
"Gue Bener-bener takut Rin,gue takut kalo anak ini bukan anaknya Deril,gue takut kalo dia bakalan ninggalin gue Rin," ucap Zee dengan suara gemetar.
Ririn memegang tangan sahabatnya dengan tatapan nanar "Zee,kalo Deril gak mempertanyakan soal ini,kenapa Lo harus takut sih?" ucap Ririn berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Zee hanya diam dengan air mata yang sudah jatuh.
"Emang Lo yakin itu anaknya Rico,gakkan?" tanya Ririn.
"Gue gak tahu,gue Bener-bener bingung," ucap Zee.
"Zee percaya sama gue,Deril bukan Deril yang dulu,dia gak akan ninggalin Lo semudah ini,kalo dulu gue percaya dia pasti bakalan langsung ninggalin Lo,tapi sekarang dia gak mungkin ngelakuin itu Zee,percaya sama gue," ucap Ririn berusaha meyakinkan Zee.
"Tapi Rin,gue udah ngecewain dia,gimana kalo emang bener..." Ucapan Zee terhenti saat melihat Deril yang sudah berdiri didepan mereka.
"Emang bener apa?" tanya Deril dengan tatapan tajamnya.
Zee langsung menghapus air matanya dengan wajah tegang.Ririnpun terkejut dengan kehadiran Deril yang tiba-tiba.
"Kita pulang sekarang!" ucap Deril lalu beranjak pergi.
Zee melihat kearah Ririn dengan wajah khawatir.
"Percaya sama gue," Ririn menepuk pundak Zee.
Zee menghela nafas dan segera beranjak dari kafe itu mengikuti suaminya.
Dalam perjalanan pulang suasana begitu hening,tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya.
Zee melihat kearah suaminya yang terlihat begitu tegang,Ia sudah pasrah kalo memang Deril akan marah saat sampai dirumah nanti.
Deril langsung masuk kekamar saat sampai rumah,Zeepun mengikutinya,dia sudah tahu betul tabiat Deril saat sedang ada masalah mereka memilih membahasnya dikamar agar tidak ada orang lain yang tahu dengan masalah mereka.
Zee masuk kedalam kamar,saat itu Deril sudah duduk disofa dan seperti menunggunya.
Zee mendekati suaminya, "Maaf,"
"Duduk," ucap Deril.
Zeepun menurut,Deril menatap wajah istrinya itu.
"Apa yang kamu pikirin tentang anak kita?" tanya Deril.
Zee bingung harus menjawab apa.
"Apa yang diucapkan Kania sampai kamu ragu sama anak kita?" tanya Deril lagi.
Zee menatap wajah suaminya, "Kamu tahu soal itu?"
"Kenapa?harusnya aku tahu itu dari mulut kamukan,tapi kamu gak pernah mau jujur sama aku,kamu memilih diam dan cerita sama sahabat kamu itu daripada sama suami kamu," ucap Deril dengan nada kesal.
Zee menunduk dan merasa bersalah.
"Kenapa Zee,apa yang kamu ragukan dari aku?" tanya Deril lagi.
Zee menggelengkan kepalanya, "Karena aku gak mau ngecewain kamu,"
"Justru sikap kamu yang seperti ini bikin aku kecewa,kamu gak pernah mau jujur keaku sama masalah kamu," ucap Deril.
"Maafin aku," hanya kata itu yang keluar dari mulut Zee.
__ADS_1
Deril menghela nafas berusaha berbicara lebih tenang karena istrinya sedang hamil,ia tidak mau terlalu menekan Zee.
"Jadi apa masalahnya?" tanya Deril dengan lembut.
Zee menggigit bibir bawahnya,tubuhnya mulai gemetar,rasa takut itu kembali muncul, "Gimana kalo anak ini bukan anak kamu?" ucap Zee sembari menatap kearah suaminya.
Deril hanya diam dan menatap istrinya.
"Aku takut kalo anak ini anaknya Rico," ucap Zee sambil memejamkan matanya rapat-rapat
"Apa kamu meragukan aku?" tanya Deril.
Zee menggelengkan kepalanya, "Bukan gitu,aku ragu sama diri aku sendiri Ril," jawab Zee.
"Zee...aku bahkan sama sekali gak berpikir kesana,aku bahagia dengan kehamilan kamu,dan aku yakin itu anak aku," ucap Deril dengan tegas.
"Gimana kamu bisa yakin,apa buktinya?" ucap Zee dengan air mata yang berderai.
"Zee,aku yakin tanpa harus pake bukti,kamu denger,aku yakin Zee..." ucap Deril dengan penekanan.
Zee hanya diam.
"Kalo aku yakin kenapa kamu harus ragu?" ucap Deril lagi.
"Aku cuma takut.." jawab Zee gemetar.
Deril menarik Zee kepelukannya.
"Kita gak usah bahas masalah ini lagi,plis...jangan pernah meragukan anak kita,itu anak kita Zee,percaya sama aku," ucap Deril lalu mengecup rambut istrinya itu.
Entah kenapa masih terlihat banyak keraguan Dimata Zee.
Pagi harinya,Zee sudah rapi dan berjalan menuruni tangga.
"Zee,kamu mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Farhan yang tidak biasanya melihat Zee yang sudah rapi sepagi ini.
"Aku ada urusan bentar pa," jawab Zee lalu bergegas pergi meninggalkan rumah.
Farhan mengerutkan keningnya, "Urusan apa?"
Deril baru saja bangun dan melihat Zee yang sudah tidak ada.Iapun mencuci muka lalu turun kebawah untuk mencari istrinya.
Deril menghampiri Farhan yang sedang ngopi dipinggir kolam renang.
"Zee kemana pa?" tanya Deril.
"Tadi katanya dia ada urusan,dia gak pamit sama kamu?" tanya Farhan.
Deril terdiam dan berpikir kemana Zee pergi.
"Bener-bener anak itu,sama sekali gak berubah," ucap Farhan.
"Kalo begitu aku mandi dulu ya pa," ucap Deril yang kembali kekamarnya.
Deril mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Zee tapi tidak diangkat.
"Kamu kemana sih Zee?" Deril terlihat khawatir apalagi sejak kejadian kemarin,ia takut Zee melakukan hal yang aneh-aneh.
"Ddrrtttt" ponsel Deril berbunyi,telfon dari Ririn.
__ADS_1
"Halo,?" jawab Deril.
"Halo Ril,gue cuma mau kasih tahu,Zee minta gue buat cari tahu dimana Rico ditahan,gue takut dia bakalan nemuin Rico kesana," ucap Ririn.
Deril menutup mata dengan amarah yang mulai menghampiri raganya.
"Zee masih sama Lo kan?tolong jangan biarin dia ngelakuin hal yang aneh-aneh," ucap Ririn.
"Nanti gue kabarin," Deril mematikan telfonnya,Ia bergegas untuk mandi.
Zee sedang berhadapan dengan pria yang paling dia benci didunia ini.
Rico tersenyum, "Ngapain Lo kesini,kangen sama gue?"
"Jawab gue dengan jujur,plis...apa yang Lo lakuin waktu Lo nyulik gue?" tanya Zee.
Rico tersenyum dan memandang wajah Zee yang terlihat sangat gelisah, "Lo masih belum tahu jawabannya sampai sekarang?"
"Rico plis...gue serius,tolong jawab jujur," ucap Zee dengan tegas.
"Kan gue udah bilang,gue udah dapetin apa yang gue mau,Lo mau jawaban apa lagi sih Zee," jawab Rico.
"Lo bohongkan?" Zee merasa jika Rico sedang mempermainkannya.
"Ya udah,kalo Lo gak percaya,gue gak maksa," ucap Rico yang justru membuat Zee semakin gelisah.
"Tapi jujur,setelah kejadian itu gue Bener-bener puas,walaupun gue gak bisa dapetin Lo,seenggaknya gue bisa ngerasain..."
"Plakkkk" satu tamparan Zee langsung melayang kepipi Rico.
"Dasar kurang ajar," pekik Zee dengan wajah yang hampir menangis.
Rico menyunggingkan bibirnya menatap wajah Zee, "Sebanyak apapun Lo nampar gue,Lo gak akan bisa mengubah kenyataan Zee,"
Zee sudah tidak tahan dan ingin beranjak dari tempat itu,tapi dia terkejut saat melihat Deril yang sudah berdiri menatapnya.
"Oh...Lo disini juga?" ucap Rico saat melihat Deril.
Deril mendekati Zee dan langsung menarik tangan Zee keluar dari tempat itu.
Rico terlihat senang karena sepertinya rencananya sudah berhasil.
Deril melepaskan tangan Zee saat sudah didekat mobil.
"Lo ngapain sih Zee kesini hah?" tanya Deril yang terlihat tidak bisa menahan lagi kalo harus pulang dulu kerumah.
"Cari bukti," jawab Zee.
Deril mengusap wajahnya yang terlihat sangat gemas dengan istrinya itu, "Cari bukti buat apa,kan aku udah bilang,aku gak butuh bukti apapun,aku yakin kalo itu anak kita,berapa kali sih aku harus bilang itu kekamu supaya kamu ngerti," ucap Deril dengan tegas.
"Tapi aku butuh bukti itu buat meyakinkan diri aku sendiri Ril,aku butuh itu," jawab Zee.
"Jadi sampai sekarang kamu masih ragu sama aku,kamu gak percaya sama aku?" tanya Deril sembari menatap istrinya.
Zee diam dan menunduk.
"Ok...terserah,cari aja buktinya sampai ketemu,aku bener-bener kecewa sama kamu!" ucap Deril yang langsung beranjak menaiki mobilnya.
"Ril...Deril..." panggil Zee.
__ADS_1
Deril tidak merespon dan langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan Zee.
"Deril..." Zeepun menangis melihat suaminya yang pergi meninggalkannya.