Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Dinner Pinggir Jalan


__ADS_3

Zee masih didalam kamar mandi,dia bingung bagaimana cara menghadapi Deril setelah ini,


"Gak..gue harus diam in dia,Guekan masih marah,tapi kalo ntar gue diam,dia malah lari keKania lagi," Zee kembali memutar otaknya, "Gue rayu aja dia,gue pura-pura gak ingat kejadian tadi sore,tapi aneh gak sih,abis marah-marah tiba-tiba trus ngerayu gitu?"


Zee kebingungan sendiri, "Ha...gue bingung harus ngapain?" Zee mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Zee menghela nafas,"Semoga aja dia udah tidur,dingin juga lama-lama disini," gumam Zee lalu berjalan menuju pintu.


Deril melihat jam,sudah hampir dua jam Zee didalam kamar mandi,Deril merasa heran dan khawatir,Iapun berjalan menuju pintu kamar mandi.


Saat itu Zee perlahan membuka pintu dengan hati-hati dan kepalanya menengok keluar,Deril yang berada tepat didepan Zeepun merasa heran.


"Lo ngapain sih?" tanya Deril.


Zee melihat kearah Deril,lalu keluar dari kamar mandi dengan gugup dan salah tingkah "Gak kok,"


"Lo gak dingin apa,hampir 2 jam dikamar mandi?" tanya Deril melihat bibir Zee yang membiru.


"Gak dong,guekan habis panas,jadi gue harus siram tubuh gue dengan air yang super dingin,supaya otak gue juga dingin," jawab Zee padahal bibirnya jelas bergetar.


"Terserah Lo deh,gue cuma khawatir aja,ntar Lo bunuh diri lagi dikamar mandi gue,ih...gue gak suka kamar mandi yang kotor,apalagi kena noda darah," Deril sengaja menggoda Zee.


Zee menatap sinis suaminya itu.


"Udah ah,gue laper mau makan!" Deril beranjak keluar kamar.


"Kenapa gak dari tadi makannya,ish.." gumam Zee dengan wajah kesal.


Deril sengaja menggoda Zee seperti itu agar mereka melupakan masalah tadi sore yang membuat mereka merasa canggung.


Deril terdiam saat sampai dimeja makan,yah..memang sudah larut malam jadi mungkin penghuni rumah yang lain sudah tidur.


"Mama tega banget sih,gak tahu apa anaknya belum makan,masa cuma ada nasi doang,"


Deril melihat kekamar pembantu yang sudah tertutup rapat,jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Deril menghela nafas,"Duh,mana laper banget lagi," Deril berbalik saat itu Zee sudah menuruni tangga dan menghampirinya.


"Ngapain Lo kesini juga?" tanya Deril.


"Laperlah,akukan juga manusia biasa,butuh makan," jawab Zee ketus.


"Thu,makan nasi," ucap Deril.


Zee melihat meja makan yang kosong, "Gak ada makanan?"


Deril ingin melangkah pergi,Zee menahannya.


"Mau kemana?" tanya Zee.


"Keluar cari makan!" jawab Deril.


"Ikut..." pinta Zee dengan wajah memelas.


Deril menghela nafas,"Lo yang bayar ya?" Deril bergegas keatas untuk mengambil kunci mobilnya.


Zeepun tersenyum senang,lalu menyusul Deril untuk mengambil tasnya.


Deril dan Zee masih dijalan mencari tempat makan yang masih buka tengah malam begini.


Deril menghentikan mobilnya diwarung pecel lele pinggir jalan.

__ADS_1


Zee terdiam melihat tempat itu.


"Kenapa?gak mau makan disini?" tanya Deril,Yah...sebagai anak pemilik Restoran mewah yang menjaga betul kebersihan,tentu Zee belum pernah makan makanan warung seperti ini apalagi tempatnya sedikit kotor.


"Ya udah,kalo gak mau turun," Derilpun turun meninggalkan Zee didalam mobil.


Zee menghela nafas,lalu menyusul Deril.


Deril duduk dan memesan dua porsi makanan,Zeepun duduk disampingnya.


"Katanya gak mau turun?" ucap Deril menggoda Zee.


"Siapa yang bilang?" pekik Zee.


"Bahasa tubuh," jawab Deril sambil cengengesan.


Zee cemberut tapi merasa senang melihat Deril yang tertawa seperti itu.


Makananpun dihidangkan,pecel lele komplit dengan sambal dan lalapan.


Deril dan Zee terdiam melihat makanan yang tersaji didepan mereka.


Deril sebenarnya juga baru pertama kali makan ditempat seperti ini,awalnya dia ingin mengerjai Zee,tapi ternyata tak semudah itu.


Derilpun mencoba makanan itu perlahan,Ekspresi wajahnya pun langsung berubah.


"Hem,enak," gumam Deril lalu dia yang memang sudah kelaparan langsung makan dengan lahap.


Zee nyengir melihat Deril,"Jangan-jangan kamu juga baru pertama kali ya,makan ditempat ini?"


Deril hanya nyengir sambil mengunyah makanan dimulutnya.


Zee mendengus kesal, "Ish,gayanya aja kaya udah sering," Sindir Zee yang kemudian juga makan.


Deril dan Zee dalam perjalanan pulang setelah perut mereka kenyang.


"Enak juga ya,makan dipinggir jalan kaya tadi,murah lagi," ucap Zee.


"Ya,kan gue tahu,Lo itu belum kerja,makanya gue cari tempat yang murah supaya Lo bisa traktir gue," Sindir Deril.


"Enak aja,meskipun aku belum kerja,aku masih bisa ya traktir kamu makan direstoran," ucap Zee sembari memanyunkan bibirnya.


"Iya-iya percaya deh sama anak pemilik Restoran," Deril sengaja menggoda Zee.


Zee tersenyum,Hatinya merasa bahagia,baru kali ini dia bisa ngobrol santai dengan Deril,benar-benar mimpi yang telah menjadi kenyataan.


"Zeet" Tiba-tiba mobil Deril berhenti mendadak tepat dipinggiran hutan yang cukup sepi.


Deril dan Zeepun terkejut.


"Kenapa Ril?" tanya Zee.


Deril berusaha menyalakan mobilnya lagi tapi tetap tidak bisa,"Kayanya mogok deh,"


"Kok bisa?" pekik Zee.


"Ya mana gue tahu,emang gue tukang bengkel apa?" jawab Deril.


Zee melihat tempat sekitar yang begitu sepi,apalagi ini tengah malam.


"Kamu gimana sih,kok bisa mogok ditempat horor kaya gini," Zee terlihat ketakutan.

__ADS_1


Deril membuka jendela mobilnya,tapi memang tidak ada satupun kendaraan yang lewat malam itu,dan tidak mungkin dia memeriksa sendiri mesin mobilnya ditempat yang cukup horor itu.


Zee mengerucutkan mulutnya,"Mobilnya aja yang mewah,tapi bisa mogok juga" Sindir Zee.


Deril mulai kesal sejak tadi mendengar Omelan Zee, "Lo bisa diam gak sih,kalo gak bisa diam,sana keluar!"


"Gak mau," jawab Zee.


"Ya udah,kalo begitu diam,biar gue bisa mikir," ucap Deril.


Zeepun diam dengan wajah cemberut.


Deril mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dirumah,tapi tidak seorangpun mengangkat telfon.


"Coba Lo hubungi teman-teman Lo,siapa tahu ada yang bisa bantu," suruh Deril.


Zee mengambil ponsel nya yang ternyata sudah lowbet, "Lupa ngecas," ucap Zee sambil menunjukkan ponselnya yang sudah mati.


Deril menghela nafas,"Neh,pake ponsel gue,"


"Ya,aku mana hafal nomor mereka," ucap Zee lagi.


Derilpun kebingungan harus minta bantuan siapa,Ia teringat pada seseorang yang pasti akan mau membantunya.


"Biar gue minta tolong Kania," Deril ingin menghubungi Kania.


"Gak..." Zee langsung merebut ponsel Deril.


"Kenapa?dia pasti mau kok bantuin kita," ucap Deril.


"Aku lebih baik disini sampai pagi daripada harus dibantuin sama dia," ucap Zee.


"Ok,Terserah,tapi gue gak mau,siniin Hp gue!" Deril mencoba mengambil ponselnya dari tangan Zee,tapi Zee tidak memberikannya.


"Gak..gak boleh,"


Deril menatap tajam Zee, "Zee,siniin gak?" ancam Deril.


Zee membuka kaca mobil dan melemparkan Hp Deril kesemak-semak.


Deril sangat terkejut, "Zee," pekik Deril.


"Sana ambil kalo berani," Zee bersedekap sambil menyandarkan punggungnya kebelakang.


"Lo Bener-bener ya,huh...," Ingin rasanya Deril menerkam Zee saat itu karena saking emosinya.


Deril tidak mungkin keluar,karena diluar sangatlah gelap,mana bisa mencari Hp dikegelapan.


Deril menarik nafas panjang berusaha menahan emosinya.


"Awas kalo sampe Hp gue hilang,gue bakalan bikin perhitungan sama Lo!" Deril menyandarkan kepalanya kebelakang karena merasa lelah dan emosi.


"Aku tunggu," Jawab Zee,Deril menatap Zee dengan sinis.


Zee hanya tersenyum,melihat Deril kesal dan marah itu membuat hatinya lebih tenang daripada harus melihatnya dekat dengan Kania si nenek sihir.


Zeepun sudah tertidur dengan lelap,Deril masih terjaga,ia memandangi wajah Zee yang sedang terlelap itu.


Deril tersenyum,Zee yang semasa SMA tidak berhenti mengganggunya dan sampai sekarang bahkan masih sama.


Zee yang membuat Deril merasakan kesal,emosi dan juga hal-hal aneh lain yang belum pernah Deril rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Derilpun mulai terlelap dan berkelana kealam mimpi.


__ADS_2