
Ririn dan Eva terkekeh saat mendengar cerita Zee.Zee hanya cemberut sembari memakan kentang goreng didepannya.
"Ya ampun Zee,Lo udah kaya cewek murahan aja,dia masih gak kegoda,suami Lo normal gak sih sebenarnya?" ejek Ririn.
"Enak aja Lo," Zee melempar Ririn dengan kentang goreng ditangannya.
Mereka sedang nongkrong disebuah kafe,sejak menikah Zee jarang nongkrong diRestoran papanya,karena papanya pasti akan menceramahinya jika ia terlalu lama bersama teman-temannya.
"Tau deh,gue bingung harus ngapain lagi?rasanya harga diri gue benar-benar udah hancur tapi gak menghasilkan apapun," Zee meletakkan kepalanya dimeja.
"Kenapa gak Lo coba kasih dia obat perangsang aja,siapa tahu berhasil," ucap Eva memberikan solusi.
Zee mengangkat kepalanya, "Gak ah,gue gak mau pake gituan,gue maunya dia ngelakuin itu dengan sadar,bukan karena dirangsang pake obat,itu namanya gue maksa donk," jawab Zee.
"Emang selama ini Lo gak maksa dia?" bantah Ririn.
"Ya iya,tapikan...tau ah,gue bingung," Zee kembali meletakkan kepalanya dimeja.
Ririn dan Eva hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
Suasana Rumah sakit cukup mencekam,tangis Kania dan mamanya terdengar dari pintu masuk.
Deril bergegas menghampiri Kania,Ia mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Papa,Ril...papa," teriak Kania histeris.
Deril hanya bisa memberikan pelukan hangat agar Kania bisa lebih tenang.
Deril melihat mayat papa Kania yang sudah terbujur kaku tertutupi oleh selimut putih.
Deril menghela nafas dan mengusap lembut rambut kekasihnya yang masih tersedu dipelukannya.
Zee melihat kearah jam,menunjukkan pukul 5 sore,tapi suaminya belum juga pulang.
Zee beranjak dari tempat tidur menuju kelantai bawah.
Saat itu Adi baru masuk sepulang kantor.
"Pa,gak bareng sama Deril?" tanya Zee.
Adi terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Zee, "Tadi,ada keluarga salah satu karyawan yang meninggal,jadi Deril ngelayat kesana," jawab Adi.
"Oh..gitu,ya udah deh," Zee berjalan kedapur untuk menyiapkan makan malam bersama Farah.
Adi sebenarnya ingin berkata jujur jika Deril sedang bersama Kania,tapi Ia tidak tega pada Zee.
Pukul 8 malam,Deril belum juga pulang kerumah,Zee merasa gelisah menunggunya.
"Siapa sih,karyawan itu sampai Deril sepeduli ini sama dia,bahkan sampai sekarang belum pulang," Zee merebahkan tubuhnya dan berusaha tidur,tapi tetap tidak bisa.
Zee mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Deril,tapi Deril tidak menjawab telfonnya.
Deril mengantarkan Kania pulang setelah selesai dari pemakaman papanya.
"Kamu disini dulu ya,aku masih butuh kamu,Ril," Kania menyandarkan kepalanya kebahu Deril.
Deril melihat kearah jam, "Tapi ini udah malam,aku harus pulang,"
"Plis...bentar aja,temenin aku makan dulu ya," pinta Kania.
Deril menganguk, "Ya udah,"
__ADS_1
Kania tersenyum,mereka segera menuju kemeja makan,disana sudah ada Luna,mamanya Kania.
"Nak Deril,makasih ya,atas segala bantuannya,kamu udah mengurus semua biaya pemakaman papanya Kania,kami sangat berhutang Budi sama kamu,"
"Gak papa kok Tante,saya senang bisa membantu," jawab Deril.
"Kania benar-benar beruntung punya calon suami seperti kamu,jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Luna.
Deril terdiam dengan wajah sedikit gugup.
"Ma,papakan baru meninggal,kita gak usah ngomongin soal itu dulu ya," ucap Kania.
"Iya,maaf ya,Tante terlalu terburu-buru," ucap Luna.
"Gak papa Tante," jawab Deril yang merasa tak enak hati harus berbohong pada Luna.
Zee tidak tahan jika harus menunggu lagi,Iapun menemui Adi dan Farah yang sedang santai didepan tv.
"Pa,boleh minta alamat karyawan papa itu gak?" tanya Zee.
"Kenapa?emang Deril belum pulang?" tanya Adi.
Zee menggelengkan kepala, "Aku khawatir,jangan-jangan terjadi sesuatu lagi,telfon aku juga gak diangkat,"
Adi menghela nafas, "Zee,sebenarnya yang meninggal papanya Kania," ucap Adi.
Zee terkejut mendengar hal itu.
"Maaf,papa baru kasih tahu kamu," imbuh Adi merasa tidak enak pada menantunya itu.
"Gak papa kok pa,Kania itukan teman sekolah aku juga,jadi biar sekalian aku ngucapin bela sungkawa kedia," jawab Zee.
Adipun memberikan alamat Kania pada Zee.
Deril mengusap kepala Kania dengan lembut,"Aku pulang dulu ya,kamu jaga diri baik-baik," ucap Deril.
Kania menganguk dan meraih tangan Deril lalu menciumnya, "makasih ya,"
Zee berjalan menghampiri mereka,Deril dan Kaniapun terkejut melihat kedatangan Zee,Entah kenapa dengan refleks Deril menarik tangannya dari Kania.
"Zee.."
Zee mendekati Kania dan memeluknya.
Kaniapun terdiam,begitupun Deril yang merasa aneh dengan sikap Zee.
"Gue turut bersuka cita ya,semoga Almarhum tenang disana," ucap Zee lalu melepaskan pelukannya.
"Makasih Zee," jawab Kania.
Zee tersenyum dan melihat Deril yang masih terdiam melihatnya.
"Kamu mau pulang atau mau tetap disini,siapa tahu Kania masih butuh temen," ucap Zee dengan santainya.
Jelas ucapan Zee membuat Deril dan Kania bingung.
"Aku mau pulang," ucap Deril.
"Ya udah,yuk..." Zee menggandeng tangan Deril menuju kemobil,Kania menghela nafas dan segera masuk kedalam rumah.
Deril dan Zee sedang dalam perjalanan pulang,suasana begitu hening,Zee menatap kearah jendela,membuat Deril merasa kalo Zee sedang marah.
__ADS_1
"Zee..." panggil Deril.
"Hem?" jawab Zee tanpa menoleh.
"Lo marah sama gue?" tanya Deril.
"Kenapa?" Zee menoleh kearah Deril.
"Ya karena gue sama Kania..." Deril menghentikan ucapannya.
Zee menyunggingkan bibirnya, "Aku capek marah-marah terus,lagian kasihankan Kania,dia baru aja ditinggal pergi papanya,Aku ngerti kok dimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi,dia pasti butuh seseorang disampingnya," ucap Zee.
Kata-kata Zee membuat Deril terdiam,Zee yang selama ini dia kenal bar-bar,ternyata bisa peduli juga dengan perasaan orang lain,apalagi itu pada Kania,musuh bebuyutannya.
Zee kembali menatap kearah jendela,tiba-tiba ingatan saat ibunya meninggal muncul dikepalanya,Air matanyapun tiba-tiba menetes tanpa permisi.Zee segera menghapusnya karena tidak ingin Deril melihatnya.
"Oya,aku kangen neh sama papa,aku boleh gak malam ini nginep disana," ucap Zee.
Deril tahu jika Zee sedang sedih,terlihat dari matanya yang memerah, "Ya udah,aku anterin," jawab Deril.
Zee hanya menganguk,merekapun menuju keRumah Farhan.
Zee dan Deril masuk kerumah Farhan,Farhan sedikit terkejut dengan kedatangan Zee karena tidak mengabari sebelumnya.
Zee memeluk Farhan, "Aku kangen banget sama papa,"
Farhan mengerutkan keningnya karena sikap Zee yang aneh,Farhan melihat kearah Deril seakan bertanya apa yang terjadi pada putrinya.
Deril hanya menggelengkan kepala.
"Kamu neh,kaya udah gak ketemu papa berapa tahun?,papa aja gak kangen sama kamu," ucap Farhan sengaja menggoda Zee.
"Ih...papa," Keluh Zee.
"Jadi,apa kalian mau nginep disini?" tanya Farhan karena memang sudah cukup larut malam.
Zee melihat kearah Deril,saat akan menjawab,Deril mendahuluinya.
"Ya pa,kita mau nginep," jawab Deril.
Zee mengerutkan keningnya, "Kamu nginep juga?" tanya Zee.
"Zee,kamu kok nanyanya gitu,diakan suami kamu kalo kamu nginep,Deril juga nginep,yakan Ril?" tanya Farhan.
"Iya pa," jawab Deril sambil tersenyum.
"Ya udah,kamu ajak sana Deril kekamar,ini udah malem,nanti kalo butuh sesuatu panggil aja bibi," Farhanpun menepuk pundak Deril, "Semoga kamu betah ya nginep disini,gak usah sungkan,kalo Zee nakal,suruh aja dia tidur diluar,"
Deril terkekeh,Zee hanya diam dengan wajah cemberut.
Zee mengajak Deril masuk kekamarnya,kamar yang sudah banyak berubah,apalagi Zee sudah lama tidak menempatinya.
"Aku mau mandi dulu,dimana kamar mandinya?" tanya Deril.
Zee menunjuk ruangan dipojokan, "Emang kamu bawa baju ganti?"
Deril terdiam, "Gak sih,gak papa aku pake baju ini aja,"
"Itukan kotor,lihat ada noda tanahnya,pasti dari pemakaman tadikan?" tanya Zee yang melihat celana Deril banyak noda.
Deril baru ingat,dia memang dari pemakaman papa Kania tadi.
__ADS_1
Zee mengambil handuk lalu menyodorkannya keDeril, "Kamu mandi dulu aja,biar aku ambilin baju papa," Zeepun beranjak keluar kamar.
Derilpun tidak ada pilihan lain,Ia segera masuk kedalam kamar mandi.