
Pagi itu Deril keluar dari ruangan Zee untuk mencari makan,Ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
"Pak Deril," ucap Anjas dengan wajah yang terlihat cemas.
Deril terlihat tidak nyaman dengan kedatangan Anjas,tapi dia berusaha untuk tetap bersikap sopan.
"Iya pak Anjas,ada apa?" tanya Deril.
"Rico semalam terjebak dalam kebakaran yang terjadi disel tahanannya,dan kondisinya sekarang kritis," ucap Anjas.
Deril tertegun mendengar berita itu,entah ia harus senang atau sedih.
"Saya turut prihatin pak," ucap Deril.
"Rico ingin bertemu dengan anda sebentar saja,dia bilang ada yang ingin dia bicarakan," pinta Anjas.
"Maaf,tapi saya gak ada waktu," jawab Deril yang tak ingin lagi berurusan dengan Rico.
"Saya mohon pak Deril,temui Rico sebentar saja," pinta Anjas dengan memelas.
Deril tidak tega melihat orang tua seperti Anjas harus memohon padanya,Iapun bersedia untuk menemui Rico.
Deril masuk keruangan,melihat tubuh Rico yang hampir seluruhnya berbalut perban karena luka bakar,serta beberapa alat medis yang terpasang ditubuhnya menandakan jika kondisi Rico memang parah.
Deril mendekat kearah Rico.
Rico perlahan membuka matanya dan melepaskan alat bantu pernafasan yang terpasang dimulutnya.
"Deril," panggil Rico dengan suara pelan yang hampir tak terdengar.
"Ya,ini gue," jawab Deril.
"Gue mau minta maaf sama Lo dan juga Zee," ucap Rico dengan nafas terengah.
Deril hanya diam tak menjawab permintaan maaf Rico,meski Ia merasa iba pada kondisi Rico tapi sangat sulit bagi Deril untuk memaafkannya.
"Ada sesuatu yang harus Lo tahu Ril," ucap Rico lagi.
"Apa?" tanya Deril penasaran.
"Gue sama sekali gak pernah nyentuh Zee," jawab Rico.
Deril terkejut mendengar ucapan Rico dan langsung menatapnya.
"Gue bilang kaya gitu supaya rumah tangga Lo dan Zee rusak,tapi jujur gue sama sekali gak pernah melecehkan Zee sedikitpun," ucap Rico lagi dengan nafas tersengal.
Deril menghela nafas,mengusap wajahnya,akhirnya bukti itu datang dengan sendirinya.
"Tolong maafin gue Ril,gue juga minta maaf sama Zee," ucap Rico.
Deril menyentuh pelan lengan Rico, "Gue maafin Lo," ucap Deril yang merasa tidak tega,lagipula bukti itu sudah ia dapatkan dan ia tidak mau menyimpan dendam pada orang yang sudah sekarat seperti Rico.
"Makasih," ucap Rico dan tiba-tiba nafasnya sesak dan mengalami kejang.
Derilpun memanggil dokter yang langsung mengecek kondisi Rico.
Deril dan Anjas menunggu diluar hingga dokter keluar dan menyatakan jika Rico tengah meninggal dunia.
Deril menutup mata dan mendoakan agar Rico tenang,sementara Anjas histeris karena harus kehilangan putranya dengan cara tragis seperti ini.
Zee sedang duduk sambil menunggu Deril yang tak kunjung datang.
Pintu terbuka,orang yang dia tunggu masuk dan berjalan menghampirinya.
Deril langsung memeluk tubuh istrinya,lalu menangkup wajah Zee dan menciumi seluruh bagian wajahnya dengan senyum bahagia.
"Kamu kenapa sih?hah?" tanya Zee yang bingung dengan sikap Deril.
"Aku udah dapetin bukti itu Zee," ucap Deril.
__ADS_1
Zee mengerutkan keningnya, "maksud kamu,"
Deril duduk disamping Zee, "Rico udah mengakui semuanya keaku,kalo dia sama sekali gak pernah nyentuh kamu,sedikitpun," ucap Deril sambil mengusap rambut istrinya.
Zee menatap wajah Deril terlihat masih tidak percaya.
"Rico terjebak dalam kebarakan malam tadi,dan kondisinya kritis,dia ceritain semuanya ke aku,sebelum dia meninggal," perjelas Deril.
"Rico meninggal?" tanya Zee meyakinkan.
Deril menganguk, "Baru aja,tapi aku lega karena aku udah tahu semuanya sebelum dia meninggal dan semoga dia tenang dialam sana,"
Zee tersenyum dan kembali memeluk suaminya dengan perasaan lega, "Berarti ini anak Kitakan?"
Deril menganguk,Zee merasa terharu hingga meneteskan air mata.
"Iya Zee,ini anak kita,sekarang kamu udah yakinkan,kamu gak perlu bukti apa-apa lagi," ucap Deril.
Zee memepererat pelukannya dengan wajah bahagia dan juga terharu.Deril mengecup kening istrinya itu.
Farhan melihat itu dari balik jendela dan juga tersenyum haru.Ia sebenarnya sudah tahu masalah pelecehan yang dialami Zee,tapi Ia tidak ingin ikut campur dan membiarkan Zee dan Deril menyelesaikan masalah itu sendiri.
Siang itu Farah dan Adi datang kerumah sakit untuk menjenguk menantunya.
"Gimana keadaan kamu sayang?" tanya Farah sambil mengusap kepala Zee.
"Aku baik-baik aja kok ma,maaf ya udah bikin kalian khawatir," ucap Zee yang merasa sudah merepotkan mertuanya.
"Gak papa,yang penting kamu harus sehat,sama bayi kamu juga," Farah mengusap perut Zee.
Zee tersenyum.
"Oya Deril kemana?" tanya Adi.
"Dia lagi ngurus administrasi pa,soalnya aku udah boleh pulang sore ini," jawab Zee.
"Syukurlah kalo gitu," ucap Adi.
"Pa..ma...kalian kesini?" sapa Deril.
"Bisa-bisanya kamu gak kasih tahu kalo Zee ada dirumah sakit,untung Mertua kamu nelfon tadi pagi," ucap Adi.
"Aku cuma gak mau mama sama papa khawatir," jawab Deril.
Adi menepuk pundak putranya itu.
"Gimana?udah boleh pulang?" tanya Zee.
"Udah," jawab Deril.
Zee terlihat senang dan bersemangat.
Mobil Deril berhenti saat sampai didepan rumah.
Deril turun dan membukakan pintu untuk Zee,ia ingin mengangkat tubuh istrinya itu.
"Mau ngapain?" tanya Zee.
"Gendong,gak mau?" goda Deril.
Zee mengalungkan tangannya keleher Deril, "Mau," jawab Zee sambil tersenyum.
Deril mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk kerumah.
"Mau disini aja atau kekamar?" tanya Deril saat sudah sampai didalam rumah.
"Kekamar aja," jawab Zee.
"Siap tuan putri," Deril segera membawa Zee menuju kekamar.
__ADS_1
Kania sedang menunggu taxi untuk pulang,sebuah mobil berhenti didepannya lalu membuka kaca jendelanya.
"Yuk,aku anterin," ajak Yoga.
Kania tersenyum dan segera naik kemobil bosnya itu.
Dalam perjalanan mereka sedikit berbincang.
"Gimana?" tanya Yoga.
Kania melihat kearah Yoga dan tahu betul apa yang sedang ia tanyakan.
"Kayanya aku masih belum siap," jawab Kania.
"Ok..." ucap Yoga.
"Terus sampai kapan kamu mau nunggu?" tanya Kania dengan bahasa unformal karena sedang diluar kantor.
"Sampai kamu siap," jawab Rico.
Kania menghela nafas, "Maaf,tapi sebaiknya kamu gak usah nunggu aku lagi," ucap Kania.
Yoga menatap wajah Kania sekilas, "Kenapa?"
"Karna aku gak akan pernah siap,hati aku masih milik orang lain,dan aku gak akan bisa ngelupain dia," ucap Kania.
Yoga terdiam sambil menghela nafas.
"Maafin aku,tolong kamu lupain aku," ucap Kania.
"Akan aku coba," jawab Yoga yang terlihat sedikit kecewa.
Deril sedang menyuapi istri tercintanya makan malam.
"Oya,kemarin aku ketemu sama Kania lagi," ucap Zee.
Derilpun ikut memakan makanan dipiring Zee,"Dia ngapain lagi?" tanya Deril sambil mengunyah makanan dimulutnya.
"Ehm,biasalah julid,tapi sebenarnya dia kenal baik sama Rico,makanya dia tahu soal pelecehan itu," ucap Zee yang membuka mulutnya tapi Deril justru melahap sendiri makanannya.
"Ih...aku lapar tahu," keluh Zee.
Deril tersenyum dan kembali menyuapi istrinya.
"Udah aku duga,mereka pasti ada hubungan," ucap Deril.
Zee menganguk, "Tapi aku udah kasih pelajaran kedia," ucap Zee.
"Kamu apain?" tanya Deril.
"Aku tampar," jawab Zee.
Deril nyengir, "Harusnya kamu cekek dia sampe mati," ucap Deril membuat Zee langsung menatapnya.
"Ih...kejam banget,"
"Entahlah Zee,aku udah Gedeg banget sama mulutnya Kania,kalo ketemu dia pasti langsung emosi," ucap Deril.
"Sabar suamiku,nanti dia juga dapet karma kok," ucap Deril sambil mengelus dada Deril.
Deril tersenyum dan kembali makan hingga piringnya kosong.
Zee cemberut melihatnya, "Kok kamu habisin?"
"Kan aku juga lapar," jawab Deril.
"Tapikan aku masih lapar," keluh Zee.
"Ya udah,aku ambilin lagi ya?" ucap Deril.
__ADS_1
"Makasih," jawab Zee yang terlihat senang.
Deril mengusap kepala Zee dan beranjak keluar kamar untuk kembali mengambil makanan.