Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Bab 64


__ADS_3

Keesokan harinya,Yoga sedang sarapan bersama Siska.


"Oya,nanti sore sepulang kantor kamu datang ya keRestoran Viktori," ucap Siska.


Yoga mengerutkan keningnya, "Mau ngapain ma?" tanya Yoga.


"Ketemu Alena,kaliankan harus sering ketemu biar makin dekat," jawab Siska.


"Ma,akukan udah bilang mau pikirin dulu," ucap Yoga dengan malas.


"Mama udah terlanjur bilang kalo kamu bisa datang,jadi kamu harus datang, jangan bikin malu mama," ucap Siska memaksa.


Deril hanya diam dengan wajah sedikit kesal tapi ia juga tidak melawan perintah mamanya.


Zee sedang berdiri didepan cermin sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit,ia bergaya kesana kemari dengan senyum yang merekah diwajahnya.


"Kamu ngapain sih,hah?" tanya Deril yang memeluk istrinya dari belakang.


"Gemes sama perut aku," jawab Zee.


Deril terkekeh dan ikut mengusap perut Zee, "Papa juga gemes,baby kita pasti udah makin besar sekarang," ucap Deril.


Zee tersenyum sambil menganguk, "Jadi gak sabar pengen cepet ketemu," ucap Zee sambil mengusap perutnya lagi.


"Ya udah,aku berangkat kerja dulu ya," ucap Deril.


Zee berbalik menatap suaminya, "Iya,aku juga mau ikut papa keRestoran,bosen dirumah terus,"


"Yang penting kamu hati-hati,dan jangan kecapean," ucap Deril sambil mengusap pipi Zee.


Zee menganguk dan megecup sekilas bibir suaminya.


Merekapun keluar dari kamar bersama.


Yoga sedang memeriksa laporan keuangan perusahaannya,ia merasa heran karena ada pengeluaran cukup banyak bulan ini.


Ia menelfon seseorang, "Suruh pak Arya keruangan saya!" ucap Yoga dan langsung menutup telfonnya.


Beberapa saat kemudian pak Arya datang menemui Yoga.


"Kenapa pengeluaran bulan ini over banget," tanya Yoga.


"Maaf pak,tapi kami harus membayar uang pemutusan kontrak kerja Bu Kania,karena Bu Kania dipecat oleh bapak," jawab Arya.


Yoga baru teringat akan hal itu,benar saja kontrak itu berisi jika Kania dipecat ia akan mendapatkan ganti rugi sepuluh kali lipat dari gajinya.


"Kenapa aku gak mikirin soal itu," gumam Yoga sembari mengusap wajahnya.


"Dan lagi,banyak klien yang protes karena proyek yang tertunda disebabkan dana material yang belum cair pak,sementara keuangan kita mulai menipis," imbuh Arya.


Yoga diam dan berpikir,ia harus memutar otak untuk mencari pinjaman dana demi kelangsungan perusahaannya.


"Ya udah,kamu urus masalah dana material dulu jangan biarin proyek berhenti karena akan membuat perusahaan makin rugi,soal keuangan biar saya yang cari solusinya," ucap Yoga.


"Baik pak," jawab Arya lalu segera keluar dari ruangan Yoga.


Yoga mengambil ponsel dan menelfon seseorang.


"Siapkan Sertifikat rumah dan tanah,aku tunggu dikantor," ucap Yoga lalu menutup telfonnya.


Yoga menyandarkan kepalanya,kepergian Kania benar-benar mengobrak Abrik perusahaannya.


Deril pergi kebank untuk mengurus administrasi perusahaan,saat itu ia melihat Yoga yang sedang berbicara dengan petugas disana.


"Baik,mohon ditunggu," jawab petugas sambil membawa berkas dari Yoga.


Yogapun menghela nafas lalu duduk untuk menunggu.

__ADS_1


Deril menghampirinya.


"Yoga," sapa Deril.


Yoga sedikit terkejut melihat Deril, "Deril,kamu disini juga?" tanya Yoga.


Deril duduk disamping Yoga, "Kamu ngapain?,tadi aku sempat lihat surat-surat tanah," tanya Deril.


Yoga sebenarnya sungkan menceritakan masalah perusahaannya,tapi sebagai patner kerjasama Deril harus mengetahui tentang hal itu agar bisa berjaga-jaga jikalau perusahaan Yoga bangkrut.


"Sebenarnya ada sedikit masalah dikantor,kami butuh banyak dana jadi aku gadaikan sertifikat rumah dan tanah," jawab Yoga.


"Kamukan bisa minta bantuan kekami,kamu gak perlu gadaikan surat-surat penting itu," ucap Deril.


Yoga tersenyum, "Aku sangat berterimakasih,tapi aku masih bisa kok mengatasi masalah ini sendiri," jawab Yoga.


Deril menepuk pundak Yoga sambil tersenyum, "Benar-benar pria yang bertanggung jawab,pantas Reva tergila-gila sama kamu," ucap Deril.


Yogapun terkekeh dengan wajah malu.


"Ya udah,aku duluan ya,masih ada kerjaan dikantor," ucap Deril.


Yoga menganguk,Derilpun beranjak pergi.


Petugas memanggil Yoga dan menyerahkan surat tanda terima.


"Silakan ditanda tangani,Kami akan Tranfer uangnya langsung kerekening perusahaan bapak," ucap Petugas itu.


Yoga menganguk dan menandatangi surat-surat itu.Ia berharap dana itu cukup untuk mengatasi masalah keuangan perusahaan sementara waktu sampai semua proyek berjalan dengan normal kembali.


Disebuah Vila dipinggir pantai,Kania sedang membuka laptopnya,ia yang masih punya koneksi dari perusahaan Yoga bisa seenaknya mengontrol keadaan disana.


Iapun tersenyum senang saat tahu perusahaan itu sedang mengalami masalah keuangan.


"Sekarang kamu akan tahu Yoga,gimana peran penting aku dikantor,dan kamu akan mengemis-ngemis supaya aku kembali kesana," ucap Kania lalu meminum jus jeruk yang tersaji didepannya,Ya...setelah mendapatkan dana yang cukup besar dari perusahaan Yoga,Kania memilih pergi berlibur,tapi niat licik tidak pernah libur dari otaknya.


Sepulang kantor Yoga menemui Alena diRestoran yang disebutkan oleh mamanya.


"Maaf ya,aku udah ganggu waktu kerja kamu," ucap Alena memecahkan keheningan.


"Gak papa kok,inikan udah jam pulang kantor," jawab Yoga.


"Oya,soal perjodohan kita..."


"Aku masih belum bisa ambil keputusan," jawab Yoga bahkan sebelum Alena menyelesaikan ucapannya.


Alena menganguk, "Aku juga sama,menurut aku kita harus saling mengenal dulu,kalo cocok ya kita lanjut,kalo gak cocok berarti kita gak berjodoh," ucap Alena.


Yoga tersenyum karena pikiran Alena sangat sejalan dengan pikirannya.


"Aku setuju," jawab Yoga.


Alena merasa senang karena Yoga menyetujui pendapatnya.


Saat akan pulang,Zee tertegun melihat Yoga bersama Alena,kebetulan mereka makan diRestoran milik Farhan.


Zee mulai menaruh curiga pada Yoga,dan cemas pada Reva.


Alena pulang terlebih dulu,sementara Yoga masih berada ditempat parkir.


"Ehem...." Zee menghampiri Yoga.


Yoga melihat kearah Zee, "Hai,istrinya Derilkan?Zee?" tanya Yoga memastikan.


Zee menganguk, "Kakaknya Reva juga," imbuh Zee.


Yoga menganguk, "Lagi makan disini juga?" tanya Yoga.

__ADS_1


"Kebetulan ini Restoran milik papa aku," jawab Zee.


"Oh..."


"Tadi aku lihat kamu sama cewek,teman atau pacar?" tanya Zee tanpa basa basi.


Yoga tersenyum, "Bukan teman tapi juga bukan pacar," jawab Yoga yang membuat Zee kebingungan.


"Kami dijodohin sama orang tua kami," perjelas Yoga.


Zee tersentak, "Lalu Reva?"


"Jujur,aku juga belum tahu harus kemana hubungan ini berjalan," jawab Yoga.


Zee terdiam dengan wajah cemas dan juga bingung.


"Aku permisi dulu ya," ucap Yoga yang segera pergi dari hadapan Zee.


Zee tidak bisa membayangkan jika Reva tahu pria yang ia sukai sudah dijodohkan,dengan Alena pula,cewek yang super perfect itu.


Zee sedang berbaring dipelukan Deril dengan wajahnya yang masih cemas memikirkan Reva.


"Kamu kenapa sih,dari tadi kok diam terus,Hem?" Deril membelai wajah Zee.


Zee bangun dan duduk,Deril merasa heran.


"Kamu harus tahu aku ketemu siapa tadi diRestoran," ucap Zee.


Derilpun duduk dan menatap wajah istrinya, "Hantu?"


"Ih,aku lagi serius,"


"Habisnya muka kamu tegang gitu kaya habis ngelihat hantu," ucap Deril.


"Ini lebih dari hantu," jawab Zee.


Deril mengerutkan keningnya semakin penasaran dengan siapa Zee bertemu.


"Aku ngelihat Yoga sama Alena,makan berdua sambil ngobrol akrab banget," ucap Zee membuat Deril tertegun.


"Trus aku tanya sama Yoga tentang hubungan mereka,Yoga bilang mereka dijodohin," imbuh Zee.


Deril mendengus, "Dijodohin,kenapa sih masih ada aja orang tua yang mau jodohin anak-anaknya,konyol tau gak," ucap Deril dengan kesal karena dia sudah merasakan pahitnya dinikahin secara paksa.


Zee melirik sinis kearah Deril, "Kamu mau bilang kalau perjodohan kita dulu itu konyol?"


"Emang iyakan," jawab Deril membuat Zee semakin kesal.


"Ini itu jaman modern,semua orang berhak menentukan pilihannya sendiri,gak perlu dipaksa-paksa kaya gitu," imbuh Deril.


"Jadi kamu dipaksa nikah sama aku?," Zee mulai terlihat sedih.


Deril tahu dia sudah kebablasan membahas masalah ini, "Zee,itukan dulu,tapi sekarang aku udah cinta matikan sama kamu,"


Zee masih cemberut.


"Kok kita jadi bahas masa lalu kita sih,Kitakan lagi bahas soal Yoga," ucap Deril.


Zeepun baru ingat soal itu.


"Terus,kalo Yoga dijodohin,gimana sama Reva?" tanya Deril yang sesegera mungkin mengalihkan topik agar Zee tidak cemberut lagi.


"Itu juga yang aku pikirin,gimana perasaan Reva kalau tahu semua itu,pasti sedih banget," ucap Zee yang terlihat cemas.


Deril menarik Zee kepelukannya, "Biar besok aku coba bicara sama Yoga,supaya dia ngasih kepastian keReva,aku gak mau Reva terlalu berharap sama sesuatu yang tidak pasti,"


Zee menganguk.

__ADS_1


"Udah dong,kamu gak perlu cemas mikirin Reva,aku yakin dia akan baik-baik aja," ucap Deril berusaha menenangkan istrinya.


Zee hanya diam sambil memeluk erat suaminya.


__ADS_2