Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 6


__ADS_3

Risma menghabiskan waktu istirahatnya hanya menangis tersedu-sedu di dalam kamar hotelnya. Dia memeluk kedua lututnya dengan sesekali menyeka air matanya.


Risma tadi siang sebelum masuk ke dalam kamarnya, ia tidak sengaja melihat sosok perempuan yang mirip dengan Riana sahabatnya.


Ternyata dugaannya salah besar yang dia lihat adalah wajah orang lain. Bukannya Risma sangat berharap Riana kembali agar pernikahannya bisa dengan Rudi segera diresmikan ke publik khalayak umum, tetapi Risma berharap sahabat terbaiknya itu berkumpul lagi dengan mereka seperti dahulu.


"Ya Allah… pertemukan lah aku segera dengan sahabatku sekaligus istri dari abangku, aku sangat merindukan kehadirannya, jaga dan lindungilah kami dari segala marabahaya, dan aku berharap suatu hari nanti Mbak Riana kembali bersama keluarga kami," batinnya yang berharap agar permintaannya terkabul.


Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, padahal baru saja matanya tertutup dan terlelap menuju alam mimpinya. Ketukan pintu itu semakin lama semakin keras saja dan mau tidak mau Risma Erlene Keysha harus memutuskan kontak dengan mimpi indahnya itu.


"Siapa sih reseh ganggu tidurku, apa dia tidak tahu kalau Aku baru saja terlelap, tolonglah aku masih ingin,,,," Risma melupakan keberadaan suaminya yang tidak ada di tempatnya semula.


Rudi keluar tadi sore tanpa sepengetahuan dari istrinya Risma. Saking sedih dan galaunya ia melupakan statusnya yang sudah bersuami.


Ucapan Risma terpotong karena sudah ada sosok pria yang sedari tadi berdiri di depannya yang tersenyum sangat manis. Siapa lagi kalau bukan Rudi Aiden Tan Perkasa suaminya sendiri.


Risma langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dia salah tingkah dibuatnya sedangkan Rudi salah fokus dengan pakaian yang dipakai oleh istrinya. Risma hanya memakai hot pant dan tentop yang membuat jakung Rudi naik turun.


Dadanya bergemuruh, nafasnya memburu dan berusaha bertahan untuk tidak tergoda dengan penampilan dan penampakan kemolekan tubuh calon istrinya itu.

__ADS_1


Kain dari pakaian yang dipakai oleh Maya sangat lah tipis sehingga semakin memudahkan lekukan tubuhnya yang terbentuk dengan jelas apa lagi dengan jarak pandang yang sangat dekat bahkan hanya berjarak beberapa centimeter saja.


Pandangan mata Dion yang tidak berkedip menatap Maya, membuatnya tersadar dengan pakaian apa yang dipakainya saat itu juga.


Maya refleks menutupi daerah intimnya menggunakan tangannya. Bagian dadanya ditutupi dengan menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menutupi daerah bagian Indonesia tengah.


Maya langsung buru-buru menutup pintunya. wajahnya sudah seperti kepiting rebus yang menahan malu.


"Ya Allah kok sampai lupa kalau aku lagi Di Berlin Jerman, pasti Mas Dion akan menganggap aku cewek murahan."


Maya memukul dahinya tanda tidak menerima dengan keteledorannya itu. Maya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai saking malunya dengan keadaannya tersebut.


Maya segera mandi dan sekalian untuk mengganti pakaiannya, karena tadi siang mereka sudah ada janji untuk berjalan-jalan mengelilingi Kota Berlin sebelum besok mereka sudah kembali serius untuk bekerja.


Dion masih berdiri mematung di depan pintu kamar Maya. Pikiran Dion berkelana melanglang buana entah ke mana, tubuhnya ada di Luar Kamar Hotel Maya tapi, pikirannya seakan-akan berada di dalam tepatnya di atas ranjang king size-nya Maya. Dion bahkan sudah bermimpi memanjat ke atas ranjangnya Maya.


Baru ingin mencicipi sedikit madu yang ada di ujung bibirnya Maya, Dion terkejut saat suara Maya yang berhasil menginterupsinya sehingga Dion yang sudah terbang melayang hingga ke langit nirwana harus terjatuh hingga ke dasar terdalam.


"Astaugfirullah, Maafkanlah hambaMu ini yang telah berfikiran tidak sepantasnya, tapi wajar saja dia kan sudah sah menjadi Istriku tapi, kami sudah janji untuk tidak ada kontak fisik apapun selama Mbak Riana kembali bersatu dengan Mas Reza," gumamnya.

__ADS_1


Berulang kali Rudi mengusap wajahnya dengan gusar, Dia harus membuang pikiran kotornya yang bisa membuatnya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun secara agama dia sudah resmi sah menjadi sepasang suami istri.


Riana cepat pulang dong, kasihan Dion yang harus menahan dirinya sedangkan kepalanya sudah cenat cenut hehehe. Semoga Riana mendengar perkataan othor yah.


"Hay Mas Dion!!" Pekik Risma yang berusaha untuk menyadarkan Rudi yang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Teriakan dari mulut Risma tidak mampu untuk menyadarkan Rudi yang terlalu larut dalam penyesalannya yang telah berfikiran negatif. Andai saja tangannya tidak memukul lengan Suaminya, pasti sampai sekarang Rudi masih melamun.


"Eeehh ada a-pa May?" tanya Rudi yang tergagap karena terkejut dengan pukulan Risma yang cukup keras.


Rudi segera kembali tersadar dari khayalan dan fantasi liarnya yang sesat hampir saja membuatnya lupa daratan.


"Gimana apa kita jadi jalan-jalannya gak?" tanyanya yang sudah dongkol dengan sikap kebingungan yang ditunjukkan oleh Risma.


"Iya jadilah masa tidak, let's go." Jawabnya Rudi dengan berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri.


"Go go go keliling Berlin City gaess, gas poll," ujarnya Risma.


Mereka berjalan beriringan hanya bergandengan tangan tanpa ada drama peluk-pelukan. Seperti itulah kebiasaan mereka jika jalan bareng, karena bagi mereka tunangan itu bukanlah status sah sehingga mereka masih jaga sikap masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2