Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Bab 70


__ADS_3

"Ma...mama coba tenang ya,bilang sama aku apa yang terjadi," Yoga berusaha menenangkan Siska agar bisa menceritakan kejadian sebenarnya.


"Reva....Reva kena tusuk sama begal Yoga," jawab Siska dengan tangisan yang masih terdengar dalam ucapannya.


Yoga berpegang pada ujung meja menahan tubuhnya yang oleng karena syok.


"Mama dimana sekarang?" tanya Yoga dengan wajahnya yang sangat cemas.


Siska memberitahu alamat rumah sakit yang mereka tuju,Yoga menutup telfonnya dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat setengah berlari.


Saat dalam perjalanan,Yoga menghubungi Deril dan mengabari jika Reva sedang dalam perjalanan kerumah sakit tanpa memberitahu apa penyebabnya karena Yogapun belum tahu pasti kronologi kejadiannya.


Yoga berlari menyusuri lorong rumah sakit yang sepi itu,nampak wanita paruh baya sedang menangis didepan ruang ICU dengan baju dan tangan bersimbah darah.


"Mama," panggil Yoga.


Tanpa berucap apapun Siska langsung memeluk erat tubuh Yoga dengan tubuhnya yang gemetar dan tangisnya yang terus terdengar.


Yoga melihat kearah pintu,nampak Reva dari celah kecil sedang mendapatkan pertolongan dari para dokter,miris melihat gadis itu harus memakai selang oksigen dihidungnya.


Yoga melepaskan jasnya dan memakaikannya ketubuh Siska agar pakaiannya yang kotor tidak terlihat.


Beberapa detik berlalu,Adi datang bersama Farah disusul Deril dan juga Zee,Semua terlihat panik.


"Yoga,Reva kenapa?" tanya Adi yang sangat panik saat mendengar kabar Reva masuk rumah sakit dari Deril.


Yoga terdiam,ia tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari Adi.


"Maaf,ini salah saya," jawab Siska membuat semua mata langsung tertuju padanya.


"Tadi saya dibegal waktu dijalan,Reva berusaha menolong saya,tapi begal itu justru menusuk perut Reva dengan senjata tajam yang mereka bawa," ucap Siska menjelaskan semuanya.


"Ya ampun Reva,pa..." Farah terlihat sangat syok hingga tubuhnya oleng.


Adi merangkul pundaknya, "Tenang ya ma,Reva pasti baik-baik aja,putri kita kuat,"


Zeepun menenggelamkan kepalanya kepelukan Deril karena merasa miris dengan kejadian yang menimpa adik iparnya itu,Deril mengusap lembut punggung istrinya agar merasa lebih tenang padahal dia sendiri terlihat gemetar.


Dokter keluar,semua langsung mendekat dengan kecemasan tingkat tinggi.


"Bagaimana keadaan putri saya dok," tanya Adi.


"Lukanya cukup dalam dan terjadi pendarahan hebat diperutnya kami harus segera melakukan tindakan operasi," ucap Dokter membuat jantung mereka semua terasa berhenti berdetak.


"Pa...Reva pa," Farah tidak bisa menahan lagi kecemasannya,iapun menangis sambil melihat tubuh putrinya yang terbaring lemah dari celah pintu.


" Tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya Dok,yang penting putri saya selamat," ucap Adi.


Dokter menganguk, "Baik,silakan anda urus surat-suratnya kami akan segera menyiapkan ruangan operasinya,satu lagi,pasien membutuhkan banyak donor darah,jadi bagi keluarga yang darahnya cocok langsung keruang donor darah secepatnya," ucap Dokter.

__ADS_1


"Baik dok," jawab Adi.


Dokter kembali masuk untuk segera menyiapkan keperluan operasi.


"Deril,kamu keruang donor darah dulu,biar papa urus surat-suratnya," ucap Adi yang langsung beranjak pergi dengan terburu-buru.


"Kamu tunggu sini ya?" Deril mengusap kepala Zee dan setengah berlari menuju ruangan donor darah.


Yoga mengusap wajahnya,disaat seperti ini tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menolong Reva,sangat membuatnya frustasi.


Zee mendekati Farah dan memeluknya agar lebih tenang.


Lampu diruangan operasi menyala,menandakan operasi sudah dimulai.


Hanya wajah cemas dan kekhawatiran yang nampak,suasana hening menambah kesan mencekam didepan ruangan itu.


"Akh..." Zee tiba-tiba meringis sambil memegangi perutnya yang kram.membuat semuanya kembali panik.


"Kamu kenapa?" tanya Deril dengan wajah cemas.


Zee menggelengkan kepalanya, "Cuma kram," jawab Zee.


"Deril,kamu anterin Zee pulang ya,pasti dia capek harus nunggu disini," ucap Adi yang merasa khawatir pada menantunya itu.


"Aku gak papa kok pa," ucap Zee.


"Iya,kita pulang aja," ucap Deril yang membuat Zee tidak bisa membantah lagi.


"Pa,kabarin aku soal kondisi Reva secepatnya," ucap Deril meminta pada papanya.


Adi menganguk,Derilpun menuntun Zee menuju kemobil mereka.


Sementara Yoga baru kembali setelah mengantarkan Siska pulang karena kondisinya yang masih syok akibat begal tadi.


Yoga mendekati Adi, "Om,saya yakin Reva akan baik-baik aja,om jangan terlalu khawatir ya," ucap Yoga yang melihat kecemasan diwajah Adi,meskipun sebenarnya ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Reva.


Adi menganguk dan menepuk pundak pria didepannya itu.Yah,Adi sama sekali tidak menaruh dendam apapun pada Yoga,karena yang terjadi pada Reva adalah sebuah kecelakaan yang sama sekali tidak mereka rencanakan.


Farahpun hanya duduk diam menanti perjuangan putrinya antara hidup dan mati.


Wajahnya sayu terlihat lemas dan tidak bertenaga,hingga didetik berikutnya iapun jatuh pinsan.


Adi dan Yoga langsung mendekati Farah yang tubuhnya sudah lunglai dikursi ruang tunggu.


"Ma...ma..." Adi berusaha membangunkan Farah dengan menepuk-nepuk pipi istrinya itu.


Yoga berlari untuk memanggil suster,tidak lama merekapun datang dan segera membawa Farah keruang rawat.


"Om titip Reva ya," ucap Adi sebelum mengikuti Farah.

__ADS_1


Yoga menganguk, "Aku akan jagain Reva Om," jawab Yoga.


Adipun segera menyusul istrinya yang dirawat.


Yoga mengusap wajahnya yang terlihat sangat kusut,jangankan untuk mandi bahkan ia tidak ingin sedetikpun meninggalkan ruangan yang masih tertutup rapat itu.


Dalam perjalanan pulang Zee masih nampak cemas memikirkan keadaan Reva,Deril mengusap lembut kepala Zee sambil mengemudi dengan pelan.


"Kamu udah makan belum?" tanya Deril,yah mereka terlalu cemas pada Reva hingga melupakan hal penting seperti itu.


Zee menggelengkan kepalanya pelan.


"Kita cari makan dulu ya?" ucap Deril lalu ia menghentikan mobilnya didepan warung makan dipinggir jalan yang cukup ramai pembeli dimalam hari.


"Kamu tunggu sini ya," Derilpun turun untuk membelikan makanan,karena kondisi Zee yang kurang sehat.


Tidak sampai sepuluh menit Deril sudah kembali,dengan makanan serta minuman ditangannya.


"Yuk,kamu makan dulu," Deril menyiapkan semuanya dan menyuapkan makanan kemulut istrinya yang masih terlihat sedikit lemas itu.


Zeepun makan,meskipun tidak bernafsu karena pikirannya sedang cemas tapi dia tidak ingin membuat suaminya semakin cemas.


"Sayang,Reva bakalan baik-baik ajakan?" tanya Zee sukses membuat Deril diam dan bingung harus menjawab apa,iapun kembali menyuapi Zee.


"Dia pasti akan baik-baik aja," jawab Deril dengan wajahnya sendiri yang terlihat ragu-ragu.


Zee menyentuh lembut wajah Deril yang juga menyimpan kecemasan itu, "Kamu juga belum makankan?" Zee mengambil sendok dan gantian menyuapi Deril.


"Zee,aku belum lapar kok," jawab Deril.


"Ya udah,kalo gitu aku juga gak mau makan," ucap Zee dengan wajah cemberut.


Deril menghela nafas,ia tahu berdebat dengan Zee tidak akan pernah membuatnya menang,iapun segera membuka mulutnya lebar-lebar,menerima suapan hangat dari istrinya.


Zee tersenyum senang,merekapun kembali makan bersama meskipun masih didalam mobil dan keduanya masih sama-sama cemas dengan kondisi Reva.


Hampir dua jam berlalu,Yogapun tidak bisa berhenti disatu titik,ia duduk,berdiri,melangkah kesana-kemari,menunggu adalah hal paling menyebalkan baginya saat ini,perasaannya yang campur aduk mengingat gadis kecil kesayangannya harus berjuang melawan maut membuat dadanya benar-benar sesak.


Hingga lampu itu mati,dan dokter segera keluar dari dalam ruangan yang mencekam itu.


Kaki Yogapun tidak sabar untuk melangkah dan menghampiri dokter.


"Gimana dok?" Wajahnya dipenuhi harapan yang begitu besar akan kesembuhan Reva.


"Operasinya berjalan dengan lancar,pasien akan segera kami pindahkan keruang rawat," jawab Dokter.


Seperti menemukan air ditengah Padang pasir,perasaan Yoga terasa sangat lega,dahaga yang ia rasakan begitu menyiksa beberapa jam terakhir akhirnya sirna mendengar jika Reva akan baik-baik saja.


"Makasih dok," ucap Yoga dengan senyum haru yang terukir diwajahnya.

__ADS_1


__ADS_2