas pernah berjanji akan mengajak Qia ke Turkiye. Maaf ya ... Baru kali ini Mas bisa mewujudkannya.”


__ADS_2