
Raka masih bingung dengan sikap Qiana. Gadis itu ingin menunjukkan kemesraan mereka di hadapan semua orang. Kemesraan seperti apa yang diinginkan oleh gadis yang tak mencintainya itu?
“Qia ingin Mas selalu menunjukkan kemesraan di hadapan semua orang. Tadi, Mas lihat mama dan papa kan? Papa sering sekali menyuapi mama. Papa bahkan selalu memeluk dan mencium mama di manapun mereka berada. Qia ingin Mas seperti itu!”
Raka menelan salivanya. Baru membayangkannya saja sudah membuat pria itu bergidik. Bahkan ketika dia hanya berdua saja dengan Qiana, Raka tak pernah sekalipun berbuat begitu. Selama mereka menikmati masa bulan madu, Raka memberikan pelukan dan kecupan pada gadis itu, hanya saat mereka berdua tengah berada di atas ranjang.
Harus memperlihatkan kemesraan yang biasa hanya terjadi di atas ranjang panas mereka kepada semua orang, tentu saja membuat Raka kelimpungan. Pria itu tak tau harus berbuat apa?
Melihat Raka yang hanya terdiam, membuat Qiana mendengus. Senyum tipis yang tadi terpancar di wajah gadis itu pun langsung menghilang. Qiana menghentakkan kakinya dan ingin berlalu dari hadapan Raka. Haruskah dia menahan malu dan menuruti keinginan istrinya itu?
“Yasudah, kalau Mas Raka tidak mau juga tidak apa-apa kok. Qia tidak memaksa!” ucapnya kesal.
Ah, baru saja gadis itu mau tersenyum padanya, tapi kini Qiana kembali menekuk. Raka tak mau Qiana kembali merajuk padanya. Mereka baru saja melewati masa-masa indah selama dua Minggu di Turkiye, Raka tak mau hal itu rusak hanya karena keegoisannya. Dia ingin Qiana segera jatuh cinta padanya. Dia juga ingin secepatnya mengaku pada gadis itu.
Saat Qiana hendak berlalu, Raka menangkap tangan gadis itu.
“Iya Dek. Mas janji akan bersikap romantis pada Qiana di hadapan siapa saja.”
Qiana menoleh. Gadis itu menatap tajam pada sang suami. Walau dia tak mencintai Raka, tapi Qiana ingin rumah tangganya bersama pria itu terus harmonis. Kedua orang tuanya telah menjadi contoh nyata kehidupan rumah tangga yang bahagia. Dia pun ingin seperti itu. Walau, dia menjalani rumah tangga dengan orang yang tidak dicintainya.
“Benar?” tanya Qiana.
Raka menganggukkan kepalanya. “Iya benar. Asal, Qia jangan ngambek lagi ya.”
Qiana pun menganggukkan kepalanya dengan antusias. Qiana bahkan langsung mendekap erat pria yang sudah sangat disayanginya sejak kecil itu.
“Pokoknya, awas saja jika Mas Raka bersikap cuek seperti tadi. Tidak akan Qia beri jatah nanti malam!” ancam gadis itu.
Raka terperangah. Cinta pertamanya itu memang selalu blak-blakan. Gadis itu akan selalu mengungkapkan apapun yang ada di pikirannya, tanpa takut ataupun malu.
Masih memeluk sang suami, Qiana menengadahkan kepalanya. “Mas Raka mau, tidak diberi jatah?!” ancam gadis itu dengan mata tipisnya.
__ADS_1
Raka langsung menggelengkan kepalanya. “Jangan,” lirih Raka. Qiana tertawa kecil melihat ekspresi menggemaskan pria itu.
Gadis itu sudah tak sabar menunggu malam tiba. Dia ingin melihat Raka menepati janjinya.
“Kalau begitu, ayo kita ke bawah. Mas harus tunjukkan sikap mesra kita di hadapan semua orang, sekarang!” perintah Qiana.
“Kamu tidak mau istirahat dulu? Kita habis perjalanan jauh. Mas masih jet lag,” ucap Raka.
Sebenarnya pria itu hanya mau mengukir waktu. Dia mau mempersiapkan dirinya. Karena Raka tau, dia pasti akan menjadi cemoohan keluarganya. Terutama ayah dan adiknya. Tapi, Raka memang tak sepenuhnya berbohong.
Dia memang cukup lelah setelah melakukan perjalanan hampir 24 jam.
“Nanti malam saja ya. Saat makan malam.”
Qiana yang juga merasa cukup lelah, terpaksa menganggukkan kepalanya. Dan sepasang pengantin baru itu pun beristirahat hingga malam tiba.
Dan, saat makan malam tiba, Qiana dan Raka keluar dari kamar dengan mesra.
Seluruh anggota keluarga Bratajaya menatap heran pada keduanya. Terlebih tadi siang, sepasang suami istri itu terlibat perang dingin.
“Wah, Mas Raka kesambet apa nih? Berani-beraninya peluk-peluk Mba Qia,” ucap Mika heran. Raka tentu saja tak menanggapinya. Dia sudah menyiapkan diri. Dia tak akan terprovokasi oleh apapun yang akan diucapkan ayah dan adiknya.
Sementara itu, Qiana malah bereaksi dengan memeluk tubuh sang suami dan melirik pada Mika. “Jangan iri kamu, Mik,” ejek Qiana. Mika hanya mencebikkan bibirnya.
“Cium Mas,” bisik Qiana. Bagai sebuah robot yang sudah disetting, Raka pun mengecup dahi Qiana. Gadis itu pun kembali menatap angkuh pada adik sepupu yang sudah sah menjadi iparnya itu.
“Halah ... Paling Mba Qia ngambek. Dari dulu kan Mas Raka paling gak bisa melihat Mba Qia ngambek. Peluk-peluk begitu, terus cium. Mas Raka tidak mungkin mau melakukannya jika bukan karena diancam Mba Qia. Iya kan Mas?”
Qiana langsung melepaskan diri dari dekapan Raka. “Sok tau kamu, Se!” ketus Qiana.
“Mba, Mba Qia itu kan pikirannya cetek. Jadi semua orang sudah bisa menebaknya. Coba saja tanya Mama dan Papa,” cebik Sean.
__ADS_1
Ivander dan Qeiza hanya bisa menahan tawa mendengar ucapan anak bungsu mereka. Karena mereka juga menebak hal yang sama seperti yang diucapkan oleh Sean.
Wajah Qiana seketika menekuk saat melihat ekspresi kedua orang tuanya. Raka yang tau akan hal itu segera merangkul sang istri.
“Mas sudah lapar. Kita makan saja yuk, Sa-Sayang,” walau sedikit gugup. Tapi panggilan sayang yang disematkan oleh Raka, berhasil membuat Qiana kembali tersenyum.
Pernikahan seperti inilah yang diinginkan Qiana. Dia ingin pernikahan yang romantis dan harmonis. Dia ingin membuat orang-orang yang berada di sekitarnya merasa iri padanya. Dia juga ingin menunjukkan jika dia bisa mendapatkan suami yang memperlakukan dirinya bak putri raja. Dia tak mau kalah dari kedua orang tuanya.
Qiana langsung mengambil makanan yang akan disantapnya. Dan saat Raka hendak mengambil makanan untuk dirinya sendiri, Qiana menahannya.
“Kita makan sepiring berdua saja ya, Mas,” ucap gadis itu. Walau awalnya sedikit terperangah. Raka akhirnya mengangguk sembari tersenyum.
“Iya Dek,” jawabnya.
Qiana memberikan piring yang sudah berisikan nasi goreng kari pada Raka. Gadis itu pun menatap Raka dengan tersenyum penuh arti. Raka yang sudah mengerti maksud tatapan gadis itu, langsung menyuapi Qiana.
“Mas Raka kok mau saja sih diperdaya Mba Qia,” ketus Sean. Pria berusia 18 tahun itu seolah tak rela jika sepupu yang selama ini dia idolakan, berada di bawah kendali Qiana. Kakak sepupunya itu adalah pria yang kaku. Pria itu sedingin es. Kenapa mau diperlakukan seperti itu?
Qiana kembali menatap sinis pada adik kandungnya itu.
“Sudah lah Se. Mba dan Mas kamu ini kan masih pengantin baru. Wajar mereka begini,” ucap Ivander. Pria itu tak mau terjadi keributan di meja makan.
“Maksud Papa apa? Qia dan Mas Raka hanya bisa romantis saat pengantin baru saja?!” ketus Qiana.
“Eh, bukan begitu maksud Papa,” ucap Ivander.
“Dek ... Mas janji akan romantis terus seperti ini. Seumur hidup kita, Sayang.”
Raka berusaha untuk menenangkan Qiana yang tengah sensitif. Mendengar itu, Qiana kembali tersenyum dan bergelayut manja pada lengan sang suami.
Sedangkan anggota keluarga Bratajaya lainnya, terperangah mendengar penuturan Raka. Terlebih Mika.
__ADS_1
“Mika duluan deh. Rasanya hati ini sakit melihat duo Bucin ini!”