
Kegembiraan yang dirasakan oleh Risma ketika suaminya mengabulkan permintaan dan permohonannya untuk menjadikan ibu Sumartini sebagai asisten rumah tangganya.
Ia langsung menuju rumah kontrakan Ibu Sumartini bersama putra kecilnya Ali. Tapi, ada sedikit insiden kecil yang terjadi saat di jalan menuju kosan Ibu Sumartini.
Jalan yang sudah becek dipenuhi dengan lumpur, bau comberan di sisi jalan yang dilaluinya sama sekali tidak menyurutkan semangat dan niatnya untuk menjemput ibu Sumartini.
Walaupun sesekali ia menutup lubang hidungnya. Bau busuk dan berbagai macam jenis aroma tak sedap bercampur menjadi satu bagian di daerah kumuh itu.
"Ya Allah apa Ali dan ibunya bisa hidup dan tidur dengan tenang dalam keadaan yang seperti ini," gumamnya sambil terus tangannya berada di lubang hidungnya.
Ia menggelengkan kepalanya saat memasuki pekarangan kosan tempat tinggal mereka. Sampah berserakan di mana-mana, pakaian pun tergantung memenuhi depan kamar penghuninya. Maya kemudian mengetuk salah satu pintu kamar itu yang bercat hijau.
Tok.. tok.. tok..
"Assalamu alaikum," sapa Risma yang masih mengetuk pintu itu.
"Waalaikum salam," jawab seorang anak laki-laki sambil berjalan tergesa-gesa ke depan pintu dari arah dalam dapur sekaligus ruang tidurnya itu.
Pintu utama hampir rapuh itu perlahan terbuka dan menampilkan wajah tampan bocah kecil baru berusia sekitar delapan tahun itu. Bocah itu tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.
Alif melap sedikit tangannya sebelum meraih tangan Maya untuk dia cium punggungnya.
Risma pun tidak segan untuk mengulurkan tangannya tersebut kehadapan Ali. Dia mengelus lembut rambut yang sedikit panjang dan berwarna kecoklatan milik Ali.
"Ali siapa yang datang nak?" teriak ibunya Ali yang menyusul putranya yang tadi pamit untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Ibu Sumartini setelah mengetahui siapa yang bertamu ke kosannya segera berjalan dengan tergopoh-gopoh ke depan pintu. Tersenyum tulus ke arah perempuan cantik yang sedang berdiri di depan pintu masuk rumah kontrakannya itu yang hanya berukuran 6 X 5 meter saja..
"Masuk Mbak, maaf kamarnya sempit," ucap Ibunya Ali.
Ibu Sumartini mempersilahkan Risma duduk di lantai yang tidak beralas apa-apa itu. Ali segera mengambil sarungnya yang sering dia pakai tidur untuk dijadikan alas tempat duduknya Risma. Ali pun membentangkan sarung itu lalu mempersilahkan Risma untuk segera duduk.
"Silahkan duduk Kak, lantainya sudah tidak terlalu dingin," tawar Ali yang masih membersihkan debu-debu yang menempel di tikarnya.
Risma tersenyum melihat reaksi Alif yang diluar dugaan nya dan bangga dengan sikap baik dan bijaksana Ali.
"Makasih banyak dek," ucap Risma dengan tulus sambil tersenyum manis ke arah Ali.
"Maaf yah Mbak, kami belum punya alas lantai jadi hanya pakai sarung dulu," ucap Ibunya Ali.
Alif menambah sarung di atas tikar, pun ikut duduk di samping ibunya di atas tikar sarung itu.
Risma menatap ke arah dalam bola mata Ibu Sumartini yang seperti seseorang yang sedang gelisah. Ia kemudian menyentuh punggung tangan Ibu Sumartini.
"Mak terima saja tawaran kakak Risma, daripada kita harus tinggal di sini dan setiap hari melihat dan mendengar orang yang berkelahi gara-gara kalah taruhan judi," tutur Ali yang merengek pada Ibunya.
Hal ini adalah permintaan pertama Alif selama ini tidak pernah sedikit pun berniat atau pun bermimpi untuk meminta sesuatu pada emaknya karena Ali tahu dengan sangat persis kondisi keuangan emaknya yang hanya buruh tani yang digaji harian saja.
"Betul sekali yang dikatakan Alif dari pada hidup di lingkungan yang tidak baik seperti ini terus menerus dan bisa berdampak buruk dengan perkembangan psikis dan mental Alif." Timpal Risma.
"Bagaimana Mak, terima saja yah, Alif tidak mau lihat ada ibu-ibu yang bertengkar dengan suaminya setiap hari," Alif semakin merengek pada Ibunya.
__ADS_1
"Tapi, apa kami akan tinggal bersama Mbak Risma atau akan bolak balik pulang ke rumahnya kalau pekerjaanku sudah beres?" Tanyanya sambil Bu Sulastri menundukkan kepalanya karena cukup malu.
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...