
"Ok Mbak, Alif mau dianatarin sama Emak yang penting Emak harus mengingat dan menghafal baik arah jalannya," ucap Alif yang ngomel seperti ibu-ibu saja.
Tidak terasa mobil mereka sudah terbebas dari kemacetan lalu lintas dan berjalan memasuki area Apartemennya. Maya berjalan ke arah Pos Security untuk menginformasikan bahwa akan ada dua orang yang tinggal di dalam Apartemennya.
Risma tidak ingin ke depannya tidak ada yang mengenali Ibu Sumartini dan Alif sebagai anggota keluarganya yang tinggal di Apartemennya.
"Assalamu alaikum Pak Dendy."
"Waalaikum salam Mbak Risma, ada apa yah?" tanya Pak Dendy selaku Kepala keamanan di Apartemen itu.
"Maaf ganggu Pak Dendy, kenalkan ini ibu Sumartini dan putranya Alif adalah keluargaku Pak dari Kampung dan mereka akan selamanya tinggal bersama saya," jelasnya Risma.
Pak Dendy memperhatikan Ibu Sulastri dan Alif dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Pandangan matanya menelisik seluruh tubuhnya Alif dan Ibunya. Pak Dendy harus selalu waspada dan hati-hati jika ada orang baru yang tinggal di kompleks Apartemen mewah itu.
"Baik Mbak, Saya mengerti," ucapnya singkat.
"Makasih banyak pak Dendy dan tolong disampaikan kepada rekannya bapak yang lainnya dan maaf sudah ganggu aktivitasnya," ucap Risma.
Risma tidak lupa menitipkan beberapa bungkus rokok dan makanan untuk Pak Dendy agar lebih semangat untuk menjaga keamanan di Apartemen tersebut. Pak Dendy sangat berterima kasih kepada Risma, karena hanya Risma penghuni dari Apartemen tersebut yang memperlakukannya seperti itu.
"Makasih banyak Mbak, semoga segera menikah dengan calon suaminya Mbak," ucap Pak Dendy.
"Amin, makasih banyak pak," ucap Maya lagi.
Mereka pun pamit dan menaiki lift untuk segera sampai ke Lantai Unit tempat Apartemennya berada. Risma membuka password kunci Apartemennya dengan kode yang hanya Risma dan Rudi.
Pintu itu terbuka lebar dan membuat mata Alif dan Emaknya terbelalak saking takjubnya melihat isi dalam Apartemennya Maya. Maklumlah selama ini mereka hidup dalam keterbatasan, rumah mereka di Kampung hanya berdinding anyaman bambu dan beralaskan lantai dari tanah serta beratap anyaman daun Nira.
__ADS_1
"Maaf yah Alif rumahnya Mbak kecil, tidak apa-apa kan?" tanya Risma yang menatap ke arah Alif.
Alif yang ditatap masih bengong dengan apa yang dilihatnya dengan kedua matanya. Alif masih takjub dengan semua benda yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Rumah Mbak besar sekali, ini istana Mbak sedangkan rumah Alif di Kampung tidak seperti ini, bahkan ruangan ini sepuluh kali lebih besar dari ruangan ini Mbak," ucap Alif yang sudah kegirangan dan berlarian mengamati dan memeriksa setiap ruangan.
Risma tersenyum melihat tingkah polos Alif. Dia bersyukur karena Alif dan emaknya setuju ikut bersamanya untuk tinggal di Apartemen.
"Sini Mbak antar Alif ke dalam kamarnya, Alif mau kan kalau tidurnya sendiri saja gak ditemani oleh Emak?" tanya Risma sambil mengantar Alif hingga ke depan pintu khusus kamar pribadi untuk Alif.
Alif yang mendengar perkataan dari Maya langsung memeluk erat tubuh Emaknya dan tampak gemetaran dan tubuhnya sudah dipenuhi oleh peluh yang bercucuran membasahi pipinya.
Risma yang melihat hal tersebut terkejut dan heran dengan sikap aneh dari Alif yang sedari tadi kegirangan dan bahagia dan sekarang nampak pucat dan ketakutan. Ia menatap Ibu Sumartini yang meminta penjelasan darinya.
Ibu Sulastri yang mengerti maksud dari tatapan menyelidik dari Risma hanya menunduk dan tidak tahu harus menjawab apa karena Ibunya Ali kebingungan akan memulai bercerita dari mana terlebih dahulu. Beliau juga merasa was-was dan ada terlintas di wajahnya raut khawatir dan ketakutan sekaligus.
Maya yang melihat wajah Ibu Sumartini yang nampak kebingungan dan gelisah pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada dua orang ini.
"Ibu Sulastri apa ibu-ibu baik-baik saja?" tanya Rismaa dengan menyentuh lengan Ibunya Ali.
"Eehh ibu baik-baik saja kok Mbak, mungkin semalam hanya kurang tidur jadi kepala ibu sedikit puyeng," terangnya.
"Kalau gitu Ibu istirahat saja dahulu di dalam kamarnya ibu," ucap Risma yang khawatir melihat kondisi dari ibu Sumartini dan putranya.
"Maaf Mbak kalau Alif tidak bisa tidur sendirian, Alif takut kalau harus tidur sendirian di dalam kamarnya, makanya Alif makanya Alif akan ketakutan kalau harus sendirian saja," jelasnya.
"Oohh gitu yah, kalau emang seperti itu, Ibu satu kamar saja dengan Alif, dari pada Alif ketakutan terus nantinya" ucap Risma yang tersenyum lembut ke arah Ibu Sulastri.
__ADS_1
Risma pun membatalkan niatnya untuk bertanya alasan apa yang mendasari sehingga Alif trauma dan selalu ketakutan, karena kondisi Emaknya Alif pun tidak baik.
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...