
Zee sedang berjalan dengan wajah murung,ia tahu Deril sangat marah dan kecewa,tapi entah kenapa ketakutan itu masih mengganggu pikirannya.Ia terus melangkah tanpa tahu kemana ia akan pergi.
Kania yang akan berangkat kekantor tidak sengaja melihat Zee,wajah julidnya mulai nampak.
"Gue akan bikin mentalnya semakin kacau,"
"Berhenti disini aja pak," ucap Kania pada sopir.
Taxipun berhenti,Kania turun dan berjalan kearah Zee.
"Hai Zee," sapa Kania.
Zee hanya diam dan melihat kearah Kania.
"Ngapain Lo disini,sendirian,jalan kaki lagi,Deril ninggalin Lo ya?" ejek Kania.
Zee menghela nafas dan enggan meladeni Kania,iapun kembali melangkah.
"Deril pasti udah tahukan kalo itu bukan anaknya," ucap Kania masih berusaha.
Zee menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kania.
"Kenapa sih Lo selalu ikut campur sama urusan rumah tangga gue? Lo gak ada kerjaan lain apa?" tanya Zee dengan wajah kesal.
Kania tersenyum, "Zee,gue cuma kasihan sama Deril,bisa-bisanya dia punya istri yang mengandung anak lelaki lain,"
"Plakkk" satu tamparan mendarat kepipi Kania.
Kania terkejut dan memegangi pipinya, "Zee.."
"Kenapa Lo begitu yakin kalo ini bukan anaknya Deril,darimana Lo yakin sama semua itu,oh...atau Lo ada hubungan sama Rico?kalian kerjasamakan buat ngancurin rumah tangga gue," ucap Zee dengan tegas.
Kania terdiam dengan wajah gugup.
"Harusnya gue udah tahu itu dari awal,bodohnya gue," ucap Zee, "Atau jangan-jangan Lo juga terlibat sama penculikan gue?"
Kania menatap wajah Zee, "Jangan asal nuduh ya Zee,gue sama sekali gak tahu soal penculikan itu," bantah Kania.
"Lo pikir gue masih percaya sama omongan Lo,sekali lagi Lo ikut campur sama urusan rumah tangga gue,gue akan bikin perhitungan sama Lo," ucap Zee lalu melangkah pergi meninggalkan Kania.
Kania mendengus kesal,niatnya ingin menjatuhkan mental Zee,justru pipinya merah karena tamparan dari Zee.
Deril sedang bekerja dikantor,dari kantor polisi Deril memilih langsung kekantor karena perasaannya yang masih kesal pada Zee.
Iapun ingin fokus bekerja,meskipun sulit karena masalah yang sedang dihadapinya.
Andre datang membawa berkas untuk Deril, "Untuk laporan kemarin,pak Adi memintanya agar selesai hari ini juga," ucap Andre.
Deril menghela nafas, "Ya udah,kita selesain," ucap Deril.
Andre hanya menganguk dan menuruti perintah Deril.
Pukul 19.00,Deril baru pulang dari kantor,Ia langsung masuk kedalam rumah dan mencoba melupakan kejadian pagi tadi.
"Malam pa," sapa Deril yang bertemu Farhan diruang tengah.
"Lho Ril,Zee mana?" tanya Farhan.
Deril mengerutkan keningnya, "Zee belum pulang pa?" tanya balik Deril.
"Zee belum pulang dari tadi pagi,papa pikir dia pergi sama kamu," ucap Farhan.
Deril terdiam dan berpikir.
__ADS_1
"Pergi kemana anak itu," gumam Farhan.
"Ya udah,aku cari Zee dulu pa," ucap Deril yang kembali keluar rumah untuk mencari Zee.
Zee masih duduk sambil melamun disebuah taman,entah apa yang dia pikirkan,ia enggan pulang,rasanya ia takut jika harus berhadapan dengan suaminya.
"Au...." Zee memegangi perutnya dan terlihat kesakitan, "Akh..." terasa semakin sakit.
Zee menarik nafas berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Benar saja dari pagi Zee belum makan apapun,
pikirannya yang kacau membuatnya lupa akan hal penting itu.
Zee berusaha bangun dengan wajahnya yang sudah pucat,Ia mengambil ponselnya ditas,tapi ponselnya mati.Iapun berusaha melangkah dengan pelan untuk bisa pulang kerumah.
Deril masih clingak clinguk mencari Zee dengan mobilnya,ia menyusuri jalan dari kantor polisi kerumahnya.
"Kamu kemana sih Zee?" Deril terlihat begitu cemas.
Zee menunggu taxi dipinggir jalan,wajahnya semakin pucat dan Ia masih terus memegangi perutnya yang sakit.
Deril melihat Zee dari kaca mobilnya,Derilpun segera menghentikan mobilnya.Ia turun dan berjalan kearah mobilnya.
"Zee..." panggil Deril.
Zee terkejut saat melihat suaminya itu.
"Kamu kemana aja sih?" tanya Deril.
"Akh..." Zee kembali kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa?kamu sakit?" Deril memegangi tubuh Zee yang tergulai lemas dengan wajah khawatir.
Deril sedang menunggu Zee yang diperiksa dokter,ia benar-benar cemas dan khawatir dengan kondisi Zee.
Dokter keluar dan menghampiri Deril.
"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Deril.
"Istri bapak asam lambungnya kambuh,mungkin karena dia telat makan,apalagi dia sedang hamil makanya kondisinya semakin memburuk," jawab Dokter.
"Tapi dia baik-baik ajakan Dok,janinnya juga baikkan?" tanya Deril dengan cemas.
"Syukurlah,kondisinya sudah mulai membaik,baik ibu dan juga janinnya,tapi dia harus dirawat sampai kondisinya stabil," ucap Dokter.
Deril merasa sedikit lega.
"Kalo begitu saya permisi,nanti saya kembali lagi untuk pemeriksaan," ucap Dokter lalu berlalu pergi meninggalkan Deril.
Deril segera masuk kedalam ruang rawat Zee,ia mendekat kearah istrinya yang masih tertidur.
Ia mencium kening istrinya dan menempelkan dahinya disana sambil memejamkan mata,sesal yang ia rasakan karena tadi pagi sudah membentak Zee dan membuat Zee seperti ini.
"Maafin aku ya?" bisik Deril ketelinga Zee yang masih terlelap.
Farhanpun datang kesana.
"Ril," panggil Farhan.
Derilpun langsung menjauhkan tubuhnya dari Zee.
"Gimana keadaan Zee?" tanya Farhan dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Dia baik-baik aja kok pa,dia cuma perlu dirawat," jawab Deril.
Farhan mendekati Zee dan mengusap kepala anaknya itu.
"Bisa kita bicara sebentar," ajak Farhan.
Deril menganguk,merekapun keluar dari ruangan Zee untuk bicara.
"Papa tahu,kalian sedang ada masalah," ucap Farhan.
Deril hanya menunduk diam.
"Tapi papa harap apapun masalah kalian,kalian bisa menyelesaikannya dengan baik-baik," ucap Farhan menasehati.
"Iya pa,maafin Deril karena gak bisa jagain Zee," ucap Deril.
Farhan menepuk pundak Deril, "Jangan nyalahin diri kamu sendiri,papa tahu watak anak papa seperti,dia sangat keras kepala Ril,jadi papa mohon,beri dia sedikit pengertian,"
Deril menganguk "Iya pa,Deril akan berusaha,"
Farhan tersenyum, "Papa percaya sama kamu," ucap Farhan.
Malam itu,Deril tertidur disamping Zee,Zee terbangun,perutnya terasa mual.
"Huek..."
Derilpun terbangun,Ia segera mengambil wadah agar Zee bisa muntah disana.
"Huek...huek..."
Deril mengusap kepala Zee,Zee kembali berbaring.
Deril mengambilkan minum untuknya,Zeepun minum perlahan.
"Gimana?masih sakit?" tanya Deril.
Zee menggelengkan kepalanya,dadanya terasa sesak melihat perhatian Deril yang begitu besar padanya.
"Aku siapin makanan ya,kamu harus makan," Deril mengambil bubur yang sebelumnya sudah ia beli sambil menunggu Zee bangun.
"A..." Deril ingin menyuapi Zee.
Zee masih diam menatap wajah suaminya itu.
"Zee..."
Zeepun membuka mulutnya,Deril tersenyum dan menyuapi istrinya itu.
Zee meneteskan air matanya yang sudah tidak tertahan lagi.
"Kenapa sih?hah?" Deril mengusap pipi Zee yang basah.
Zee hanya menggelengkan kepalanya.
"Zee,kamu jangan mikirin soal ini lagi ya,aku sama sekali gak peduli bahkan jika memang benar itu bukan anak aku,aku mau kita tetap bersama apapun yang terjadi," ucap Deril mendekati wajah istrinya itu.
Zee tidak mau membuat Deril kecewa lagi,iapun menganguk dan akan berusaha menerima semuanya.
Deril mencium sekilas bibir istrinya itu,"Biarkan Tuhan yang memberikan bukti itu jika memang perlu Zee," ucap Deril.
Zee tersenyum,Deril mengusap lembut pipinya.
"Yuk makan lagi," Deril kembali menyuapi istrinya.
__ADS_1
Sirine mobil Damkar terdengar bersahutan,terjadi kebakaran dirumah tahanan tempat Rico ditahan.Banyak korban berjatuhan disana,termasuk Rico yang terjebak dalam kebakaran itu.