Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Dukungan Suami


__ADS_3

Deril Manarik tangan Zee masuk keruangannya,dan mengunci pintunya.


"Zee...kok bisa sih kamu nerima tawaran papa,hah,ya ampun Zee," Deril terlihat tidak percaya dengan keputusan istrinya itu.


Zee memasang wajah cemberut,sebegitu tidak inginnya Deril bekerja bersama dengannya.


"Kenapa?kamu meragukan kemampuan aku?" ucap Zee.


Deril menatap Zee, "Emang kamu yakin Sama kemampuan kamu?"


Zee terdiam dan menelan Salivanya.


"Zee,kita harus berpikir kritis,ini menyangkut pekerjaan,bukannya apa-apa,tapi jujur Kania jauh lebih mampu daripada kamu soal ini," ucap Deril.


"Terus aja belain dia,bukannya bela istrinya juga,kamu senengkan bisa kerja terus sama Kania,setiap hari ketemu sama dia,makanya kamu marah kalo aku kerja disini,karena aku bakalan ngawasin kamu terus," ucap Zee.


Deril tidak habis pikir dengan Zee yang masih bisa cemburu disituasi seperti ini, "Zee...tolong buka pikiran kamu,ini bukan soal Kita atau Kania,tapi ini soal perusahaan,"


"Aku gak peduli,pokoknya aku mau kerja disini,aku mau menghabiskan waktu sama suami aku setiap hari,satu lagi,aku bakalan minta papa buat pindahin ruangan aku kesini,biar kita bisa sama-sama terus," ucap Zee dengan santainya.


Deril menatap tajam kearah Zee, "Terserah," Deril duduk dikursi sambil memijat pelipisnya yang sudah dibuat pusing oleh Zee.


Zee hanya mengerucutkan mulutnya.Ia tahu Deril marah dan kecewa,tapi Zee sudah bertekad,ia akan berusaha dengan keras agar Deril bisa bangga nantinya.


Deril paling tidak suka jika masalah pekerjaan bercampur dengan masalah pribadi,Ia selalu berusaha profesional jika itu menyangkut pekerjaan,tapi keputusan Adi benar-benar membuat Adi merasa kecewa,karena secara tidak langsung ia akan membawa urusan pribadinya keperusahaan.


Deril dan Zee sampai dirumah,Deril masih terlihat kesal dan langsung masuk kekamar.


Zee menghela nafas,iapun menyusul Deril kekamar mereka.


Deril langsung mandi dan ganti baju,lalu sibuk dengan ponselnya sambil berbaring diranjang.


Zee selesai mandi dan keluar untuk menyiapkan makan malam.


Saat sedang makan malam,suasana begitu hening,tidak ada celotehan Zee yang biasanya meramaikan suasana.


Farhan merasa heran dengan sikap anak dan menantunya yang sedari tadi hanya diam sambil makan.


"Zee,kamu jadi bekerja dikantor mertua kamu?" tanya Farhan.


Deril dan Zee langsung mengangkat wajah melihat kearah Farhan yang memecah keheningan.


"Papa udah tahu?" tanya Zee.


"Yah,kemarin Papa Deril ngebahas soal ini kepapa,awalnya papa gak setuju,karena papa tahu kemampuan kamu,tapi mertua kamu kekeh mau kamu bekerja disana," ucap Farhan.


Deril hanya diam dan kembali makan.


Zee menatap kearah suaminya itu.


Farhan tahu sedang terjadi konflik antara Deril dan juga Zee,tapi Farhan tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan mereka.


"Kalau kamu memang mau bekerja disana,bekerjalah dengan serius,jangan main-main,dan jangan buat Deril malu," ucap Farhan menasehati.


Deril hanya tersenyum tipis saat Farhan menyebut namanya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha pa," jawab Zee.


Deril langsung tidur setelah makan malam,amarahnya seperti belum reda.


Zee berbaring disamping Deril yang membelakanginya.


"Harusnya kalo istri mau maju didukung,bukannya didiemin kaya gini," ucap Zee sambil memainkan jari-jari tangannya.


Deril membuka matanya mendengar ucapan Zee.


"Kan aku lagi berusaha,siapa tahu aku bisa ,nanti kalo emang gak sanggup aku juga keluar sendiri,tapi suami aku sama sekali gak mau ngedukung aku,bahkan dia sangat meragukan kemampuan aku," ucap Zee lagi.


Deril menghela nafas dan berbalik menatap kearah Zee.


Zee tersenyum karena berhasil memancing Deril.


"Zee,kamu masuk kekantor bukan karena kamu ingin bekerja,tapi karena kamu cemburukan sama Kania,itu yang aku gak suka,kamu gak pernah serius sama pekerjaan kamu Zee,kamu lebih mementingkan Ego kamu," ucap Deril.


Zee menatap kearah Deril,memang benar semua ucapan Deril, "Aku serius kok,asal kamu dukung aku,aku akan berusaha," ucap Zee dengan yakin.


"Ok...sebulan,kalo dalam waktu sebulan kamu gak ada perubahan,tolong jangan maksain diri," ucap Deril.


Zee menganguk dengan semangat, "Ok,kalo dalam waktu sebulan aku gak bisa,aku sendiri yang akan minta papa buat keluarin aku dari perusahaan," ucap Zee.


Deril tersenyum sambil mengusap rambut istrinya itu.


Zee merasa lega akhirnya Deril sudah tidak marah lagi.


Deril mendekati bibir Zee dan merekapun berciuman,saat Deril akan membuka baju Zee,Zee menahannya.


"Kenapa?" tanya Deril.


Deril menghela nafas,karena hasratnya harus tertunda.


"Maaf ya," ucap Zee.


"itukan bukan salah kamu,ya udah yuk tidur," Deril mengecup kening Zee.


Zee tersenyum dan memeluk suaminya itu hingga akhirnya mereka terlelap.


Deril sedang sarapan dibawah bersama Farhan sambil bercengkerama.


Farhan senang karena sikap Deril sudah tidak sedingin semalam.


Zee turun dengan pakaian rapi ala sekertaris kantoran.


"Tara..." Zee berpose didepan suami dan papanya. "Cocok gak?"


"Enggak..." jawab Deril dan Farhan bersamaan membuat mereka saling melihat dan terkekeh.


Zee merasa kesal melihat kekompakan papa dan suaminya itu dalam membulinya.


Zee berjalan dan duduk disamping Deril,lalu mengambil roti untuk sarapan.


"Zee..ingat jangan nyusahin Deril dan jangan malu-maluin dia," ucap Farhan.

__ADS_1


"Iya pa," jawab Zee.


"Papa tenang aja,kalo Zee nakal aku tinggal jitak kepalanya," ucap Deril.


"Hem,papa setuju," jawab Farhan lalu mereka terkekeh.


Zee kesal dan memenuhi mulutnya dengan roti ditangannya.


Zee berjalan mengikuti Deril menuju keruangannya,banyak karyawan yang memperhatikan Zee.tak sedikit dari mereka yang menggunjing jika Zee adalah wanita bodoh yang bisa masuk keperusahaan karena campur tangan Adi,bahkan berita tentang Zee yang tidak luluspun sudah menyebar keseluruh penjuru kantor.


Deril sama sekali tidak mempedulikan hal itu,yang terpenting baginya adalah Zee mau berusaha.


Sesampainya diruangan,Deril dan Zee tertegun melihat ruangan yang sudah direnovasi.


Benar saja,ruangan Deril dan Zee menjadi satu dengan meja kerja mereka yang saling berdampingan,serta sofa dan yang tertata rapi disudut ruangan.


"Papa emang yang terbaik," gumam Zee.


Deril menatap wajah Zee, "Sekarang setiap hari,setiap jam,setiap menit,setiap detik,kamu bisa memandangi wajah suami kamu yang tampan ini,puas?" sindir Deril.


Zee mengerucutkan mulutnya.


"Ingat,waktu kerja jangan pernah ngebahas urusan pribadi,dandikantor kita gak ada hubungan apapun selain hubungan kerja," ucap Deril dengan tegas.


"Siap bos," jawab Zee dengan semangat.


Merekapun menuju kekursi masing-masing.


"Kamu pelajari dulu tentang perusahaan ini dilaptop,kamu baca detailnya,dihafalin kalo perlu," ucap Deril.


"Okey,.." jawab Zee sambil membuka laptop yang sudah tersedia dimeja kerjanya.


Zee sangat bersemangat sampai beberapa waktu.


Tapi itu tidak berlangsung lama,Zee meletakkan kepalanya diatas meja.


"Capek,pusing," gumam Zee.


Deril hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya itu,Iapun harus menghendel semua pekerjaannya sendiri hari ini.


"Zee," panggil Deril.


Zee langsung mengangkat kepalanya dan berjalan kearah Deril.


"Iya Ril," jawab Zee.


"Panggil saya pak,ini kantor," ucap Deril.


Zee memanyunkan bibirnya, "Iya pak,"


Deril menahan tawanya, "Anterin ini keruangan papa,dan minta dia buat tanda tangan,"


"Kok panggilnya papa ? kan ini dikantor," sindir Zee.


Deril menatap sinis istrinya itu.

__ADS_1


"Baik pak," Zee mengambil berkas itu dan segera beranjak pergi.


Deril menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri mengingat tingkah istrinya itu.


__ADS_2