
"Zee," panggil Deril sambil mengusap Surai rambut istrinya yang berbaring sambil memeluk tubuhnya.
Masih terlihat kepedihan diraut wajah keduanya.
"Hem?" hanya jawaban itu yang Zee mampu ucapkan,ia menengadah menatap wajah suaminya.
"Gimana keadaan Reva?" tanya Deril sambil mengusap pipi Zee dengan ibu jarinya.
Zee kembali menanamkan wajahnya kedada bidang suaminya, "Dia pasti akan baik-baik aja,dia gadis yang kuatkan,kaya aku," jawab Zee sedikit bercanda agar suasana pedih itu segera menghilang.
Deril tertegun, "Apa ini karma buat aku ya Zee,yang dulu selalu menyakiti hati kamu,dan sekarang adik aku harus merasakan hal yang sama," ucap Deril membuat Zee langsung bangun dan menatap wajah suaminya itu.
"Kamu ngomong apa sih,bisa-bisanya kamu mikir kaya gitu," ucap Zee yang terlihat kesal dengan ucapan Deril yang mengada-ada.
"Aku sedih ngelihat Reva seperti itu,dia masih terlalu muda untuk mengalami semua ini Zee," ucap Deril dengan kekhawatiran yang sangat nampak diwajahnya.
"Kita semua sedih,tapi apa gunanya,itu justru akan membuat Reva semakin tertekan,harusnya kita memberikan dia semangat agar dia bisa melupakan semuanya dan melanjutkan hidupnya kembali,itukan yang terpenting," ucap Zee lalu kembali berbaring kepelukan suaminya.
Deril tersenyum, "Kamu bener Zee,Reva emang harus melupakan semua ini,dan menjadikannya pengalaman yang akan membuatnya menjadi lebih kuat lagi,"
Zee menganguk dan mulai memejamkan matanya.
"Zee,kamu udah tidur?" tanya Deril yang merasa kepala Zee terasa semakin berat didadanya.
Zee diam tak menjawab karena ia benar sudah terlelap,Derilpun memejamkan mata dan menyusul Zee kealam mimpi.
Satu bulan berlalu
Tanggal pertunangan Yoga dan Alena sudah ditentukan,bahkan undanganpun sudah dicetak.
Tapi Yoga masih sibuk dikantornya,ia menyerahkan semua urusan itu pada Siska dan hanya terima beres,perusahaannya pun mulai stabil kembali.
Kali ini dia baru saja meting bersama Adi dan juga Deril membahas proyek terbaru yang akan mereka kerjakan bersama.
Seusai meting mereka sedikit berbincang,yah meskipun sempat terlibat masalah tapi mereka sudah tidak ingin membahas tentang itu dan memilih lebih fokus pada perusahaan.
"Oya,ini undangan pertunangan saya dengan Alena," ucap Yoga sembari meletakkan undangan itu keatas meja,Yoga sebenarnya sungkan harus mengundang mereka tetapi sebagai rekan kerja akan sangat tidak sopan jika Yoga tidak mengundang,jadi serba salahkan.
Adi dan Deril saling menatap dengan wajah kikuk.
"Nanti Deril dan istrinya pasti datang," ucap Adi yang membuat Deril langsung melotot kearah papanya,Adi mengedipkan mata memberi kode pada Deril.
"Iya,aku usahain datang ya," ucap Deril.
"Makasih," ucap Yoga meskipun setelah kejadian Reva membuatnya sedikit canggung pada Deril dan juga Adi.
Revapun mulai bangkit dan lebih fokus pada pendidikannya bahkan ia sudah mengikuti seleksi untuk bisa kuliah diluar negeri seperti kakaknya,namun terkadang ia masih teringat pada Yoga,sangat sulit melupakan pria yang pernah mengisi hatinya itu.
Siang itu seusai membeli buku,ia berhenti untuk membeli ice cream.
"Satu ya pak," pesan Reva.
"Rasa apa neng?" tanya penjual itu.
"Vanila," jawab Yoga yang langsung membuat wajah Reva menatap kearah pria yang sudah berdiri disampingnya tanpa ia sadari.
"Kak Yoga,"
Yoga tersenyum menatap wajah Reva, "Masih suka vanilakan?"
__ADS_1
Reva menganguk sambil tersenyum pada Yoga.
Keduanya duduk setelah Reva mendapatkan ice cream pesanannya.
"Gimana kabar kamu?" tanya Yoga.
"Baik," jawab Reva sambil memakan ice creamnya.
"Kak Yoga ngapain kesini,kangen ya sama aku?atau kak Yoga belum bisa move on kan dari aku?" ucap Reva sengaja menggoda Yoga.
Yoga menatap sayu wajah gadis didepannya itu, "Bener semua Reva,"
Reva berhenti memakan ice creamnya dan langsung menatap kearah Yoga,keduanya saling melihat dan duka itu mulai singgah kembali.
Yoga segera mengalihkan pandangannya agar tidak terbawa suasana,Revapun menjadi salah tingkah dan segera kembali memakan ice cream ditangannya.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Yoga agar tidak semakin canggung dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Baik,aku udah daftar lho ke universitas Australia tempat kak Deril kuliah dulu," jawab Reva.
"Bagus dong,kamu harus raih semua mimpi-mimpi kamu," ucap Yoga sembari mengusap kepala Reva.
"Oya,kakak gimana,jadi dijodohin sama Alena,aku mau dong datang kepernikahan kalian sebelum berangkat keAustralia," ucap Reva yang sebenarnya hanya basa basi,mana mungkin dia sanggup melihat Yoga bersanding dengan wanita lain.
Yoga terdiam sejenak, "Sebenarnya Minggu depan aku tunangan sama Alena," ucap Yoga.
Deg...
Leher Reva seperti tercekik hingga ice cream yang masuk kemulutnya tidak bisa tertelan,dadanya mulai terasa sesak dan membuat matanya berair,Reva langsung memalingkan wajahnya,tidak ingin Yoga melihat kekecewaan yang tidak bisa Reva sembunyikan.
Reva sedang berperang dengan dirinya sendiri untuk menahan agar air matanya tidak jatuh dihadapan Yoga.
"Oh,selamat ya kak," ucap Reva dengan suara yang terdengar gemetar.
"Kalo gitu aku pulang dulu ya,soalnya udah ditunggu sama mama," ucap Reva yang langsung berdiri karena sudah tidak tahan dengan perasaannya yang hampir meledak.
"Aku anterin ya," tanya Yoga.
"Gak usah,aku udah pesan taxi,bye..." Reva buru-buru pergi dari hadapan Yoga.
Yoga kembali duduk,ia memejamkan matanya dan membiarkan desiran angin menerpa wajahnya,jujur ia masih sangat mencintai Reva dan belum bisa melupakannya.
Zee sedang berada direstoran dengan perutnya yang semakin terlihat membuncit ia masih sibuk didapur untuk memasak makanan pesanan pelanggan.
Farhan menghampiri putrinya itu yang sedari tadi belum beristirahat.
"Kamu jangan terlalu capek,gak baik buat bayi kamu," ucap Farhan sembari mengambil teflon dari tangan putrinya itu.
"Lho pa,inikan belum selesai," Zee menahan dan tidak ingin melepaskan teflon itu.
Farhan memukul pelan tangan Zee agar melepaskan pegangannya.
"Ih...pa," keluh Zee dengan wajah cemberut.
"Istirahat dulu,nanti kalo cucu papa kenapa-napa papa pukul kamu pake teflon ini," ucap Farhan membuat pegawai lain yang ada di dapur terkekeh dengan ulah papa dan anaknya.
"Ih,papa malu-maluin aja tahu gak," Zee melepaskan clemeknya dan segera beranjak pergi meninggalkan dapur.
Farhan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu melanjutkan pekerjaan Zee yang belum selesai.
__ADS_1
Reva menatap kearah jendela dengan air mata yang sudah membasahi pipinya,iapun segera mengusap air mata itu dan menghela nafas agar dadanya yang sesak sedikit longgar.
"Gak,aku harus kuat,aku gak mau bikin Mama sama papa cemas lagi," ucap Reva dengan dirinya sendiri.
Taxi tiba-tiba berhenti membuat Reva sedikit terkejut.
"Kenapa pak kok berhenti?" tanya Reva.
"Didepan sepertinya ada begal neng,kita putar balik aja ya," ucap Sopir yang sudah setengah baya itu dengan wajah ketakutan.
Reva membuka jendela dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat begal yang sedang beraksi disiang bolong sembari menodongkan pisau kearah pengemudi yang ada didepan Reva,ya jalanan ini memang cukup sepi hanya satu dua kendaraan yang lewat.
Reva membulatkan matanya saat sadar pengemudi itu adalah Siska bersama sopirnya.
"Tante Siska,"
Reva mengambil ponsel dan mencoba menelfon Yoga,tapi tidak diangkat.
"A...." teriak Siska saat melihat sopirnya terjatuh karena dipukuli oleh begal itu.
Reva kembali melihat kearah Siska yang terlihat ketakutan sambil duduk disamping mobilnya,Reva sebenarnya bingung harus melakukan apa,tapi iapun memberanikan diri untuk turun.
"Bapak tolong hubungi polisi ya?" Revapun berjalan perlahan mendekat kemobil Siska.
"Aduh neng," pak sopir itupun segera menghubungi polisi dengan wajah cemas dan khawatir.
Begal itu belum menyadari kedatangan Reva,Reva mengambil sebatang kayu yang cukup besar yang tergeletak dipinggir jalan,ia masih terlihat ragu-ragu tapi mendengar teriakan Siska yang histeris membuat ia memberanikan diri,Revapun muncul dari belakang dan langsung memukuli punggung begal yang berjumlah dua orang itu menggunakan kayu ditangannya dengan sekuat tenaganya,hingga mereka kesakitan dan tersungkur keaspal.
Reva melihat Siska dengan nafas terengah.
"Reva," panggil Siska melihat gadis kecil itu yang sangat berani menolongnya.
Reva mendekati Siska, "Tante gak papakan?" tanya Reva dengan wajah cemas.
Siska masih terlihat syok,salah satu begal tadi kembali bangun dan mengambil senjatanya yang terjatuh akibat pukulan Reva.
Siska yang melihat Begal itu kembali mendekat membelalakkan matanya.
"Reva awas...."
Reva berbalik dan terlambat,karena sebuah pisau tajam sudah menusuk tepat diperutnya.
Siska menganga dengan perasaan tak karuan melihat gadis dihadapannya terjatuh sambil memegangi perutnya yang bersimbah darah.
Suara sirine polisi terdengar,membuat dua begal itu kalang kabut dan segera melarikan diri.
"Reva..." teriak Siska sambil memegangi tubuh Reva yang sudah lemas terbaring itu.
Reva masih sadar dan meringis kesakitan,wajahnya mulai pucat sambil memegang erat tangan Siska,Siska panik sampai tidak tahu harus berbuat apa,dia hanya menangis,hingga sopir taxi tadi menghampiri mereka dan membantu membawa Reva masuk kemobil untuk segera menuju rumah sakit.
Yoga baru saja selesai meting,ia melihat ponselnya dan ada riwayat panggilan dari Reva.
Dahinya berkerut,iapun mencoba kembali menghubungi Reva.
Ponsel Reva berbunyi saat ia masih didalam Taxi,Reva sudah sekarat karena darah yang keluar begitu banyak,membuat Siska semakin panik,dan mengangkat Hp Reva dengan tangan yang penuh darah.
"Halo Reva..."
Mendengar suara putranya langsung membuat Siska histeris,
__ADS_1
"Yoga....Yoga...Reva Yoga..." teriak Siska sambil menangis histeris.
Sontak Yogapun langsung panik, "Mama,Reva kenapa ma?" hanya suara tangisan yang Yoga dengar semakin membuat Yoga kalang kabut.