
Zee dan Deril sedang dalam perjalanan menuju kekampus.
Zee yang mulai boringpun berpikir untuk menanyakan sesuatu keDeril.
"Kenapa semalam kamu menjamin Kania juga,diakan yang salah,biarin aja dia ditahan," ucap Zee.
Deril menghela nafas, "Masih mau bahas itu lagi?"
"Kamu masih ada perasaan kan sama dia,kamu masih sangat peduli sama dia," ucap Zee sambil memicingkan matanya.
Deril menyunggingkan bibirnya,mendengar celotehan Zee membuat telinganya panas.
"Kamu nanya apa nuduh?" sindir Deril.
Zee terdiam dan berpikir, "Nanya,"
"Zee,Kania hidupnya udah susah,dia harus bekerja sebagai tulang punggung keluarganya,kalo mamanya sampai tahu masalah kemarin,pasti mamanya akan sedih,papanya kan belum lama meninggal,kamu gak kasihan sama dia?" jawab Deril menjelaskan panjang x lebar.
"Jeng...jeng..jeng...suamiku peduli banget sama keluarga mantannya,bahkan sama mamanya sampai sepeduli ini,wah...bener-bener calon menantu impian," sindir Zee.
Deril menatap Zee sekilas dengan tajam,Zee pun terdiam.
"Mulut Lo emang gak bisa diam ya,heran gue,Lo selalu ngerusak mood gue pas lagi bagus tahu gak," ucap Deril dengan wajah kesal.
"Iya maaf,akukan cemburu kalo kamu sepeduli itu sama Kania," ucap Zee.
"Apa sih yang kamu cemburui dari dia,kamukan udah dapetin semua yang kamu mau,aku ninggalin dia buat kamu,bahkan aku udah kasih hadiah yang kamu minta sebelum kamu lulus,apa lagi sekarang? hah?" tanya Deril.
Zee terdiam,memang benar Zee terlalu bawel dan kadang justru membuatnya sering bertengkar dengan Deril.
Derilpun menghentikan mobilnya saat sampai didepan kampus tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Zee melihatnya dengan wajah penuh harap.
"Cepet turun,nanti aku telat lagi kaya kemarin," ucap Deril.
Zee mendengus kesal,tapi tetap dia tidak akan menyerah begitu saja.
"Senyum dulu donk," goda Zee.
Deril terlihat kesal dan menoleh kearah Zee, "Zee..."
Zee langsung mengecup bibir Deril, "bye..." Zee pun keluar setelah berhasil mendapatkan yang Ia inginkan.
Deril menyunggingkan bibirnya sambil menggelengkan kepala,Zee terkadang membuatnya kesal tapi begitu mudah meluluhkan hatinya,entahlah...dulu mungkin Deril tidak pernah memberikan kesempatan untuk Zee jadi Zee tidak pernah bisa semudah ini mengobrak Abrik perasaan Deril seperti saat ini.
Rico baru saja keluar dari ruangan dosen dikampus Zee,Zee yang berjalan menuju kelas melihatnya.
Zee mengerutkan keningnya menatap kearah pria yang saat ini sedang berjalan kearahnya.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Zee, Entah kenapa Rico selalu membuat Zee curiga.
"Enggak kebetulan gue ada urusan sama pak Anto," jawab Rico.
"Lo kenal sama pak Anto?,dosen yang super galak dan super nyebelin itu," ucap Zee.
"Dia om gue," ucap Deril membuat Zee langsung mengulum bibirnya.
"Oh..Om Lo?" Zee nyengir dengan wajah sedikit tidak enak karena sudah mengatai omnya Rico.
"Dia emang galak dan juga nyebelin," ucap Rico sambil cengengesan.
Zee mendengus kesal.
"Pak Anto nyuruh gue buat ngebimbing salah satu mahasiswanya yang lagi ikut skripsi," ucap Rico.
"Siapa?" tanya Zee penasaran.
Rico menatap wajah Zee, "Lo..."
Zee terkejut, "Gue?"
"Yah...Dia bilang nilai Lo selalu rendah,jadinya dia nyuruh gue buat ngebimbing Lo," jawab Rico.
Zee mengerutkan keningnya, "Kenapa harus gue,gue juga gak akrab-akrab banget sama dia,bahkan gue sering bolos pas kelasnya,"
__ADS_1
"Ya mana gue tahu,mungkin dia udah bosen kale ngelihat muka Lo,makanya dia pengen Lo cepet lulus," ejek Rico.
"Ish..." Zee mendengus kesal.
Rico terkekeh melihat ekspresi kesal Zee.
Zee berpikir jika Rico harus membimbingnya bagaiman dengan Deril.
Deril sedang memeriksa berkas yang diantarkan oleh Kania.
"Makasih ya,karena semalam kamu udah bantuin aku," ucap Kania.
Deril tidak merespon ucapan Kania dan tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Kaniapun gigit jari karena usahanya selalu ditolak mentah-mentah oleh Deril.
Deril menyerahkan kembali berkas itu keKania, "Antar keruangan papa," ucap Deril.
Kania menerima berkas itu lalu beranjak pergi.
"Tunggu," panggil Deril.
Kania tersenyum dan dengan cepat berbalik.
"Pulpen kamu ketinggalan," ucap Deril.
Kania menghela nafas dan segera mengambil pulpen dimeja Deril dengan wajah kesal,sementara Deril tidak mempedulikannya sama sekali.
Kania pergi keruangan Adi untuk mengantarkan berkas dari Deril.
Adi memeriksanya, "Baik,kamu kasih tahu Deril suruh selesaikan laporannya hari ini juga," ucap Adi.
Kania terlihat senang, "Baik pak,"
Zee sedang menyiapkan makanan untuk Deril dan juga Farhan.
Ia memasak banyak menu makanan yang lezat seperti diRestoran.
Zee melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi Deril belum juga pulang.
Deril masih dikantor mengerjakan tugas dari papanya,Kania mendampinginya dan juga membantu menyelesaikan tugas itu.
Zee selesai memberikan makan malam untuk Farhan dan juga obat untuknya.
Sudah pukul 8 malam,tapi Deril belum menampakkan batang hidungnya.
"Kenapa Zee?nungguin Deril?" tanya Farhan.
Zee menganguk dengan wajah gelisah.
"Kamu sekarang ngerasainkan gimana gelisahnya Deril waktu kamu belum pulang semalam,ini namanya Karma Zee," Sindir Farhan.
Zee menatap kesal kearah Farhan, "Papa,anaknya lagi gelisah juga,malah diejekin,"
Farhan hanya terkekeh.Zee pun beranjak pergi.
"Mau kemana?" tanya Farhan.
"Nyusulin Deril kekantor," jawab Zee setengah berteriak.
Farhan hanya menggelengkan kepalanya.
Zee masih menunggu taxi yang dia pesan,meskipun ada mobil tapi Zee memilih naik taxi karena dia akan ikut mobil Deril saat pulang nanti.Taxipun datang dan Zee segera menuju kekantor Deril.
Deril menutup laptopnya lalu sedikit merenggangkan otot-ototnya yang kaku setelah berjam-jam bekerja.Kania menghampirinya sambil membereskan file-file yang masih berantakan dimeja Deril.
"Aku akan langsung Email laporannya keklien kita,karena mereka udah nunggu," ucap Kania.
"Ehm..." jawab Deril.
Kania ingin mengambil laptop didepan Deril,tapi Ia sengaja menjatuhkan dirinya kepangkuan Deril, "Au...sorry," ucap Kania.
Derilpun terkejut dengan ulah Kania yang pura-pura jatuh itu, "Kania..."
Pintu tiba-tiba terbuka,Deril dan Kania melihat kearah pintu itu.
__ADS_1
Zee terdiam saat melihat pemandangan dibalik pintu itu yang sangat mengganggu penglihatannya.
Derilpun terkejut dengan kehadiran Zee yang tiba-tiba itu dan segera mendorong Kania dari pangkuannya,lalu berdiri dari kursinya.
Kaniapun terjatuh dilantai dan terlihat kesakitan.
"Zee..."
Zee masih diam,Deril segera menghampirinya tanpa mempedulikan Kania yang masih tersungkur dilantai.
"Kamu kesini?" tanya Deril.
Kaniapun bangun dengan sendirinya dengan wajah kesal.
"Ehm...aku mau jemput kamu," jawab Zee.
"Ya udah yuk,kita pulang," Deril meraih tangan Zee dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
Kania mendelik kesal,Ia memegangi bahunya yang sakit karena terjatuh tadi.
Zee dan Deril berada didalam mobil.
"Harusnya kamu gak perlu kekantor,inikan udah malam," ucap Deril.
Zee tetap diam,hatinya masih kesal melihat kejadian tadi tapi Deril malah seperti tidak ingin menjelaskan apapun.
"Kamu kenapa?marah?" tanya Deril menatap sekilas wajah istrinya itu.
Zee tetap diam,Deril menghentikan mobil mereka dipinggir jalan.
Deril menatap wajah istrinya yang cemberut itu, "Kamu percayakan sama aku?,tanpa aku jelasin harusnya kamu udah tahu kejadian sebenarnya," ucap Deril.
Zee menatap wajah suaminya itu, "Kenapa aku harus percaya sama kamu,bisa ajakan kamu memang masih ada rasa keKania,diakan mantan kamu,bertahun-tahun,pasti gak sulit untuk mengulang kenangan kalian berdua," jawab Zee.
Deril menghela nafas, "Ya,kamu bener,terlalu banyak kenangan bersama Kania,"
Zee mendelik kesal pada suaminya itu yang bukannya mencairkan suasana tapi justru membuat Zee semakin panas.
Deril menyandarkan punggungnya kebelakang.
"Kamu mau tahu,kenangan yang paling ingin aku lupain,?" tanya Deril.
"Gak," jawab Zee dengan cepat
Deril menarik tubuh Zee agar menyandarkan punggungnya kebelakang, "Dengerin!"
Zee menatap kesal kearah suaminya.
"Malam perpisahan kita pas SMA," ucap Deril.
Zee mengerutkan keningnya.
Flashback On.
"Ril,tunggu!" Kania mengejar Deril sampai didekat mobil.
Deril terdiam menatapnya, "Ada apa?"
"Lo pasti kesel bangetkan sama Zee?gue mau pura-pura jadi pacar Lo supaya Zee gak gangguin Lo lagi," ucap Kania.
Deril mengerutkan keningnya.
Saat melihat Zee keluar dan mencari mereka,Kania langsung menarik tengkuk leher Deril dan pura-pura menciumnya.
Zeepun pergi,Kania melepaskan Deril.
Deril melihat Zee yang berlari menjauh.
"Setelah ini,dia pasti gak akan gangguin Lo lagi," ucap Kania.
"Makasih," ucap Deril lalu segera masuk kemobil dan pergi meninggalkan Kania.
Flashback Off.
Zee menatap kearah Deril dengan nanar, "Berarti malam itu kalian gak jadian?" tanya Zee.
__ADS_1
"Masih banyak yang gak kamu tahu antara aku dan Kania," ucap Deril.
Zee menatap Deril dengan mata yang dipenuhi rasa penasaran.