
4 bulan kemudian
Rangkaian bunga yang indah menghiasi setiap sudut kediaman Adi,hari ini acara pernikahan yang sudah dinanti akan segera menjadi kenyataan.
Reva sedang bersiap dikamarnya,ditemani Zee dengan perutnya yang sudah makin membesar,serta Farah yang duduk termenung memandangi putri kecilnya yang akan segera menikah.
Farah bukannya tidak bahagia,tapi baginya ini terlalu cepat,ia masih belum rela jika putri manjanya itu harus menjadi seorang istri dan menantu.
Zee yang melihat kegelisahan Dimata Farah mendekati dan marangkulnya.
"Ma,.." panggil Zee pelan, "Mama gak papakan?"
Reva yang masih didandani melirik kearah mereka.
Farah mengusap air yang tiba-tiba jatuh dari pelupuk matanya, "Mama gak papa kok sayang,"
Zee memeluk Farah penuh haru.Reva berdiri dan mendekati mereka.
"Inikan hari pernikahan aku,kalian harusnya bahagia bukan sedih kaya gini," ucap Reva dengan matanya yang berkaca.
Farah mengusap lembut wajah Reva, "Sayang,mama gak sedih kok,mama bahagia,akhirnya mama akan terbebas dari putri mama yang bawel,yang manja,yang...." Farah justru menangis membuat Reva langsung memeluknya dengan air mata yang berderai.
Zeepun tidak bisa menahan keharuannya.
Farah menghela nafas dan melepaskan Reva dari pelukannya, "Udah-udah,nanti make up kamu malah luntur lagi,Hem,pokoknya kamu harus jadi istri yang baik,gak boleh nyusahin suami sama mertua kamu,ngerti?" ucap Farah sembari mengusap pipi Reva yang sedikit basah.
Reva menganguk dan kembali memeluk mamanya dengan erat.
"Sah...."
Kata yang mengukir senyum diwajah semuanya,ketegangan pun mencair.
"Selamat ya,kalian sudah menjadi pasangan suami istri yang sah," ucap pak penghulu pada Reva dan Yoga.
Reva dan Yiga saling melihat dengan senyum malu-malu mereka,Reva meraih tangan pria yang kini jadi suaminya itu,lalu mengecupnya,sementara Yoga mengusap kepala Reva.
Suasana haru mulai nampak,ketika Reva dan Yoga meminta restu pada orang tua mereka,tangis Revapun pecah kala meminta restu pada Adi dan juga Farah.
Tapi berbanding terbalik saat mereka berhadapan dengan Deril dan Zee.
Deril memang tidak ingin melihat suasana haru yang berlarut-larut sehingga ia sengaja menggoda adik kecilnya itu.
"Jangan suka nyusahin Yoga," ucap Deril pada adiknya yang kini sudah menjadi istri orang itu.
"Dan Yoga,kalo Reva nakal jewer aja telinganya," imbuh Deril membuat semuanya terkekeh.
Reva mendengus kesal, "Dasar kakak durhaka," ucap Reva membuat semuanya kembali tertawa.
Deril tersenyum lalu mendekap adik kesayangannya itu,begitupun Zee yang memeluk Reva bergantian.
"Semoga selalu bahagia ya," ucap Zee.
Reva menganguk dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Akh...." tiba-tiba Zee memekik sambil memegangi perutnya dan membuat semuanya panik.
"Kamu kenapa?" tanya Deril sembari menahan tubuh Zee.
"Akh..." Zee terlihat kesakitan seperti orang yang akan melahirkan.
"Deril,mungkin Zee mau melahirkan," ucap Farhan membuat semuanya semakin panik.
__ADS_1
"Kamu mau melahirkan?" tanya Deril.
"Aku juga gak tahu," pekik Zee sambil menahan sakit.
"Sudah cepat bawa Zee kerumah sakit," ucap Adi.
Derilpun mengangkat tubuh Zee dan membawanya segera menuju keRumah sakit.
Dilorong rumah sakit,suara teriakan Zee terdengar menggema diruangan tempat persalinan,Deril dengan setia mendampingi istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu,air mata yang tiba-tiba menetes kala melihat betapa besarnya perjuangan istrinya saat akan mengeluarkan satu nyawa dari tubuhnya.
Hingga suara tangisan itu terdengar.
"Oek...oek...oek...."
Tangis harupun pecah antara Zee dan Deril,Deril mengusap peluh yang membasahi wajah istrinya lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Kita udah jadi orang tua sayang," bisik Deril.
Zee menganguk,suster meletakkan bayi kecil mungil itu kepelukan ibunya,perasaan aneh yang baru pertama kali Zee rasakan,bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.
Beberapa saat berlalu Deril keluar menemui keluarganya yang sudah menunggu didepan.
"Gimana Ril,Zee dan bayinya sehatkan?" tanya Farah dengan cemas.
Deril tersenyum haru, "Alhamdulillah,aku udah jadi papa ma,"
Semuanya merasa lega dan bahagia menyambut anggota baru dalam keluarga mereka.
"cowok apa cewek Ril?" tanya Adi.
"Cowok pa,jagoan," jawab Deril dengan kebahagiaan yang nampak jelas diwajahnya.
Dilain tempat,pengantin baru sedang menghabiskan waktu bersama.
Reva tersenyum saat melihat foto Baby yang dikirim Zee lewat pesan.
"Ya ampun lucunya," gumam Reva yang sedang tengkurap ditempat tidur,Yoga menghampiri Reva dan melihat foto bayi itu lalu senyum juga terukir diwajahnya.
"lucu bangetkan?" tanya Reva pada Yoga.
"Ehm, kamu mau punya baby juga?" sontak ucapan Yoga langsung membuat Reva terdiam lalu menatap pria disampingnya itu dengan wajah memerah dan gugup tingkat dewa.
Reva mendudukkan tubuhnya, "Ehm...aku mau kekamar mandi dulu," Revapun buru-buru beranjak dan dengan cepat meluncur kekamar mandi.
Hal itu membuat Yoga terkekeh,kepanikan yang nampak jelas diwajah Reva,gadis itu yang sebelumnya agresif dan ingin cepat menikah tapi jadi salah tingkah dan gugup dimalam pertama.
Reva masih mondar mandir dikamar mandi dengan pikirannya yang gelisah,ia berusaha tenang,tapi tidak bisa.
"Sakit gak ya?" tanya Reva pada dirinya sendiri,ia membuka sedikit pintu dan mengintip kedalam kamarnya melihat suaminya yang sedang duduk sambil bermain ponsel ditempat tidur.
Reva menghela nafas dan segera keluar menghampiri Yoga.
Yoga menaruh ponselnya dan melihat istrinya, "Udah?"
Reva terdiam dan perasaan gugup itu kembali datang, "Aduh,perut aku sakit,aku mau kekamar mandi dulu," Reva melangkah tapi Yoga menahan tangannya dan langsung menarik Reva hingga jatuh kepangkuannya.
"Sampai kapan mau kekamar mandi terus,Hem?" Yoga melingkarkan tangannya ke perut Reva dan meletakkan wajahnya kepundak Reva hingga hembusan nafas berat Yoga dapat Reva rasakan dan membuat tubuh Reva terasa tersengat listrik.
"Beneran aku mau kekamar mandi," ucap Reva memelas.
Yoga tersenyum dan mempererat pelukannya tanpa mempedulikan rengekan Reva.
__ADS_1
"Kamu takut ya,Hem?" tanya Yoga.
Reva mengerjapkan matanya dan mulai pura-pura bodoh, "Takut apa?"
"Takut kalau aku makan," jawab Yoga mengukir senyum diwajah istrinya.
"Neh,makan!" Reva mendekatkan lengannya dan dengan cepat Yoga beneran menggigitnya pelan.
Reva terkejut dan kembali menarik lengannya, "Ih,aku takut ah,kalo beneran dimakan," keluh Reva dengan wajah cemberut.
Yoga tersenyum,ia membalik tubuh Reva hingga sekarang mereka duduk berhadapan.
Yoga membelai lembut wajah istrinya yang masih cemberut itu, "Gak perlu takut sayang,Kitakan sekarang sudah suami istri,"
Reva tertegun, "Tapi,gak sakitkan?" tanya Reva dengan wajahnya yang super cute membuat Yoga terkekeh.
"Aku juga gak tahu,kita coba aja ya," ucap Yoga yang ingin mencium wajah Reva tapi dengan cepat Reva menahannya.
"Kalo sakit gimana?" tanya Reva lagi.
"Aku yang bakalan tanggung jawab," jawab Yoga.
Keduanya saling menatap,dan kecupan lembut itu Yoga hadiahkan pada istrinya.
"Sakit?" tanya Yoga.
Reva menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, Yogapun kembali mencium bibir mungil istrinya itu dengan sedikit ******* lembut yang semakin lama semakin panas.
Reva hanya mengikuti permainan suaminya dan membiarkan sensasi itu merasuk kedalam tubuhnya.
"Akh..." pekik Reva terlihat kesakitan saat untuk pertama kali benda itu memasuki tubuhnya.
Yoga mengusap wajah Reva yang berkeringat, "Sakit ya?"
Reva menganguk,Yoga merasa Tidak tega pada istrinya itu, "Kita lanjutin besok aja ya," Yoga ingin menyudahi permainannya tapi justru Reva menahannya.
"Sekarang aja," ucap Reva dengan suara sensual yang menggoda.
"Katanya sakit?" tanya Yoga,Reva tak menjawab dan langsung mencium bibir suaminya itu,Yogapun tidak punya pilihan lain selain melanjutkan permainan panas bersama gadis yang sangat dicintainya itu.
Dirumah sakit,Deril begadang untuk menjaga bayinya yang lucu itu,meskipun baru pertama kali,ia sudah mahir dalam menggendong bayinya.
Sedangkan Zee sedang makan untuk mengisi perutnya yang kelaparan setelah berjuang mengeluarkan sibaby tercinta.
"Kamu udah makan?" tanya Zee.
Deril duduk disamping Zee dan menggelengkan kepalanya sembari memandangi baby-nya yang mulai tidur.
Zee menyuapi suaminya itu dan bergantian makan dengannya.
"Kita kasih nama siapa ya Zee?" tanya Deril sembari memandangi wajah bayinya yang tampan itu.
Zee berpikir sambil mengunyah makanan yang masih memenuhi mulutnya, "Gimana kalo Dafan? baguskan?"
Deril diam dan berfikir, "Dafan?"
Zee menganguk dan kembali makan.
Deril tersenyum, "Ok,baby Dafan,"
Mereka terlihat sangat bahagia dengan kehadiran baby Dafan yang super tampan.
__ADS_1