
Sore harinya,Deril sampai dirumah,Iapun langsung menuju kekamarnya.
Tidak ada seorangpun dikamar,Derilpun segera mandi dan ganti baju lalu turun kelantai bawah.
Dia clingak clinguk seperti mencari seseorang,tapi tidak menemukan apapun.
"Kemana thu cewek?tadi katanya mau pulang?" gumam Deril.
Farah yang melihat Deril merasa heran, "Cari apa Ril?"
Deril tidak mungkin jujur jika dia mencari Zee,pasti Farah akan mengejeknya.
"Gak,cari siapa-siapa kok ma,cari remot," ucap Deril lalu duduk disofa dan menonton tv.
"Oh..." jawab Farah,yang sebenarnya sudah tahu bukan itu yang Deril cari.Iapun menuju kedapur.
Menonton tv pun membuat Deril bosan,Ia beranjak menuju dapur dan menghampiri Farah yang sedang masak sendiri.
"Tumben mama masak sendiri," ucap Deril basa basi.
"Emang biasanya sama siapa?" tanya Farah dengan nada menyindir.
Deril terlihat gugup dan memainkan wortel dimeja dapur, "Ya enggak,emang dia kemana ma?"
Farah tersenyum dan masih ingin menggoda anak lelakinya itu, "Dia siapa?"
"Bukan siapa-siapa," jawab Deril lalu beranjak pergi.
"Dia kerestoran,bantuin papanya," ucap Farah yang sebenarnya sudah tahu betul apa yang dimaksud Deril.
Deril berhenti dan menoleh kearah Farah.
"Tadi dia nelfon kamu,tapi nomor kamu gak aktif,yakan?" tanya Farah.
Deril terdiam,Ia bahkan lupa dimana Ia meletakkan ponselnya,Derilpun langsung naik keatas menuju kekamarnya.
Farah tersenyum sendiri melihat tingkah anaknya.
Deril memeriksa ponselnya yang ada dikamar,
"Pantesan,Hp gue mati," Deril mengecas Hpnya.
Iapun merebahkan tubuhnya diranjang sambil menatap langit-langit.
"Kok sepi banget sih?" gumam Deril.Iapun kembali duduk sambil bersila,seperti orang yang kebingungan akan melakukan apa.
Derilpun beranjak pergi sambil membawa kunci mobilnya.
Deril turun dari tangga saat keluarganya sedang makan malam.
"Pa,Ma,aku keluar bentar," ucap Deril sambil terus berjalan.
"Mau kemana?" tanya Adi.
"KeRestoran," jawab Deril sambil teriak karena sudah berada dipintu depan.
Adi mengerutkan keningnya, "KeRestoran?"
Farah terkekeh, "Kayanya ada yang lagi galau karena gak ada istrinya?" ucap Farah.
Adipun tersenyum dan paham dengan maksud Farah.
Deril sampai didepan Restoran Farhan yang masih cukup ramai pengunjung,Derilpun turun dari mobil dan masuk kesana.
Ia disambut oleh pelayan dan dipersilakan duduk.
Kebetulan Deril melihat Farhan yang sedang bersama seorang pelayan,tapi tidak melihat Zee dimanapun.
__ADS_1
"Jangan-jangan,mama bohongin gue lagi?" gumam Deril,Iapun berdiri dari tempat duduknya dan ingin keluar.
"Deril," panggil Farhan.
Derilpun berhenti dan menoleh kearah Farhan yang menghampirinya.
"Hai pa," sapa Deril.
"Kamu mau jemput Zee,ya?" tanya Farhan.
"Jadi bener dia disini," batin Deril.
"Iya," jawab Deril.
"Oh,dia masih didapur bantuin masak,maaf ya,tadi koki papa ada yang cuti mendadak jadi papa minta tolong Zee buat gantiin,gak papakan?" tanya Farhan.
"Gak...gak papa kok pa," jawab Deril.
"Ya udah,kita tunggu aja diruangan papa ya,biar lebih enak ngobrolnya," ajak Farhan.
Deril menganguk,merekapun menuju keruangan Farhan.
Diruangan yang cukup nyaman itu,Deril duduk sembari melihat-lihat hiasan dinding yang cukup mewah,Ada juga foto Farhan dan Zee yang terpajang disana.
Farhan masuk dengan dua gelas kopi ditangannya.
"Ngopikan?" tanya Farhan sembari menyodorkan secangkir kopi pada Deril.
Deril terlihat bingung.
"Gak ngopi ya?" Farhan ingin membawa kembali kopi itu.
"Ngopi kok pa," Deril mengambil kopi itu,"Makasih,"
Derilpun sedikit meminumnya lalu meletakkannya dimeja.
Farhan duduk disofa disamping Deril,"Papa thu baru tahu lho,kalo kamu sama Zee dulu satu sekolah,"
"Kok kebetulan sekali,dulu Zee gak pernah gangguin kamukan disekolah?" tanya Farhan.
Deril teringat bagaimana dulu Zee selalu mengganggunya setiap hari dengan kekonyolannya dia,Derilpun terkekeh sendiri mengingat hal itu.
Melihat ekspresi Deril,Farhan udah mengerti jawabannya,"Hah,anak itu,gak pernah bisa diam,dia sekolah cuma buat seneng-seneng bukan buat belajar,dia bilang kalo lihat buku itu,kepalanya langsung pusing,papa berpikir dia tidak mungkin lulus sekolah dulu,"
Mereka terus ngobrol membicarakan Zee sambil ngopi,Derilpun yang sebenarnya tidak pernah ngopi sebelumnya,menghabiskan satu cangkir kopi buatan Farhan itu.
Beberapa waktu kemudian,Zee masuk keruangan Farhan,dia sama sekali tidak tahu jika ada Deril disana, "Pa,aku..." bicaranya terhenti saat melihat Deril.
Deril dan Farhan melihat kearah Zee.
Zee menghampiri mereka, "Kamu kesini?" tanya Zee pada Deril.
"Iya,suami kamu udah dari tadi nungguin kamu,mau jemput kamu pulang," ucap Farhan.
Zee terdiam,kepalanya yang tadinya panas terkena asap dapur,tiba-tiba seperti disiram air dengan tujuh rupa bunga yang membuat badannya segar kembali.
"Ya udah Pa,inikan udah malam,kita pulang dulu," ucap Deril.
"Ya sudah,lain kali kamu kesini lagi ya,masih banyak yang pengen papa obrolin," ucap Farhan.
Zee merasa sedikit heran melihat keakraban Deril dan Farhan.
"Pasti pa," jawab Deril.
Merekapun keluar Restoran,saat didepan mobil,Deril merasa kepalanya sedikit pusing.
"Kenapa?" tanya Zee.
__ADS_1
"Gak papa kok,"" Deril langsung masuk kedalam mobil,Zeepun sama.
Dalam perjalanan pulang,Zee terlihat berbunga-bunga karena Deril menjemputnya malam ini.
"Gak nyangka,kamu mau jemput aku" goda Zee.
Deril hanya diam,dia merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
"Emang tadi ngobrolin apa aja sama papa?kalian udah akrab banget tiba-tiba," tanya Zee lagi.
Deril tiba-tiba menghentikan mobilnya mendadak,membuat Zee terkejut.
Deril langsung turun dari mobil dan muntah-muntah dipinggir jalan.
"huek...huek...!"
Zee yang panik langsung turun dan menghampiri Deril.
"Kamu kenapa sih?kamu sakit?" tanya Zee panik.
Deril masih muntah,Iapun bersandar didepan mobil sembari memegangi perutnya, "aduh...aduh...perut gue sakit banget," ucap Deril dengan wajah yang sudah pucat.
Zeepun panik dan mengambil air didalam mobil,lalu memberikannya pada Deril.
Derilpun meminum sedikit air,tapi tubuhnya masih terasa lemas.
"Kamu kenapa sih?tadi baik-baik aja kok," Dara mengelap wajah Deril yang mengeluarkan keringat dingin.
Deril hanya menggelengkan kepala karena terlalu lemah untuk bicara.
"Ya udah,kita kedokter ya!" Zee menuntun Deril masuk kedalam mobil.Zeepun bergegas mengemudikan mobilnya menuju keRumah sakit terdekat.
Skip.
Zee sedang menunggu didepan ruangan tempat Deril diperiksa,Zee ingin menghubungi keluarganya tapi tiba-tiba dokter sudah keluar.
"Gimana dok?dia gak papakan?" tanya Zee panik.
"Gak papa,cuma asam lambungnya sedikit naik,mungkin karena dia minum kopi saat perutnya masih kosong," ucap Dokter.
Zee ingat saat melihat cangkir kopi diruangan Farhan.
"Ya udah,nanti saya resepkan obat,setelah dia merasa lebih baik,dia boleh langsung pulang," ucap Dokter lalu berjalan meninggalkan Zee.
Zee menghela nafas dan merasa sedikit lega.
Iapun pergi kesuatu tempat.
Deril sudah merasa lebih baik,diapun mulai duduk,Zee masuk kedalam ruangannya sambil membawa makanan.
"Gimana?udah baikan?masih ada yang sakit gak?" tanya Zee tanpa jeda.
Deril yang masih agak lemas itu hanya menatap Zee dengan sinis.
"Kenapa?kan cuma nanya," ucap Zee.
"udah ah,yuk kita pulang," ajak Deril.
"Tunggu,kamu makan dulu,kamu belum makankan?,neh aku udah beliin bubur,"
"Ntar aja dirumah," ucap Deril.
"Udah disini aja,badan kamukan masih lemes,gak akan ada tenaga kalo gak makan," Zee menyiapkan bubur lalu menyuapi Deril, "A..."
Derilpun terpaksa makan dari suapan Zee.
Zeepun tersenyum dan dengan semangat menyuapi suaminya itu.
__ADS_1
"Lain kali kalo gak biasa minum kopi,gak usah diminum,meskipun itu dari mertua," sindir Zee.
Deril hanya diam dengan wajah kesal,Zee tersenyum dan kembali menyuapinya.