
Siang itu,Yoga dan Kania datang kekantor Adi untuk melakukan meting kerjasama mereka.
Adi dan Deril menyambutnya dengan baik.
"Ini berkas kerjasama yang sudah kami buat," Yoga menyerahkan berkas itu pada Adi dan juga Deril.
Adi memeriksanya dengan saksama,Deril menaikkan kedua alisnya,hafal betul jika Kania pasti yang membuatnya.
Kania juga menjelaskan dengan detail tentang proposal yang dia buat.
"Jadi bagaimana pak?apa anda keberatan," tanya Yoga.
Adi menganguk, "Cukup menarik,saya menyetujuinya,"
Yoga terlihat senang,Derilpun hanya bisa menerima jika papanya setuju,walau sebenarnya dia sudah sangat muak jika harus sering bertemu Kania karena kerja sama ini.
"Deril,kamu yang pegang proyek ini ya," ucap Adi.
"Ya pa," jawab Deril.
Kania tersenyum tipis menatap kearah Deril.
Yoga pergi ketoilet,sedangkan Kania masih membereskan berkas diruang meting, Deril masih disana mempelajari tentang proyek itu.
"Jadi,gimana?kamu pasti nyeselkan udah ngebuang aku dari perusahaan ini,karena kenyataannya aku bisa dengan mudah kembali lagi kesini meskipun dengan cara lain," ucap Kania.
Deril hanya diam mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan siluman ular didepannya itu.
"Kamu gak akan bisa lepas dari aku begitu aja Ril," ucap Kania lagi.
Deril menatap tajam kearah Yoga, "Kalo bukan karena pak Yoga,aku gak akan Sudi melihat apalagi bertemu sama wanita seperti kamu Kania,dan aku jamin kalo pak Yoga tahu wanita seperti apa kamu,kamu akan langsung ditendang dari sisinya," ucap Deril dengan ketus.
Kania mendengus kesal,Deril kembali melanjutkan pekerjaannya.
Yoga kembali menghampiri mereka.
"Ya sudah,kita kembali kekantor sekarang ya," ajak Yoga.
"Baik pak," jawab Kania.
Deril melihat kearah Yoga, "Terimakasih atas kunjungannya,setelah ini kita akan sering bertemu," ucap Deril.
Yoga tersenyum, "Baik pak Deril,kalo begitu saya permisi dulu," ucap Yoga lalu bersalaman dengan Deril dan beranjak pergi bersama Kania.
Deril tidak memberitahu Yoga tentang kebusukan Kania,karena dia tidak ingin mencampurkan hubungan pekerjaan dengan masalah pribadi,ia yakin cepat atau lambat Yoga juga akan mengetahui kebusukan ular berbisa itu.
"Kamu sepertinya sudah sangat akrab dengan pak Deril,kamu pasti sudah lama mengenalnya?" tanya Yoga saat dalam perjalanan.
"Kan saya pernah bilang saya pernah bekerja disana," jawab Kania.
"Apa hanya sebatas hubungan pekerjaan?" tanya Yoga.
Kania melihat kearah Yoga, "Lebih dari itu,"
Yoga terlihat kikuk saat mendengar jawaban Kania.
"Tapi,itukan masa lalu,saya tidak ingin mengingatnya lagi," ucap Kania.
(Munafiknya neh cewek)
Yogapun hanya diam dan tidak ingin tahu lebih jauh tentang hubungan mereka dimasa lalu.
Sepulang kerja Deril berkeliling untuk mencari bubur pesanan Zee,ini sudah hampir setengah jam tapi kenapa penjual bubur tiba-tiba menjadi langka.
Derilpun menghentikan mobilnya dan membuka ponsel,mencari disosmed penjual bubur kacang hijau yang masih buka,Ia tersenyum saat berhasil menemukannya dan langsung OTW.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Deril langsung mencari istrinya sambil membawa bubur pesanan itu.
"Zee..." panggil Deril.
Ternyata Zee sedang menonton tv dengan mangkok ditangannya.
"Neh buburnya," ucap Deril.
"Udah beli,neh," Zee menunjukkan bubur yang sedang ia makan.
"Kok udah beli?tadikan kamu minta dibeliin," tanya Deril.
"Habisnya kamu lama,jadinya aku pesen online aja,lebih cepet," ucap Zee lalu kembali makan tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Deril menghela nafas,kesal tapi apalah daya karena istrinya sedang hamil ia mencoba menahan diri untuk marah,iapun meletakkan bubur itu dikulkas lalu berjalan kekamar untuk mandi dan beristrirahat.
"Sayang bangun dong," Zee membangunkan Deril saat hampir tengah malam,dan diluar sedang hujan lebat.
Deril menggeliat tapi matanya masih terpejam.
"Ayo bangun," Zee memencet hidung Deril.
Deril membuka matanya, "Apasih Zee,aku ngantuk,capek," ucap Deril.
"Aku pengen martabak,yuk beli," ajak Zee.
"Zee,inikan udah malam,hujan lagi,besok aja ya," ucap Deril dan kembali memejamkan matanya.
"Gak mau,ayo beli sekarang," paksa Zee.
"Kamu pesen online aja deh,lebih cepetkan," sindir Deril yang sebenarnya masih kesal dengan kejadian bubur sore tadi.
Zee terlihat kesal dan cemberut, "Ya udah aku mau beli sendiri,biarin aja nanti aku ketemu orang jahat terus diculik lagi," ucap Zee.
"Au,sakit," keluh Zee sambil memegangi hidungnya.
"Ayo,mau beli dimana?" ajak Deril.
Zee tersenyum dan memeluk suaminya.
Meskipun lelah dan sedikit kesal tapi Deril berusaha menuruti keinginan Zee yang katanya sedang ngidam itu.
Deril menghentikan mobilnya didepan penjual martabak dipinggir jalan,hujan masih cukup deras.
"Kamu tunggu disini ya,biar aku yang beliin,nanti kamu kedinginan lagi," ucap Deril.
Zee menganguk.
Derilpun turun membawa payung dan berjalan kearah penjual itu,ia memesan martabak jumbo agar Zee merasa senang dan juga kenyang.
Deril masuk kemobil sambil membawa martabak pesenan Zee.
"Ini mar...." ucapan Deril terhenti saat melihat istrinya sudah tertidur pulas.
"Zee..." Deril meletakkan martabak itu,iapun segera duduk kekemudi dengan wajah kesal.Ia memandangi kearah istrinya sambil mengusap pelan pipi Zee,rasa kesalnya pun luntur begitu saja.
Zee tiba-tiba tersenyum.
Deril memicingkan matanya, "Kamu gak tidurkan?"
Zee membuka matanya, "Enggak,mana mungkin aku tidur,kan suami aku udah susah-susah beliinnya," goda Zee.
"Ih..dasar," Deril mencolek hidung mungil istrinya itu.
Zee merasa senang karena berhasil mengerjai Deril.
__ADS_1
Zee membuka martabak yang dibeli Deril dan langsung menganga, "Gede banget,"
"Biar kamu puas,dan gak minta yang aneh-aneh lagi," ucap Deril.
Zee mengerucutkan mulutnya,Iapun segera melahap martabak itu yang masih hangat dan juga sangat menikmatinya.
Deril terlihat senang melihat istrinya makan dengan lahap.
"Kamu mau," Zee menyuapi Deril.
Derilpun memakan martabak dari suapan tangan Zee.
"Enakkan?" tanya Zee dengan mulutnya yang masih penuh,Deril tersenyum dan mengusap bibir Zee yang belepotan dengan tangannya.
Keduanya terlihat bahagia,ditengah hujan yang masih turun.
Matahari mulai menyinari bumi,Zee menuruni tangga diikuti Deril dibelakangnya,hari ini wekend,jadi Deril tidak kekantor.
Zee membuka kulkas dan mencari sesuatu.
"Bubur yang kemarin mana?" tanya Zee pada Deril.
Deril duduk dimeja makan dan mengambil roti, "Kan aku taruh dikulkas," jawab Deril.
"Gak ada," jawab Zee.
Deril berjalan menghampiri Zee untuk memastikannya.
Farhan yang baru keluar kamar menuju kemeja makan.
"Kok gak ada ya?" gumam Deril yang jelas-jelas menaruhnya dikulkas.
"Cari apa sih kalian?" tanya Farhan yang heran melihat anak menantunya kebingungan didepan kulkas.
"Cari bubur," jawab Zee.
Farhan tertegun, "Bubur yang ada dikulkas?" tanya Farhan.
Zee dan Deril menganguk.
"Papa udah makan semalam,papa pikir kamu gak mau," ucap Farhan.
"Duh pa,kok dimakan sih," keluh Zee.
Derilpun terkekeh melihat Zee yang merajuk pada Farhan perkara bubur.
"Ya udah,nanti papa beliin lagi," ucap Farhan.
"Gak mau," ucap Zee lalu kembali naik tangga menuju kekamarnya.
Farhan menghela nafas,Deril menghampirinya kemeja makan untuk kembali sarapan.
"Udah pa,biarin aja,sikap Zee emang sensi banget akhir-akhir ini," ucap Deril lalu melahap roti ditangannya.
"Yah,begitulah wanita kalo lagi hamil,gak pernah mau kalah,kamu yang sabar ya," ucap Farhan.
Deril menganguk dan meneruskan sarapannya.
Reva sedang duduk diranjang sambil memandangi laptop didepannya.Ia mencari tahu informasi tentang Yoga disosmed.
"Hah,ada," Reva membuka profil Yoga.
"Direktur 'Yoga Company' ?,ya ampun,udah ganteng,kaya lagi,uh..," ucap Reva dengan senang,iapun mencari alamat kantor Yoga dan menyalinnya diponsel.
Reva tersenyum sambil memandangi foto tampan Yoga dilaptopnya.
__ADS_1