Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Perubahan sikap Deril


__ADS_3

"Suami?"


Deril terdiam dengan wajah sedikit gugup.


"Baru kali ini kamu mau ngaku jadi suami aku," sindir Zee.


"Gak usah ngejek," Deril menarik tangan Zee lalu mendudukkannya disofa.


Deril berbaring dan meletakkan kepalanya diatas paha Zee, "Sini pijitin,kepala aku lagi pusing," Deril menaruh tangan Zee dikepalanya.


Zee mengerutkan keningnya,dia benar-benar dibuat bingung dengan sikap Deril.


"Kok diem? gak mau?" Deril menatap wajah Zee.


Zee tersenyum lalu memijit kepala Deril dengan lembut,Derilpun menutup matanya.


"Tumben banget suami aku manja kaya gini,jadi berasa kaya istri beneran," ucap Zee.


"Emang selama ini kamu bukan istri beneran?" tanya Deril.


Zee menaikkan alisnya, "Kamu?" baru kali ini Deril tidak memanggil Zee dengan sebutan 'Lo'.


Deril membuka matanya, "Kenapa?gak suka?"


Zee tersenyum "Suka," jawab Zee lalu kembali memijit kepala Deril.


Derilpun kembali menutup matanya sambil tersenyum.


"Pasti Rico nungguin aku dech," ucap Zee.


Deril hanya diam.


"Aku keluar bentar ya,gak lama kok,nanti aku pijitin lagi,gak enakkan kalo dia nunggu," ucap Zee lagi.


"Gak boleh," jawab Deril sambil menatap wajah istrinya itu.


Zee masih berusaha, "Tapi Ril..."


Deril mengangkat kepalanya dan menarik tengkuk Zee hingga bibir mereka bertemu.


Zee langsung menutup matanya saat mendapat serangan tiba-tiba dari Deril.


Deril ******* lembut bibir istrinya itu,lalu perlahan melepaskannya, "Jangan bawel," ucap Deril lalu meletakkan kembali kepalanya keatas paha Zee.


Zee terdiam sambil menggigit bibir bawahnya yang masih basah.


Deril menatap kearah Zee yang masih diam, "Mau lagi?"


Zee menatap Deril dengan wajah heran.


Deril bangun dan duduk disamping Zee,lalu Ia kembali mengulangi perbuatannya.


Ciuman yang semakin dalam dan sedikit panas,membuat darah keduanya berdesir.


******* yang diberikan Derilpun membuat Zee terpancing untuk membalasnya.


"Maaf ya,mungkin Zee lagi ada urusan sama Deril," ucap Farah.


"Gak papa Tante,kan bisa dilanjutin besok,kalo gitu Aku permisi dulu," Ricopun pamit pulang.


Farah melihat kekamar atas, "Ngapain sih mereka," gumam Farah.


Saat ini Zee sudah berbaring disofa dengan Deril berada diatasnya,ciuman mereka masih berlanjut,Zee berusaha mendorong Deril karena dia mulai kehabisan nafas.

__ADS_1


Nafas keduanya beradu,terengah bagaikan habis lari maraton.


Deril meletakkan kepalanya kedada Zee.


"Zee," panggil Deril dengan nafas yang berat.


"Hem..." jawab Zee.


"Kamu udah pernah ngelakuin ini sebelumnya?atau ini yang pertama kalinya?" tanya Deril.


Zee terdiam mendengar pertanyaan Deril.


"Apa kamu akan menyerahkan semuanya pada lelaki yang tidak pernah mencintai kamu,apa kamu rela kehilangan itu semua untuk lelaki seperti aku?" tanya Deril lagi.


Zee mengusap rambut Deril, "Ambil apapun dari aku yang kamu mau,aku sama sekali gak keberatan," jawab Zee.


"Tapi...aku gak mau nyakitin kamu Zee," ucap Deril sambil menghela nafas yang terasa begitu berat.


"Kalo gitu jangan sakit i aku,buka hati kamu,supaya aku bisa masuk,meskipun hanya sedikit,agar kamu bisa melakukannya karena memang hati kamu menginginkannya," ucap Zee.


Deril mengangkat kepalanya menatap wajah istrinya itu, "Akan aku coba," ucap Deril.


Zee tersenyum bahagia.


Deril mengecup sekilas bibir istrinya itu,lalu iapun beranjak dari sofa untuk membersihkan diri dikamar mandi.


Zee awalnya terdiam,tapi saat Deril sudah menutup pintu kamar mandi,diapun langsung melompat kegirangan.


Zee merasa sangat senang, "A..." teriak Zee sambil tertawa bahagia dan menari-nari seperti orang gila,akhirnya meskipun sulit Deril mau sedikit membuka hatinya.


Deril terkekeh saat suara teriakan Zee bahkan terdengar dari dalam kamar mandi.


Zee keluar dari kamar mandi,dia melihat Deril yang sedang duduk disofa dengan laptop didepannya.


"Ntar aja,aku masih banyak banget pekerjaan," jawab Deril yang masih fokus pada laptopnya.


Zee melihat kearah laptop Deril tapi sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Deril kerjakan.


Deril melirik kearah Zee, "Kamu gak akan ngerti,udah sana makan!" ucap Deril.


Zee memicingkan matanya.Iapun keluar kamar untuk makan malam sedangkan Deril masih melanjutkan pekerjaannya.


Ponsel Deril berbunyi,telfon dari Kania.


Deril sebenarnya malas mengangkatnya,tapi Kania menelfon berkali-kali,Derilpun menjawabnya.


"Halo,"


"Halo Ril,kamu gak papakan,katanya kamu gak enak badan," tanya Kania.


"Aku gak papa kok," ucap Deril.


Kania sedang berbaring diranjangnya, "Syukurlah kalo kamu baik-baik aja,aku khawatir tau gak," ucap Kania.


Deril terdiam seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia bingung bagaimana cara mengatakannya.


"Ril,kamu belum tidurkan?" tanya Kania.


"Besok sepulang kantor,kita makan bareng ya?ada sesuatu yang pengen aku bicarain," ajak Deril.


Kania tersenyum senang, "Oke,"


Derilpun mematikan telfonnya,Ia tersentak saat melihat Zee yang sudah berdiri didepan pintu sambil membawa nampan berisi makanan.

__ADS_1


Zee berjalan mendekat, "Siapa?Kania?" tanya Zee sambil menaruh nampan keatas nakas.


"Ehm.." Jawab Deril yang terlihat tidak enak hati pada Zee.


Zee mengambil piring berisi makanan dan membwanya kedekat Deril, "Neh,makan," Zee menyodorkan piring itu kedepan Deril.


Deril hanya diam sambil menatap wajah istrinya itu.


"Mau disuapin?" tanya Zee.


Deril menutup laptop didepannya lalu menepuk sofa yang kosong didepannya.


Zee tersenyum lalu duduk didepan Deril.


Deril membuka mulutnya, "A....".


Zeepun menyuapi suaminya itu dengan wajah bahagia,baru kali ini dia merasa jika Deril benar-benar menganggapnya sebagai seorang istri.


"Kamu lagi gak ngerjain akukan,dengan sikap kamu yang kaya gini,apa jangan-jangan ini cuma mimpi? atau aku cuma berhalusinasi?" tanya Zee.


Deril menatap wajah Zee, "Aku juga bingung Zee,jadi tolong jangan tanya sama aku,kenapa sikap aku bisa berubah kaya gini,dan kalo memang ini mimpi,biarin aku tetap tidur," jawab Deril.


Zee terkekeh, "Drama banget sih hidup kita?"


"Kamu yang mulai," ucap Deril.


Zeepun kembali menyuapi Deril,meski Deril belum mengatakan jika dia mencintai Zee,bagi Zee perubahan sikap Deril benar-benar membuatnya bahagia seperti didalam mimpi.


Zee sudah berbaring diranjang,matanya mulai tertutup perlahan,tapi tiba-tiba matanya kembali terbuka lebar saat sebuah tangan melingkari pinggangnya.


Zee segera berbalik dan melihat Deril yang sudah berbaring disampingnya dengan mata tertutup.


Zee menatap nanar wajah suaminya itu,Ia masih merasa jika ia sedang bermimpi,entah bagaimana jika ia bangun nanti,akankah semua ini akan hilang begitu saja,pikiran Zee justru dipenuhi ketakutan.


Deril membuka mata dan melihat air mata Zee yang terjatuh,Zeepun dengan cepat mengusapnya dan mengalihkan pandangannya dari wajah Deril.


"Kenapa?" tanya Deril.


Zee menatap langit-langit, "Aku gak pernah mau bangun dari mimpi yang indah ini,rasanya aku ingin selamanya tidur dan merasakan kebahagiaan seperti ini," ucap Zee.


Deril menghela nafas,bahkan meski ini kenyataan,Zee masih meragukannya,apa mungkin sikapnya yang begitu keterlaluan hingga bahkan Zee tidak bisa percaya jika perubahannya adalah sebuah kenyataan.


Deril bangun dari tidurnya lalu beranjak dan pindah kesofa,Zee melihatnya dengan wajah heran.


"Kok pindah lagi?" tanya Zee.


Deril menatap kearah istrinya, "Sofanya lebih nyaman daripada diranjang," jawab Deril.


"Mana ada kaya gitu," gumam Zee dengan wajah cemberut.


Deril hanya menyunggingkan bibirnya lalu memejamkan matanya.


Zee menatap kearah suaminya itu.


"Deril," panggil Zee.


"Hem," jawab Deril tanpa membuka matanya.


"I LOVE YOU," ucap Zee lalu iapun memejamkan matanya.


Deril tersenyum,kata-kata yang dulu paling ia benci dan terdengar sangat menjijikkan kenapa sekarang terdengar begitu merdu.


Derilpun menggelengkan kepalanya,bingung dengan perasaan yang ia rasakan pada Zee saat ini.

__ADS_1


__ADS_2