
Adi dan Farah tertegun diam menatap kearah Yoga yang sedang duduk didepannya itu.
"Maaf nak Yoga,tapikan Reva masih sekolah,apa gak terlalu cepat dia dikenalin sama mama kamu,takutnya mama kamu malah syok," ucap Farah.
Adi melirik kearah Farah, "Ma,"
"Saya ngerti kok sama kekhawatiran Om sama Tante,saya janji ini tidak akan mengganggu pendidikan Reva,Reva hanya akan saya kenalkan sama mama saya,gak lebih," ucap Yoga meyakinkan.
"Om percaya sama kamu,tolong jaga Reva dengan baik ya," ucap Adi.
"Baik,saya akan berusaha," jawab Yoga.
Farah masih terlihat keberatan karena putrinya yang masih kecil itu harus bertemu mama Yoga,ia takut jika mama Yoga tidak menyukai putrinya.
Zee cengengesan didalam mobil sambil memainkan ponselnya saat perjalanan keRestoran,Deril yang hari ini mengantarkannya bingung sendiri melihat istrinya.
"Kamu kenapa sih,hah?" tanya Deril.
"Reva,dia tegang banget mau diajak ketemu sama mamanya Yoga,katanya dia sampai mules," jawab Zee sambil terkekeh.
Deril terdiam ketika mendengar hal itu,meskipun ia sudah tahu Yoga yang pasti akan menerima Reva,tapi gadis belia seperti Reva harus bertemu langsung dengan calon mertuanya,apa tidak terlalu cepat,apalagi jika mama Yoga tidak menyukai Reva.
Zee melihat wajah suaminya yang cemas, "Kenapa?"
"Gak,gak papa," jawab Deril.
Zee tahu Deril menyembunyikan sesuatu darinya.
"Gimana kalo mamanya Yoga gak suka sama Reva?" tanya Zee yang langsung membuat Deril menatapnya sekilas,Zee seperti bisa membaca isi pikiran suaminya.
"Itu yang kamu pikirin?" tanya Zee lagi.
Deril menghela nafas, "Aku cuma cemas sama Reva Zee,"
"Kemarin kamu yang selalu bilang aku gak boleh cemas,sekarang kamu rasain sendirikan rasanya," sindir Zee.
Deril hanya diam.
"Udah,gak usah terlalu dipikirin,biar itu jadi urusan mereka,kita gak perlu ikut campur," ucap Zee.
Deril menganguk dan wajahnya berubah jadi aneh, "Kok aku jadi pengen es campur ya Zee," ucap Deril.
Zee mengerutkan keningnya.
"Kita cari es campur dulu ya," ucap Deril dengan semangat,Zee nyengir melihat suaminya yang begitu menginginkan sesuatu seperti ngidam.
Reva sampai didepan rumah Yoga,ia menghentikan langkahnya saat didepan pintu,menelan saliva dan menarik nafas,wajahya terlihat sangat tegang.
"Kamu kenapa?" tanya Yoga.
Reva nyengir, "Tegang,"
Yoga tersenyum, "Gak usah tegang,kan ada aku," ucap Yoga mengulurkan tangannya.
Reva meraih tangan Yoga dan kembali melangkah untuk masuk kedalam rumah.
Yoga dan Reva menghampiri Siska diruang keluarga.
"Ma.." panggil Yoga.
__ADS_1
Siska tersenyum dan merasa heran saat melihat Reva.
"Ini Reva,dia pacar aku," ucap Yoga.
Siska membulatkan matanya,Reva sedikit tegang melihat ekpresi mama Yoga.
Siska berdiri dan menghampiri Reva, "Serius pacar kamu?" tanya Siska lagi.
"Iya ma," jawab Yoga.
"Halo Tante,saya Reva," Reva mencium tangan Siska.
Siska tersenyum dan mengajak Reva duduk.
"Hah,akhirnya,kalo kaya ginikan mama gak perlu susah-susah cariin kamu pacar," ucap Siska yang merasa lega.
Reva tersenyum dan merasa lega,ternyata mamanya Yoga baik dan ramah,ia melirik kearah Yoga,Yogapun membalasnya dengan senyuman.
"Sejak kapan kalian udah pacaran?" tanya Siska.
Yoga ingin menjawab tapi Reva menduhuluinya.
"Tadi malem Tante," jawab Reva.
Yoga menatap kearah Reva.
Siska terkekeh, "Baru tadi malam?"
"Kita deket udah lama kok ma,cuma nyari aja waktu yang tepat buat jadian,yakan Reva?" jawab Yoga.
Reva menganguk, "Iya tante,"
Reva dan Yoga saling melihat dengan wajah sumringah.
Bibi membawakan minuman dan juga makanan kecil untuk mereka.
"Oya,jadi kapan rencana kalian buat nikah,atau mau tunangan dulu?" tanya Siska.
Reva melihat kearah Yoga,Yoga memegang tangannya.
"Belum ma,soalnya Reva masih sekolah," jawab Yoga.
Siska tersentak dan langsung menatap kearah Reva, "Reva masih sekolah?"
"Tapi saya sudah kelas 3 kok Tante,bentar lagi lulus," ucap Reva yang melihat ekspresi Siska mulai berubah.
Siska menatap kearah Yoga, "Yoga,mama mau bicara sebentar sama kamu," ucap Siska yang langsung beranjak pergi.
Yoga menghela nafas, "Kamu tunggu disini bentar ya?" Yoga mengusap kepala Reva dan langsung menyusul mamanya.
Reva mulai terlihat cemas dan khawatir.
Siska dan Yoga bicara diteras belakang.
"Yoga,maksud kamu Apasih,bisa-bisanya kamu pacaran sama perempuan yang masih sekolah?" tanya Siska dengan nada kesal.
"Ma,aku beneran cinta sama Reva,aku sama sekali gak peduli kalaupun dia masih sekolah,emang apa masalahnya?" jawab Yoga.
"Yoga,kamu itu udah dewasa,udah siap buat berkeluarga,sementara dia,mau sampai kapan kamu nungguin dia,sampai dia lulus sekolah atau lulus kuliah,kamu pikir dong," imbuh Siska.
__ADS_1
"Ma,aku gak papa kok,kalau harus nungguin dia sampai dia siap," jawab Yoga.
"Tapi mama gak mau,mama mau kamu secepatnya menikah dan membina rumah tangga," ucap Siska dengan tegas.
"Ma,plis,ini pilihan Yoga,mama tolong ngerti ya,aku cinta sama Reva dan aku gak mau ninggalin dia,"
Siska menatap kearah Yoga, "Ya sudah,sekarang kamu pilih,mau ninggalin mama atau ninggalin dia,"
Yoga tertegun, "Ma,tolong jangan beri aku pilihan yang sulit,"
"Gak akan sulit Yoga,harusnya kamu tahu mana yang harus kamu pilih,kamu ingat bagaimana perjuangan mamakan membesarkan kamu tanpa papa kamu,mama sebenarnya gak mau mengungkit ini,tapi mama hanya ingin sekali saja,kamu menuruti kemauan mama,tinggalin Reva,dia belum dewasa,belum siap buat berumah tangga,lanjutkan perjodohan kamu sama Alena," ucap Siska.
"Tapi ma,kedewasaan kan gak bisa ditentukan sama umur," Yoga masih berusaha meyakinkan mamanya, "Kalo mama coba mengenal Reva pasti mama bakalan suka sama dia,"
"Enggak,mama mohon kalo kamu memang sayang sama mama,akhiri hubungan kamu sama dia sebelum semakin jauh," ucap Siska sambil memegang lengan Yoga, "Mama mohon,Alena lebih pantas buat kamu Yoga,"
Yoga menutup mata,berusaha berpikir dan mencerna semuanya.
Melihat Yoga diam membuat Siska kembali kesal, "Biar mama yang bicara sama Reva," Siska melangkah menuju ruang keluarga.
"Ma..." Yoga segera mengikuti mamanya.
Melihat Siska yang kembali menghampirinya dengan wajah tegang sudah membuat perasaan Reva tak karuan.
"Reva," panggil Siska.
Reva berdiri dan mendekati Siska, "Iya tante,"
Yoga berhenti dibelakang mereka dengan wajah cemasnya.
Siska memegang tangan Reva, "Reva,Tante bukannya gak suka sama kamu,Tante justru sangat menyukai kamu,kamu cantik,pintar,tapi menurut Tante kamu dan Yoga itu gak cocok,umur kalian berbeda jauh sayang," ucap Siska dengan lembut.
Reva mengepalkan tangannya kuat-kuat,menahan gempuran yang tiba-tiba menghancurkan hatinya.
"Tante cuma mau yang terbaik buat Yoga,maafin Tante ya,Tante gak bisa terima kamu sebagai menantu Tante,karena Yoga harus mendapatkan gadis yang lebih cocok buat dia,kamu ngertikan maksud tante?" tanya Siska sembari mengusap pipi Reva.
"Iya Tante,Reva ngerti," jawab Reva dengan suaranya yang gemetar.
"Makasih ya,Tante yakin nanti setelah kamu dewasa,kamu juga akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada Yoga,makasih ya sayang," Siska memeluk Reva.
Reva menutup matanya erat-erat agar air mata itu tidak jatuh,Yoga merasa sesak melihat Reva seperti itu.
Siska melepaskan pelukannya "Ya sudah,Tante istirahat dulu ya?" Siska beranjak pergi meniggalkan Reva dan Yoga.
Keduanya saling menatap tanpa mengatakan apapun.
Dalam perjalanan pulang Reva terus menatap kearah jendela sambil meremas jari jemarinya,rasanya begitu sakit bahkan ia tidak punya kekuatan untuk menangis.
Yoga sangat mengerti dengan apa yang Reva rasakan,bahkan dadanya juga ikut terasa sesak.
"Kita cari makan dulu ya?" ucap Yoga memecah keheningan.
"Ehm..." hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Reva sambil menggigit bibirnya berusaha menahan rasa yang semakin menyiksa batinnya.
Reva menunggu Yoga yang sedang memesan makanan,mereka duduk diteras kafe yang suasananya cukup sepi.
Setiap teringat ucapan Siska,Reva langsung menutup matanya,memegangi dadanya yang sakit,kenapa perkataan yang sangat lembut itu justru menusuk-nusuk jantungnya.
Rasa itu tidak tertahankan lagi,Revapun menangis sambil menundukkan kepalanya,menahan begitu lama membuatnya semakin sakit,mungkin dengan menangis perasaannya akan merasa sedikit lega.
__ADS_1
Yoga melihat dari kejauhan dengan makanan yang sudah ia bawa,ia menghela nafas dengan matanya yang berkaca-kaca,tidak tega melihat gadis mungil kesayangannya harus merasakan rasa sakit ini,iapun hanya diam dan membiarkan Reva melepaskan segala beban yang ia rasakan dengan menangis.