Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Kesetiaan Deril


__ADS_3

Zee sedang berbaring dipelukan Deril.


"Aku masih gak nyangka Kania bisa selicik itu,dasar nenek sihir," ucap Zee sambil memainkan jari tangan Deril.


Deril mengusap lembut rambut Zee, "Sekarang aku sadar,dulu aku benar-benar bodoh pernah menjalin hubungan dengan wanita seperti Kania," ucap Deril.


Zee menatap wajah suaminya sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Deril.


"Dasar bodoh," ejek Zee.


Deril memencet hidung Zee.


"Au...sakit," keluh Zee sambil memegangi hidungnya.


Deril terkekeh melihatnya.


Ponsel Deril berbunyi,nama Kania tertera diponsel itu.


Deril malas untuk mengangkatnya.


"Ngapain sih dia telfon lagi?" tanya Zee.


"Udah biarin aja," ucap Deril sambil mendekati wajah istrinya itu.


Tapi ponsel terus mengeluarkan suara yang mengganggu.


Derilpun mematikan ponselnya dan melemparkannya kesofa.


Ia melanjutkan permainan panasnya bersama Zee malam ini.


Dilorong rumah sakit Kania menangis karena telfonnya sama sekali tidak diangkat oleh Deril.


Ia melihat kearah Luna yang sedang terbaring lemah.


"Ma...mama harus kuat ya ma," ucap Kania.


Kania duduk dan kembali mencoba menelfon Deril tapi Hp Deril justru mati.


"Akh..." teriak Kania histeris dengan air mata berderai.


Deril dan Zee bersiap untuk berangkat kekantor,mereka terkejut saat melihat Kania yang sudah berdiri dihalaman rumah Zee.


Deril dan Zee saling melihat dengan wajah bingung.


Kania menghampiri mereka, "Mama kritis,dia kena serangan jantung kemarin,"


Deril tertegun,begitupun Zee.


"Trus apa hubungannya sama aku?" tanya Deril.


Kania menghela nafas, "Mama mau ketemu sama kamu Ril,"


"Untuk apa?" tanya Deril.


"Selama ini mama pikir kita masih ada hubungan,jadi aku mohon temui mama sekali aja," pinta Kania dengan tulus.


"Maaf Kania,aku gak bisa,harusnya kamu jelasin kemama kamu tentang hubungan kita," Deril meraih tangan Zee dan mengajaknya segera pergi.


"Ril,aku tahu aku salah,kamu boleh benci sama aku,tapi tolong...," Kania menangis, "Tolong kali ini aja,aku mohon," Kania terjatuh sambil berlutut dibelakang Deril.


Deril masih diam,Zee mulai tidak tega pada Kania,apalagi ini menyangkut tentang sosok ibu yang sangat ia rindukan.


"Kita kesana ya?" ajak Zee.


Deril menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Plis...." ucap Zee memohon pada suaminya itu.


Deril menghela nafas panjang dan setuju untuk menemui mama Kania.


Dirumah sakit,Deril sedang berada diruang rawat Luna,Zee berdiri dibelakang Deril.


Kania mendekati wajah mamanya yang sudah setengah sadar itu, "Ma,ini Deril," bisik Kania ketelinga Luna.


"Deril," panggil Luna dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Deril mendekat dan memegang tangan Luna.


"Iya Tante,ini saya," ucap Deril.


Kania merasa sangat pilu melihat keadaan mamanya.


"Tolong,kamu jaga Kania ya,Tante udah gak kuat lagi,Tante hanya ingin Kania bahagia dengan pria seperti kamu," ucap Luna yang terlihat semakin lemah.


Deril tertegun,Zeepun hanya bisa diam.


"Kamu janji ya sama Tante," pinta Luna dengan nafas yang tersengal.


"Ma..." panggil Kania khawatir.


Deril melihat kearah Zee,Zee menunduk ia juga tidak tega melihat mama Kania,tapi disisi lain dia lebih tidak rela jika harus kehilangan Deril.


Deril melepaskan tangan Luna, "Maafin saya Tante,tapi saya tidak bisa,"


Jawaban Deril membuat Zee dan Kania terkejut.


"Kenapa?" tanya Luna.


"Saya sudah menikah,dan saya sangat mencintai istri saya," jawab Deril.


Luna terlihat sangat syok.


Zee menatap wajah suaminya itu dengan penuh rasa haru.


Lunapun langsung memegangi dadanya yang mulai sesak,semuanya menjadi panik.


Dokterpun segera masuk dan memeriksa kondisi Luna yang mulai kejang.


Kania sudah menangis histeris, "Mama..."


Zee memegang erat tangan Deril.


Luna akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Mama...." Kania menangis sambil memeluk tubuh Luna yang sudah lemas.


Zee memeluk erat suaminya,air matanya juga berderai melihat Luna yang begitu cepat pergi,Deril mengusap punggung Zee sambil memejamkan matanya.


Zee perlahan mendekati Kania yang masih menangis setelah jenazah Luna diurus.


"Sabar ya," ucap Zee sambil memegang pundak Kania.


Kania menatap tajam kearah Zee, "Ini semua salah kamu Zee,mama meninggal gara-gara kamu,kamu egois,kamu gak ngebiarin Deril berjanji kemama,kamu jahat.....!" teriak Kania.


Deril mendekati Zee ,"Kania cukup,mama kamu meninggal karena takdir,jadi kamu jangan nyalahin Zee," ucap Deril.


"Kenapa Ril,kenapa kamu tega sama mama,kenapa?" teriak Kania lagi dengan air mata yang terus mengalir.


"Maaf,tapi aku gak mau berbohong,apalagi disaat terakhir mama kamu," jawab Deril.


"Kalian emang jahat,aku gak akan maafin kalian dan aku janji akan bikin hidup kalian menderita," ucap Kania dan langsung beranjak pergi meniggalkan Deril dan Zee.


Zee masih diam,jika teringat saat mama Kania meninggal didepan matanya membuat dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Ia mulai terbayang masa kecil saat ia kehilangan ibunya.


"Kita pulang ya," ajak Deril.


Zee menganguk.merekapun segera pergi meninggalkan rumah sakit.


Zee masih melamun dipinggir kolam,Ia masih teringat tentang Kania.


Farhan menghampiri Zee dan duduk disampingnya.


"Kamu kenapa?" tanya Farhan.


"Gak papa kok pa," jawab Zee.


Farhan mengusap lembut kepala putrinya, "Papa tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu," ucap Farhan.


Zee memeluk papanya sambil menangis.


"aku kangen sama mama,pa," ucap Zee.


Farhan berusaha menenangkan putrinya itu, "Zee,anak papa yang super cantik,dan super bawel,masa jadi melow gini,kan gak seru,"


Zee masih diam dengan wajah sedih.


"Kamu gak lihat Thu suami kamu sampai sedih ngelihat kamu kaya gini," Farhan melirik kearah Deril yang sedang berdiri dibalik jendela.


Zee langsung menoleh kearah Deril,Derilpun segera membalikkan tubuhnya.


Zee mengerutkan keningnya.


"Dia sampai minta papa buat nemenin kamu,karena dia bingung bagaimana cara ngadepin anak papa yang biasanya bawel ini tapi sekarang lagi sedih,"


Zee mengulum senyum dan melirik kearah Deril.


"Udah,kamu jangan sedih-sedih lagi dan buat suami kamu bingung,mending kalian usaha buat bikin cucu," ucap Farhan menggoda Zee.


"Ih...papa," ucap Zee sambil cemberut.


Farhan tersenyum dan mengusap lembut kepala Zee.


Deril merasa lega melihat Zee yang sudah bisa tersenyum,karena semenjak pulang dari rumah sakit Zee terus murung,bahkan ia tidak merespon Deril sama sekali,hingga Deril menemui Farhan untuk bicara pada Zee.


Zee berbaring sambil meletakkan kepalanya dipaha Deril yang sedang duduk disofa.


"Aku masih gak nyangka,kamu lebih milih aku daripada harus membuat janji pada mamanya Kania," ucap Zee sambil menatap wajah suaminya itu.


Deril mengusap lembut rambut Zee, "Itulah sihir nya Zee,yang udah membuat Deril gak bisa berkutik," jawab Deril.


"Akukan bukan nenek sihir," ucap Zee sambil cemberut.


Deril tersenyum, "Maafin aku ya,"


"Untuk?" tanya Zee.


"Untuk sikap aku yang selalu menyakiti kamu,untuk perbuatan aku yang selalu membuat kamu terluka,untuk kata-kata aku yang terkadang menusuk hati kamu,maafin aku Zee," ucap Deril dengan sangat tulus.


Zee mengecup sekilas bibir Deril, "Kamu membuat aku semakin kuat dengan semua itu,"


"Terkadang aku berpikir,apakah kamu gak pernah merasakan sakit hati sama perbuatan aku yang sudah keterlaluan,kamu gak pernah tersinggung?" tanya Deril.


Zee berpikir, "Mungkin rasa sakit itu sudah tumpul sehingga aku tidak mempedulikannya lagi,"


"Karena terlalu sering ya?" tanya Deril.


Zee tersenyum, "mungkin,tapi yang penting sekarang kamu udah ada disamping aku,itu udah lebih dari cukup untuk mengobati segala rasa sakit aku," ucap Zee sambil mengusap pipi Deril.


Deril memegang tangan Zee dan menciumnya,"Makasih ya sayang,atas rasa cinta kamu yang begitu besar,"

__ADS_1


Zee tersenyum,mengangkat kepalanya dan memberikan ciuman manis kebibir suaminya.


__ADS_2