Mengejar Cinta Suami Super Jutek

Mengejar Cinta Suami Super Jutek
Bab 68


__ADS_3

Yoga mengambil ponsel disaku dan menelfon seseorang.


"Kamu dimana?"


Seseorang menjawab pertanyaan Yoga.


"Tunggu,aku kesana!" ucap Yoga yang langsung melangkahkan kakinya kembali meninggalkan rumah yang belum beberapa lama ia kunjungi.


Reva menatap indahnya langit malam itu yang membuat hatinya sedikit lebih tenang,mencoba baik-baik saja tapi tekanan itu terkadang selalu muncul tiba-tiba dan menusuk begitu dalam dihatinya.


Mengingat perlakuan lembut Siska yang justru secara tidak langsung mencabik-cabik seluruh perasaannya.


"Reva" suara panggilan yang selalu Reva tunggu dan langsung mengukir senyum dibibir gadis mungil itu.


"Kak Yoga," jawab Reva sembari menatap kearah pria yang sudah berdiri disampingnya dengan wajah sedikit cemas itu.


Reva berdiri,berusaha menyembunyikan pilu dihatinya dengan tersenyum lebar didepan Yoga.


"Kak Yoga kesini?maaf ya tadi aku buru-buru pulang,soanya..."


"Sttttt" jari telunjuk itu menutup bibir Reva agar berhenti bicara lalu tangan Kokoh itu langsung menarik tubuh Reva kepelukannya.


Tangan Reva memeluk erat tubuh pria yang sangat membuatnya nyaman itu,sementara Tiga mengusap lembut Surai rambut Reva yang bermuara didadanya.Kedua mata mereka sama-sama terpejam membiarkan desiran angin membawa rasa duka yang sedang mereka rasakan.


"Maafin aku ya?" kata yang terucap dari mulut Yoga setelah sekian detik berlalu.


Perlahan Reva melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Yoga dan menatap sayu kearah pria didepannya itu.


"Untuk apa?" tanya Reva dengan senyum yang mengembang tipis diujung bibirnya.


Yoga justru menatap nanar wajah Reva dan membelai pipinya perlahan, "Reva,aku tahu sikap mama kekamu,tadi kamu ketemukan sama Alena?"


Senyuman itu langsung pudar dari bibir Reva,sebenarnya ia tidak ingin Yoga mengetahui perihal tadi,ia tidak ingin membuat pria yang ia cintai itu merasa khawatir padanya karena ia yakin bahwa sang calon mertua akan luluh dengan berjalannya waktu meski terkadang rasa sakit begitu menusuk hatinya.


"Kamu masih mau bertahan?" pertanyaan itu justru membuat Reva mengerutkan dahinya.


"Kenapa enggak?" jawab Reva dengan penuh keyakinan.


Yoga menggelengkan kepalanya karena jawaban Reva tak sesuai dengan pikirannya.


"Cukup,aku gak mau kamu merasakan sakit lagi Reva,ayo kita berhenti," ucap Yoga yang langsung membuat mata Reva perih hingga air bening jatuh dari matanya.


"Kenapa?kak Yoga gak yakin sama aku?" tanya Reva dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya.

__ADS_1


Yoga bahkan enggan menatap wajah gadis didepannya itu,sakit dan sesak di dadanya semakin menjadi kala melihat gadis yang dicintainya itu mengeluarkan air mata.


"Aku bisa kak,tolong percaya sama aku,kakak bilang sendirikan kita harus coba,aku gak papa kok,aku mau coba lagi," ucap Reva berusaha meyakinkan Yoga kalau dirinya baik-baik saja.


Yoga langsung menangkup wajah gadis itu dan mengusap pipinya yang basah, "Tapi kenyataannya kamu gak baik-baik aja Reva,ini sangat mengganggu perasaaan kamu,dan pasti akan sangat berpengaruh sama pendidikan kamu,aku gak mau kamu terlalu mikirin soal hubungan kita,kamu belum siap untuk semua ini," ucap Yoga berusaha agar Reva bisa mengerti akan kekhawatirannya.


Reva terdiam,wajahnya dipenuhi dengan rasa cemas dan juga bingung,ia tidak tahu harus mengatakan apalagi,perkataan Yoga memang tidak salah,karena secara tidak langsung pendidikan Reva sangatlah terganggu karena adaanya permasalahan ini.


Kepalanya hanya tertunduk pilu, "Tapi aku gak mau pisah sama kak Yoga," ucap Reva membuat hati Yoga terasa teriris.


Yoga memejamkan mata,menahan rasa yang tiba-tiba menusuk tepat dijantungnya.


"Reva,lihat aku," Yoga menarik dagu Reva agar mata gadis itu menatapnya.


"Kamu masih muda,banyak cita-cita yang harus kamu raih,jangan cuma karena aku kamu melupakan semua impian kamu,aku gak mau menjadi batu sandungan dalam kehidupan kamu,udah cukup,jangan melangkah lagi lebih jauh," ucap Yoga lalu mengusap kepala Reva.


Reva terdiam untuk beberapa saat sambil menggigit bibir bawahnya,menahan segala rasa sakit yang makin ia rasakan.


Yoga kembali menangkup wajah Reva dan berusaha untuk meyakinkannya lagi, "Kamu ngertikan maksud aku,kita sudahi sampai disini ya,lepaskan semua beban itu,dan teruslah berlari Reva,tolong,jangan siksa hati kamu cuma buat aku,karena aku akan makin merasa tersiksa melihat kamu seperti ini," ucap Yoga membuat Reva langsung memeluk kembali tubuh kekarnya sambil melepaskan segala duka yang ia rasakan.


"Anggap aja,aku cuma mimpi kamu,yang menemani disetiap kamu tidur,aku cuma khayalan yang menemani disetiap lamunan kamu,aku gak pernah nyata buat kamu,aku mau kamu jadi Reva yang dulu,yang ceria,yang penuh tawa dan yang pasti,Reva yang gak pernah menyerah sama impiannya," ucap Yoga sembari mengusap Surai rambut Reva.


Reva hanya memejamkan matanya,air matanya terus berderai.


"Maafin aku Reva," ucap Yoga menarik tubuh Reva dari pelukannya dan menempelkan dahi mereka berdua.


Keduanya memejamkan mata dengan nafas yang saling beradu.


"Seandainya kamu lahir 5 tahun lebih cepat,semuanya gak akan sesulit ini," Ucap Yoga lalu mengecup sekilas kening Reva.


"Lanjutkan hidup kamu yang bahagia,demi aku," ucap Yoga sembari menangkup wajah Reva.


"Kamu bisakan?"


Reva menganguk pelan,merekapun kembali berpelukan,menghempaskan segala duka yang mereka rasakan,berharap setelah ini semuanya akan baik-baik saja.


Yoga menghentikan mobilnya saat telah sampai didepan rumah Reva,keduanya turun dari mobil bersamaan dengan Zee dan Deril yang sengaja berkunjung karena ingin menginap disana.


Jelas mata Reva terlihat sembab,Zee mendekatinya dengan kepala yang dipenuhi pertanyaan.


"Reva..." Zee memegang lengan adik iparnya itu.


Reva menatap kearah Yoga dan langsung berlari masuk kedalam rumah,melewati orang tuanya yang sedang berada diruang tengah tanpa menyapa dan langsung menuju kekamarnya.

__ADS_1


Zee dan Deril mengarahkan netra mereka ketersangka utama,Yoga hanya menundukkan kepalanya.


"Kamu temani Reva," ucap Deril pada istrinya.


Zee menganguk dan segera melangkah untuk menyusul Reva.


Deril mendekati Yoga, "Kita bicara didalam ya?"


Yoga menganguk,kali ini dia harus menjelaskan semuanya kepada orang tua Reva agar masalah ini cepat selesai.


Zee menghampiri Reva yang sedang berbaring dengan punggungnya yang bergetar itu,jelas Reva sedang menangis.


"Reva," Zee menyentuh pelan pundak Reva.


Revapun langsung bangun dan memeluk erat kakak iparnya itu,ia menumpahkan segala beban yang ia tahan dengan menangis begitu keras.


Zee mengusap punggung adiknya itu,bahkan airpun mengalir dari pelupuk matanya karena tidak tega mendengar tangisan Reva.


Diruang tengah,semuanya terdiam,Yoga sebagai tersangka utama mendapat tatapan tajam dari semuanya,apalagi suara tangisan Reva yang terdengar menggema sampai ketelinga mereka.


"Mamakan udah bilang dari kemarin,Reva belum siap,tapi kalian sama sekali gak ada yang mendukung mama,lihatkan akibatnya sekarang," ucap Farah yang tidak bisa menahan emosinya lagi,ibu mana yang tidak sakit melihat putri kecilnya tersakiti.


"Maafin aku Tante,ini semua salah aku," ucap Yoga yang mengakui tanpa ada yang menuduhnya.


"Sekarang kamu lihat,betapa kamu menyakiti Reva,harusnya dari awal kamu gak memberikan harapan palsu pada Reva," imbuh Farah yang terlihat belum puas meluapkan emosinya.


"Ma,cukup," Adi berusaha menahan Farah agar tidak melewati batas.


Farah melangkahkan kakinya pergi,karena emosinya tidak akan tertahan jika tetap ditempat itu.


Yoga menghela nafas,dadanya benar-benar sesak seperti kekurangan oksigen.


"Om...Deril...saya benar-benar minta maaf,saya sama sekali tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini," ucap Yoga berharap permintaan maafnya disambut,tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut papa dan anaknya.


"Saya akan melepaskan Reva dan membiarkan dia hidup tanpa beban dari saya,dia harus bahagia dan meraih semua impiannya,maaf kalau kehadiran saya memberi warna buruk dihidup Reva,Saya permisi," Yogapun melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari siapapun karena akan percuma.


Deril menepuk pundak papanya yang terlihat tegang itu, "Reva akan baik-baik aja pa," ucap Deril berusaha mencairkan suasana yang sedari tadi membatu.


Adi hanya diam,iapun melangkah dari tempatnya berada,Deril menyandarkan punggungnya kebelakang,ia masih belum percaya adiknya harus merasakan duka seberat ini.


**Mendrama ya kisah cintanya Reva.


Reva harus tetap sama Yoga,yuk dukung terus like and comment **

__ADS_1


__ADS_2