
Deril keluar dari kamar mandi,tapi dia tidak melihat Zee dikamar,Ia menghela nafas panjang memikirkan kata-kata kasar yang barusan Ia ucapkan pada Zee.
Zee masuk kedalam kamar sembari membawa nampan berisi makanan.
Deril terdiam melihatnya.
"Makan yuk,karena udah malam jadi kita makan dikamar aja ya," ucap Zee sambil menaruh nampan diatas nakas.
Deril masih diam,Zee mendekatinya.
"Marah juga butuh tenagakan," ucap Zee sembari menyodorkan sepiring makanan keDeril.
Deril masih saja diam,bukan apa-apa tapi Zee terkadang membuat pikirannya bingung,karena meski Deril sudah berkata kasar tapi Zee sama sekali tidak tersinggung.
Zee tiba-tiba mencium pipi Deril,membuat Deril terkejut.
"Zee..." Pekik Deril.
"Ayo makan," Zee memberikan piring itu,lalu iapun mengambil makanannya dan duduk disofa.
Deril menghela nafas,Iapun duduk disamping Zee dan memakan makanan itu.
Zee tersenyum,meski terkadang hatinya sakit tapi Zee sekuat tenaga menahannya.
Merekapun makan bersama dalam keadaan hening.
Deril menatap kearah istrinya yang sedang makan itu.
"Bodohnya aku yang selalu berpikir kalo kamu akan pergi setelah perlakuan kasarku,Zee,tapi sebaliknya,kamu selalu kembali untuk mencairkan suasana," batin Deril.
Pagi harinya,Zee sudah lebih dulu berangkat kekampus karena ada pekerjaan yang harus Ia selesaikan,mengikuti skripsi membuatnya sedikit sibuk akhir-akhir ini.
Deril meminum susu yang sudah Zee siapkan sebelumnya,Ia menemukan sepucuk surat dibawah gelas.
"Aku janji gak akan pergi sama Rico lagi,aku juga udah gak les lagi sama dia,jangan marah lagi ya,suamiku," isi surat dari Zee.
Deril terkekeh membaca surat dari Zee.
"Zee...Zee...aku bakalan lihat sampai mana kemampuan kamu buat minta maaf keaku," gumam Deril.
Farhan sedang memeriksa tamu dilantai atas,Restoran begitu ramai dan penuh hari ini.
Saat Farhan menuruni tangga,tiba-tiba kakinya terpeleset hingga Ia jatuh kebawah.
Para karyawan pun segera menolong Farhan yang pinsan dan membawanya kerumah sakit.
Zee sedang diperpustakaan untuk mengerjakan tugas.ponselnya berbunyi.
Zee mengangkatnya,Ia sangat terkejut saat mendengar berita bahwa Farhan terjatuh.
"Apa?" pekik Zee.
Zee segera membereskan bukunya dan buru-buru pergi menuju keRumah sakit.
Saat dalam perjalanan,Zee berusaha menghubungi Deril,tapi tidak diangkat.
Zee terus mencoba.
Deril sedang berada diruangannya,ponselnya sedari tadi berbunyi,tapi Deril sengaja tidak mengangkatnya,Ia justru tersenyum melihat nama Zee yang berkali-kali menelfonnya.
"Gak akan semudah itu kamu dapet maaf dari aku,Zee," gumam Deril dan kembali pada pekerjaannya.
Zee yang masih berada didalam taxi merasa kesal,air matanya berderai," kamu kemana sih?" Zee terlihat sangat khawatir dengan keadaan Farhan.Iapun menelfon Adi.
Adi masuk kedalam ruangan Deril dengan tiba-tiba membuat Deril terkejut.
"Papa,"
__ADS_1
"Kenapa kamu gak angkat telfon dari Zee?" tanya Adi.
"Pa,akukan lagi sibuk," jawab Deril.
Adi merasa kesal dengan anaknya yang satu ini, "Papa mertua kamu masuk rumah sakit,dia jatuh dari tangga," ucap Adi.
Deril terkejut, "Apa?" Iapun langsung berdiri dan beranjak pergi dari ruangannya.
Adi menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.
Saat dalam perjalanan,Deril berusaha menghubungi Zee tapi tidak diangkat.
Deril mendengus kesal dan membanting ponselnya,Ia sangat menyesal karena tidak mengangkat telfon dari Zee yang sedang sangat membutuhkannya.
Zee masuk kedalam ruangan dan langsung memeluk papanya yang sedang terbaring dengan kaki yang digips.
"Papa,Papa gak papakan,mana yang sakit,papa kok bisa jatuh sih?" tanya Zee dengan air mata yang berderai.
Farhan tersenyum dan mengusap pipi Zee, "Papa gak papa,kamu kok nangis kaya anak kecil," ucap Farhan.
"Papa,akukan khawatir,aku hampir mati tau gak waktu denger papa jatuh dari tangga," ucap Zee histeris.
"Zee,papa gak papa,lihat papa sehatkan,cuma kaki papa aja Thu,terkilir,papa gak akan mati semudah itu," gurau Farhan.
Zee merasa kesal, "Papa,ih.." Zee kembali memeluk Farhan.
Farhan tersenyum melihat putri manjanya itu.
Deril masuk kedalam ruangan dengan wajah tak kalah panik.
"Papa gak papakan,gimana kondisi papa?" tanya Deril.
Zee melepaskan pelukannya.
"Papa gak papa,kalian ini khawatirnya berlebihan dech,orang papa cuma jatuh dari tangga gak jatuh dari lantai 10," ucap Farhan.
Deril merasa lega, "Syukurlah kalo gitu,"
Deril merasa kalo Zee pasti marah perkara telfon tadi.
Zee dan Deril sedang makan dikantin rumah sakit.
"Aku mau pindah kerumah papa," ucap Zee dengan ketus.
Deril berhenti makan dan menatap istrinya itu.
"Aku mau jagain dia selama dia sakit,aku gak mau dia sendirian," ucap Zee lagi lalu menggigit roti ditangannya.
"Terserah kamu," jawab Deril lalu kembali makan.
Zee menatap sinis kearah Deril.
"Apa maksudnya coba 'Terserah kamu?' bukannya dia ikut kek,atau apa,dasar gak punya perasaan," batin Zee.
Zee terlihat kesal dan melahap semua roti ditangannya hingga mulutnya penuh.
Deril sama sekali tidak meresponnya.
Malam harinya Zee ditemani Deril menginap dirumah sakit karena Farhan belum diizinkan untuk pulang.
Deril tidur disofa,sementara Zee tidur dikursi dekat Farhan.
Pagi harinya saat Zee terbangun,Ia melihat Deril sudah tidak ada ditempatnya,Ia berpikir pasti Deril sudah pulang untuk bekerja.
Zee merasa kesal karena ia merasa jika Deril sama sekali tidak mempedulikannya bahkan saat berkata bahwa Ia akan pindah kerumah Farhan.
"Kamu kenapa sih Zee,pagi-pagi kok udah cemberut?" tanya Farhan.
__ADS_1
"Gak papa kok pa," jawab Zee."Oya,mulai hari ini aku mau pindah kerumah papa,aku mau jagain papa selama papa sakit," ucap Zee.
"Emang kamu udah izin sama suami kamu?" tanya Farhan.
"Udah kok,lagian dia juga gak peduli," ucap Zee dengan wajah cemberut.
Farhan mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba Deril masuk bersama dokter sambil mendorong kursi roda.
"Pagi pa," sapa Deril.
Zee tertegun saat melihat suaminya itu.
Dokter memeriksa kondisi Farhan,dan Farhan sudah diizinkan pulang,tapi harus menggunakan kursi roda karena kakinya masih belum sembuh.
Saat diparkiran,Deril membantu Farhan masuk kedalam mobil.Setelah itu dia menghampiri Zee yang masih terdiam didepan mobil.
"Aku udah bawa barang-barang kamu,jadi kamu gak perlu kerumah dulu,kita langsung kerumah papa," ucap Deril.
Zee memicingkan matanya menatap Deril, "Kamu senengkan aku pergi dari rumah,sampai barang-barang aku udah dipacking segala," ucap Zee.
Deril tersenyum dan segera masuk kedalam mobil.
Zee terlihat sangat kesal dengan suaminya itu,Iapun segera masuk kedalam mobil menemani Farhan.
"Lho,kamu kok duduk disini,sana duduk didepan donk,Derilkan buka sopir," ucap Farhan.
"Gak ah,aku mau duduk Deket papa," ucap Zee.
Farhan menatap Zee, "Zee..."
"Gak papa kok pa,mungkin Zee lagi kangen sama papa," ucap Deril.
"Thukan,gak papa," Zee memeluk lengan Farhan.
"Kamu neh,kaya anak kecil," gumam Farhan.
Mereka sampai didepan rumah Farhan.
Deril membantu Farhan turun dan mendudukkannya dikursi Roda.
Deril pun menurunkan dua koper dari bagasi.
Zee terdiam saat melihat dua koper dihadapannya.
"Kok kopernya ada dua?" tanya Deril.
Deril mendekati Farhan.
"Zee,kalo kamu tinggal disini,ya Deril pasti ikut tinggal disini donk,kaliankan suami istri,yakan Deril?" Farhan melihat kearah Deril.
Deril tersenyum, "Ya dong pa,"
Zee merasa aneh dengan sikap papa dan suaminya.
"Jadi papa udah tahu kalo Deril mau tinggal disini juga," tanya Zee.
Farhan dan Deril saling melihat dan terkekeh.
Zee tertegun melihat kekompakan mereka.
Deril mendorong kursi roda Farhan masuk kedalam rumah.
"Bawa kopernya sekalian," teriak Deril.
Zee mendengus kesal,Ia terdiam dan berpikir.
__ADS_1
Senyumnya tiba-tiba merekah saat melihat dua koper didepannya.
"Dasar nyebelin," gumam Zee yang terlihat sangat bahagia sambil menggelengkan kepalanya.