Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 69


__ADS_3

"Ya Allah tolong lah kami, selamatkan kami," cicitnya Bu Suharti yang kembali berusaha berdiri.


Ibu Sumartini memperbaiki posisi anak itu dipunggungnya. Hingga mereka menuruni Jurang itu dengan sangat hati-hati dan tertatih.


"Ya Allah kenapa mataku kabur dan semuanya sudah gelap, kepalaku juga sangat pusing," keluh Ibu Sumartini yang langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.


Sedangkan pandangannya semakin kabur, langkahnya sudah sempoyongan, jarak pandangannya semakin berkurang.


Brukkk…..


Tubuhnya pun akhirnya tumbang juga dan terkapar tidak berdaya yang menggendong seorang anak laki-laki kecil yang juga nasibnya sama dengan yang diharapkan alaminya.


Sore harinya, mereka sudah berkumpul di dalam ruangan pribadi khusus Nenek Masitha. Ruangan itu ditempati mereka jika ada hal yang penting ingin mereka ceritakan dengan yang lainnya.


"Ibu Nur silahkan duduk di sini di sampingnya Rania, kenapa harus berdiri di sana saja," pintanya Rania dengan penuh kelembutan.


Ia lalu menepuk kursi yang kebetulan hanya itu kursi kosong berada di dalam sana. Ibu Nur awalnya segan, tapi didesak terus oleh Rania dan Nyonya Martha Beliau memutuskan untuk segera duduk.


"Baiklah karena ibu Nur sudah hadir di sini, saya akan bertanya langsung kepada ibu Nur tentang peristiwa beberapa tahun yang lalu, di mana ada peristiwa yang cukup memilukan yang membuat tiga keluarga saling bersitegang dan yang jadi korban salah satunya adalah suami Ibu Martha pak Ahmed," jelas Pak Hadi selaku pengacara pribadi yang dimiliki oleh Bu Martha.


Pandangan mereka tertuju pada sosok Nur kunci pokok saat terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap Kakak kembarnya Tuan Besar Mark Prin Bramantyo papanya Rania.


Walaupun Ibu Marta selaku istrinya Anwar sekaligus menjadi saksi kunci juga, tapi kesaksiannya tidak berguna karena Ahmad berhasil memanipulasi semuanya dengan sangat baik sehingga kesaksiannya tidak berguna sama sekali. Bahkan hakim, jaksa penuntut umum pun menganggap kesaksiannya tidak berguna.


"Bagaimana Ibu, apakah Ibu bersedia membantu Kami dengan cara, yaitu akan menjawab semua pertanyaanku dengan jujur sesuai dengan kenyataan yang ibu lihat waktu itu?" tanya Pak Hadi.


"Insya Allah, Saya akan menjawab semua pertanyaan dari bapak dengan jujur sesuai yang Saya lihat waktu itu," jawabnya.


Pak Heri lalu memberikan alat perekam suara ke tangan Rania, agar Amai membantu Papa mertuanya berkerja. Semua ini juga untuk restu yang diharapkan dan tunggu sedari dahulu. Ibu Nur pun mulai berbicara dari alasan hingga awal kedatangannya di gudang, dia jelaskan tanpa ada yang ditutupi.

__ADS_1


Sebelum dia berangkat ke gudang pun tak luput dia utarakan, disaat Ahmad mendorong tubuh bapaknya saat diberikan nasihat untuk segera berubah dan bertaubat. Mereka yang ada di dalam ruangan itu menjadi pendengar setia dan menyimak dengan seksama semua yang dijelaskan oleh Ibu Nur.


"Semua yang dikatakan oleh Nur sesuai dengan yang aku lihat juga, tapi kenapa saat itu Aku tidak mengetahui jika Nur juga ada di tempat kejadian?"


Air matanya Nur menetes membasahi pipinya dan tidak sanggup lagi bercerita. Amairah segera menenangkan Ibu Nurmala yang tubuhnya sudah bergetar hebat menahanqw tangisnya.


"Gak apa-apa Mbak menangislah jika menangislah bisa membuat Mbak lega, bukti yang kami butuhkan sudah cukup," terang Pak Hadi.


Nyonya Martha segera memegang kedua tangan Ibu Nur dan ikut bersedih jika harus kembali mengingat kejadian memilukan beberapa tahun silam itu.


"Ternyata Kakek sedikit pun tidak bersalah, kasihan Kakek jika kita tidak berjuang untuk menuntut keadilan," terang


Rania.


"Dengan alasan itu lah, Nenek bersyukur sekali karena berkat adanya Nur diantara kita, keadilan untuk Kakekmu akan segera kita dapatkan," ucapnya Bu Rita Neneknya Rania.


"Kalau gitu jangan ditunda-tunda lagi, besok pagi Papa segera ke Pengadilan untuk mengurus semuanya," ungkap Bu Rita selaku istri dari pak Anwar.


"Iya Papa, akan segera mengurus hingga nama Kakek Kamu kembali baik dan segera dipulihkan seperti sedia kala," timpal pak Hadi.


Mereka tersenyum lega karena akhirnya jalan untuk memperbaiki nama Kakek buyutnya trio bocil bisa kembali baik lagi.


"Bagaimana dengan pernikahan Risma dan Rudi?" tanya Pak Hadi.


"Sebaiknya segera dilaksanakan saja Pa, kasihan mereka gara-gara Amai sehingga mereka terpaksa menunda pernikahannya," jelas Rania dengan wajah sendunya.


"Alhamdulillah kalau seperti itu yang Kamu harapkan, Papa sangat bahagia dan bersyukur memiliki putri sebaik kamu, Nak," pujian ditujukan untuk Rania dari bibirnya papa mertuanya itu selaku pengacara di keluarga papanya.


...----------------...

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...

__ADS_1


__ADS_2