Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Bab 71


__ADS_3

Malam berlalu,pagi menyapa,Yoga mengerjapkan matanya,nampak gadis yang masih terbaring lemah itu belum sadarkan diri,dengan beberapa alat yang masih setia menempel ditubuhnya.


Pria itu melangkah mendekat sembari mengusap lembut kepala Reva.


"Ceklek," pintu terbuka.


Menampakkan pasangan teruwu kita,Deril dan Zee.


"Gimana keadaan Reva?" tanya Deril sembari mengusap lembut kepala adiknya.


"Masih belum sadar," jawab Yoga.


Zee memegang tangan Reva yang masih lemah itu,dan berharap adiknya segera membuka mata,menyapa dengan penuh ceria seperti sebelumnya.


"Mendingan kamu pulang dulu,biar kita yang jagain Reva,kebetulan mama sama papa juga udah pulang waktu kamu masih tidur tadi," ucap Deril kepada Yoga.


Yoga menatap wajah Reva sekilas,lalu mulai melangkahkan kakinya kearah pintu.


"Eh..." terdengar suara yang membuat langkah Yoga terhenti dan kembali berbalik.


Zee yang merasakan pergerakan tangan Revapun langsung antusias, "Reva,"


Deril mengusap lembut kepala Reva,Reva mengerjapkan matanya yang masih sulit terbuka.


Yogapun mengurungkan niatnya untuk pulang,dan kembali mendekati gadis kesayangannya itu.


Dokter datang untuk memeriksa keadaan Reva,semua berharap Reva baik-baik saja.


Mata Revapun mulai terbuka,ia melihat kakaknya ,Kakak iparnya dan juga pria yang selalu ada dalam mimpinya.


"Keadaan Reva sudah mulai stabil,tapi dia tidak boleh banyak bergerak dulu,karena lukanya belum kering," ucap Dokter disambut senyuman lega dari semuanya.


Dokterpun keluar dari ruangan Reva,Zee terlihat senang dan langsung memberikan pelukan hangat pada adiknya itu.


Deril mengusap rambut Reva dan mencium keningnya, "Jangan membuat kakak khawatir lagi seperti ini," ucap Deril sembari mencolek hidung Reva.


Reva mulai tersenyum kembali,Yoga pun merasa lega,keduanya saling melihat tapi hanya diam dan justru seperti salah tingkah.


Bahkan Yoga sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus mengatakan apa,apalagi ada Deril dan Zee yang membuatnya semakin kikuk.


Zee melihat kearah Deril dan memberikan kode pada suaminya itu,Derilpun sudah mengerti telepati yang dikirimkan oleh istrinya.


"Kita cari makan dulu ya,kak Zee pasti udah kelaparan," Ucap Deril yang justru menjadikan Zee sebagai alasan.


Zee memicingkan mata menatap suaminya.


Reva terkekeh melihat tingkah kakaknya itu,Derilpun menggandeng tangan Zee.


"Titip Reva ya?" ucap Deril sembari menepuk pundak Yoga,lalu kembali melangkah pergi bersama Zee.


Yoga melangkah mendekati gadis yang terlihat malu-malu itu.


"Gimana?masih sakit?" tanya Yoga.


Reva menganguk pelan.


Yoga duduk sambil memegang tangan Reva, "Harusnya kamu gak perlu bertindak bodoh kaya gini,kamu udah membahayakan nyawa kamu sendiri Reva,dan juga membuat aku hampir mati," ucap Yoga dengan sendu.

__ADS_1


Reva hanya tersenyum tipis, "Gimana keadaan Tante Siska?dia gak papakan?"


Bukannya menjawab,Yoga justru menatap nanar wajah Reva,bisa-bisanya ia masih menghawatirkan mamanya ketika kondisinya sudah seperti ini.


"Kak..." Reva menyentuh tangan Yoga ynag justru melamun.


"Mama baik-baik aja kok," jawab Yoga.


Reva merasa lega.


Pintu kembali terbuka,kali ini perempuan yang sedang mereka bicarakan masuk.


"Mama,"


Reva tersenyum melihat Siska yang datang dengan buah tangan dan meletakkannya dimeja lalu ia berjalan kearah gadis yang sudah dengan berani menyelamatkannya kemarin.


Siska tidak mengucapkan apapun,dia hanya mengusap kepala Reva lalu menciumnya dengan lembut,Reva menutup matanya,entah kenapa ia merasa ada getaran aneh dalam tubuhnya saat merasakan perhatian Siska.


Yoga memalingkan wajahnya yang terharu melihat adegan itu.


"Makasih ya sayang,atas semua yang sudah kamu lakukan buat Tante,Tante benar-benar tidak akan bisa membalas kebaikan kamu," ucap Siska.


"Tante,aku gak butuh balasan apapun," ucap Reva sembari memegang tangan Siska.


Siska kembali memeluk Reva dengan penyesalan yang berada dipundaknya karena pernah dengan sengaja menyakiti gadis mungil berhati mulia ini.


Zee merebut roti dari tangan Deril saat Rotinya sudah habis.


"Zee..." pekik Deril.


"Katanya tadi aku yang kelaparan,kenapa kamu ikut makan," Zee melahap roti itu sekaligus hingga mulutnya penuh.


"Akukan juga lapar" ,Deril bangkit dan kembali membeli roti yang sama.


Zee terkekeh melihatnya,Deril langsung melahap roti itu dengan cepat sebelum Zee merebutnya lagi.


"Beliin lagi,masih kurang," ucap Zee dengan manja.


"Kamu udah habis 2,masa masih kurang?" Deril merasa aneh dengan porsi makan Zee yang semakin hari semakin bertambah.


"Akukan lagi hamil,butuh nutrisi lebih banyak" ucap Zee.


Deril menghela nafas dan kembali bangkit untuk ketiga kalinya dan membeli roti yang sama,kali ini ia membeli 2 bungkus sekaligus.


"Neh," Deril memberikan roti itu pada Zee.


Zee dengan cepat langsung kembali melahapnya.


"Oya,kira-kira setelah kejadian ini,pertunangan Yoga batal gak ya?" ucap Zee yang membuat Deril langsung menatapnya.


"Jangan bicara sembarangan,kejadian inikan gak ada hubungannya sama pertunangan Yoga," ucap Deril yang mengambil secuil roti yang Zee pegang lalu memakannya.


Zee mengerutkan dahinya, "Tapikan,Reva udah ngorbanin nyawa buat mamanya Yoga,aku yakin mamanya Yoga pasti akan merestui hubungan mereka dan membatalkan pertunangan Yoga sama Alena," ucap Zee dengan keyakinan tingkat tinggi.


Deril kembali memakan roti ditangan Zee karena Zee sedang sibuk memikirkan orang lain, "Gak usah banyak berdrama,ini bukan cerita sinetron," ucap Deril membantah ucapan Zee.


Zee memicingkan matanya dan saat akan melahap roti ditangannya ternyata tinggal tersisa plastiknya.

__ADS_1


"Deril..." pekik Zee.


Deril terkekeh, "Makanya kalo lagi makan,makan aja,gak usah banyak gaya," ucap Deril sambil mengusap kepala Zee yang cemberut.


Siska begitu perhatian hingga menyuapi Reva makan,membuat hati gadis itu berbunga-bunga,Yogapun yang melihat adegan itu merasa sangat bahagia.


Deril dan Zee kembali setelah perut mereka kenyang,mereka tersenyum melihat Reva yang terlihat lebih sehat dari sebelumnya.


"Yoga,mama mau bicara sebentar sama kamu," ucap Siska usai menyuapi Reva.


Yoga menganguk,merekapun keluar dari ruangan Reva.


Zee mendekati Reva dengan wajahnya yang mulai julid.


"Ciye,disuapin neh Sama calon mertua," goda Zee.


Wajah Revapun langsung memerah, "Ih,kak Zee,kak Yogakan udah mau tunangan,".


"Sama kamu?" ucap Zee membuat wajah Reva semakin merah dan melotot kearah Zee.


"Ya gaklah," Reva kembali memasang wajah cemberut saat ingat pertunangan Yoga dan Alena sudah ditentukan.


Zee mengusap rambut Reva, "Kamu siap-siap aja,percaya sama aku,sebentar lagi adik aku yang cantik ini pasti bakalan tunangan sama kak Yoga," ucap Zee dengan yakin.


Reva menatap Zee,begitupun Deril.


"Zee,gak usah mengarang cerita yang belum pasti," ucap Deril yang terlihat kesal.


Zee hanya memicingkan matanya menatap Deril,entah kenapa mendengar itu membuat bibir Reva tersenyum,seandainya memang benar jantung Reva pasti benar-benar akan meledak.


Yoga dan Siska berbicara ditaman rumah sakit.


"Ada apa ma?" tanya Yoga sembari memegang tangan Siska yang dari tadi terlihat cemas.


"Mama sudah membatalkan acara pertunangan kamu dengan Alena," ucap Siska yang membuat Yoga membelalakkan matanya karena merasa tidak percaya.


"Mama minta maaf ya,harusnya dari awal mama merestui hubungan kamu sama Reva,bukan sampai menunggu ada kejadian seperti ini," ucap Siska dengan sesal dimatanya.


"Ma...aku tahu kok,mama mau yang terbaik buat aku," Ucap Yoga lalu memeluk mamanya itu dengan senyum yang terpancar diwajahnya.


"Tapi Yoga,masih ada satu masalah..."


Yoga melepaskan pelukannya dan menatap kearah Siska.


"Pak Abi,papanya Alena tidak terima,dan dia bilang akan mencabut semua kerja sama antara dia dengan perusahaan kamu,mama takut,gimana kalo ancamannya itu benar,gimana nasib perusahaan kamu,?" ucap Siska dengan kekhawatiran penuh.


Yoga kembali memegang tangan mamanya, "Masalah itu biar Yoga yang tangani,mama gak usah khawatir ya,dengan mama merestui aku sama Reva itu udah bikin aku sangat bahagia,makasih ya ma," Yoga kembali memeluk mamanya.


Siska tersenyum,sudah sejak lama ia tidak merasakan pelukan hangat dari Yoga.


"Tapi mama punya syarat," ucap Siska membuat Yoga mengerutkan keningnya.


"Kamu sama Reva harus nikah begitu Reva lulus sekolah," ucap Siska sukses membuat Yoga melotot.


"Ma,tapikan Reva harus kuliah dulu," jawab Yoga.


"Kuliahkan bisa setelah menikah,nanti kalo Reva udah pulang dari rumah sakit,kita langsung ngelamar dia,gimana?" ucap Reva sembari menaikkan kedua alisnya.

__ADS_1


Antara senang dan juga bingung, "Terserah mama deh," jawab Yoga.


Siska terkekeh melihat ekspresi Yoga seperti itu.


__ADS_2