Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 50


__ADS_3

Selamat Membaca..


Rania perlahan berjalan dengan langkah yang lebar dan pasti dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya yang cantik itu. Dia berjalan ke dalam ruangan pribadi kakek dari anak-anaknya.


Rania mencari sosok Papinya tersebut sembari mengitari seluruh pojok ruangan yang begitu luas dan megah nya. Membuat seseorang yang berada di dalam ruangan terus tersebut akan betah berlama-lama di dalamnya Papinya.


Matanya menyapu sekeliling ruangan yang begitu besar dan mencari sosok keberadaan Papinya tapi, yang dia cari tidak menampakkan dirinya hingga amira tersenyum setelah membeli membalikkan tubuhnya ke arah kanan ruangan itu dan sudut ekor matanya melihat Tuan Besar sedang berjalan ke arahnya.


Rania segera menghampiri kakeknya dengan senyuman khasnya lalu tangannya langsung bergelantungan ke lengan Papinya sambil bermanja-manja di lengan kakeknya tersebut. Tuan Besar Louis mengetahui jika cucunya bersikap seperti itu, berarti ada sesuatu yang diinginkan oleh Rania putri satu-satunya yang paling disayanginya tidak ada duanya.


"kita duduk dahulu, papi tahu apa yang Kamu inginkan," tutur kakeknya yang tersenyum sambil bergandengan tangan berjalan beriringan bersama dengan cucunya.


Rania tersenyum malu-malu menanggapi perkataan dari papinya yang sangat mengerti sifat dan karakternya.


"Papi selalu tahu apa yang kamu inginkan," Papinya lalu menarik pelan hidung mancung nan bangir milik Rania.


Mereka sudah duduk berhadapan lalu tangan si kakek tua itu yang masih muda dan segar dibandingkan dengan usianya yang sudah usur. Jika orang yang tidak mengenalnya pasti akan terkejut jika mengetahui usia yang sebenarnya dari si kakek tua tersebut usia yang sudah kepala 7 lebih, tapi jika ditelisik lebih jauh lagi dari postur tubuhnya orang-orang akan mengira ah jika kakatua itu baru berumur 50an.


"Papi tahu jika kamu ingin pulang ke Indonesia," Tuan Luis membuka laci meja kerjanya lalu meraih sebuah berkas yang terbungkus rapi di dalam sebuah map cokelat lalu menyodorkan ke arah anak semata wayangnya itu.


Rania menatap ke arah wajah Kakeknya tanda tidak mengerti dengan apa maksudnya dari Kakeknya itu.


"Ambil dan bukalah Nak, papi yakin setelah jamu membukanya kamu pasti akan segera meminta untuk buru-buru kembali ke Jakarta," Tuan Luis menatap ke arah cucunya sambil menyunggingkan senyumnya lalu merebahkan sedikit punggungnya ke belakang.


Rania lalu mengambil map tersebut lalu memandang kembali ke arah Kakeknya sebelum membuka map itu. Tuan Luis Horne hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Bismillahirrohmanirrohim," ucapnya kemudian membuka map itu dan mengeluarkan semua isinya dari dalam.


Rania dibuat terperangah dan shock setelah melihat sepintas isi dari dalam berkas tersebut. Air matanya luruh seketika hingga beranak sungai hingga membasahi seluruh wajahnya.


Berkas yang berisi tentang keterangan keberadaan di mana sekarang Rafael putranya. Berkas itu berisikan yang menyatakan bahwa ternyata putranya selama ini berada di Jakarta. Terakhir berita dan informasi yang berhasil diperoleh dari mata-mata serta detektif yang diterjunkan oleh Tuan Luis.


"Papi!! apa arti dari semua ini?" tanya Rania yang bahagia sekaligus sedih karena ternyata putranya harus hidup terlunta-lunta ke sana kemari bersembunyi dari kejaran seseorang yang berniat jahat padanya.


"Iya benar sekali, papi yakin dengan petunjuk ini Kamu bisa segera menemukan cucu pertamau Rafael Aiden Brawijaya," tutur papinya.


Ranua sama sekali tidak menduga dan tidak menyangka jika putranya selama ini yang dia cari ternyata tidak berada di luar negeri, melainkan hanya berada di dalam negeri Indonesia.


Kebahagiaan terpancar dari wajah Rania, walaupun masih belum jelas apa kah di tempat itu Rafael putranya masih tinggal bersama dengan orang tua yang menyelamatkan nyawanya. Amairah mendekati Kakeknya lalu memeluk dengan erat tubuh kakeknya dan meluapkan kegembiraannya.


Rania yang sangat bahagia itu kembali mendudukkan bokongnya ke atas kursi yang sedari tadi didudukinya. Tuan Luis mengerti dan memaklumi apa yang dirasakan oleh putrinya itu.


"Papi akan melakukan apa pun itu yang penting kamu dan cucuku bahagia Nak," batinnya Tuan Luis.


Beliau tidak akan menghalanginya atau pun melarang mereka untuk kembali dan berkumpul layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia seperti kebanyakan orang lain di luar sana.


"Pergilah sayang, papi merestui hubungan kalian dan mengijinkan kalian bersatu untuk kembali ke Indonesia, jujur saya pasti akan kesepian tanpa kalian, papi sudah terbiasa hidup dengan kalian di sini," ucap Tuan Besar Luis lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tuan Luis tidak ingin membuat anaknya bersedih dan terbebani dengan perasaan sedihnya, tapi semakin Beliau tahan semakin air matanya menetes membasahi pipinya.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:

__ADS_1



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga...

__ADS_1


__ADS_2