
Adi dan Farah sedang mengobrol dikamar Farhan.
Deril masuk menemui mereka.
"Jadi gimana neh Ril,kamu betah gak disini?" tanya Adi.
"Belum juga sehari pa," jawab Deril.
Adi dan Farah terkekeh.
"Udahlah Di,aku jamin Deril gak akan mau pulang lagi kerumah kamu," ucap Farhan.
"Itusih gak masalah,asalkan kita cepet dapat cucu,yakan Ril," goda Adi.
"Apaan sih pa," Jawab Deril dengan wajah malunya jika sudah menjurus kearah sana.
Zee masuk, "Pa,Ma makanannya udah siap,yuk kita makan dulu," ajak Zee.
Merekapun segera keluar untuk makan malam,Deril yang mendorong kursi roda Farhan.
Seusai makan,Adi dan Farah berpamitan untuk pulang karena Reva sendirian dirumah,ya meskipun ada bibi tapi karena sudah larut malam mereka ingin Farhan juga beristirahat.
Zee memberikan obat untuk Farhan sebelum tidur.
"Papa istirahat ya," Zee mengecup pipi Farhan.
"Iya sayang," Farhan mengusap kepala Zee.
Zee beranjak.
"Zee," panggil Farhan.
Zee berhenti dan menoleh, "Ya pa,papa butuh sesuatu?"
"Papa butuh cucu,bikinin ya?" ucap Farhan menggoda Zee.
Zee mendengus kesal, "Ish...papa," Zee segera pergi dengan wajah yang merona.
Farhan terkekeh dan segera beristirahat.
Zee masuk kedalam kamar,Ia melihat Deril yang sudah tertidur diranjang.
Zee memanyunkan mulutnya, "Katanya urusan kita belum selesai,tapi udah tidur," gumam Zee dengan wajah kecewa,lalu pergi kekamar mandi untuk berganti piyama dan menggosok gigi.
Zeepun berbaring disamping Deril sembari memandangi wajah suaminya itu.
Zee memainkan jarinya diwajah Deril,kemata,kehidung kepipi lalu kebibirnya.
Tapi tiba-tiba mulut Deril terbuka dan menggigit jari Zee.
Zee sangat terkejut, "Au..sakit," Zee menarik jarinya.
Deril membuka matanya, "Makanya gak usah rese,orang lagi tidur juga digangguin," ucap Deril.
"Kamu udah tidur?beneran?gak mau ngelanjutin yang tadi?" tanya Zee penuh harap.
"Apa?" Deril sepertinya sengaja menggoda Zee.
Zee memasang wajah cemberut dan ingin memalingkan tubuhnya,tapi Deril menahannya.
"Ngelanjutin apa?" tanya Deril lagi.
Zee terdiam menatap wajah suaminya itu,lalu dengan berani mengecup bibir Deril.
Deril tersenyum,Keduanya saling menatap penuh cinta,hingga akhirnya bibir mereka bertemu,Ciuman yang cukup panas.
Derilpun berpindah keleher Zee dan menikmati aroma tubuh Zee disana.
Zee seperti sudah terbawa kenikmatan yang diberikan Deril,tapi saat Deril akan memulai permainan,Zee menahannya.
Deril menatap wajah Zee yang sudah berada dikungkungannya saat ini.
"Kenapa?" tanya Deril.
"Akukan belum lulus," jawab Zee dengan wajah malu.
__ADS_1
Deril nyengir, "Anggap aja ini hutang,jadi kalo nanti kamu gak lulus,kamu harus bayar hutang keaku,"
Zee justru terkekeh mendengar jawaban Deril.
"Mau dilanjutin gak?" goda Deril.
Zee menganguk dengan wajah merona.
Derilpun kembali memulai permainannya,Keduanya terhanyut dengan surga dunia yang begitu nikmat,Lenguhan demi lenguhan memenuhi seisi kamar.
Rasa sakit dan juga nikmat yang menjadi satu,membuat Zee menitikkan air matanya.
Deril mengusap kening istrinya yang berkeringat itu seusai permainan mereka.
"I Love You, Zee," ucap Deril lalu mengecup kening Zee.
Zee tersenyum sambil menutup kedua matanya,kata-kata yang indah itu akhirnya bisa Ia dengar dengan jelas ditelinganya.
Deril menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua lalu berbaring disamping Zee.
Zee menatap suaminya itu, "I Love You too," ucap Zee lalu mengecup sekilas bibir suaminya.
Deril tersenyum,Zee yang merasa malu menenggelamkan wajahnya kedada bidang suaminya.
Derilpun mengusap lembut rambut istrinya itu sampai akhirnya mereka tertidur bersama.
Mentari telah bersinar menyinari bumi,Zee masih menggeliat dibalik selimut,Ia merasa jika tubuhnya merasa sangat lelah ditambah lagi area intimnya yang terasa sedikit sakit.
Deril keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi.
Zeepun duduk ditepi ranjang dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Ayo cepet bangun dan mandi,udah siang,kamu harus kekampuskan," ucap Deril sambil merapikan kemejanya.
Zee mencoba bangun tapi rasanya benar-benar perih,"Akh..." Zee kembali duduk.
Deril melihatnya, "Kenapa?"
"Sakit," jawab Zee.
"Apa yang sakit," tanya Deril lagi.
Deril terdiam melihat istrinya itu.
Zee sengaja merengek agar seperti difilm-film,pria akan menggendong istrinya kekamar mandi seusai berhubungan intim.
"Ya udah,pelan-pelan aja, aku tunggu dibawah," ucap Deril lalu segera pergi keluar kamar.
Zee menganga mendengar ucapan Deril.
"Dasar gak punya perasaan,gak bertanggung jawab,cowok nyebelin," umpat Zee yang merasa sangat kesal pada suaminya itu karena sudah menghancurkan semua harapannya.
Deril terkekeh saat menuruni tangga sambil menggelengkan kepalanya.
Entah kenapa jika melihat Zee kesal justru membuat Deril merasa senang.
Deril mendorong Farhan menuju kemeja makan,sambil menunggu Zee.
Merekapun sarapan terlebih dahulu.
"Gimana sama pekerjaan kamu Ril,apa semuanya lancar?" tanya Farhan basa basi.
"Lancar kok pa," jawab Deril.
"Syukurlah kalo gitu,jadi apa ada rencana buat punya anak dalam waktu dekat?" tanya Farhan.
Deril terdiam dengan wajah gugup.
Farhan tersenyum, "Kalian kan udah sebulan lebih menikah,gak baik terlalu lama menunda," Farhan menasehati.
"Ya pa,kita akan coba," jawab Deril malu-malu.
"Gitu donk,papakan juga pengen cepet gendong cucu," ucap Farhan lagi.
Zee turun dan berjalan menghampiri mereka dan duduk disebelah Deril.
__ADS_1
"Kamu ini,istri kok bangunnya siang,kasihan Thu Deril udah nunggu dari tadi,harusnya kamu udah siapin keperluannya Deril," ucap Farhan.
"Aku kesiangankan gara-gara Deril juga pa," jawab Zee.
Deril langsung menatap kearah istrinya itu sambil melotot.
Zee memanyunkan mulutnya.
Farhan menggelengkan kepala setiap melihat sikap mereka,sangat konyol tapi juga romantis.
Merekapun sarapan bersama,lalu Deril dan Zee segera berangkat dan menitipkan Farhan pada Bibi.
Deril mengantarkan Zee menuju kekampusnya.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Deril.
"Mungkin sore,mau jemput?" tanya Zee balik.
"Enggak,nanti pulang sendiri aja naik taxi," jawab Deril.
Zee menatap sinis kearah suaminya, "Kalo gitu ngapain nanya," gumam Zee dengan kesal.
"Basa basi," jawab Deril sambil nyengir.
Zee terdiam,Dia masih merasa semalam hanyalah mimpi,melihat sikap Deril hari ini membuatnya Yakin jika tidak bermimpi,Deril pasti melakukannya tanpa sadar,Astaga...Zee lama-lama bisa gila jika harus berhadapan dengan pria aneh disampingnya itu.
"Deril," panggil Zee.
"Hem..." jawab Deril tanpa melihat Zee karena sedang mengemudi.
"Kita semalam beneran ngelakuin itukan?" tanya Zee berusaha memastikan jika dia tidak beneran gila.
Deril melihat Zee sekilas, "Apa?" tanya Deril dengan santainya.
Zee tertegun mendengar Deril yang balik bertanya.
"Apa beneran cuma mimpi?" pikir Zee.
Deril terkekeh melihat ekspresi wajah Zee yang kebingungan.
Deril menghentikan mobilnya saat telah sampai didepan kampus.
Zee masih terdiam memikirkan hal semalam antara mimpi dan kenyataan.
"Kamu mikirin apa sih,hah? ayo turun," ucap Deril.
Zee menatap tajam kearah suaminya itu, "Kamu sengajakan mempermainkan aku?"
Deril mendekati wajah Zee, "Apasih Zee?mempermainkan gimana?"
Zee mendorong Deril menjauh, "aku gak sebodoh itu,aku masih bisa bedain mana yang nyata dan mana yang mimpi," ucap Zee dengan kesal.
Deril mengerutkan keningnya, "Terus?"
"Hal yang sangat berarti buat aku tapi kamu justru sengaja mempermainkannya,kamu gak tahu gimana perasaan aku setelah kejadian semalam tapi kamu begitu mudah melupakannya," ucap Zee dengan emosional.
Deril menatap wajah istrinya itu,Ia mengusap lembut pipi Zee, "Itu juga berarti buat aku,aku juga gak akan bisa melupakannya,"
Zee memalingkan wajahnya seakan tak percaya dengan ucapan Deril.
"I Love You...I Love You...I Love You Zee," ucap Deril.
Zee kembali menatap suaminya itu dengan nanar dan penuh haru.
"Ini bukan mimpi tapi kenyataan,kamu denger,butuh berapa kali lagi aku harus bilang?" tanya Deril.
Zee langsung menenggelamkan wajahnya kepelukan Deril.
"Aku cuma takut kalo semua ini cuma mimpi,aku benar-benar takut kalo nantinya aku akan bangun dan semuanya akan berakhir," ucap Zee sambil menangis seperti anak-anak.
Deril tersenyum, "Kamu apaan sih,kaya anak kecil tau gak,udah sana,nanti aku telat kekantor," ucap Deril.
Zee mengambil tisu lalu mengelap air mata dan juga ingusnya.
"Zee...jorok," pekik Deril.
__ADS_1
"Biarin," Zeepun mengecup pipi Deril lalu segera keluar dan melambaikan tangan pada suaminya.
Derilpun tersenyum dan segera melaju menuju kekantor.