
Deril sedang duduk disofa sambil memeriksa berkas untuk meting besok,berharap jika kali ini Ia bisa memenangkan Tender karena sudah beberapa waktu perusahaannya tidak mendapatkan proyek besar.
Zee masuk dan menghampirinya,Deril langsung menyodorkan berkas itu pada Zee.
"Neh,kamu pelajari detailnya," ucap Deril.
"Udah ah,besok aja,males," jawab Zee.
Deril menatap sinis kearah istrinya itu.
Zee cemberut dan langsung menuruti perintah Deril.
"Lama-lama bosen juga kerja kantoran,aku mau pindah keRestoran aja," ucap Zee.
Deril menaikkan kedua alisnya, "Ya udah,pindah aja sana,"
Zee langsung melihat Deril, "Boleh?"
"Boleh,tapi nanti aku cari sekertaris baru yang lebih cantik dan juga pintar,kamu mau?" goda Deril.
"Enggak," jawab Zee dan kembali konsen pada berkas ditangannya.
Deril terkekeh dan mengusap kepala istrinya itu .
Siang itu,Deril dan Zee datang untuk pengajuan kontrak dengan klien disebuah hotel mewah.
Ternyata Klien itu adalah pemilik hotel yang ingin kembali membangun hotel mewah dibeberapa lokasi.
Merekapun segera masuk,dan betapa terkejutnya saat melihat Kania sudah duduk diruang meting.
"Ya ampun,kenapa gue harus ketemu nenek sihir itu lagi," batin Zee.
Deril hanya diam dan seperti tidak mengenal Kania.
"Silakan pak Deril," sekertaris sang bos mempersilakan Deril dan Zee untuk duduk,mereka duduk berhadapan dengan Kania dan Yoga.
"Baik,karena dua wakil perusahaan sudah datang,silakan mulai presentasinya," ucap Pak Anjas,sang pemilik hotel.
Yoga melihat kearah Deril dan mempersilakan Deril untuk memulai lebih dulu.
Deril tersenyum dan menganguk.
Zee justru sibuk memperhatikan Kania yang terlihat semakin bergaya sekarang.
"Zee..." bisik Deril.
"Oh..." Zee langsung mengeluarkan berkas-berkas mereka dengan buru-buru.
Kania menyunggingkan bibirnya melihat kecerobohan Zee.
"Ini proposal rencana pembangunannya pak," Deril menyerahkan proposal itu pada pak Anjas,lalu menjelaskan Detailnya dengan singkat,jelas dan padat.
Zee selalu mengangumi suaminya saat bekerja seperti itu karena terlihat lebih berwibawa.
"Cukup menarik," ucap pak Anjas setelah mendengar penjelasan dari Deril.
Deril dan Zee merasa senang.
"Tapi menurut saya,Dana yang akan dikeluarkan tidak sesuai dengan fasilitas yang akan dibangun," bantah Kania.
Deril dan Zee langsung menatap kearah Kania.
Begitupun Yoga yang mengerutkan keningnya menatap Kania.
"Maaf,tapi saya tidak meminta pendapat anda," ucap Anjas.
Kania tertegun, "Maaf pak,"
Zee mengulum senyum melihat kearah Kania.
Yogapun memulai presentasinya,Ia juga menjelaskan tentang rencana pembangunan mereka,dibantu Kania yang ikut dalam presentasi itu.
Anjas menganguk setelah mendengar penjelasan dari Yoga dan Kania.
__ADS_1
"Setelah mendengar presentasi dari kedua perusahaan,saya memutuskan untuk bekerja sama dengan,'Yoga company',"
Yoga dan Kania tersenyum lebar.
Derilpun tersenyum,sementara Zee terlihat kesal.
"Pak Deril,bukannya saya tidak tertarik dengan proposal anda,tapi saya rasa mungkin kita bisa bekerja sama dilain waktu," ucap Anjas.
"Baik pak,saya mengerti," ucap Deril dan merekapun bersalaman.
Deril dan Zee dalam perjalanan kembali kekantor.
"Kok bisa sih,Kania ngalahin kita,dasar Thu nenek sihir,gak kapok apa punya urusan sama kita,rasanya pengen gue jambak thu rambutnya terus gue tampol wajahnya yang sok lugu pake sendal," ucap Zee dengan emosional tingkat Dewa.
Deril menggelengkan kepalanya, "Zee,kalah atau menang itu biasa dalam bisnis,udahlah kamu gak usah terlalu pikirin,"
"Tapikan kita gak harus kalah dari Kania,pasti sekarang dia lagi ngejekin kita Thu," ucap Zee lagi.
Deril hanya menghela nafas panjang, "Makanya kamu belajar lebih giat lagi,biar nanti bisa menang Tender,"
Zee terdiam dengan wajah malas.
"Kenapa ? giliran disuruh belajar diam," sindir Deril.
"Iya...iya...nanti aku belajar lagi," jawab Zee pelan.
Deril tersenyum sambil melirik kewajah Zee.
Kania terlihat sangat senang berada diruangannya, "Ini baru permulaan Zee,gue akan bikin kalian Bener-bener menyesal karena udah bikin Mama meninggal,"
Kania masih terlihat sangat membenci Zee.
Yoga masuk keruangan Kania.
"Makan siang yuk," ajak Yoga.
Kania tersenyum dan menganguk.
"Kamu ada masalah pribadi ya sama Deril dan sekertarisnya?" tanya Yoga.
"Hem?" Kania terlihat bingung.
"Terlihat jelas dari cara kamu menatap mereka," imbuh Yoga.
Kania hanya diam dan kembali makan.
Yoga memang sering memperhatikan Kania,menurutnya Kania adalah gadis sempurna,cantik,pintar dan juga pekerja keras,siapa pria yang tidak tertarik padanya.
"Sebenarnya sebelum bekerja dengan anda,saya bekerja diperusahaannya pak Deril,tapi karena sesuatu hal,saya harus keluar dari sana," ucap Kania.
"Oh..gitu," ucap Yoga.
"Kania,saya ingin membicarakan hal pribadi sama kamu," ucap Deril membuat Kania sedikit heran.
"Mungkin ini terlalu cepat,tapi saya tertarik sama kamu," ucap Yoga.
Kania langsung berhenti makan dan melihat kearah Yoga dengan kikuk.
"Apa kamu mau menjadi pendamping saya?" tanya Yoga dengan serius.
Kania terdiam dengan wajah bingung,jujur Ia sama sekali tidak menyimpan perasaan apapun kepada atasannya itu,Deril masih mengisi penuh ruang hati Kania meskipun rasa benci itu ada.
Yoga tersenyum, "Kamu gak perlu jawab sekarang,kamu pikirin dulu ya?"
Kania menganguk meskipun ingin menolak tapi Kania menahannya karena tidak ingin melihat Yoga kecewa.
Zee menghampiri Deril yang sedang bersantai diruang tengah sambil menonton tv.
Zee meletakkan sebotol obat didepan Deril.
"Apaan neh?" tanya Deril.
Zee duduk disebelah Deril, "Vitamin,"
__ADS_1
Deril mengerutkan keningnya.
"Kan kamu gak mau minum jamu,jadi minum vitamin aja ya," ucap Zee.
"Zee...gak perlu minum vitamin aku udah bisa bikin kamu lemas setiap malam," sindir Deril.
"Ish..." Zee memukul pelan dada suaminya.
Deril terkekeh, "Kamu neh ngebet banget pengen punya anak,kamu aja masih kaya anak-anak,ngegemesin," Deril memencet hidung Zee sambil tertawa.
"Ih...sakit tau," Zee memegangi hidungnya yang memerah.
Deril mendekati wajah istrinya dan menempelkan jidat mereka berdua.
Farhan baru pulang dari Restoran dan melihat anak menantunya yang sedang berduaan.
"Ehem..."
Deril dan Zee langsung melihat kearah Farhan.
"Kalo mau mesra-mesraan lihat tempat dong,gak tahu disini ada duda," ucap Farhan menggoda Zee dan Deril.
Deril menundukkan kepalanya karena malu.
"Papa," keluh Zee sambil cemberut.
"Udah sana kekamar,dan bikinin papa cucu," ucap Farhan sambil terkekeh.
Deril menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,sementara Zee masih memasang wajah cemberut.
Deril dan Zee masih terlelap dibalik selimut sambil saling memeluk.
Ponsel Zee terus berbunyi dan mengeluarkan suara berisik membuat keduanya menggeliat dan merasa terganggu.
Zee mengambil ponsel dan mengangkatnya masih dengan mata tertutup.
"Halo,ini siapa?"
Terdengar jawaban,Zee langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Malam ini,dirumah sakit?" tanya Zee lagi.
Zee menutup telefonnya dan langsung membangunkan suaminya.
"Ril...Ayo bangun," Zee menggoyangkan lengan suaminya.
"Apasih Zee,inikan masih malam," ucap Deril dengan mata yang masih tertutup.
"Anterin aku kerumah sakit," ucap Zee.
Deril membuka matanya, "Kamu sakit?" Deril membelai wajah istrinya.
"Enggak,Eva mau ngelahirin sekarang,ayo cepet," paksa Zee.
"Ya ampun Zee,Kitakan bisa lihat besok," keluh Deril yang masih terlihat mengantuk.
"Gak mau aku maunya sekarang," ucap Zee merengek tapi Deril tidak meresponnya.
"Ya udah aku pergi sendiri aja," Zee ingin beranjak tapi Deril menahan tangannya.
"Ya udah iya aku anterin,kita ganti baju dulu," ucap Deril.
Zee tersenyum senang.
Suara tangisan bayi terdengar menggema dilorong rumah sakit.
Zee dan Deril memandangi wajah bayi mungil dari balik jendela kaca.
"Lucu banget ya?" ucap Zee.
Deril tersenyum, "Iya..."
Keduanya masih betah memandangi bayi mungil itu lama-lama.
__ADS_1