Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Tanda Cinta


__ADS_3

Dikantor,Adi sudah menunggu Deril yang sampai siang belum datang.


Andrepun jadi sasaran kemarahan Adi.


Deril masuk keruangannya dan melihat papanya.


"Papa,ngapain disini?" tanya Deril.


"Kamu ini,jam segini baru sampai kantor,papa udah nunggu kamu dari tadi pagi," ucap Adi dengan nada kesal.


"Maaf pa,tadi ada urusan penting," ucap Deril sambil menggaruk tengkuknya menampakkan tanda merah yang nampak dibawah dagunya.


Adi menaikkan kedua alisnya, "Urusan penting apa?ini," Adi menyentuh dagu Deril.


Deril merasa heran, "Apa?"


"Papa tunggu diruangan papa,cepet!" ucap Adi yang pergi sambil menggelengkan kepalanya.


Deril merasa heran,iapun mengambil ponsel untuk melihat apa yang dimaksud Adi.


Deril memejamkan matanya dengan wajah yang sangat malu.


Andrepun terkekeh sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Deril.


"Gak papa pak,saya ngerti kok," jawab Andre.


Deril mengerutkan keningnya, "Ngerti apa maksud kamu?".


"Itu tanda cinta,permisi," Andre segera keluar dari ruangan Deril.


Deril menghela nafas,lalu tersenyum teringat pada tanda cinta yang dibuat Zee pagi tadi.


Reva sudah berada didepan sebuah gedung tempat Seminar,ia sedang menunggu Yoga,benar-benar berharap Yoga akan datang.


Padahal acara masih 1 jam lagi,tapi Reva sudah terlihat tidak sabar.


Yoga keruangan Kania dan menyerahkan berkas yang sudah ia selesaikan.


"Kamu urus semuanya,kirim ke email pak Deril secepatnya," ucap Yoga.


"Baik pak," jawab Kania.


"Oya,saya pulang cepet hari ini karena ada acara," ucap Yoga.


Kania merasa heran,acara apa yang dimaksud Yoga.


"Nanti kalo ada apa-apa hubungi saya," ucap Yoga lalu beranjak pergi.


"Ada acara apa?" gumam Kania.


Zee sedang disupermarket untuk membeli cemilan dan juga barang-barang kebutuhannya.


Ia belanja satu troli penuh dan membawanya kekasir.


Kasir pun menghitung barang belanjaan Zee, "890 ribu," ucap Kasir.


Zee mengambil dompet ditasnya,tapi dia terkejut saat dompetnya tidak ada.


"Kok gak ada," Zee berusaha mengingat,tadi dia membawa dompet atau tidak.


Zee memang naik taxi menuju keSupermarket,tapi ia membayarnya secara online.


"Bentar ya mbak," ucap Zee yang sedikit menjauh dari meja kasir,ia mengambil ponsel untuk menelfon seseorang.


Deril sedang membahas pekerjaan diruangan Adi.ponselnya berbunyi.


Adi menatap sinis putranya itu.


"Dari Zee,gak boleh diangkat?"tanya Deril menunjukkan layar ponsel pada Adi.


"Ya udah,angkat," ucap Adi.

__ADS_1


Deril mengangkat telfon, "Iya Zee,"


"Aku lagi belanja keSupermarket tapi lupa gak bawa dompet," keluh Zee.


"Kamu gimana sih?terus?" tanya Deril.


"Kamu kesini donk,bayarin belanjaan aku," jawab Zee.


"Zee,aku lagi banyak kerjaan," ucap Deril sambil melihat kearah Adi.


Adi hanya diam dan membiarkan anak dan menantunya bicara.


"Trus gimana dong?" tanya Zee.


"Ya udah,kamu gak usah belanja," ucap Deril.


"Kan udah terlanjur dihitung,nanti aku malu dong,pokoknya kamu kesini,aku tunggu," paksa Zee dan menutup telfonnya.


"Zee..." Deril menghela nafas dan melihat kearah Adi,ia akan berusaha meminta izin dari papanya.


"Pa...Zee..."


"Udah sana pergi," ucap Adi.


Deril tersenyum mendengar Adi yang begitu pengertian, "Serius?"


"Papa gak mau cucu sama menantu papa kenapa-napa," ucap Adi.


"Makasih ya pa," Derilpun bergegas pergi untuk menyusul Zee.


Adi hanya tersenyum lalu melanjutkan pekerjaaannya.


Reva masih menunggu,tapi Yoga belum juga datang,acara akan segera dimulai,Revapun akan segera masuk,mungkin Yoga sedang sibuk jadi tidak bisa datang.


"Aku telat ya?" ucap Yoga yang sudah berada disamping Reva.


Reva terlihat senang melihat Yoga yang akhirnya datang, "Kak Yoga,aku pikir kakak gak bisa datang,"


Yoga tersenyum, "Bisa dong,"


Yoga menganguk,iapun masuk bersama Reva dan mereka duduk dikursi paling depan.


Acara seminar itu dimulai,acara yang bertemakan generasi muda masa depan,banyak pelajaran yang bisa diambil dari para pengisi acara yang hadir.


"Ok,sekarang kita bakalan dengerin pengalaman dari salah satu generasi muda juga,salah satu anggota dari komunitas pecinta alam,Reva,silakan," ucap pembawa acara.


Semua bertepuk tangan,Yoga melihat kearah Reva dengan wajah sedikit terkejut.


Reva tersenyum dan segera maju kedepan.


"Selamat siang semuanya," ucap Reva.


"Saya Reva mewakili dari komunitas pecinta alam,....." Reva menjelaskan tentang bagaimana komunitasnya ikut dalam mendukung para anak muda untuk lebih baju dan ikut berperan dalam setiap kegiatan yang positif.


Yoga terlihat sangat bangga melihat Reva yang awalnya ia pikir hanya gadis manja,tapi ternyata punya bakat yang luar biasa dalam memberi inspirasi pada para generasi muda.


Deril sampai disupermarket,ia menghampiri Zee yang masih duduk ditempat kasir.


"Zee..."


Zee langsung berdiri dengan wajah cemberut, "Kok lama banget sih,"


"Iya maaf,tadikan macet," ucap Deril.


"Ya udah,bayar," ucap Zee.


Derilpun memberikan kartu kepada kasir.


"Lain kali kalo mau belanja,dilihat dulu bawa dompet apa enggak," ucap Deril.


"Iya..iya..."


Deril membawa belanjaan Zee.

__ADS_1


"Ya udah yuk,aku anterin pulang," ucap Deril.


Zee pun mengikuti suaminya menuju kemobil.


Disebuah kafe,Yoga dan Reva sedang makan setelah selesai acara.


"Aku masih gak nyangka,ternyata Reva ini adalah gadis yang hebat," puji Yoga.


Reva tersenyum malu.


"Kamu udah lama ikut komunitas kaya gitu?" tanya Deril.


"Belum sih,baru sekitar 5 bulanan," jawab Reva, "Kenapa?masih kaku ya?"


"Gak kok,udah keren," jawab Yoga sambil memberikan dua jempol pada Reva.


Reva terlihat senang, "Jadi,udah cocokkan buat jadi pacarnya kak Yoga," ucap Reva.


Yogapun langsung tersedak dan batuk-batuk karena sedang makan,iapun langsung minum.


"Kakak gak papakan?" tanya Reva cemas.


"Gak kok," Deril tersenyum, "Reva,kamu masih pengen jadi pacar aku?".


"Iya dong,kak Yoga bilang mau pikirin," jawab Reva.


Yoga menghela nafas," Reva,kamukan masih muda,masih sekolah,mendingan kamu konsen aja dulu sama sekolah kamu,nanti kalo kamu udah lulus,baru kamu minta lagi buat jadi pacar aku,ya," ucap Yoga dengan lembut.


"Gak ah,ntar kak Yoga udah nikah lagi," jawab Reva dengan wajah cemberut.


Yoga menggaruk pelipisnya dan bingung harus bagaimana cara menolak Reva agar dia tidak merasa sakit hati.


"Reva,kamukan pintar,cantik,masih muda lagi,kamu pasti bisa dapetin cowok yang lebih baik dari pada aku,ya" ucap Yoga.


Reva menatap wajah Yoga, "kak Yoga gak lagi nolak akukan?" tanya Reva.


"Hem...ehm..." Yoga bingung harus menjawab apa.


"Kak Yoga bilang aku cantik dan juga pinter,udah sesuai sama cewek yang kak Yoga cari,terus kenapa aku ditolak?"


"Kamu masih terlalu muda Reva," ucap Yoga.


Reva terdiam dengan wajah kesal.


Yoga mengusap kepala Reva,"Maafin aku ya,tapi kamu masih bisa kok jadi adik aku," ucap Yoga.


"Gak mau," jawab Reva dengan wajah cemberut.


"Reva,"


"Aku bisa jadi dewasa kalo kak Yoga mau?" ucap Reva.


"Enggak,kalo aku emang cinta sama kamu,aku mau mencintai kamu yang apa adanya,dan kamu gak perlu merubah diri kamu menjadi orang lain,ngerti," ucap Yoga.


Reva menatap kearah Yoga,dan kata-katanya membuat Reva semakin kagum pada Yoga.


"Satu bulan," ucap Reva.


"Apa?" tanya Reva.


"Kasih waktu aku satu bulan buat bikin kak Yoga cinta sama aku,kalo dalam waktu sebulan aku gagal,aku mau deh jadi adiknya kak Yoga," ucap Reva.


Yoga diam dan berfikir.


"Mau ya?" pinta Reva merengek.


Yoga tersenyum, "Ok..."


"Tapi kak Yoga harus jujur ya kalo nanti beneran cinta sama aku,jangan curang," ucap Reva.


"Iya," jawab Yoga sambil terkekeh melihat tingkah menggemaskan Reva.


Reva merasa senang karena Yoga menyetujui permintaannya.

__ADS_1


** Like and comment ya***


__ADS_2