Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 77


__ADS_3

Alhamdulillah kabar Kakek sangat baik setelah Rafael sudah berkumpul dan bersama kalian," jawabnya dengan seulas senyumannya.


Raniah tidak terkejut sedikitpun ketika Kakeknya bertanya tentang hal itu. Bagi menurutnya itu wajar saja, jika Kakeknya mengetahui kabar dan informasi tersebut.


Jaringan Kakeknya sangat banyak, jadi perkara berita kecil seperti itu untuk beliau sangatlah mudah. Siapa yang tidak mengenal Tuan Besar Luis di dunia bisnis.


Mungkin hanya orang-orang baru mengenal dan berkecimpung di dunia bisnis yang tidak akan mengenal beliau.


Siapa yang tidak mengenal Tuan Besar Luis di dunia bisnis. Mungkin hanya orang-orang baru mengenal dan berkecimpung di dunia bisnis yang tidak akan mengenal beliau.


"Kamu tenang saja, apa yang Kamu inginkan Kakek sudah dilaksanakan dari beberapa hari yang lalu, Kakek mohon fokus pada penyembuhan putra Kamu Maxy, tidak perlu risaukan yang lain," jawabnya dengan senyuman.


"Makasih banyak Kakek, aku boleh minta sesuatu lagi?" tanya Rania dengan penuh kehati-hatian yang meminta sesuatu.


"Apa yang cucuku inginkan?" tanya Kakeknya dengan memutar ballpoint yang ada di dalam genggamannya.


"Saya meminta Kakek datang ke Indonesia," jawabnya dengan penuh harap.


Tuan Luis kembali tersenyum sangat tipis sehingga sangat sulit untuk dilihat senyumannya itu.


"Insya Allah, jika kakek sudah punya banyak waktu luang pasti Kakek akan ke rumahmu," ujarnya Pak Luis Aragones.


"Makasih Kakek, aku tunggu yah kedatangannya Kakek," jawabnya dengan senyuman yang manis walaupun hanya dia menyadari senyuman itu.


"Kakek tutup dulu yah, Kakek masih banyak kerjaan," pamit kakeknya yang meminta ijin.


"Jaga kesehatan Kakek, jangan kerjaan mulu yang diperhatiin," canda Rania dengan seulas senyumannya.


"Kakek tutup dulu, assalamu alaikum."


"Waalaikum salam." Ujar timpalnya Rania.


Setelah sarapan pagi, Reza dan Rania beserta Rafael ke Rumah Sakit Harapan Kasih untuk memeriksakan kondisi kesehatan puteranya Mami serta mengambil beberapa sampel sebagai prosedur tes DNA nya.


"Mau ikut Papi gak?" tanya Reza saat mereka sudah selesai makan dengan menatap penuh kasih sayang ke arah anaknya itu.


Muhammad Ali menatap terlebih dahulu ke arah Papinya Reza sebelum menjawabnya. "Alif mau ikut sama Daddy, kemana pun Daddy pergi," jawabnya.


"Kalau gitu Alif bersiap dulu baru kita berangkat,"sahut Rafael.

__ADS_1


"Ibu Suharti tolong dibantu Alif yah untuk bersiap, Saya ingin mengajaknya ke luar sebentar, gak apa-apa kan Bu?" tanya Reza penuh selidik.


"Silahkan saja Tuan Reza kalau itu yang terbaik untuk Alif," tutur Emaknya Alif.


"Alhamdulillah makasih banyak Bu," jawabnya Reza.


Alif sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, Alif kembali ke dalam ruangan tempat mereka berbincang-bincang. Mereka sudah berjalan ke arah depan Rumahnya.


Ali sudah duduk di tengah-tengah antara Reza dan . Ali sangat bahagia karena bisa pergi bersama kedua orang yang rencananya akan dianggap orang tua kandungnya sendiri. Hal itu jelas terlihat di wajahnya.


Senyuman selalu menghiasi wajahnya. Rania yang melihat ke arah Alif ikut bahagia. Hanya butuh waktu beberapa menit saja mereka sudah sampai di RS.


RS tempat mereka jadwalkan untuk melakukan beberapa pemeriksaan medis terhadap Alif. Mereka bertiga menuju ruangan khusus untuk ruangan tempat yang dipilih untuk dijadikan tempat pemeriksaan tesnya.


Tapi, mereka baru sampai di depan pintu ruangan Dokter yang akan menangani kesehatan Ali, langkah mereka terhenti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Alif.


"Mommy, kok Ali di bawah ke RS, apa emak bilang sama Mommy kalau dua hari ini kepalaku sakit?" tanya Rafael dengan wajah polosnya.


Reza dan Rania yang mendengar perkataan Ali tersebut, membuat mereka saling berpandangan.


"Maksudnya Ali sakit kepala, sudah berapa hari sakitnya?" tanya Rania yang memegang kedua pundak putranya lalu menatap penuh kasih sayang.


Reza pun terkejut dengan perkataan dari Ali yang menyatakan, jika kepalanya sering sakit akhir-akhir ini. Ali heran kenapa, dirinya di bawah ke RS, padahal hanya dia seorang yang tahu jika akhir-akhir ini kepalanya sering sakit.


Raniah terkejut mendengar penuturan dari Alif. Dengan wajahnya yang terkejut sekaligus khawatir, jika penyakit yang diderita oleh Alif berbahaya.


"Kalau sekarang apa kepala Ali masih sakit atau ada yang Alif rasakan yang lain-lain di dalam sini sayang?" tanya Amairah yang masih cemas dengan kondisi kesehatannya Ali.


Rania menunjuk ke arah kepala dan tubuhnya Alif.


"Kalau sekarang, kepalanya Alif masih pusing Moms," ujarnya.


"Kalau gitu, apa Alif ingin diperiksa sama dokter?" tanya Rania.


Alif menganggukkan kepalanya lalu berkata," Alif mau.. mau banget Moms."


"Kalau gitu kita ke dalam ruangan ini yah, tapi Alif harus janji sama Mommy untuk selalu nurut dan dengarkan semua perkataan dokter sama Mommy atau Daddy juga yah," terang Rania.

__ADS_1


"Alif janji akan turutin semua perkataan Mommy, Daddy dan Dokter yang penting Alif sehat dan sembuh," balasnya dengan senyuman kebahagiaan.


Reza hanya terdiam melihat reaksi dari istrinya dan Alif yang masih belum diketahui lebih jelas identitasnya. Walaupun Amairah sudah yakin sekali setelah berbicara dengan kakeknya yang ada di New York City.


Sesibuk apapun, sejauh apapun pergi, keluarga merupakan tempat pulang. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga.


Tapi, kamu juga harus siap dengan kehidupan setelahnya. Pernikahan adalah hak untuk menemukan kesempatan saling berbahagia dan bertengkar sesering mungkin.


......................


Dalam novel ini alurnya maju mundur kadang menceritakan masa lalu salah satu mcnya atau pemeran tokohnya, semoga tidak bingung dan harap maklum..


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…

__ADS_1


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...


__ADS_2