
Seusai janji,padahal gak berjanji,Deril mengajak Zee keShowroom mobil untuk melihat-lihat.Banyak mobil mewah dan juga keren yang terpajang disana.
Zee terlihat bingung harus membeli mobil yang mana.
"Udah pilih aja satu,cepet,aku banyak kerjaan dikantor," ucap Deril yang sudah mulai lelah melihat istrinya yang sedari tadi mondar mandir.
Zee diam dengan wajah cemberut.
"Kok malah diam?" tanya Deril.
"Gak jadi ah beli mobilnya," ucap Zee.
Deril menatap kearah Zee, "Trus kamu mondar mandir dari tadi hampir satu jam ngapain?"
"Yakan aku lagi milih,tapi aku gak ada yang suka," ucap Zee.
Deril menghela nafas sambil memijat pelipisnya yang pusing.
"Trus kamu maunya apa?" tanya Deril.
Zee diam dan berpikir.
Deril dan Zee makan kerak telur dipinggir jalan.
"Kalo ini sih,aku beli segerobaknya juga bisa" ucap Deril.
Zee menatap suaminya, "kamu mau beli segerobaknya?"
"Kamu mau? sama abang-abangnya kalo perlu," sindir Deril.
Zee mengerucutkan mulutnya lalu kembali makan,Deril terkekeh lalu mengusap kepala Zee yang sedari pagi membuatnya pusing.
Kania keruangan Yoga untuk mengantarkan berkas.
"Ini laporan proyek pembangunan hotel, pak" ucap Kania.
Yoga memeriksanya dengan teliti.
Sejak penolakan Kania kemarin sikap Yoga sedikit berubah menjadi dingin,dia bahkan tidak menyapa Kania saat diluar jam kerja,dan hubungan mereka murni sebatas bos dan karyawan.
"Ok,untuk meting besok ke 'Adi company' kamu siapkan berkasnya hari ini juga," ucap Yoga.
"Baik pak," jawab Kania yang langsung beranjak pergi dari ruangan Yoga.
Yoga masih terlihat menaruh hati pada Kania,tapi dia tidak ingin memaksakan kehendaknya dan akan berusaha agar bisa melupakan Kania.
Deril sedang berada diruangannya dan memeriksa berkas yang sudah ada dimeja.
Andre masuk dan menghampirinya, "Laporan kemarin sudah saya kirim ke email anda pak,"
"Baik,nanti saya periksa," ucap Deril.
"Oya,apa hari ini saya boleh pulang cepet pak?" tanya Andre.
Deril melihat kearah Andre, "Kenapa?"
"Semalam istri saya melahirkan pak jadi masih banyak yang perlu diurus," ucap Andre.
"Kamu udah punya anak?" Tanya Deril yang dari awal mengira jika Andre masih lajang karena tampangnya yang masih sangat muda.
"Sudah pak,ini anak saya yang ketiga," jawab Deril.
Deril tertegun mendengar jawaban Andre, "Harusnya kamu ambil cuti,ya udah sana pulang,nanti biar saya urus," ucap Deril.
"Baik pak,terimakasih," ucap Andre lalu bergegas pergi.
Deril nyengir, "Gue pikir masih lajang,ternyata anaknya udah tiga,Zee Nemu dimana sih?" gumam Deril sambil menggelengkan kepalanya.Zee yang memasukkan Andre keperusahaan untuk menggantikan posisinya sebagai sekertaris Deril.
Deril sama sekali tidak tahu asal usul Andre,yang dia tahu Andre bisa bekerja dengan baik.
Zee sedang diRestoran,ia bukannya bekerja tapi berada diruangan Farhan sambil bermain ponsel,Zee melihat barang-barang mewah seperti tas,sepatu dan acesoris lainnya.
"Wah,bagus banget,aku harus minta ini keDeril," gumam Zee.
"Kamu ngapain sih?hah?" tanya Farhan yang sedari tadi melihat putrinya tidak bergerak dari tempat itu.
"Gak papa kok pa,cuma lihatin barang-barang," jawab Zee yang tidak mengalihkan pandangan dari gawai ditangannya.
"Kenapa?kamu mau ngidam beli barang-barang lagi?," sindir Farhan.
Zee mengerucutkan mulutnya, "Pa,aku itu lagi mau buktiin,sebesar apa cinta Deril keaku," ucap Zee.
Farhan menatap kearah Zee, "Zee,apa masih perlu bukti sebesar apa Cinta Deril kekamu?"
__ADS_1
Zee terdiam,ia meletakkan ponselnya dan berpikir.
"Kamu gak perlu membuktikan semua itu Zee,karena selama ini yang dilakukan Deril kekamu sudah menjadi bukti nyata kalo dia sangat mencintai kamu," ucap Farhan.
Zee mulai terharu jika mengingat tentang Deril yang begitu setia mendampinginya.
"Apa masih kurang?" tanya Farhan, "Udahdeh,kamu gak usah aneh-aneh dan nyusahin suami kamu,"
Zee beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" tanya Farhan.
"Nemuin Deril,kangen," jawab Zee lalu melanjutkan langkahnya.
Farhan hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
Sebelum pergi,Zee kedapur untuk mengambil makanan dan membawanya kekantor.
Zee sampai dikantor dan langsung masuk keruangan suaminya.
Deril sedikit terkejut melihat kedatangan Zee yang tiba-tiba.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Deril.
Zee meletakkan makanannya dimeja,ia mendekat kearah suaminya,menarik tubuh suaminya agar berdiri lalu memeluk erat tubuhnya.
Deril benar-benar bingung dengan sikap istrinya itu.
"Maafin aku ya,udah nyusahin kamu," ucap Zee.
"Kamu ngomong apa sih,kamu gak pernah nyusahin aku kok," jawab Deril.
Zee menatap wajah suaminya,tanpa melepaskan pelukannya.
Deril mengerutkan keningnya, "Kamu kenapa sih,aneh banget,mau minta sesuatu lagi?"
Zee menganggukkan kepalanya.
"Apa?" tanya Deril sambil menempelkan dahinya kedahi Zee.
"Cium," jawab Zee yang memajukan bibirnya.
Deril tersenyum dan mendekati bibir istrinya itu.
Deril dan Zee terperanjat dan langsung menjauhkan tubuh mereka dengan wajah merona.
Adipun terdiam saat melihat Deril dan juga Zee yang salah tingkah.
"Oh,kamu disini Zee?" tanya Adi berusaha mencairkan suasana.
"Iya pa," jawab Zee dengan wajahnya yang masih merona.
"Ada apa pa?" tanya Deril.
"Gak,tadi papa mau suruh kamu buat nganterin berkas ini,tapi papa bisa sendiri,silakan dilanjutkan," ucap Adi yang beranjak pergi.
Deril dan Zee saling melihat dan ingin mendekat.
Adi berbalik, "Satu lagi,.."
"Apalagi sih pa?" tanya Deril yang mulai kesal.
"Kunci pintunya," ucap Adi lalu kali ini dia benar-benar pergi.
Deril dan Zee terkekeh,Derilpun mengunci pintu ruangannya dan kembali mendekati istrinya.
"Sini sayang," Deril mendekap erat tubuh Zee.
Merekapun berciuman panas setelah sempat tertunda.Deril melepas kancing baju Zee.
Zee menahannya, "Inikan dikantor," ucap Zee.
"Apa masalahnya,kan pintunya udah dikunci," ucap Deril lalu mencium leher jenjang istrinya itu.
"Melanggar peraturan," sindir Zee.
Deril mendekati wajah Zee, "Siapa yang peduli," Ia kembali mencium bibir istrinya.
Hari berganti.
Pagi itu,Reva sudah bersiap didepan menunggu seseorang.
Adi akan berangkat kekantor, "Kamu nungguin siapa sih?kok belum berangkat,nanti kamu telat lho," ucap Adi.
__ADS_1
"Pa,kaki akukan masih sakit,aku nungguin orang yang mau nganterin aku kesekolah," jawab Reva.
"Siapa?" tanya Adi curiga.
"Udah papa gak perlu tahu,udah sana berangkat," pinta Reva.
"Awas jangan macem-macem,kamu masih sekolah," ucap Adi memperingatkan.
"Reva tahu.." jawab Reva.
Adipun segera berangkat menggunakan mobilnya,saat didepan ia berpapasan dengan mobil Yoga.
Adi mengerutkan keningnya tapi tidak mengenali Yoga karena kurang jelas.
Reva terlihat senang melihat mobil Yoga,Yogapun turun dan tersenyum menghampiri Reva.
"Yuk,berangkat," ajak Yoga.
Reva tersenyum dan dengan semangat melangkah menuju kemobil Yoga.
Yoga menaikkan alisnya melihat kaki Reva yang sudah tidak sakit.
"Kakinya udah sembuh?" tanya Yoga.
Reva tertegun,ia lupa. "Akh..." Reva memegangi kakinya, "Masih sedikit sakit," jawab Reva dengan wajah merona karena malu.
Yoga menyunggingkan bibirnya dan segera masuk kedalam mobil.
Revapun masuk,dan mereka segera berangkat.
"Umur kakak berapa?" tanya Reva saat sedang dalam perjalanan.
"Kenapa?" tanya Yoga.
"Gak papa,nanya aja,aku juga punya kakak cowok lho,mungkin seumuran kakak,tapi dia udah nikah," ucap Reva.
"Oh..."
Reva melihat kearah Yoga, "Kakak belum nikahkan?" tanya Reva.
"Belum," jawab Yoga.
"Udah punya pacar?" tanya Reva lagi.
Yoga tersenyum mendengar pertanyaan gadis kecil ini, "Belum..."
Wajah Reva langsung berbinar ,"Yes," bisik Reva.
"Kenapa?kamu mau cariin pacar?" tanya Yoga.
"Emang kakak suka cewek yang kaya gimana?" tanya Reva.
"Yang penting pintar dan juga cantik," jawab Yoga.
"Kaya aku dong," ucap Reva dengan PDnya.
Yoga terkekeh dan mengusap kepala Reva yang sudah ia anggap seperti adiknya.
Reva merasa senang dengan perlakuan Yoga kepadanya.
"Akh...aku gak mau bubur yang ini,aku maunya bubur kacang hijau," Zee meletakkan bubur ayam itu keatas meja dengan wajah cemberut.
"Zee,tadi aku udah keliling adanya cuma bubur ini,udah ya,kamu makan aja," ucap Deril.
"Gak mau," jawab Zee.
"Zee,aku harus kekantor,ada Meting,nanti deh aku beliin pas pulang kantor ya," bujuk Deril.
Zee diam dengan wajah yang masih cemberut.
Farhan menghampiri mereka, "Zee,jangan nyusahin suami kamu ah," Farhan duduk untuk sarapan.
"Ya udah,tapi janji harus dapat buburnya," ucap Zee.
"Iya," Deril mengusap lembut kepala istrinya.
Zee tersenyum dan mengecup bibir Deril didepan Farhan.
"Zee,kan ada papa," Deril merasa malu.
"Emang kenapa,gak papakan pa?" tanya Zee.
"Hem..." jawab Farhan.
__ADS_1
Deril menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,tidak habis pikir dengan sikap istrinya yang semakin hari semakin manja.