
Farah dan Adi terlihat sangat bahagia saat mendengar kabar kehamilan Zee.
Farah memeluk erat menantunya itu, "Selamat ya,kamu akhirnya akan jadi seorang ibu,"
Zee tersenyum , "Iya ma,"
"Papa bangga,akhirnya proyek pembuatan cucu sukses," Sindir Adi.
"Papa apaan sih," keluh Deril.
Semuanya terkekeh dan terlihat bahagia.
"Mama bilang juga apa,kamu pasti cepet hamil karena minum jamu dari mama," ucap Farah.
Zee dan Deril saling melihat.
"Mana ada,orang jamunya udah Deril buang," ucap Deril.
Farah menatap Deril, "Kok dibuang?"
"Ma,kalo kebanyakan jamu Deril sama Zee bukannya punya anak tapi malah keracunan," ucap Deril.
Farah memukul pundak putranya itu, "Kamu neh.."
"Udah-udah ma,yang pentingkan Zee sekarang udah hamil," ucap Adi.
"Bener juga,uh...mama seneng banget,gak sabar pengen gendong cucu," Farah terlihat bahagia sembari mengelus perut Zee yang masih rata.
Zee dan Deril tersenyum bahagia melihat keluarga yang antusias menyambut kabar kehamilan Zee.
Deril dan Zee dalam perjalanan pulang.
"Kita cari makan dulu ya?" ajak Deril.
Zee menganguk.
"Kamu mau makan apa?" tanya Deril.
Zee berpikir, "Ehm...Chiken aja deh," jawab Zee.
Derilpun mencari restoran yang menjual makanan pesanan istrinya.
Merekapun berhenti didepan sebuah restoran yang cukup mewah.
Saat masuk kedalam,Deril dan Zee justru bertemu dengan Yoga yang sedang makan bersama Kania.
Awalnya mereka ingin menghindar tapi Yoga justru menyapa.
"Pak Deril," Sapa Yoga.
"Hai.." jawab Deril.
Kania menatap tajam kearah Zee.
"Lagi mau makan siang juga?" tanya Yoga.
"Iya," jawab Deril.
"Yuk gabung aja," ajak Yoga.
Deril dan Zee saling melihat,Zee menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak usah,kita cari tempat duduk lain aja," jawab Deril.
"Oh..ya sudah kalo begitu," ucap Yoga.
"Huk, " Zee menutup mulutnya.
Deril terlihat cemas, "Kamu mual lagi?"
"Gak papa kok," jawab Zee.
"Istri anda sedang kurang enak badan?" tanya Yoga.
Zee melihat kearah Kania, "Kebetulan saya sedang hamil," ucap Zee dengan nada keras agar Kania mendengarnya.
Kania tersentak dan langsung menatap kearah Zee.
"Oh..selamat ya?" ucap Yoga.
"Makasih," jawab Deril.
Derilpun mengajak Zee duduk ditempat yang agak jauh dari Yoga dan Kania.lalu mereka memesan makanan.
__ADS_1
Kania terlihat sangat panas mendengar kabar kehamilan Zee, "Zee hamil?kok bisa?" batin Kania.
"Kamu kenapa?" tanya Yoga yang melihat Kania gelisah.
"Gak papa kok," jawab Kania.
Kania terlihat sedang memikirkan sesuatu yang licik dikepalanya.
Zee pergi ketoilet untuk pipis,setelah itu dia mencuci tangan.
Tidak disangka Kania menghampirinya.
"Selamat ya atas kehamilan Lo," ucap Kania.
Zee tersenyum, "Makasih,"
Kania tersenyum, "Tapi,apa Lo yakin kalo anak yang Lo kandung anaknya Deril?"
Zee langsung berhenti mencuci tangannya dan menatap kearah Kania, "Maksud Lo?"
Kania menyunggingkan bibirnya dan mendekati wajah Zee, "Gue tahu Lo mengalami pelecehan pas penculikan itu," bisik Kania.
Deg..
Tubuh Zee tiba-tiba lemas dan gemetar,wajahnya terlihat cemas dan gelisah.
"Bisa ajakan itu bukan anaknya Deril,tapi anak lelaki itu," ucap Kania.
"Darimana Lo tahu soal semua ini?" tanya Zee dengan tatapan tajam.
Kania tersenyum, "Itu gak penting,tapi kalo terbukti Lo bukan hamil anaknya Deril,siap-siap aja,Deril pasti bakalan ninggalin Lo,"
Zee terdiam dengan wajahnya yang mulai pucat.
"Sehat-sehat terus ya bumil," Kania melenggang keluar meninggalkan Zee.
Zee terlihat bingung.
"Gue udah dapetin apa yang gue mau,"
Kata-kata itu kembali menggema ditelinga Zee,Zeepun menutup telinga sambil menggelengkan kepalanya.
"Gak...gak mungkin," Zee mengusap perutnya yang masih rata dengan wajah penuh ketakutan.
"Tapi kamu belum selesai makan," ucap Deril.
"Aku mau pulang sekarang," pekik Zee.
Deril merasa ada yang aneh pad istrinya, "Ya udah,ayo,"
Mereka segera pergi meninggalkan restoran.
Kania memperhatikan mereka dari jauh, "Thank you Rico,ternyata ide Lo masih berguna," Kania tersenyum melihat Zee yang terlihat begitu ketakutan.
Zee hanya diam saat berada didalam mobil,Ia *******-***** jari-jarinya,nampak wajahnya yang begitu gelisah.
"Kamu kenapa sih,hah" Deril memegang tangan Zee sambil mengemudi.
Zee tetap diam,pikirannya kembali kacau seperti saat itu.
Sampai dirumah Zee langsung berlari menuju kekamarnya,Deril benar-benar merasa bingung dengan sikap Zee yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba berubah.
"Apa bawaan hamil ya?" gumam Deril.
Derilpun menyusul istrinya kekamar.
Zee duduk dilantai dan menyandarkan punggungnya ketepi ranjang,ia memeluk kedua lututnya yang terangkat dan mulai menangis.
Kata-kata Rico dan juga Kania terus menggema ditelinganya.
Deril akan masuk kamar tapi pintunya terkunci dari dalam,ia merasa heran tidak biasanya Zee mengunci pintu kamar.
"Zee..." Deril mengetuk pintu itu, "Kamu ngapain sih,kenapa pintunya dikunci segala?"
"Zee..." panggil Deril lagi karena tidak ada respon.
Zee menarik nafas berusaha menenangkan dirinya,Ia segera menghapus air matanya dan berdiri kearah pintu lalu membukanya.
Deril melihat Zee "Kamu lagi ngapain sih?kenapa pintunya dikunci?"
"Gak papa," Zee menuju keranjang dan membaringkan tubuhnya.
Deril mengerutkan keningnya,Ia yakin terjadi sesuatu pada istrinya,Deril mendekati Zee.
__ADS_1
"Zee...ada apa?" tanya Deril.
"Aku capek,mau tidur," jawab Zee tanpa melihat suaminya.
Deril menghela nafas, "Ya udah,kamu tidur ya,aku kebawah bentar," ucap Deril mengusap rambut istrinya lalu beranjak keluar kamar.
Zee kembali menangis,dadanya terasa sesak karena sikapnya yang dingin kepada Deril,tapi Zee benar-benar masih bingung dengan pikirannya yang kalang kabut.
Deril duduk dipinggir kolam,Ia mencari artikel tentang orang hamil disosmed.
Ia merasa jika sikap Zee yang aneh mungkin karena Zee sedang mengandung.
Malam harinya Zee berbaring memunggungi Deril,biasanya Zee selalu tidur dipelukan suaminya.
Deril memaklumi sikap Zee yang ia pikir bawaan hamil,Iapun memeluk Zee dari belakang dan mencium pundak Zee.
"Kamu kenapa sih?hah?" tanya Deril yang tahu betul jika istrinya belum tidur.
"Gak papa," jawab Zee dengan mata yang masih terpejam.
"Bener gak papa?" tanya Deril lagi.
"Ehm..." jawab Zee lagi.
Derilpun tidak mendesak Zee lagi dan membiarkannya beristirahat.
Siang itu Deril datang kekantor Yoga untuk menyerahkan keputusan yang sudah dibuat oleh Adi,Adi menyetujui kerja sama mereka.
Yoga terlihat sangat senang, "Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami," Yoga mengulurkan tangannya.
Deril menyambutnya dengan senang, "Sama-sama,semoga kerjasama ini dapat berlangsung dengan baik,"
Keduanya terlihat begitu akrab walau belum lama saling mengenal.
"Kalo begitu saya permisi dulu,karena masih banyak pekerjaan dikantor," ucap Deril.
"Oh..baik,silakan" jawab Yoga.
Derilpun beranjak pergi,Deril menaiki lift menuju kelantai dasar,tapi Kania justru masuk sebelum lift sampai dilantai dasar.
Deril awalnya ingin keluar karena tidak mau satu lift hanya berdua dengan kania.tapi Kani menahan tangan Deril hingga liftpun tertutup.
Deril menghempaskan tangan Kania, "Apaan sih?" tatap tajam Deril.
"Kenapa sih Ril,kita emang udah gak ada hubungan apapun,tapi kamu gak perlukan ngehindarin aku," ucap Kania.
Deril hanya diam dan berharap jika lift akan segera terbuka.
"Selamat ya atas kehamilan Zee," ucap Kania.
Deril diam tak menjawab.
Kania nyengir, "Pasti kalian bahagia banget,tapi...apa kamu yakin itu anak kamu?" ucap Kania mulai memancing Deril.
Deril langsung menatap kearah Kania.
"Aku tahu kok pelecehan yang dialami Zee waktu dia diculik,bisa jadikan itu bukan anak kamu tapi anak penculik itu," ucap Kania.
Deril mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya yang sudah diubun-ubun mendengar ucapan Kania.
"Apa kamu juga ngomong ini keZee kemarin?" tanya Deril yang teringat bahwa setelah mereka bertemu diRestoran sikap Zee langsung berubah.
"Iya,aku yang ngomong sama dia,biar dia sadar,dia gak pantes buat kamu," ucap Kania.
Deril mencengkeram pundak Kania dengan tatapannya yang terlihat sangat marah.
"Berhenti mencampuri urusan rumah tangga aku,sebelum aku berbuat kasar sama kamu," Deril melepaskan pundak Kania dengan kasar,lift terbuka dan Derilpun langsung beranjak pergi.
Kania masih sedikit terkejut melihat sikap Deril yang begitu kasar padanya.
Dalam perjalanan,Deril mencoba menghubungi Zee tapi tidak diangkat.Iapun menelfon Farhan.
"Halo Ril,ada apa?" tanya Farhan.
"Zee lagi sama papa ya?" tanya Deril.
"Enggak,tadi katanya dia mau ketemu sama Ririn," jawab Farhan.
"Dimana?" tanya Deril lagi.
"Biasanya sih mereka nongkrong dikafe Almara,emang ada apa Ril," tanya Farhan merasa curiga mendengar suara Deril yang terlihat cemas.
"Gak papa kok pa,aku cuma mau jemput Zee aja," jawab Deril lalu menutup telefon dan melajukan mobilnya menuju kekafe Almara.
__ADS_1