Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 68


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mobil itu sudah jalan ke arah lokasi yang sudah mereka putuskan untuk menjadi tempat terakhir dari cucu musuh bebuyutan Abang dari Ibu Sumartini.


Mereka berangkat malam saat itu sehingga mempermudah langkah dari Ibu Sumartini.


Perjalanan mereka butuh waktu sekitar 7 jam dari rumah besar itu, tepatnya di pinggiran hutan ada gunung yang cukup curam di sana lah yang menjadi tempat eksekusi mereka.


ibu Sumartini mendekati tubuh anak kecil itu yang sudah terkulai lemas dan tidak berdaya. Entah kenapa tiba-tiba hujan turun membasahi bumi, perlahan hujan itu semakin deras saja yang membuat jalan yang mereka lalui cukup licin.


Jalan itu sangat berbahaya karena di sepanjang sisi jalan yang mereka lalui adalah daerah yang cukup terjal dan dalam.


"Bos bagaimana ini, hujan tiba-tiba turun dan kondisi medan yang kita lalui sangatlah berbahaya," ucap si A yang mulai ketakutan.


"Kamu tenang saja, pas di depan sana kita bersiap untuk terjun langsung ke luar dari mobil lalu mendorong mobil itu ke dasar jurang," ucap si B.


Beberapa meter tempat itu pun sudah kelihatan dalam hitungan ke tiga mereka sudah ingin melompat keluar, tapi ternyata pintu mobilnya tiba-tiba macet sehingga tidak bisa terbuka dan mereka sudah terlambat. Mobil itu sudah terjun bebas ke dalam dasar jurang dan berguling-guling.


"Aaaaaaahhhhh!!!, tolong kami ya Allah," ucap Ibu Sumartini yang tubuhnya sudah seperti bola yang menggelinding di dalam bak mobil itu begitupun dengan anak kecil itu.


Ibu Suharti berusaha menggapai tubuhnya anak itu walaupun sangat susah tapi tetap berusaha sekuat tenaga. Usahanya berhasil tidak sia-sia. Dia memeluk erat tubuh anak itu hingga pintu bak itu terbuka disaat Mobil itu tidak terguling lagi.


Tubuhnya penuh dengan luka terutama di bagian wajah, kepala, tangan dan kakinya hampir seluruh tubuh mereka terluka dan mengeluarkan darah. Begitu pun dengan kondisi anak itu yang lebih parah lagi hingga anak itu tidak sadarkan diri.


"Alhamdulillah," ucapnya yang sudah sangat sulit untuk berbicara.


Untuk berdiri pun mereka sulit untuk dia lakukan. Mobil itu menungging hingga ujung paling depan mobil sudah rinsek, rusak dan hancur tak berbentuk lagi.

__ADS_1


Supir dan penumpangnya sudah tidak bernyawa lagi satupun tidak ada yang selamat. Ibu Sumartini merangkak ke arah luar dengan susah payah, ingin meraih kain yang ada di dalam kardus tersebut.


"Aku harus menggendong tubuhnya dipunggung ku untuk memudahkan kami keluar dari sini," lirihnya Bu Suharti.


Ia merangkak naik hingga kain itu berhasil dia dapatkan dengan penuh perjuangan. Ibu Sumartini pun mulai mengikat kuat tubuhnya ke tubuh anak kecil itu.


Setiap kali sudah berada di atas punggungnya lagi-lagi tubuh anak itu merosot dan berinsut turun ke atas lantai mobil. Bukan Ibu Sumartini kalau menyerah walau pun tubuhnya juga sudah dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.


"Kita harus bisa keluar dari sini, ibu akan berusaha sekuat tenaga Ibu, kita pasti bisa," ucapnya yang menyemangati dirinya sendiri.


Akhirnya berhasil juga, luka ditubuhnya semakin besar dan menganga serta darah tidak berhenti mengalir. Ibu Sumartini tetap merangkak dan tubuh mereka terguling hingga terjatuh ke atas tanah yang berbatu itu.


"Aaaaaahhhhhh!! teriaknya yang kembali menjerit saat kakinya mengenai batu yang cukup tajam.


"Ya Allah tolong lah kami, selamatkan kami," cicitnya Bu Suharti yang kembali berusaha berdiri.


"Ya Allah kenapa mataku kabur dan semuanya sudah gelap, kepalaku juga sangat pusing," keluh Ibu Sumartini yang langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.


Sedangkan pandangannya semakin kabur, langkahnya sudah sempoyongan, jarak pandangannya semakin berkurang.


Brukkk…..


Tubuhnya pun akhirnya tumbang juga dan terkapar tidak berdaya yang menggendong seorang anak laki-laki kecil yang juga nasibnya sama dengan yang diharapkan alaminya.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..

__ADS_1



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…

__ADS_1


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...


__ADS_2